NovelToon NovelToon
Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Maira : Suamiku Menikahi Pembantuku

Status: tamat
Genre:Romantis / Tamat
Popularitas:4.6M
Nilai: 4.9
Nama Author: Sujie

Ketika kepercayaan sudah ternodai, akankah hati masih bisa bertahan?

Sebuah perjalanan cinta dan pernikahan antara Maira dan Agam yang diwarnai kehadiran orang ketiga yang sama sekali tak diharapkan oleh keduanya.

Diantara Maira dan Agam maupun Sita yang merupakan orang ketiga disini, tidak ada yang menghendaki hubungan ini sama sekali.

Lalu bagaimanakah akhirnya hubungan ini bisa terjadi?

Bagaimana Agam berjuang meyakinkan Maira dan merebut kembali hatinya yang terluka? Namun selain itu, mampukah Agam menjaga hatinya setelah menikahi Sita?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sujie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jujur Pada Keluarga

"Assalamualaikum ...," Maira mengetuk pintu rumah mertuanya dan mengucapkan salam dengan suaranya yang sedikit parau. Tenggorokannya terasa sakit, seperti gejala akan flu dan batuk. Atau mungkin efek karena terus menangis selama beberapa hari ini.

"Sayang, tolong pikirkan lagi keputusan ini! Karena ini nggak akan mudah untuk kita." Agam menarik tangan istrinya dan berbisik di telinganya.

"Mas, tolong ... kepalaku sudah pusing. Jangan membuatku semakin pusing dan bimbang. Andai aku hidup sendiri tanpa orang tua ataupun mertua, aku lebih baik lari saja dari semua ini. Nggak mau memikirkan hal rumit seperti ini. Andai aku bisa egois sedikit saja, aku lebih baik pergi tanpa memikirkan ini semua. Tanpa memikirkan ibu bapakku atau siapapun. Tapi sayangnya aku tidak bisa." Maira membuang pandangannya. Ia menghentikan perkataannya saat terdengar suara pintu rumah yang tadi ia ketuk terbuka.

"Wa'alaikumsalam ...," jawab ibu mertua Maira seraya tersenyum menyambut tamu yang datang kerumahnya.

"Maira ... Agam!" Bu Siti memeluk anak dan juga menantunya secara bergantian.

"Ibu seneng sekali kalian kesini, sudah lama kalian tidak rutin berkunjung kesini. Ibu kangen sama kalian." Bu Siti terlihat senang sekali.

"Maafkan Maira, Bu. Maira dan mas Agam agak sibuk jadi baru sempat kesini," sesal Maira.

"Kalau sibuk ya nggak apa-apa. Ayo masuk kalau begitu, kita ngobrol di dalam saja. Oh iya ... ini siapa? Kok tumben ngajak orang lain kesini." tanya Bu Siti seraya menunjuk kearah Sita.

"Ini Sita, Bu. Nanti biar mas Agam yang ngenalin ke Ibu. Kita masuk aja, yuk!" ajak Maira. Ia sempat melirik sebentar pada suaminya.

"Kalian duduk dulu sini, Ibu panggilkan bapak dulu dibelakang. Bapak sedang membersihkan rumput dibelakang." Bu Siti pun berlalu dari sana.

Agam dan Maira terlihat saling diam karena Maira tak ingin mengobrol dengannya. Rasanya tak ingin juga melihat wajahnya. Sementara Sita, ia terus menunduk karena hatinya dilanda kecemasan yang semakin menjadi-jadi. Perasaannya terasa tidak enak, ia takut akan diusir nantinya.

"Wah ... ada tamu spesial rupanya." Ayah Agam datang seraya mengulas senyumnya.

"Bapak ...," sapa Maira, ia lalu berdiri dan menyalami bapak mertuanya dengan sopan.

"Oh iya, ini Pak, kenalin ini Sita," sambung Maira. Sita pun ikut menyalami ayah Agam dengan sopan. Begitu pula sebaliknya, pak Shaleh membalasnya.

"Bagaimana kabar kalian? Bapak dan Ibu sempat khawatir, kenapa kalian lama sekali tidak kesini?" tanya pak Shaleh pada anak dan menantunya setelah ia duduk.

"Kami baik-baik saja, Pak." Maira tersenyum.

"Tapi ... kok Bapak melihat kalian nggak seperti biasanya?" Pak Shaleh menatap Maira dan Agam secara bergantian.

