"Kultivasi energiku memang kembali jadi kecoa, tapi dengan fisik dewa ini... jika ada master yang mencoba meninjuku, tangannya sendiri yang akan patah menjadi tebu!"
Seratus tahun disiksa dan dibuang ke kolam darah Gunung Ming akibat konspirasi kejam di masa lalunya, Lin Ling akhirnya berhasil bangkit. Melalui ritual terlarang yang membakar habis basis kultivasi Nascent Soul-nya, ia melebur esensi Ular Purba Mahayana dan Kristal Dao Agung untuk menciptakan sebilah wadah kedewaan baru.
Namun, takdir bercanda dengannya. Tubuh barunya menjelma menjadi monster dengan kekuatan fisik murni ranah Mahayana Lapisan 1, tetapi dantian spiritualnya kosong melompati segala bentuk Qi. Karena bakatnya terkunci di Akar Spiritual Kelas Menengah, Lin Ling terpaksa harus merangkak kembali dari dasar bumi—ranah Body Tempering lapisan pertama.
Trauma masa lalu? Dendam yang meledak-ledak? Tidak ada waktu untuk itu! Lin Ling yang baru telah menjelma menjadi sosok Immortal yang bebas, konyol, super santai
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pencari Dao Sejati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyamaran Sempurna dan Bocoran si Gendut
DONG... DONG... DONG...
Suara lonceng peringatan dari Puncak Kedua bergema keras membelah kabut pagi di Sekte Bangau Abadi. Suaranya yang memburu menandakan situasi darurat tinggi. Di dalam pondok kayu sederhana Fraksi Urusan Luar, si Gendut Wang Ba langsung lompat dari tempat tidurnya dengan wajah pucat pasi.
"Gawat! Gawat! Saudara Lin, bangun! Kudengar dari murid senior di luar, semalam ada iblis mesum berambut putih tingkat tinggi yang menyusup ke kediaman pribadi Tetua Duanmu Rong! Sekarang Fraksi Penegak Hukum sedang menggeledah seluruh sekte!" teriak Wang Ba panik sambil buru-buru memakai jubah putihnya yang kekecilan.
Namun, begitu Wang Ba menoleh ke ranjang sebelah, kalimatnya langsung tersangkut di tenggorokan. Matanya melotot selebar cangkir.
Di sana, Lin Ling sedang santai duduk di tepi ranjang sambil mengikat rambutnya. Anehnya, rambut putih panjang yang kemarin malam masih terurai malas, kini telah berubah total menjadi hitam legam normal, senada dengan sepasang mata hitam penyamarannya.
Wang Ba mundur selangkah, menunjuk Lin Ling dengan jari gempalnya yang bergetar. "Kau... Saudara Lin! Kenapa tiba-tiba rambut putihmu berubah jadi hitam?! Jangan-jangan... penyusup semalam itu—"
"Ssst! Kecilkan suaramu, Gendut! Kau mau kita berdua mati muda, ya?!" potong Lin Ling dengan taktis. Dia langsung memasang wajah panik yang dibuat-buat, lalu menarik kerah baju Wang Ba agar mendekat.
"Kau tidak dengar pengumuman di luar? Mereka sedang memburu semua laki-laki berambut putih! Kemarin di alun-alun, aku terang-terangan menolak tawaran tiga Tetua hebat. Kalau hari ini aku berkeliaran dengan rambut putih ikonikku, Fraksi Penegak Hukum yang malas itu pasti akan langsung menjadikanku kambing hitam agar tugas mereka cepat selesai!" bisik Lin Ling penuh penekanan, memberikan alasan konyol yang terdengar sangat masuk akal bagi orang awam.
Lin Ling menunjukkan sisa bubuk arang herbal pemudar warna di tangannya. "Aku sengaja mengubah warnanya demi keselamatan nyawa kita berdua. Mengerti?"
