Erina Hutomo, single mom yang harus berjuang sendiri mengatasi kekacauan hidup--anak sulung yang beranjak remaja dan banyak ulah, anak bungsu yang autis, tetangga yang selalu nyinyir karena dia janda--hingga tumpukan pekerjaan yang terus menghantuinya di kantor.
Sampai suatu ketika, petir terbesar menyambarnya--Erina divonis mengidap kanker otak, dan usianya tak akan lama.
Di tengah badai, Erina tak sempat menangis. Garis akhir itu seperti bom waktu. Dan ia memilih mati-matian mempersiapkan segalanya, terutama untuk buah hati yang paling dicintainya. Ia hanya ingin anak-anaknya hidup layak dan bahagia--bahkan setelah ia tak ada lagi di dunia.
Termasuk, memberi mereka sosok ayah yang bisa menjaga dan menyayangi mereka seperti darah daging sendiri, sampai akhir.
Berhasilkah Erina menuntaskan misi dan harapan terakhirnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon La Rumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
5. REKENING & GINJAL AMAN
"Pak Alvin, Bu Atika, mohon tenang...!"
Iskandar memohon dengan suara agak parau--kentara gugup akibat situasi yang tak terduga dan makin panas. Ia sampai berdehem beberapa kali untuk menjernihkan pita suara, sebelum melanjutkan, "Sidang Komite Disiplin ini dilaksanakan untuk menegakkan aturan dengan situasi damai dan kondusif... karena itu sebaiknya kita semua tenang dan tak perlu terbakar emosi, apalagi sampai menyeret perkara ini ke kantor polisi--"
"Pak Iskandar!" Atika menegur berang.
"Maaf jika di mata Anda saya lancang dan menentang--tetapi ini juga demi citra sekolah, Bu Atika," Iskandar menegakkan punggung dan menegaskan suara. "Sejak awal kita sepakat sidang ini paling banter hanya akan menjatuhkan hukuman pemecatan siswa. Karena jika sampai kasus ini diproses ke polisi, sudah pasti berita buruk akan muncul di mana-mana. Apa Anda mau menanggung resiko itu untuk keluarga Anda dan sekolah milik mertua Anda ini?"
Atika mengerjap dan terhenyak, ekspresinya seakan baru saja dipukul telak.
"Jadi sejak awal memang sudah diatur seperti itu kan--kalian akan mengeluarkan Saga, tanpa mau tahu kebenarannya seperti apa?"
Erina kembali buka suara--kemarahannya kian membuncah hingga kepalanya kembali terasa sangat sakit dan terbelah seakan ditimpuk kapak tak kasat mata.
"Ma...!"
Saga menangkap gelagat ibunya yang sempat memejamkan mata dan mencengkeram pinggiran kursi, seakan hampir jatuh.
"Mama sakit kepala lagi, ya...?" Saga dengan cepat menghampiri Erina, memegang bahunya dengan khawatir. "Kalau nggak kuat, jangan dipaksa, Ma... mending kita pulang aja... kalau Saga memang harus dikeluarkan, Saga nggak apa-apa..."
"Nggak bisa gitu, Nak!" Erina kembali membuka matanya, ekspresinya campuran menahan sakit dan geram. "Mereka nggak boleh menginjak dan memperlakukan kamu seenaknya--hanya karena kamu bukan darah daging pemilik yayasan, bukan siapa-siapa! Kalau kamu harus dikeluarkan, maka Rudi sialan itu juga harus dihukum sama...!"
"Beraninya kamu mengatai anakku...!" teriak Atika naik darah.
"Kamu sendiri berani memanfaatkan kekuasaan untuk menyalahkan anakku dan menutupi kesalahan anakmu--dasar licik!" teriak Erina, tak mau kalah.
"Cukup!" Iskandar berdiri dan memperingatkan tajam. "Seperti yang saya katakan, sidang ini harus tenang dan kondusif--jika masih ribut seperti ini, ibu-ibu berdua akan saya keluarkan dari Aula dan sidang akan dilanjutkan tanpa kehadiran kalian!"
Atika dan Erina akhirnya kembali duduk bersandar dengan wajah merah dan tubuh gemetar.
