Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GSS
Kini, ia menyesal, kenapa dahulu tidak mau dicarikan sopir ketika ditawari ayahnya dengan alasan Ella butuh privasi. Ia ingin kemana-mana sendiri. Akibatnya, ayahnya pun melakukan hal yang sama. Menolak memakai supir. Ayahnya janji akan pakai supir kalau Ella juga mau pakai supir.
Tapi kadang penyesalan memang datangnya belakangan. Andai semua bisa kembali, Ella tak akan membiarkan ayahnya nyetir sendiri. Bahkan ia tak akan membiarkan ayahnya pergi.
Saat mobil yang ditumpangi Ella berhenti di depan rumah, ia langsung menyadari ada sesuatu yang tidak biasa. Halaman yang biasanya lengang kini dipenuhi orang.
Untuk sesaat, ia mengira mereka adalah pelayat yang datang untuk menyampaikan belasungkawa. Namun begitu pintu mobil terbuka dan kakinya menapak keluar, kilatan kamera langsung menyambut, diikuti suara-suara yang saling tumpang tindih, terlalu cepat, terlalu tajam.
Mikrofon-mikrofon diarahkan ke wajahnya tanpa jeda. “Benarkah ayah Anda terlibat korupsi?”
“Apa Anda tahu soal penggelapan dana satu triliun?”
“Sejak kapan praktik itu berlangsung?” Pertanyaan-pertanyaan itu menghantamnya tanpa ampun.
Ella membeku, otaknya seolah terlambat mengejar arti kata-kata yang baru saja didengarnya. Korupsi? Satu triliun? Ia bahkan tidak yakin pernah mendengar angka sebesar itu dalam konteks hidupnya sendiri.
Dadanya terasa sesak, bukan hanya karena kehilangan yang belum sempat ia cerna, tetapi juga karena tuduhan yang terdengar begitu asing dan begitu kejam.
Ayahnya tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Tidak mungkin! Pak Tanto memang seorang pejabat, tapi hidup mereka jauh dari kemewahan. Mobil yang tadi pagi di gunakan ayahnya, yang kini hancur di dasar jurang adalah mobil yang sama selama sepuluh tahun terakhir.
Rumah yang kini dipenuhi wartawan ini pun bukan hasil jerih payah jabatan, melainkan warisan dari ibunya. Bahkan untuk sekadar merenovasi bagian rumah yang mulai lapuk, ayahnya selalu menunda dengan alasan yang sama yaitu belum perlu, belum ada dana.
Ayahnya memang bisa saja meminjam ke bank, itu bukan hal sulit bagi seseorang di posisinya. Tapi Ella tahu betul, ayahnya tidak akan pernah melakukan itu hanya demi kenyamanan atau gengsi. Ayahnya selalu memilih cukup, bahkan ketika punya alasan untuk lebih.
Lalu sekarang, orang-orang ini, orang-orang yang tidak pernah benar-benar mengenalnya berdiri di halaman rumah mereka, melemparkan tuduhan seolah itu fakta. Ella mengepalkan tangannya tanpa sadar, menahan sesuatu yang mulai naik dari dalam dadanya. Ini bukan hanya salah. Ini tidak masuk akal.
Suara-suara itu belum berhenti. Justru semakin mendesak, semakin berani, seolah kebingungan di wajah Ella adalah celah yang bisa mereka manfaatkan.
Seseorang menarik sedikit lengan bajunya, mikrofon hampir menyentuh pipinya. “Apakah Anda menyangkal tuduhan tersebut?”
“Ada dugaan dana dialihkan melalui rekening keluarga, apakah Anda terlibat?”
Kalimat itu membuat Ella tersentak. Sesuatu di dalam dirinya seperti retak. Bukan karena ia merasa bersalah tapi karena kemarahan yang tiba-tiba muncul, panas dan asing. Ia menarik lengannya kasar, mundur satu langkah. Napasnya memburu. “Saya tidak tahu apa yang kalian bicarakan,” katanya akhirnya, suaranya bergetar tapi cukup keras untuk memotong kebisingan. Namun kalimat itu tidak meredakan apa pun. Justru seperti menuang minyak ke api.
“Jadi Anda tidak membantah?” sahut suara lain cepat.
Ella menggeleng, kali ini lebih tegas. “Ayah saya tidak seperti itu.”