Wang Ba yang polos dan penakut langsung meneguk ludah, lalu mengangguk-angguk setuju dengan mata berbinar kagum. "Benar juga! Astaga, Saudara Lin, pikiranmu sangat jenius dan panjang ke depan! Kalau tidak, kita pasti sudah diseret ke penjara bawah tanah sekarang!"
Lin Ling tersenyum konyol di dalam hati. Menipu si Gendut ini ternyata semudah membalikkan telapak tangan. Dengan rambut hitam dan topi kain lusuh khas tukang sapu yang kini dia kenakan, penyamarannya sebagai murid kelas bawah yang malas telah sempurna 100%.
Satu jam kemudian, di Tangga Seribu Langit.
Sambil membawa sapu lidi bambunya, Lin Ling menguap lebar saat menyapu dedaunan kering dengan gerakan super lambat. Di sampingnya, Wang Ba sibuk mengelap pilar giok sambil sesekali mengintip ke langit, di mana puluhan murid Fraksi Penegak Hukum terbang lalu-lalang dengan wajah tegang.
TAP! TAP! TAP!
Rombongan murid Penegak Hukum berwajah bengis tiba-tiba berjalan turun dari tangga atas, langsung menghentikan langkah mereka tepat di depan Lin Ling dan Wang Ba.
"Kalian berdua! Berhenti!" gertak pemimpin penegak hukum, matanya yang tajam mengintimidasi mereka. "Apakah kalian melihat ada orang asing berambut putih mencurigakan yang lewat di sekitar sini sejak semalam?"
Wang Ba yang bermental tempe langsung gemetaran hebat hingga kain lap di tangannya jatuh ke tanah. Reaksi mencurigakan si Gendut itu seketika membuat para penegak hukum menyipitkan mata dan memegang gagang pedang mereka.
Melihat situasi yang mulai tidak menguntungkan, Lin Ling dengan cepat melangkah maju dengan cengiran bodohnya yang khas.
"Aduh, Kakak Senior yang gagah perkasa," ujar Lin Ling konyol sambil membungkuk hormat. "Semalam si Gendut ini mendengkur keras sekali seperti guntur runtuh, saya sampai harus menutup telinga dengan bantal. Kami sama sekali tidak mendengar apa-apa di luar. Tapi kalau bicara soal rambut putih..."
Lin Ling mengetuk dagunya, berpura-pura berpikir keras. "Bukankah Bangau Spiritual Sekte kita semuanya berbulu putih? Semalam saya sempat melihat bayangan putih besar terbang ke arah Puncak Kedua. Jangan-jangan... ada siluman bangau peliharaan yang bosan lalu mencoba masuk ke kamar Tetua?"
"Lelucon macam apa itu! Bodoh!" bentak si penegak hukum dengan wajah masam.
Dia menatap Lin Ling dari atas ke bawah. Rambut hitam, mata hitam, jubah putih lusuh penuh debu, wajah konyol, dan fluktuasi energinya murni hanya Body Tempering lapisan pertama—kasta terendah dari yang terendah. Orang lemas seperti ini tidak mungkin bisa menyusup ke kediaman master Nascent Soul tanpa memicu formasi.
"Cih, membuang-buang waktu saja. Ayo pergi, cari di tempat lain!" dengus si pemimpin penegak hukum dengan jijik, memimpin rombongannya pergi begitu saja.
Setelah para penegak hukum itu menjauh hingga tak terlihat, Wang Ba langsung merosot duduk di anak tangga giok, memegangi dadanya yang berdegup kencang.
"I-Iblis bangau... Saudara Lin, nyalimu benar-benar terbuat dari batu dewa! Kau berani membual di depan Fraksi Penegak Hukum!" puji Wang Ba sambil menyeka keringat dinginnya.
Lin Ling ikut duduk di samping si Gendut, menyandarkan sapu lidinya secara santai. "Kunci dari bertahan hidup di sekte besar itu adalah terlihat bodoh, Gendut. Semakin bodoh kita terlihat, semakin aman kita dari kecurigaan."
