Aku benci sekali padanya! Dia lelaki paling menyebalkan yang pernah aku temui. Ucapannya selalu menyakiti hati, tingkahnya kasar dan juga egois! Paket komplit sebagai pria pemenang nominasi paling di benci sejagat.
Tapi kenapa semuanya kini berubah?
Mungkinkah aku jatuh cinta pada lelaki ini? Pangeran berhati dingin bernama Melviano Mahaprana Gunardi?
Tak mungkin!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Siapa aku di hatimu.
Saat sedang menyelesaikan makanku, Mbok Yem, Siti, Pak Seno dan Joko masuk ke dalam kamar Vian. Pak Seno dan Joko adalah orang yang biasa membersihkan dan merawat taman milik keluarga Gunardi.
"Tolong, kamarku di bersihkan. Permadaninya di buang saja ganti yang baru. Lantainya harus bersih tanpa ada sisa pecahan beling. Kalau ada perabotan yang sudah lecet karena beling langsung di ganti!" Ucap Vian panjang lebar kepada para pelayannya.
Aku melihat permadani yang penuh pecahan beling, masih sangat bagus. Kalau di bersihkan pasti bisa di pakai kembali.
"Kenapa?" tanya Vian.
"Permadaninya masih bagus mas, apa mau di ganti?"
"Dari pada saat di bersihkan masih ada sisa beling yang menempel dan membuat terluka, mending langsung buang saja. Aku tidak mau ambil resiko."
Seketika jiwa miskin ku meronta. Permadani yang masih sangat bagus seperti itu mau di buang? padahal karpet di rumahku yang ada di desa, sudah bolong di sana sini aja masih di pakai.
Dasar orang kaya! kesel juga nih dengernya.
"Oh iya, hampir lupa. Nanti ada temanku mau ke sini, boleh mas?"
"Siapa?"
Nguoooonng.....
"Siti! jangan pakai Vacum cleaner dulu!" Vian membentak marah kepada Siti yang menyalakan alat pembersih.
"Ma.. maaf Den." Siti terlihat ketakutan, dengan segera dia mematikan alat pembersihnya.
"Gimana tadi? lanjutkan." Vian kembali menatapku.
Aku menatap Vian dengan kesal. Kenapa sih dia harus marah pada Siti? kan dia sendiri tadi yang memerintahkan semua orang untuk bersih-bersih.
"Kita keluar saja, biar mereka bisa bekerja tanpa terganggu." Ucapku.
Aku menurunkan kaki kananku terlebih dahulu lalu bangun dengan dibantu Vian. Vian terus memegangi tanganku, menjadi penopang ku agar aku bisa berdiri.
Aku melompat kecil karena kaki kiri ku tak menginjak lantai.
"Sulit nggak? aku belikan kursi roda ya?"
"Ck! nggak perlu. Cuma luka kecil begini masa pakai kursi roda."
Aku dan Vian keluar dari kamar, dan duduk di sofa yang ada di lantai dua, dekat kamar Vian.
"Itu loh mas, temenku di toko. Namanya Nunung." Lanjutku.
Vian terlihat berpikir sejenak. "Mau apa dia kesini?"
"Dia mau melihat keadaan ku, tadi waktu telpon nadanya sangat khawatir.. jadi aku terpaksa mengijinkan dia datang. Boleh mas?"
Vian hanya menganggukkan kepalanya.
"Tunggulah dia, aku akan di sini melihat mereka bersih-bersih."
"Jangan marah-marah. Kasihan Siti." Pintaku.
Vian hanya mendengus kesal.
Aku pun turun dari lantai dua menggunakan lift pribadi milik Vian lalu berjalan perlahan menuju ruang makan dan duduk di sana.
Tak lama kemudian, Pak Satpam penjaga gerbang datang dan mendekatiku. "Mbak, di depan ada perempuan bernama Nunung. Katanya mau ketemu Mbak Fafa."
"Iya Pak, tadi dia sudah telpon saya. Suruh dia masuk ya Pak." Pintaku.