Saga mengatupkan bibir dan tak beranjak dari sisi Erina, lengannya justru merangkul bahu ibunya lebih erat.
"Sagara, kamu tadi ingin mengatakan sesuatu saat Bu Farah mengatakan tuduhan--apa kamu punya pembelaan?"
Wali Kelas Saga, seorang perempuan bertubuh mungil dan berkacamata tebal yang sedari tadi diam, kini angkat bicara seakan berusaha mengembalikan sidang agar lebih adil dan jernih.
"Om Alvin sudah bilang tadi--saya memukul Rudi karena membela Nia," kata Saga dengan suara dan ekspresi getir. "Saya tahu perbuatan saya salah--tapi Rudi juga salah. Nia korban yang sebenarnya di sini. Dia yang seharusnya diperhatikan dan mendapat keadilan."
Seisi Aula kembali sunyi.
"Kamu masih muda, tetapi jauh lebih berani dan lebih bijak dari semua orang dewasa yang ada di ruangan ini," komentar Alvin seraya memandang lurus Saga, raut mukanya tak ragu menunjukkan hormat. "Sebagai Wali Nia, Om benar-benar salut dan berterima kasih padamu, Saga... jelas ibumu telah membesarkanmu dengan sangat baik."
Tatapan dan ekspresi itu kini teralih kepada Erina, yang langsung bengong dengan pipi bersemu merah jambu.
"Dan sekolah ini benar-benar bobrok jika mengeluarkan murid sehebat kamu, tetapi tetap mempertahankan pembuat onar yang sebenarnya...," Alvin kini menatap tajam perwakilan sekolah dan komite, air mukanya berubah mengancam. "Jika sampai itu terjadi, saya tak akan tinggal diam! Jika sekolah ini tak menghukum Rudi juga, maka saya sendiri yang akan menghukumnya dengan melaporkannya ke polisi dan mengawal kasusnya hingga dia berakhir di penjara! Bagaimana?!"
Iskandar, Farah, Lela, dan Wali Kelas Saga yang bernama Kristina mulai merapatkan diri dan saling melontar pendapat pelan.
Atika bergeming di tempatnya--tampak sangat berang, namun peringatan Iskandar mengandung kebenaran yang membuatnya tak bisa banyak bertingkah seperti sebelumnya.
"Baik--kami sudah mempertimbangkan matang-matang dan memutuskan..."
Iskandar menarik napas sejenak dan menatap lurus Saga, yang tetap diam merangkul ibunya, seakan pasrah.
"Sagara Mandala terbukti bersalah memukul Rudi Baskara. Kamu dihukum skors selama dua minggu, dan wajib membersihkan seluruh halaman sekolah selama sebulan setelah skors berakhir."
Saga mengerjap, sementara Erina menghela napas panjang dan merosot lega di kursinya.
"Lalu Rudi?" tanya Alvin tajam.
"Rudi Baskara telah bersalah memukul Nia--dia juga akan diskors selama dua minggu."
"Pak Iskandar--" Atika tak bisa lagi menahan diri.
"Ini keputusan final kami, Bu Atika. Yang terbaik bagi semua pihak. Jika Ibu keberatan, silakan menghadap Pemimpin Yayasan. Saya siap menjalankan hukuman apapun jika menurut Tuan Raka Baskara keputusan ini keliru," tegas Iskandar. "Sidang Komite Disiplin hari ini selesai. Selamat pagi."
Orang-orang di ruangan itu mulai membubarkan diri. Atika sempat menatap tajam ke arah Saga dan Erina--wajah putihnya geram dan seakan mengatakan: "Awas kalian dan tunggu saja!" lantas pergi tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
Erina bersandar lemas di kursi seraya memijat pelipisnya. "Syukurlah kamu nggak dikeluarkan atau diseret ke polisi, Nak... rekening dan ginjal Mama aman sekarang..."
Saga kembali mengerjap dan mengerutkan kening, jelas tak begitu paham kata-kata absurd ibunya, tetapi ia memutuskan tak berkomentar apa-apa.
Tak jauh dari mereka, Alvin membuang napas panjang. Ekspresinya tampak tak puas, tetapi ia juga memutuskan tak bicara apa-apa dan berbalik pergi sambil mengutak-atik ponselnya.