Wang Ba mengangguk setuju, lalu buru-buru merogoh bagian dalam jubahnya dan mengeluarkan sepotong daging kering untuk dikunyah demi menenangkan diri. Sambil mengunyah, mata si Gendut mendadak berbinar taktis. Dia mendekatkan wajahnya ke telinga Lin Ling dan berbisik dengan nada sangat rahasia.
"Saudara Lin, lupakan soal iblis mesum semalam. Aku punya bocoran informasi jalur belakang yang jauh lebih gila tentang Puncak Utama!"
"Oh? Informasi apa?" tanya Lin Ling santai, membiarkan mata hitamnya menyimak dengan serius.
"Bulan depan, sekte kita akan mengadakan Upacara Penyambutan Murid Baru dan Ritual Pengenalan Leluhur!" bocor Wang Ba dengan semangat berapi-api. "Ini adalah event terbesar tahun ini! Semua murid jenius klan atas akan dikumpulkan, dan seluruh Tetua Inti dari Puncak Utama akan turun gunung untuk hadir!"
Wang Ba menelan daging keringnya, lalu melanjutkan dengan wajah penuh kekaguman. "Termasuk adik perempuanmu... eh maksudku, kebanggaan sekte kita, Nona Lin You! Beliau yang memiliki akar spiritual kelas super pasti akan duduk di kursi kehormatan puncak!"
Mendengar nama itu disebut, tatapan Lin Ling mendadak menerawang jauh ke arah awan tertinggi Puncak Utama. Lin You... adik kecilku. Ternyata kau sudah melangkah sejauh ini dalam seratus tahun.
"Lalu, apa hubungannya event itu dengan kita yang hanya tukang sapu?" tanya Lin Ling, memancing informasi lebih dalam.
"Justru ini kesempatan emas kita!" jawab Wang Ba bersemangat. "Fraksi Urusan Luar kita sudah ditunjuk untuk menjadi tim logistik harian selama upacara. Kita akan bertugas membawa nampan teh, buah spiritual, dan mengatur dekorasi altar. Aku sudah mendaftarkan nama kita berdua! Kapan lagi tukang sapu seperti kita bisa melihat wajah cantik Nona Lin You dan para master hebat dari dekat?"
Lin Ling menyunggingkan senyum misterius yang konyol. Berdiri sangat dekat dengan adiknya dan para Tetua agung di bawah hidung mereka? Ini adalah panggung taktis yang luar biasa menguntungkan untuk mengintai target rampokan masa depan.
"Tapi bukan itu saja keuntungan terbesarnya, Saudara Lin," bisik Wang Ba lagi, kali ini dengan senyum licik. "Karena semua master, tetua, bahkan penjaga Puncak Kedua sekarang sedang sibuk mempersiapkan upacara besar tersebut di Puncak Utama—ditambah fokus mereka yang beralih untuk menjaga kediaman pribadi para sesepuh perempuan akibat insiden semalam... kudengar Gudang Obat Sekte Luar di kaki Puncak Kedua saat ini benar-benar kekurangan personel patroli harian!"
Mendengar kalimat terakhir dari Wang Ba, sepasang mata hitam Lin Ling seketika berkilat tajam penuh arti.
Ratapan nelangsanya di balik selimut semalam kini telah berubah total menjadi kalkulasi taktis yang matang. Kegagalannya salah masuk kamar mandi kemarin justru melahirkan umpan balik yang luar biasa: penjagaan gudang obat asli sekarang melonggar total demi menjaga privasi sang Tetua.
Lin Ling perlahan bangkit berdiri, menggenggam sapu lidinya kembali dengan cengiran yang sangat lebar.
"Gendut, informasi dari jalur belakangmu ini... sial, benar-benar luar biasa," puji Lin Ling dengan tulus sambil menepuk bahu gempal sahabatnya.
Tirai perampokan yang sesungguhnya kini telah resmi terbuka lebar. Dan kali ini, si murid tukang sapu berambut hitam tidak akan salah mengetuk pintu lagi.