NovelToon NovelToon
Bukan Pengantin Pilihan Hati

Bukan Pengantin Pilihan Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Anjay22

Bukan Pengantin Pilihan Hati

"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"

Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.

Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.

Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.

Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengakuan dan Pilihan

Setelah sosok Rama benar-benar menghilang dari pandangan, Arka tidak langsung masuk ke dalam rumah. Ia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan untuk menetralkan sisa-sisa amarah yang sempat bergejolak di dalam dadanya. Pria itu kemudian membalikkan tubuhnya, menghadap ke arah Naura yang masih berdiri mematung dengan kepala tertunduk.

Bahu Naura tampak sedikit berguncang. Wanita itu sedang menahan tangisnya agar tidak pecah. Pergelangan tangan kanannya yang sempat dicengkeram oleh Rama kini tampak memerah, kontras dengan warna kulitnya yang putih bersih.

Melihat kondisi istrinya, seluruh aura dingin dan menyeramkan yang dipancarkan Arka saat menghadapi Rama mendadak lenyap tanpa bekas. Garis-garis tegas di wajahnya melunak seketika, digantikan oleh gurat kecemasan dan rasa bersalah yang mendalam karena telah membiarkan hal seperti ini terjadi di rumah mereka sendiri.

"Naura ... " panggil Arka dengan nada baritonnya yang sangat lembut, tipe suara penyayang yang selalu berhasil menenangkan badai paling hebat sekalipun di dalam kepala Naura.

Naura mengangkat wajahnya perlahan, matanya yang indah kini tampak sembab dan berkaca-kaca. Air mata yang sejak tadi ditahannya akhirnya luruh membasahi pipinya begitu ia melihat tatapan mata Arka yang penuh dengan kelembutan, bukan kemarahan atau kekecewaan seperti yang ia takuti sejak tadi.

"Kak Arka ... maafkan aku ..." lirih Naura, suaranya serak dan bergetar hebat. "Aku bersumpah, aku tidak pernah memberi tahu Rama tentang alamat rumah ini. Aku tidak pernah menghubunginya lagi sejak kita menikah. Aku tidak tahu mengapa dia bisa datang ke sini ... "

Sebelum Naura sempat menyelesaikan kalimatnya yang dipenuhi oleh rasa panik dan bersalah, Arka melangkah maju.

Dengan gerakan yang sangat halus namun pasti, ia meraih kedua tangan Naura, menggenggam jemari lentik istrinya yang terasa sedingin es ke dalam telapak tangannya yang besar dan hangat.

"Ssst ... sudah, jangan menangis lagi," ujar Arka lembut. Ia menuntun Naura untuk masuk ke dalam rumah, menutup pintu jati besar tersebut rapat-rapat, mengunci seluruh udara dingin dan gangguan dari luar.

Arka membawa Naura menuju area dapur, mendudukkan wanita itu di salah satu kursi bar konter dapur yang nyaman. Pria itu kemudian mengambil sebuah gelas bersih, mengisinya dengan air hangat dari dispenser, lalu meletakkannya tepat di depan genggaman tangan Naura.

"Minumlah sedikit. Tenangkan pikiranmu," ucap Arka, tetap berdiri di dekat Naura, memberikan ruang namun memastikan kehadirannya dapat dirasakan sebagai pelindung.

Naura menurut. Ia mengangkat gelas tersebut dengan kedua tangannya yang masih sedikit gemetar, meminum air hangat itu perlahan-lahan. Rasa hangat yang mengalir di tenggorokannya sedikit banyak membantu meredakan debaran jantungnya yang sempat berpacu liar karena ketakutan.

Setelah meletakkan kembali gelasnya, Naura kembali menunduk, tidak berani menatap langsung ke arah mata elang Arka. Ia merasa telah menjadi beban dan membawa masalah masa lalunya ke dalam kehidupan Arka yang semula sangat teratur dan damai.

Arka memperhatikan bagaimana istrinya menatap ujung jarinya sendiri dengan penuh rasa bersalah. Pria itu menarik napas pendek, lalu menggeser kursi bar di sebelah Naura dan duduk di sana. Ia melonggarkan ikatan dasinya sedikit agar bisa bernapas dengan lebih lega, namun fokus matanya tidak pernah lepas dari wajah Naura.

"Naura, tatap aku," pinta Arka lembut namun mengandung ketegasan yang tidak bisa dibantah.

Naura mengumpulkan keberaniannya, perlahan mengangkat pandangannya hingga mata mereka saling bertemu. Di dalam manik mata hitam milik Arka, Naura tidak menemukan kilat amarah, dendam, ataupun penghakiman. Yang ada hanyalah ketenangan sebuah telaga yang dalam dan kedamaian yang pekat.