"Oh gitu? baik Mbak."
Setelah itu, si Bapak Satpam muncul di ikuti Nunung. Saat melihatku, Nunung langsung berlari dan memelukku erat.
"Fa... kamu nggak apa-apa kan? aku denger Melsa sinting itu bayar orang buat nyakitin kamu!! Aku kaget banget."
"Aku nggak apa-apa, Adnan datang tepat waktu untuk menolongku." Ucapku sambil berusaha melepaskan pelukan Nunung.
Nunung pun duduk di sebelahku, lalu kepalanya mulai celingukan ke kanan kiri memandangi rumah megah ini.
"Gila rumahnya gede banget Fa?! Dari gerbang ke pintu masuk aja, jalan kaki ada lima menit!"
Aku tersenyum.
"Bener-bener orang kaya ya Vian? eh, mana orangnya kayak apa? aku penasaran." Bisik Nunung.
"Kamu kesini mau nengokin aku apa nyariin Vian?"
"Dua duanya lah..." Ucap Nunung sambil tertawa.
"Loh, ada tamu ya?" Tiba-tiba Mbok Yem muncul sambil membawa seprai, dia terlihat kesulitan karena seprai yang di bawanya sangat besar.
"Sebentar saya ambilkan minum ya Mbak." Ucap Mbok Yem sambil buru-buru menuju ruang laundry.
Nunung menatapku sambil menaikkan alis, seolah bertanya 'siapa?'
"Itu Mbok Yem, juru masak di rumah ini."
"Oohh..."
"Silahkan di minum Mbak," Mbok Yem meletakkan segelas jus jeruk kepada Nunung.
"Makasih Mbok Yem, tau saja kalau saya sedang haus." Ucap Nunung.
Tak berapa lama kemudian, Siti juga datang membawa handuk-handuk yang basah ke ruang laundry.
"Lagi bersih-bersih ya?" tanya Nunung padaku.
"Mereka sedang membersihkan kamar Vian." Jawabku sambil tersenyum, aku nggak mungkin bilang kan kalau Vian habis mengamuk dan membuat seluruh isi kamarnya berantakan.
"Ada darah juga di situ, Ti?" tanya Mbok Yem.
"Iya Mbok."
Mbok Yem menggelengkan kepalanya, "Emh.. Mbak Fafa nggak apa-apa kan? darahnya banyak banget tadi di seprai dan handuk."
"Nggak apa-apa, Mbok."
Nunung menatapku, bola matanya membulat seakan mau keluar.
"Apa? kenapa?" kesalku.
"Ada noda darahmu di seprai Vian? kalian habis ngapain? jangan bilang kamu sudah nggak perawan lagi!"
"Kamu mau mati ya!" Kesalku sambil melotot ke arah Nunung. "Nggak lihat ini kakiku terluka!" Aku mengangkat kaki kiriku ke atas dan menunjukkannya ke Nunung.
"Ooh.. aku kira kalian sudah..." Nunung sengaja tidak melanjutkan kata-katanya.
Mbok Yem yang mendengar ucapan Nunung malah tertawa cekikikan, lalu dia pergi menuju ruang laundry.
Nunung dan Mbok Yem memang cocok sekali untuk urusan menggodaku. Aku sedikit kesal jadinya!
"Hari ini kamu berangkat kerja?"
"Iya, aku sift siang, nih aku bawa seragam. Setelah dari sini aku akan langsung ke Mall." Ucap Nunung sambil menepuk tas kerjanya yang berisi seragam.
"Fa..."
Aku mendengar suara Vian memanggilku, "Aku di sini mas." Ucapku.
"Siapa?"
"Mas Vian." bisikku.
Lagi-lagi mata Nunung membulat sempurna saat melihat Vian muncul di dapur. Mulutnya bahkan sampai menganga.
"Tutup mulutmu! jangan malu-maluin aku!" Bisikku.
Nunung langsung menutup mulutnya. Lalu dia tersenyum ke arah Vian.