Biasanya Agam dan Maira saling menimpali omongan saat salah satu dari mereka ditanyai sehingga suasana menjadi ramai. Tapi kali ini Agam terlihat datar, bahkan seperti merasa tidak nyaman. Maira pun wajahnya tak secerah biasanya. Terlihat murung dan tak bersemangat.

Maira menunduk, ia terlihat mempertimbangkan sesuatu sebelum akhirnya kembali mengangkat kepalanya. Kali ini pak Shaleh semakin bisa melihat jelas ada guratan kesedihan di wajah menantunya.

"Sebenarnya-"

"Minum dulu, Maira, Agam ... kalian pasti haus." Bu Siti tiba-tiba menyela ucapan Maira tanpa sengaja. Ia baru saja datang membawa nampan berisi minuman yang baru saja ia buat di dapur tadi.

"Terimakasih, Bu." Maira mengangguk.

"Ya sudah, kalian minum dulu setelah itu baru cerita." Pak Shaleh mempersilahkan.

"Cerita apa memangnya, Pak?" tanya bu Siti penasaran, alisnya berkerut. Ia lalu duduk disebelah suaminya sambil masih membawa nampan di pangkuannya.

Setelah minum dan kembali mempertimbangkan, Maira pun membuka suara.

"Sebenarnya kedatangan kami kemari karena ada sesuatu hal penting yang akan disampaikan oleh mas Agam, Pak, Bu," ujar Maira seraya melirik suaminya. Ia berharap Agam bisa menceritakan semuanya dan bersikap jantan saat ini.

"Oh ya? Hal penting apa, Gam? Apa ini kabar bahagia?" Senyum pak Shaleh mengembang dengan raut wajah yang penasaran. Begitu juga istrinya, bu Siti nampak antusias ingin mendengarkan apa yang akan disampaikan oleh putranya.

Tapi tiba-tiba putranya justru bangkit dari duduknya dan bersimpuh dihadapan kedua orang tuanya. Tak kuasa melihat raut wajah ayah dan ibunya lagi. Agam menceritakan apa yang telah terjadi pada rumah tangganya saat ini. Ia juga menceritakan kronologinya secara panjang lebar bagaimana hal memalukan itu ia lakukan.

"Maafkan Agam, Pak, Bu. Agam benar-benar menyesal atas kejadian ini," sesal Agam.

"Jadi perempuan ini telah hamil anakmu?" tanya pak Shaleh dengan kilatan amarah dimatanya. Rahangnya terlihat begitu mengeras karena rasa marah dan kecewa yang bercampur menjadi satu.

Agam mengangguk pelan, ia sudah pasrah jika ayahnya akan meluapkan kemarahannya.

"Memalukan!" Suara pak Shaleh terdengar menggelegar di seisi rumah.

"Bapak sudah katakan sejak kamu kecil, remaja hingga dewasa. Bahwa jangan sekalipun mendekati sesuatu yang haram karena hal itu bisa menghancurkan hidupmu, Gam! Sekarang lihat apa yang terjadi! Rumah tanggamu diambang kehancuran!" Suara pak Shaleh masih meninggi. Ia bahkan sampai berdiri dari tempat duduknya karena marah. Tangannya berkacak pinggang sementara matanya menatap putranya yang masih bersimpuh di hadapan ibunya.

"Bapak mendidik kamu agar kamu menjadi anak yang membanggakan bagi keluarga. Tapi nyatanya apa yang kamu lakukan?" Dada pak Shaleh terlihat naik turun karena emosi.

"Pak ... sudah! Duduk dulu," pinta bu Siti.

"Ibu kecewa sama kamu, Gam. Kami memang menginginkan cucu, tapi bukan cucu dari hubungan haram seperti ini. Ibu nggak sudi punya cucu hasil perbuatan zina!" Bu Siti menatap sinis pada Sita.

"Bu ...," panggil Agam, "Maafkan Agam, Agam sungguh menyesal atas kejadian ini, ini semua terjadi diluar kendali Agam. Tolong maafkan Agam!" pintanya.

"Lalu sekarang bagaimana?" tanya bu Siti setelah ia berhasil membuat suaminya duduk kembali.

"Mas Agam akan menikahi Sita, Bu. Karena bagaimanapun Sita adalah korban disini, kegadisannya direnggut paksa oleh mas Agam hingga membuat Sita hamil," sahut Maira karena Agam tak kunjung menjawab.

Sementara itu Sita semakin ketakutan hingga tak berani mengangkat kepalanya sama sekali. Buliran bening terus mengalir dari kelopak matanya hingga membuat pipinya basah dan sebagian menetes di pakaiannya.

