NovelToon NovelToon
Satu Atap Dua Rahasia

Satu Atap Dua Rahasia

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.8k
Nilai: 5
Nama Author: Bhebz

Biru Hermawan, pewaris takhta perusahaan raksasa, menyimpan "bom waktu" di dadanya: kondisi jantung lemah yang mengancam nyawa dan ambisinya. Demi mengamankan posisi sebagai CEO, ia harus memenuhi syarat kakeknya untuk menikah. Di sisi lain, Selena, seorang penulis novel populer yang muak dengan tekanan pernikahan, terjepit dalam realitas yang membosankan.

​Keduanya sepakat dalam pernikahan kontrak dengan satu aturan mutlak: "Dilarang Jatuh Cinta."

​Tinggal satu atap, Selena berjuang menyembunyikan identitas penulisnya, sementara Biru mati-matian menutupi rasa sakit yang menyerang setiap malam. Namun, saat tembok pembatas mulai terkikis oleh kepedulian, mereka terjebak dalam dilema mematikan. Akankah gairah yang mulai tumbuh menjadi obat bagi kesepian mereka, atau justru menjadi pemicu detak jantung terakhir yang mengakhiri kisah mereka selamanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bhebz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 Bertemu Para Hiu

Wajah Selena memerah, bukan karena malu, melainkan karena amarah yang memuncak saat melihat pria berjas rapi itu duduk dengan tenang di ruang tamu apartemennya.

Pengacara utama keluarga Hermawan itu meletakkan sebuah map yang sama persis dengan yang ditemukan Selena di kamar Biru.

​"Nyonya Selena, saya di sini atas instruksi darurat dari Tuan Cakra. Kondisi Tuan Biru tidak memungkinkan untuk memimpin, sementara Hermawan Grup sedang dalam posisi rentan. Besok pagi, Anda harus hadir di rapat direksi sebagai CEO baru," ucap pengacara itu dengan nada yang sangat datar, seolah sedang membacakan menu makan siang.

​"Persetan dengan Hermawan Grup! Aku tidak peduli dengan perusahaan itu!" Selena menggebrak meja hingga cangkir kopi di atasnya berdenting. "Dimana suamiku? Dimana Mas Biru?! Aku ingin bertemu dengannya sekarang juga!"

​Pengacara itu hanya menyesuaikan letak kacamata tanpa ekspresi sedikit pun. "Instruksi yang saya terima sangat terbatas, Nyonya. Saya tidak berwenang memberikan informasi mengenai lokasi atau detail kondisi medis Tuan Biru. Tugas saya hanya memastikan transisi kekuasaan berjalan lancar."

​"Cakra yang menyuruhmu? Katakan pada asisten pengecut itu untuk bicara langsung padaku!" suara Selena meninggi, nyaris histeris. "Kalian pikir aku ini apa? Setelah suamiku menggunakanku sampai hampir mati di Uluwatu, sekarang kalian mau menjadikanku tameng di perusahaan?"

​"Nyonya, mohon tenang. Ini bukan tentang transaksional, ini tentang kelangsungan hidup ribuan karyawan dan warisan keluarga," sela sang pengacara tetap tenang. "Tuan Biru sudah memercayakan ini pada Anda. Besok pagi pukul 08.00, mobil akan menjemput Anda. Jika Anda tidak hadir, maka posisi Hermawan Grup di bursa saham akan hancur."

​Selena tertawa miris, air matanya menetes tanpa bisa dicegah. "Dia memberiku 51 persen saham untuk membungkamku, bukan? Agar aku tetap diam sementara dia entah sedang bersembunyi di mana atau sedang meregang nyawa karena kebodohannya sendiri malam itu."

​Pengacara itu berdiri, membungkuk sopan tanpa menjawab satu pun pertanyaan Selena tentang keberadaan Biru. Ia meninggalkan ruangan, menyisakan Selena yang berdiri gemetar di tengah kemewahan yang kini terasa seperti penjara emas.

​"Brengsek kamu, Biru... kamu memaksaku masuk ke duniamu saat aku bahkan belum selesai menghirup aroma tubuhmu," bisik Selena pilu.

Selena menatap jas kerja formal yang tergantung di lemari, menyadari bahwa besok pagi ia harus memakai topeng kekuatan di saat hatinya sedang hancur berkeping-keping karena rindu dan rasa khawatir yang membunuh.

Esok paginya.

Langkah kaki Selena menggema di lantai marmer lobi Hermawan Grup yang dingin. Ia mengenakan setelan blazer hitam yang elegan, menyembunyikan tubuhnya yang sebenarnya masih terasa lelah dan gemetar.

Matanya yang sembab telah ditutupi riasan tipis, menciptakan topeng keteguhan yang dipelajari dari karakter-karakter kuat dalam novelnya.