Vian hanya menatap Nunung sebentar lalu kembali menatapku. "Kalau kaki mu masih sakit, kita ke dokter saja." Ucapnya.
"Nggak kok, oiya mas, kenalin ini temanku. Nunung."
Nunung langsung bangun dari duduknya dan mendekati Vian, dia mengulurkan tangan mengajak Vian bersalaman. Vian hanya tersenyum sebentar lalu memutar roda kursinya dan pergi, tanpa membalas uluran tangan Nunung.
Nunung menatapku sambil menggelengkan kepala, "memang benar kalau kamu bilang dia itu pangeran judes! shombhong nya minta ampun!!!" Rupanya Nunung juga kesal pada Vian.
Aku langsung tertawa, "baru tahu?"
"Tapi, ganteng bangett..." Nunung duduk kembali dan mencubit-cubit tanganku. Dia gemas sendiri.
"Apaan sih!" tanpa sadar aku jadi merona.
"Ayo Fa, gas pol! kamu harus gerak cepat! cepetan deketin dia! jadiin dia pacar!"
"Di kira gampang apa?!" geramku. "Kamu nggak lihat, orangnya jutek begitu." Lalu aku terdiam.
"Anu.. Nung..."
"Apa?"
"Kalau cowok bilang.. 'jangan pergi dari ku, tetap di sisiku', apa artinya ya?" tanyaku hati-hati.
Nunung berpikir sejenak, "mungkin dia membutuhkan kamu... makanya dia ingin kamu tetap di sisinya."
"Butuh ya? butuh itu beda dengan cinta kan?" tanyaku sambil tertunduk.
"Vian bilang seperti itu kah?" Nunung berbisik.
Aku mengangguk pelan.
"Jackpot!!!" Teriak Nunung lantang. Buru-buru aku menutup mulutnya.
"Bisa nggak, tenang sedikit!" bentakku lirih sambil melotot ke arah nunung.
"Fa...." Nunung memegang pundakku dengan kedua tangannya, "nggak peduli kata-kata nya seperti apa, intinya dia itu ingin selalu bersamamu. Itu sudah cukup kan!"
Aku menggeleng, "dia membutuhkan aku untuk tetap di sisinya, itu beda dengan cinta." Aku tersenyum memandang Nunung.
"Tapi aku nya sudah terlanjur jatuh cinta padanya." tambahku lirih.
"Jangan lagi pergi dari sisiku... apalagi saat aku memintamu untuk tetap bersamaku..."
Tiba-tiba aku teringat ucapan Vian, lalu menghela napas.
Aku memang berjanji untuk selalu di sisinya, tapi aku ingin tahu juga apa sebenarnya isi hati Vian.
Siapa aku di hatinya? aku ingin kepastian. Tapi bagaimana caraku menanyakannya.
Aku menarik napas dan menghembuskannya dengan kasar.
Setelah Nunung berpamitan pulang, Vian mendekati ku yang masih duduk di ruang makan.
"Sedang melamunkan apa?"
"Eh.. Mas Vian.."
Vian mendekat lalu meraih kaki kiriku yang terluka kemudian mengangkat dan meletakkannya di atas kaki nya.
"Ke.. kenapa?"
"Lukanya masih mengeluarkan darah.. kita ke dokter saja ya." Ucap Vian, dia tampak khawatir.
Aku berpikir sejenak, "bolehkah aku sekalian menjenguk Adnan?" ucapku pelan.
Vian melotot, "kenapa sih? perhatian sekali padanya!"
"Dia kan sudah menyelamatkan aku.. apa Mas Vian juga nggak mau berterima kasih padanya." Aku menatap Vian penuh harap.
Vian mendengus, "baiklah." ucapnya sedikit kesal.
"Makasih Mas..." Aku tersenyum puas.
.
.
#jangan lupa like dan koment ya..
author juga seneng kok kalau di kasih poin yg nggak terpakai.. 🤭
❤️Terima kasih sudah membaca❤️