Tawa kecil terdengar dari kerumunan para wartawan, mereka sinis, tidak percaya. Sikap yang sama seperti pada keluarga koruptor lainnya. Kilatan kamera kembali menyilaukan. Dunia terasa terlalu sempit, terlalu bising, terlalu menekan dari segala arah. Untuk sesaat, Ella merasa seperti akan tenggelam di tempatnya berdiri.
Lalu tiba-tiba, sebuah tangan menariknya dari belakang. “Kalian tidak punya hak untuk mengintimidasi keluarga korban seperti ini!” Suara itu tegas, tajam, memotong kerumunan seperti pisau. Seorang pria paruh baya, tetangga lama yang Ella kenal samar berdiri di antara dirinya dan para wartawan. Beberapa orang lain mulai ikut mendesak, mencoba menghalangi kamera dan mikrofon yang terus maju.
“Silakan pergi! Ini bukan tempat konferensi pers!” lanjut bapak tersebut.
Keributan kecil pecah. Ada yang masih berusaha bertanya, ada yang mulai mundur sambil tetap merekam, ada yang berteriak dari belakang. Tapi celah itu cukup.
Ella ditarik masuk melewati pagar, melewati pintu yang segera ditutup keras dari dalam. Lalu tiba-tiba sunyi.
Bukan benar-benar sunyi. Napasnya masih terdengar keras di telinganya sendiri. Detak jantungnya belum juga melambat. Tapi dibandingkan kekacauan di luar, rumah itu terasa seperti ruang hampa.
Ella berdiri di ruang tamu, masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi. Korupsi. Satu triliun. Rekening keluarga. Kata-kata itu berputar di kepalanya, saling bertabrakan tanpa arah.
“Ella…” Suara Bu Vero terdengar pelan dari arah dalam. Perempuan itu berdiri beberapa langkah darinya, wajahnya pucat, matanya merah, entah karena menangis atau karena hal lain. “Kamu tidak apa-apa?”
Tadi saat turun dari mobil memang hanya Ella yang dikejar wartawan sebab selama ini publik hanya tahu ialah satu-satunya keluarga Pak Tanto.
Pernikahan Ayah Ella dan Bu Vero dilakukan secara siri. Yang tahu hanya keluarga inti dan ustad yang menikahkan. Makanya ia bisa lolos dengan aman dari wartawan.
Ella tidak langsung menjawab. Matanya perlahan beralih ke arah meja ruang tamu. Di atasnya, televisi menyala. Dan di layar foto ayahnya. Disandingkan dengan tulisan besar berwarna merah: “PEJABAT TERLIBAT KORUPSI 1 TRILIUN TEWAS DALAM KECELAKAAN”
Napas Ella tercekat. Untuk pertama kalinya sejak pagi itu, rasa kehilangan yang ia tahan mulai bercampur dengan sesuatu yang lain. Bukan hanya kesedihan. Bukan hanya kebingungan. Tapi kemarahan. Dingin. Dalam. Dan perlahan mengeras.
“Ayah tidak melakukan itu,” katanya akhirnya, pelan, hampir seperti berbicara pada dirinya sendiri. Tapi kali ini ia tidak hanya ingin percaya. Ia ingin membuktikannya.
Dengan suara yang berusaha terdengar tenang, Bu Vero meminta Ella untuk beristirahat di kamar, menekankan bahwa ia akan segera memberi kabar apa pun yang terjadi, sekecil apa pun perkembangan yang muncul.
Ella hanya mengangguk tanpa benar-benar mendengar, lalu berjalan menuju kamarnya dengan langkah yang terasa ringan sekaligus berat. Begitu pintu tertutup dan ia memutarnya hingga terkunci, dunia di luar seakan terputus, tapi kepalanya justru semakin bising.
Ia tidak berbaring. Tidak juga mencoba memejamkan mata. Tangannya langsung meraih remote, menyalakan televisi, seolah mencari sesuatu berupa penjelasan, mungkin, atau sekadar pembenaran bahwa semua ini tidak nyata.
Namun yang muncul justru sebaliknya. Di hampir semua saluran, wajah ayahnya terpampang berdampingan dengan judul-judul yang terlalu besar, terlalu berani: dugaan korupsi skala besar, penggelapan dana hingga satu triliun, keterlibatan jaringan pejabat.
Narasi yang sama diulang dengan sudut berbeda, beberapa lebih halus, beberapa terang-terangan menghakimi. Potongan-potongan analisis bermunculan, menghadirkan “pakar” yang dengan yakin membangun alur cerita, menyusun kemungkinan, bahkan menyimpulkan tanpa ragu.