NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Rahasia Di Balik Seragam Pelayan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Obsesi / Pembantu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:50.1k
Nilai: 5
Nama Author: SunRise510k

-Spin off 'NOVEL PURA-PURA JADI SUPIR'-

Sepuluh tahun mendekam di penjara mengubah Bianca Adytama dari nona muda angkuh menjadi wanita yang haus akan ketenangan. Membuang nama besarnya, ia pergi ke sebuah desa di Jawa Barat dan menyamar sebagai pelayan bernama Gita.
Di sebuah villa mewah milik seorang juragan perkebunan, Gita berharap bisa hidup tenang. Namun, kedatangan Arlan Dirgantara—putra sulung sang juragan yang baru bercerai—mengacaukan segalanya.
Arlan tidak buta. Ia tahu Gita bukan pelayan biasa. Gerak-geriknya terlalu elegan, bicaranya terlalu cerdas, dan sorot matanya menyimpan rahasia gelap. Dari rasa penasaran menjadi obsesi, Arlan mulai menjerat Gita dalam permainan cinta yang menegangkan.
Sanggupkah Bianca mempertahankan penyamarannya saat masa lalu yang ia kubur mulai tercium oleh pria yang terobsesi memilikinya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunRise510k, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Lampu meja berbahan kuningan di sudut ruang kerja itu menjadi satu-satunya sumber cahaya yang bertahan sejak kemarin malam. Di balik dinding kaca, kabut tipis merayap turun dari puncak bukit, perlahan menelan hamparan hijau perkebunan teh di bawahnya dalam kesunyian yang dingin. Udara di dalam ruangan terasa berat, pekat oleh aroma kopi hitam yang mulai mendingin dan kepulan asap tipis dari garis ketegangan yang tak kunjung mengendur.

Arlan Dirgantara masih terjaga. Kemeja yang dikenakannya semalam kini sudah kusut di bagian lengan yang digulung sembarangan. Dasinya sudah teronggok di atas tumpukan berkas agraria. Garis rahangnya yang tegas tampak kaku, menahan lelah sekaligus amarah yang terus menumpuk di dada sejak desas-desus di Jakarta mulai berembus liar. Pria tiga puluh enam tahun itu memilih melewatkan malam dengan menatap layar monitor, membelah malam bersama Doni yang berada di kantor pusat melalui sambungan panggilan video.

Tuduhan yang dilayangkan Mahendra bukan sesuatu yang bisa dianggap remeh. Pengusaha licik itu sengaja menggunakan media massa untuk menyebarkan narasi bahwa Dirgantara Group melakukan manipulasi pajak dan penggelapan dana pembebasan lahan perkebunan di wilayah hulu Jawa Barat ini. Skandal itu sengaja dirancang demi satu tujuan: meruntuhkan kepercayaan dewan komisaris terhadap kepemimpinan Arlan.

"Semua aliran dana dari rekening korporasi ke para tetua adat di sini tercatat dengan rapi, Doni. Tidak ada satu rupiah pun yang menyimpang," suara Arlan memecah keheningan, berat dan serak akibat kurang tidur. Ia mengetuk dokumen digital di tabletnya dengan gusar.

Di seberang layar, Doni mengusap wajahnya yang tidak kalah kuyu. "Masalahnya bukan pada fakta lapangan, Arlan. Mahendra sengaja mengaburkan data itu dengan membawa-bawa status Gita. Media bentukannya terus menggoreng narasi kalau Anda memanfaatkan masa lalu Gita yang pernah berada di lapas Surabaya untuk mengaburkan transaksi gelap. Dewan komisaris mulai termakan isu moral ini."

Arlan terdiam. Bayangan Gita—wanita yang ia bawa ke villa terpencil ini untuk dilindungi—kembali melintas di benaknya. Mengingat bagaimana tenangnya wanita itu saat menghadapi badai tuduhan kemarin membuat Arlan merasakan letupan protektif yang aneh. Ada ketegaran yang matang, sebuah pembawaan anggun yang tidak selaras dengan status seorang pelayan bersahaja. Sifat skeptis Arlan yang biasanya dingin terhadap perempuan akibat kegagalan pernikahan masa lalunya bersama Stella, kini runtuh di hadapan misteri yang menyelimuti Gita. Ia menjadi begitu posesif, menolak menyerahkan wanita itu sebagai tumbal pasar saham, meskipun posisinya sebagai CEO kini berada di ujung tanduk.

"Aku tidak akan mengorbankan dia hanya untuk menuruti ketakutan para komisaris," cetus Arlan, nadanya bariton dan mutlak.