Begitu pintu ruang rapat direksi terbuka, dua pasang mata tajam langsung menyambutnya. Raka, sepupu Biru yang dikenal licik, dan Pertiwi, tante Biru yang selalu merasa paling berhak atas takhta keluarga, sudah duduk di sana dengan senyum yang tidak sampai ke mata.

"Wah, lihat siapa yang datang," Raka memulai dengan suara bariton yang penuh nada meremehkan. Ia berdiri, namun gesturnya sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.

"Istri kontrak yang tiba-tiba menjadi ratu semalam. Biru memang selalu punya selera yang... mengejutkan."

Pertiwi menyesap tehnya perlahan, lalu meletakkan cangkirnya dengan bunyi ting yang tajam. "Jangan begitu, Raka. Selena ini kan 'pahlawan' kita. Meskipun kami bingung, apa yang sebenarnya kamu berikan pada keponakanku sampai dia begitu murah hati memberikan 51 persen sahamnya? Padahal, kami dengar Biru langsung 'tumbang' tepat setelah kalian kembali dari Bali."

Sindiran itu bagaikan sembilu yang menyayat luka di hati Selena. Ia tahu maksud Pertiwi; mereka sedang menuduhnya sebagai penyebab kondisi Biru.

"Mungkin bakat menulisnya sangat membantu di atas ranjang, ya? Sampai-sampai Biru lupa daratan dan lupa... kesehatan?" Raka terkekeh, matanya menyapu penampilan Selena dari atas ke bawah dengan tatapan menghina.

Selena mengepalkan tangannya di bawah meja hingga kukunya memutih. Amarah membakar dadanya, namun ia teringat wajah Biru yang pucat di malam terakhir mereka. Ia tidak boleh terlihat lemah di depan para hiu ini.

"Cukup," suara Selena keluar dengan dingin dan stabil, mengejutkan Raka dan Pertiwi yang mengira ia akan menangis.

Selena menarik kursi utama—kursi milik Biru—dan duduk di sana dengan punggung tegak. Ia meletakkan map berisi surat wasiat itu di atas meja dengan bantingan pelan namun tegas.

"Saya di sini bukan untuk mendengarkan gosip keluarga yang tidak berkelas. Saya di sini karena Biru Hermawan memercayakan perusahaan ini pada saya, bukan pada kalian,"

Selena menatap lurus ke mata Pertiwi. "Jika Anda ingin tahu apa yang saya berikan pada Biru, jawabannya sederhana: Sesuatu yang tidak dimiliki oleh kalian berdua—kesetiaan dan kepercayaan."

Ia melirik jam tangannya, lalu menatap seluruh dewan direksi. "Rapat dimulai sekarang. Jika ada yang merasa keberatan dengan posisi saya, silakan tinggalkan ruangan ini sekarang juga, atau simpan sindiran kalian untuk saat jam istirahat."

Raka dan Pertiwi terdiam sesaat, tidak menyangka bahwa wanita yang mereka anggap hanya 'pemanis' itu memiliki taring yang begitu tajam.

Di balik ketegasannya, Selena sedang berteriak dalam hati, berharap Biru melihatnya sekarang, berharap pria itu segera bangun hanya untuk mengambil kembali beban yang sangat berat ini darinya.

***

1
Rahmah Salam
hummmm....💪💪
Rahmah Salam
egoisss....emang anda tau kebahagian seseorang...😎
Rahmah Salam
tdk enak di posisi selena yg mengalami kebingungan dan ketidak pastian...
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
waduh.... lemah sekali ea
Rahmah Salam
semangat semangat,,😄
Rahmah Salam
thor lnjut lg dong...
Rahmah Salam
ikut terharu..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
kasihan biru..../Sleep//Sleep/
Rahmah Salam
akankah dia tau..???/Sweat/
Rahmah Salam
waduhhh....jangan died dl thor....😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
kalau jin gimna....???
jin ouch jin sentuh itu selena...
Rahmah Salam
kontrak batal😎...misi sang mertua sukses...😄😄
Bhebz: wkwkwk
total 1 replies
Rahmah Salam
asin dong klau msh ada sisa air laut yg nempel😆
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
ikuti alur nya seperti air yang menuju muara lalu bertemu lautan
Rahmah Salam
setidakx merasskan rasa happy di akhir hidupx.....😆
Rahmah Salam
dehhh....deg degan😆
Rahmah Salam
kira2 senakal apa sih biru dulu????😎
Rahmah Salam
jenis penyakit langka😎
☠ᵏᵋᶜᶟ Fiqrie Nafaz Cinta🦂
penuh lika liku naik turun jurang dan tebing... hihihi....
Titin Riani
nunggu update lagi dong 😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!