"Mama mau nginep di sini sampai malam? Ayo pulang, Ma...!"
Saga menegur dan menarik lengan ibunya pergi.
"Kamu pulanglah. Mama mau lanjut ke kantor," kata Erina pelan saat keduanya sudah mencapai halaman depan sekolah.
"Mama masih mau kerja?" Netra hitam Saga melebar, kaget. "Mama lagi nggak sehat...! Istirahat aja di rumah, Ma, cuti sehari nggak masalah kan--"
"Masalah," gumam Erina seraya membuka tasnya untuk mengambil obat sakit kepala dan botol air, lalu dengan cepat menenggaknya. "Kamu nggak ngerti ngerinya dunia budak korporat yang setiap hari dikejar target dan komplainan. Tapi kalau nggak gini, kamu dan adikmu nggak bisa sekolah dan makan. Sudah pulang sana. Mama nanti mungkin pulang malam. Begitu Nala pulang dari sekolah, kamu jaga dia sampai Mama kembali ke rumah ya."
Saga hendak memprotes, namun Erina sudah melangkah cepat meninggalkannya dan mencegat angkot yang lewat untuk membawanya pergi ke kantor.
Butuh waktu tiga puluh menit bagi Erina untuk sampai kantornya yang terletak di kawasan pergudangan pinggir kota. Ia menyapa singkat security di depan yang sigap membuka gerbang biru raksasa itu saat ia menekan bel, lalu bergegas menuju ruang HRD yang terletak di sisi barat gudang.
"Kirain kamu nggak masuk hari ini."
Harum Nirmala, sang HRD, duduk sambil mencatok rambut cokelat panjangnya di depan cermin lipat yang terbuka di atas mejanya.
"Kan aku udah bilang izin masuk siang--ada urusan di sekolah anakku," tukas Erina. Ia meraih selembar surat keterangan izin di salah satu rak berkas di sudut, lantas duduk di depan Harum dan mengisi surat itu dengan cepat.
"Ooh, sidang yang kamu bilang itu, ya? Terus hasilnya gimana?"
"Saga kena skors dua minggu dan disuruh bersihin halaman sekolah selama sebulan," sahut Erina sembari membuang napas panjang.
"Ooh. Syukur deh. Untung nggak perlu sampai berurusan sama polisi. Tapi kasih tahu anakmu tuh, jangan hobi gontok-gontokan lagi. Next time belum tentu dia seberuntung ini--kalau sampai masuk rumah sakit atau dipenjara beneran, kan repot," komentar Harum sambil meletakkan catokannya dan kini sibuk memoles maskara di bulu mata.
"Iya. Semoga ini yang terakhir deh," gumam Erina muram. "Udah nih. Tolong approve dan tanda tangan."
"Iya taruh aja situ. Nanti kutandatangani," ujar Harum yang masih sibuk mengurus riasan di wajahnya yang terawat dan sangat proporsional.
"Kamu mau lunch date abis ini?" Erina menatap rekan kerja sekaligus sahabatnya itu bingung. "Sama siapa--gebetan baru?"
"Mmm, bisa jadi gebetan baru sih... atau bisa jadi dia memang jodoh yang dikirim Tuhan buatku. Doain aja lancar sampai pelaminan," Harum tersenyum centil dan mengedip.
Erina nyaris memutar bola mata. Harum seusianya, tetapi belum menikah sampai sekarang. Bukan berarti tak ada lelaki yang bersedia menjadi tambatan hati baginya--justru banyak. Namun Harum masih belum mau serius dan lebih suka bersenang-senang dengan kaum adam yang terpesona padanya dan bersedia memberi banyak hal untuknya secara cuma-cuma. Dia sungguh seperti cassanova versi wanita.
"Amin deh. Ya udah, aku balik pos dulu ya."
Ketika Erina hendak meninggalkan ruangan, ia nyaris bertabrakan dengan sesosok lelaki jangkung dan tampan berjas kelabu yang tak begitu memperhatikan jalan karena sibuk mengutak-atik ponselnya.
"Maaf..."
Paras dan suara itu sungguh tak asing, membuat Erina membeku di tempat--jantungnya seakan menyelinap keluar dada dan lenyap entah ke mana.
"A... Alvin?"
***