Sebelum Doni sempat menanggapi, sebuah notifikasi darurat berkedip merah di sudut bawah layar monitor mereka. Grafik bursa saham Jakarta yang semula menukik tajam untuk Dirgantara Group mendadak menunjukkan pergerakan yang tidak lazim.

Doni dengan cepat beralih ke papan ketik, jemarinya bergerak lincah memindai berita bisnis terbaru yang baru saja pecah di lantai bursa. Detik berikutnya, mata Doni melebar. Wajahnya yang semula kuyu mendadak berubah tegang karena rasa terkejut yang luar biasa.

"Arlan! Sesuatu yang besar baru saja terjadi di luar kendali Mahendra!" seru Doni, suaranya naik satu oktaf, menembus deru hujan di luar villa.

Arlan menegakkan punggungnya, matanya menyipit tajam. "Laporan yang jelas, Doni."

"Adytama Properti, raksasa properti dari Jawa Timur yang dipimpin oleh Bram, baru saja merilis dokumen kepemilikan tanah ulayat ke otoritas Jawa Barat. Dan tebak apa, Ar? Lahan ulayat yang mereka rilis versinya bertetangga langsung dan mengunci batas luar resort hulu kita. Langkah Adytama Group yang tiba-tiba ini memotong seluruh pergerakan saham Mahendra. Seluruh tuduhan manipulasi pajak yang dialamatkan kepada kita mentah seketika, karena Adytama merilis sertifikat tandingan yang membuktikan wilayah yang dipermasalahkan Mahendra sebenarnya berada di bawah hak perwalian mereka, bukan sengketa!"

Arlan terpaku di kursinya. Otak bisnisnya yang taktis segera membaca implikasi dari gerakan ini. Adytama Properti adalah dinasti lama yang sangat kuat, namun mereka hampir tidak pernah mencampuri urusan bisnis di wilayah barat, apalagi ikut campur dalam perseteruan antara Dirgantara Group dan Mahendra Corporation.

Gerakan ini terlalu rapi, terlalu instan, seolah-olah ada seseorang yang sudah menyiapkan jebakan ini dari balik bayangan untuk mematahkan leher bisnis Mahendra dalam satu ketukan.

"Adytama?" Arlan bergumam, alisnya bertaut rapat. Sisi skeptisnya langsung bekerja mencari motif di balik bantuan tak terduga ini. "Kenapa mereka tiba-tiba mengintervensi sengketa ini? Apa hubungan Bram dengan proyek hulu kita?"

Doni dengan cepat membolak-balik dokumen legalitas yang baru saja diunduh dari sistem otoritas agraria. "Ini yang lebih mengejutkan, Ar. Dokumen tanah ulayat itu bukan atas nama korporasi Adytama secara langsung. Lahan seluas ratusan hektar di hulu ini terdaftar di bawah nama pribadi."

"Nama siapa?" tuntut Arlan, suaranya merendah penuh selidik.

"Bianca Adytama," jawab Doni, membaca baris nama yang tertera di sertifikat digital dengan saksama. "Putri bungsu dari Haris Adytama. Sosoknya sangat misterius, Ar. Di kalangan pebisnis Surabaya, namanya hampir tidak pernah muncul ke publik setelah prahara keluarga mereka sepuluh tahun lalu. Ada rumor yang mengatakan dia mengasingkan diri, ada juga yang bilang dia sengaja menyembunyikan identitasnya dari radar media."

Arlan bersandar kembali, pandangannya beralih menatap rintik hujan yang membasahi kaca jendela. Nama Bianca Adytama bergaung di kepalanya, memicu rasa penasaran yang mendalam. Mengapa seorang putri mahkota dari dinasti properti yang begitu misterius tiba-tiba mengulurkan tangan secara senyap untuk menyelamatkan proyek Dirgantara Group dari serangan Mahendra? Ada sepotong teka-teki besar yang belum terpecahkan, dan Arlan benci situasi di mana dia tidak memegang kendali penuh atas informasi.

Sementara itu, beberapa puluh meter dari ruang kerja Arlan, tepatnya di dalam salah satu kamar mewah di sayap barat vila, keheningan yang berbeda sedang tercipta.

Bianca duduk di tepi ranjang berbalut seprai katun abu-abu. Pendar lampu tidur yang temaram menerangi wajahnya yang matang dan tenang. Di tangannya, sebuah gawai dengan pelindung murah yang tersamar bergetar pelan. Sebuah pesan baru dari Pak Haryo masuk melalui jalur komunikasi terenkripsi.