"Kamu tidak perlu meminta maaf untuk tindakan orang lain yang berada di luar kendali dan kontrolmu," ucap Arka dengan nada bicara yang sangat teratur. "Aku tahu kamu tidak menghubunginya. Aku memercayaimu, Naura. Sejak hari pertama kita tinggal di rumah ini, aku sudah berkomitmen untuk memercayai istrimu, jadi tolong jangan siksa dirimu dengan rasa bersalah yang tidak seharusnya kamu tanggung."

Kata-kata Arka mengalir masuk ke dalam hati Naura seperti cairan penawar rasa sakit. Rasa cemas yang sempat menumpuk tinggi di dalam dadanya mendadak runtuh begitu saja, digantikan oleh rasa haru yang membuncah.

"Tapi ... perbuatan Rama tadi pasti membuat Kak Arka merasa terganggu, kan?" tanya Naura lirih, matanya masih menatap Arka dengan sisa rasa tidak enak. "Dia juga mengatakan hal-hal yang buruk tentang Kakak ... "

Arka tersenyum tipis, sebuah senyuman menenangkan yang sangat jarang ia perlihatkan di dunia luar namun kini menjadi konsumsi harian Naura di rumah ini. "Perkataannya tidak akan bisa mengubah siapa diriku, Naura. Aku seorang pengusaha, aku sudah terbiasa mendengar distorsi informasi dan makian yang jauh lebih kasar dari itu di dunia bisnis. Apa yang dia katakan sama sekali tidak melukaiku."

Arka kemudian mengulurkan tangan kanannya, dengan sangat hati-hati ia meraih pergelangan tangan kanan Naura yang tadi sempat memerah akibat cengkeraman Rama. Jemari besar Arka mengusap kulit lembut tersebut dengan gerakan melingkar yang sangat perlahan, seolah sedang menyembuhkan rasa sakit di sana melalui kehangatan kulitnya.

"Apakah ini masih terasa sakit?" tanya Arka, matanya menatap lebam kemerahan itu dengan guratan tidak suka yang samar. Ia bersumpah di dalam hatinya bahwa pria bernama Rama itu tidak akan pernah bisa menyentuh istrinya lagi seperti ini.

"Sudah tidak apa-apa, Kak. Tadi hanya karena aku terkejut saja," jawab Naura, pipinya mendadak terasa menghangat karena kedekatan fisik mereka yang begitu intim sore ini. Sentuhan tangan Arka selalu berhasil mengirimkan sengatan listrik halus yang membuat jantungnya berdegup dengan ritme yang berbeda, sebuah ritme yang bukan lagi karena ketakutan, melainkan karena getaran perasaan baru yang kian mendalam.

"Naura," panggil Arka lagi, menghentikan gerakan usapan tangannya namun tetap menggenggam tangan Naura dengan longgar dan nyaman. "Aku ingin menanyakan satu hal padamu, dan aku minta kamu menjawabnya dengan kejujuran yang paling mutlak dari dalam hatimu."

Naura merasakan keseriusan yang mendalam dari perubahan nada suara Arka. Ia menegakkan posisi duduknya, menatap suaminya lurus. "Apa itu, Kak?"

Arka menatap manik mata Naura, mencoba mencari kejujuran di sana. "Pria tadi ... Rama. Dia mengatakan bahwa kita menikah karena terpaksa, dan dia meminta kamu untuk kembali padanya. Aku ingin tahu, setelah apa yang terjadi hari ini, apakah di dalam sudut hatimu yang paling dalam ... kamu masih memiliki keinginan untuk kembali ke masa lalumu? Apakah kamu merasa pernikahan bersamaku adalah sebuah penjara yang menyiksamu?"

Pertanyaan itu meluncur dari bibir Arka dengan sangat tenang, namun Naura bisa merasakan ada sedikit ketegangan pada genggaman tangan Arka. Pria sesempurna Arka ternyata juga memiliki rasa ingin tahu dan ketakutan tersendiri akan kehilangan komitmen dalam pernikahan ini.

Naura tidak membutuhkan waktu lama untuk berpikir. Ia menatap Arka dengan pandangan mata yang paling jernih dan jujur yang pernah ia miliki. Rasa ragu yang sempat ada di awal pernikahan mereka kini telah sepenuhnya lenyap, terkikis oleh setiap tindakan nyata, rasa hormat, dan perlindungan yang konstan diberikan Arka setiap hari.

"Tidak, Kak. Sama sekali tidak," jawab Naura dengan suara yang mantap dan tanpa keraguan sedikit pun. "Saat aku berdiri di depan penghulu, menjabat tangan wali, dan mendengarkan Kak Arka mengucapkan kalimat kabul dengan begitu tegas, di detik itu juga masa laluku dengan Rama sudah sepenuhnya selesai. Aku menghormati pernikahan ini, Kak. Dan aku tidak pernah menganggap hidup bersamamu sebagai sebuah penjara. Justru ... di rumah ini, bersama Kak Arka, aku merasakan rasa aman dan dihargai yang belum pernah aku rasakan sebelumnya."