"Menikahi Sita? Nggak Maira, Ibu nggak setuju! Ibu nggak mau anak haram itu hadir ditengah keluarga kita, ibu nggak sudi, titik!" tolak ibunya Agam.

"Ibu hanya mau cucu dari wanita yang terhormat seperti kamu, wanita yang jelas bibit, bebet, bobotnya. Bukan dari wanita sembarangan seperti ini, ibu nggak suka! Ibu nggak mau!"

Terasa seperti ditebas oleh pedang yang begitu tajam. Ucapan bu Siti benar-benar membuat hati seorang Sita begitu terasa sakit, begitu nyeri di dalam sana. Ia juga tidak mau ini terjadi, ini juga bukan kehendaknya.

"Bu-" Baru saja Maira akan kembali bicara, tapi ibu mertuanya memotongnya begitu saja.

"Lalu bagaimana nasib kamu, Nak?" tanyanya prihatin.

"Mau tidak mau Maira harus belajar menerimanya. Karena semua ini terjadi bukan atas kehendak mereka juga. Kecuali jika memang itu adalah skandal mereka, yang memang keduanya sudah niat melakukannya. Maira nggak akan bertahan lagi jika yang terjadi adalah seperti itu. Tapi kenyataannya ini adalah ketidaksengajaan." Maira tertunduk, bibirnya bergetar dan buliran bening kembali lolos dari matanya setelah sejak tadi ia berusaha menahannya.

Bu Siti terlihat memijat kepalanya, begitupun suaminya. Ini memang sulit untuk diputuskan. Jika mendengar cerita dari Agam dan Maira, disini memang Sita tidak bersalah juga. Ia justru adalah korban disini, sementara Agam sendiri pun tidak menyadari jika ia telah menggauli orang yang bukan istrinya. Tapi tidak rela rasanya jika harus menerima cucu hasil perbuatan haram di dalam keluarganya.

1
Reichan Muhammad
kapan bikin karya baru torr
Surati
bagus
Vindy swecut
keren👍🏻
Enung Samsiah
pokonya yg kasihn disini yg pling mnderita cuma sita,, agam pengecut
Enung Samsiah
endingnya nggk seru, sita ksihn ggk pernah bhgia, apalagi agam pengecut nggk punya hatii bngett
Enung Samsiah
tpi yg lbh kasihn itu sita, sakit hatinya tidk bisa marah pd siapapun, nyesekkk,,,
Enung Samsiah
kasim nggk punya hati,,,
Enung Samsiah
pk kasim ngebiarin dosa nggk punya hati bngett brengsekkkk,,
Enung Samsiah
susah hamil karena kecapean mungkin pada sibuk pagi pergi pulang mlm,,
Anonim
Ppp p0..00.0
Armi Armi
cari tu yg agak tuaan, ini mah si meira yg cari penyakit....
Hasian Marbun Ian ayurafanisa
bnyak yg coment masalah pembantu yg masih muda, menurut aq bkn masalah pembantu tua ato mudanya tapi agamnya yg salah karena gk teguh pendirian
Tut Eny
lanjut
i am wiyya
kasihan sita.. walaupun rela tp nyatanya maira agam dan orangtunya agam jahat dan egois... bukan kesalahan sita sepenuhnya...
~R@tryChayankNov4n~
blm rilis ya thor novel barunga....
gw intip koq gk ad🙃
~R@tryChayankNov4n~
otw ngintip...👍👍💛💛
Helsey Khalila
bikin sita ama reza thorr kasian sita
Keiza Alfaro
sebenarnya yg salah disini adalah Maira kalau dia sudah merelakan Agam untuk menikah dengan Sita seharusnya dia juga memberikan hak yg sama dengan Sita.tp nyatanya apa hanya ketidak adilan yg diterima oleh Sita hingga menyakiti hati Sita dan Agam lah yg menanggung dosa karena tidak bisa berbuat adil kepada kedua istrinya.kalau kita tidak rela berbagi ranjang dengan wanita lain jgn pernah meminta suami kita menikah lagi.kalau maira wanita yg terpilih pasti dia akan ridho untuk dimadu,pasti dia akan ridho membagi suaminya dengan istri keduanya.
Helsey Khalila
seorang istri yg berhati mulia
sari emilia
mk nya kl ga pernah minum ga usah so so an ikut kaim dajal jd double kn dosanya mabok n berzinah untunh ga sekalian spt kisah zurais
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!