"Nona Bianca, semua instruksi sudah dijalankan dengan sempurna oleh Bram di Surabaya. Dokumen kepemilikan lahan ulayat Adytama sudah resmi terdaftar di otoritas Jawa Barat semenit yang lalu. Pergerakan saham Mahendra terkunci total. Mereka tidak akan bisa menggunakan isu manipulasi pajak lagi untuk menyerang Tuan Arlan."

Membaca pesan tersebut, seulas senyum tipis—sangat anggun dan sarat akan wibawa yang tertahan—terukir di bibir Bianca. Sisi cerdas dari masa lalunya sebagai pewaris tunggal yang mendalami bisnis manajemen dari balik jeruji besi bangkit seutuhnya. Dia tahu benar bagaimana cara memotong jalur logistik musuh tanpa harus menampakkan diri di depan kamera.

Jemari lentiknya bergerak cepat di atas layar, mengetik balasan dengan ritme yang teratur.

"Terima kasih, Pak Haryo. Sampaikan apresiasi saya pada Bram. Skenario ini sudah cukup untuk membuat Mahendra mundur. Namun, saya minta satu hal dengan sangat: pastikan nama Bianca Adytama tetap aman di balik dokumen perwalian tersebut. Jangan biarkan ada satu pun celah informasi yang bocor ke tim hukum Dirgantara Group maupun ke telinga Arlan langsung."

Setelah menekan tombol kirim, Bianca menarik napas panjang. Dia menghapus seluruh jejak percakapan itu dengan sekali ketukan, lalu meletakkan ponselnya kembali ke tempat tersembunyi.

Dia melangkah mendekati jendela kamar, menyibak sedikit tirai tipis untuk menatap kegelapan perkebunan teh yang dilingkupi kabut tebal. Di tempat terpencil inilah dia ingin menemukan kedamaian, hidup mandiri tanpa bayang-bayang harta dinasti keluarganya sebagai bentuk penebusan dosa atas keangkuhan masa mudanya dulu. Menjadi pelayan bernama "Gita" memberikan ketenangan batin yang tidak pernah dia dapatkan saat menjadi sosialita.

Akan tetapi, keputusannya untuk melindungi Arlan malam ini telah menyeret benang merah Adytama kembali ke permukaan. Dia tahu, Arlan adalah pria yang cerdas dan teramat skeptis. Cepat atau lambat, pengusaha dingin itu akan mulai mengendus kejanggalan di balik bantuan misterius dari Surabaya ini. Bianca hanya berharap, benteng penyamarannya sebagai Gita masih cukup kuat untuk bertahan sebelum badai di antara mereka benar-benar pecah.

***

1
@Tie
nasibnya mahendra gmn thor
apa dipenjara jg sama spt stell
Mundri Astuti
ngomong" napa jadi muter" y thor si Arlan dan Bianca, ga da kemajuan
✦͙͙͙*͙*ᴍs.ʀ͠ᴇɴᴀ✨: maaf ya, kalo bikin gumoh. pelan-pelan nanti diperbaiki kok 😊🙏
total 3 replies
💟노르 아스마💟
lahhh ...provokatornya gk di habisin itu
Mukeseh
setela salah lawan woe setela setela 🤣🤣
Anonim
😍😍
Anonim
Mantap
ryuka
duuhhh bianca gimana cara nya arlan biar kamu luluhhh 🫠🫠🫠🤭🤭🤭
merry yuliana
jd dejavu sm.kirana yak..
Anonim
😍😍😍😍
Del Vina
cerita bagus cuma alurnya lambat
Tangsah Jagad
gak mungkin Raditya gak ngasih tau kalo di tanya arlan
Mukeseh
hubhihi 🤣🤣🤣🤣 othor pintar bikin q deg deg pyor 😂
Mundri Astuti
Arlan kamu main ke rumah Raditya, sapa tau ada foto keluarga Kirana dan keluarganya
Anonim
😍😍😍😍
@Tie
bianca kabur aja yg jauh ke luar negeri sekalian, kl msh di indo gk aman
mkn maen rahasia arlan makin posesif
fatmawati (pipit)
gita harus jujur saja bahwa dia adalah Bianca aditama yg menyamar sebagai gita ivara
untuk doni harus secepatnya menemukan kejanggalan tentang gita dan bianca adytama
ryuka
bianca.. gapapa kok jujur. kamu berhak bahagia 🫠🫠🫠
Tangsah Jagad
Bianca apa salah nya sih jujur, dan arlan ngapain juga ngotot hbngan mereka hanya batas pekerjaan
Verawati Naycyl
sudah Bi...jangan maen teka teki terus ...kasihan Arlan sampai puyeng cari tau identitas kamu yg sebenarnya..
Mukeseh
deg deg thor 😂😂tp cepat atau lmbt pasti aksn tsu arlsn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!