Naura menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian emosionalnya untuk melanjutkan kalimatnya. "Aku tidak ingin kembali ke masa lalu, Kak. Aku memilih untuk tetap di sini, berjalan ke depan bersama Kak Arka, sebagai istrimu."

Mendengar pengakuan jujur dan tegas dari bibir Naura, ketegangan yang sempat melingkupi bahu tegap Arka perlahan-lahan mengendur sepenuhnya. Sebuah binar kebahagiaan yang murni dan hangat terpancar jelas dari sepasang mata elangnya. Garis bibirnya melunak, membentuk sebuah senyuman tulus yang sangat tampan, membuat debaran di dada Naura semakin berpacu cepat.

Arka mempererat genggaman tangannya pada jemari Naura, lalu mengangkat tangan istrinya tersebut sedikit ke atas.

Di depan tatapan mata Naura yang tertegun, Arka menundukkan kepalanya sedikit dan mendaratkan sebuah kecupan yang lembut, hangat, dan lama di punggung tangan Naura.

Sentuhan bibir Arka pada kulit tangannya membuat seluruh tubuh Naura seolah dialiri oleh kehangatan yang luar biasa. Air mata haru kembali menggenang. Sentuhan bibir Arka pada kulit tangannya membuat seluruh tubuh Naura seolah dialiri oleh kehangatan yang luar biasa. Air mata haru kembali menggenang di pelupuk matanya, namun kali ini bukan karena kesedihan, melainkan karena rasa bahagia dan syukur yang teramat sangat.

"Terima kasih atas kejujuranmu, Naura," ucap Arka setelah melepaskan kecupannya, namun tetap membiarkan tangan mereka bertautan di atas konter dapur. "Mulai hari ini, kamu tidak perlu takut lagi pada apa pun atau siapa pun dari masa lalumu. Selama kamu berdiri di sampingku dan memilih untuk tetap bersamaku, aku pastikan tidak akan ada satu orang pun di dunia ini yang bisa menyentuh atau menyakitimu. Aku akan menjadi perisaimu, Naura."

Di luar rumah, rintik hujan kini telah berubah menjadi hujan deras yang mengguyur bumi, meluruhkan debu dan kotoran yang menempel di jalanan. Suara gemercik air yang menghantam atap rumah menciptakan melodi alami yang konstan dan menenangkan.

Namun, di dalam dapur minimalis yang hangat itu, dinginnya cuaca sama sekali tidak terasa lagi. Dua hati yang awalnya dipertemukan oleh selembar kertas wasiat paksaan, sore itu telah saling mengunci komitmen mereka melalui sebuah kejujuran dan rasa percaya yang baru.

Bayang-bayang dari masa lalu mungkin telah mencoba datang untuk merusak, namun keteguhan hati Arka dan Naura justru membuat akar pernikahan mereka tertanam semakin dalam dan kokoh ke dalam bumi, siap menghadapi badai apa pun yang akan datang menerpa di kemudian hari.

1
falea sezi
kenapa g jujur
MayAyunda: belum waktunya kak 😁🫢
total 1 replies
~SasMaya ✧
suami idaman
MayAyunda: jadi pengen ya kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
sekalian nyindir ga sih 😂
MayAyunda: ha..ha ..bisa jadi
total 1 replies
~SasMaya ✧
apa keinget Rama 🫣
MayAyunda: he ..he
total 1 replies
~SasMaya ✧
berbunga-bunga pasti Naura 🤭
MayAyunda: sampai berkembang kak 😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ah.. kan manis banget arka ini
MayAyunda: semanis yang baca 😍😁😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
frustasi kah Rama? sampe g sempet cukuran
MayAyunda: iya kak😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
Araka sama Rama, sama-sama baik...
MayAyunda: terimkasih kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
secara ga langsung Arka menghargai Naura
MayAyunda: betul kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... jadi kaya nikah kontrak ya
MayAyunda: iya 😁
total 1 replies
~SasMaya ✧
ahh... kasiannya Rama.
MayAyunda: he he
total 1 replies
~SasMaya ✧
lah... gimana sama Rama, kasian... keknya Rama juga baik.
MayAyunda: iya kak 😄
total 1 replies
~SasMaya ✧
sabar ya Naura, aku tahu rasanya /Whimper/
~SasMaya ✧
Naura udah ga punya ibu juga kah?
MayAyunda: iya sudah meninggal
total 1 replies
~SasMaya ✧
keknya papahnya tau sesuatu yang Naura ga tau, makanya di jodohin sama Arka.
MayAyunda: iya kak
total 1 replies
~SasMaya ✧
Naura pasti dilema banget ini
~SasMaya ✧
keluarga pasti ikut syok banget /Whimper/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!