Raditya Baskara tahu cara mengelola bisnis mode bernilai miliaran, tapi dia sama sekali tidak tahu cara bersikap "normal". Dia adalah tipe bos yang bisa mendadak mengadakan lomba balap kursi roda di koridor kantor saat jam kerja hampir di mulai. Satu-satunya rem darurat dalam hidup Radit adalah Kirana, sekretarisnya yang super kaku dan selalu memandangnya dengan tatapan menghakimi.
Namun, sebuah kesalahpahaman di hadapan media membuat mereka terjebak dalam rumor asmara. Demi reputasi saham perusahaan, mereka terpaksa mempertahankan sandiwara tersebut di luar jam kantor. Masalahnya, bagaimana cara menjalani hubungan pura-pura jika sang CEO selalu bertingkah ajaib, sementara sang sekretaris menanggapi gombalan romantis dengan analisis SWOT? Ini adalah kisah tentang lembur paling melelahkan, sekaligus paling membahagiakan dalam hidup Kirana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rara_R, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31
Kirana menarik napas dalam, memaksakan otot-otot wajahnya untuk tetap relaks meski hatinya bergejolak. Dengan langkah yang tetap tenang dan anggun, dia mengetuk pintu jati itu dua kali sebelum benar-benar melangkah masuk.
"Maaf mengganggu waktu makan siang Anda, Pak Radit," ucap Kirana dengan nada profesional yang datar. Dia tidak sedikit pun menoleh ke arah Valerie, fokusnya sepenuhnya tertuju pada meja kerja Radit.
Radit tersentak kecil saat melihat Kirana. Ekspresi pria itu berubah drastis, dari keramahan yang santai menjadi tatapan tajam dan waspada. Dia segera berdiri, mengabaikan kotak bekal yang masih terbuka di mejanya.
Valerie berbalik dengan gerakan yang sangat terukur. Dia menatap Kirana dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan senyuman yang teramat manis, namun terselip kesan intimidasi yang tajam.
"Oh, jadi ini Nona Kirana yang banyak dibicarakan oleh Tante Sofia? Senang akhirnya bisa bertemu langsung denganmu, Nona Kirana".
Kirana meletakkan map laporan di meja, lalu membalas tatapan Valerie dengan senyuman tipis yang tak kalah elegan.
"Senang bertemu Anda juga, Nona Valerie. Saya rasa saya tidak perlu memperkenalkan diri lagi, karena sepertinya Anda sudah sangat mengenal profil saya".
Ketegangan di ruangan itu mendadak naik beberapa derajat. Radit segera mengambil langkah di antara kedua wanita itu, berdiri tepat di sisi Kirana seolah sedang memberikan perlindungan tak kasatmata.
"Valerie, seperti yang kamu lihat, Kirana baru saja selesai dengan rapat besar. Kami memiliki agenda yang padat hingga sore nanti," ujar Radit, suaranya tegas tanpa memberikan ruang untuk debat. "Terima kasih untuk bekalnya, tapi mungkin lain kali kamu bisa mengirimkannya melalui asisten atau kurir saja agar tidak perlu repot-repot datang ke lantai operasional ini".
Valerie tertawa kecil, suara tawa yang terdengar sangat tertata. Dia tidak tampak terusik sedikit pun oleh penolakan halus Radit.
"Tentu, Radit. Aku mengerti betapa sibuknya orang-orang penting di perusahaan ini. Aku hanya ingin memastikan kamu tidak lupa makan, karena Tante Sofia sangat khawatir melihatmu sering pulang larut malam belakangan ini".
Wanita itu melangkah mendekati pintu, namun sebelum keluar, dia berhenti tepat di sebelah Kirana.
"Oh, satu lagi, Kirana. Aku dengar ada acara fitting untuk pertunanganmu hari Sabtu nanti. Kebetulan, aku juga diundang oleh Tante Sofia sebagai desainer tamu untuk memberikan masukan gaya yang sesuai dengan standar keluarga Baskara. Sampai bertemu nanti".
Setelah Valerie menghilang di balik pintu, Kirana tetap diam, memandangi pintu yang tertutup dengan tatapan kosong.
"Dia bukan desainer tamu," suara Radit memecah keheningan. Pria itu kini berdiri tepat di belakang Kirana, kedua tangannya meraih bahu wanita itu, meremasnya lembut untuk mencairkan ketegangan. "Dia adalah putri mitra bisnis yang dipaksakan orang tuaku untuk masuk ke lingkaran keluarga. Ibu mungkin menggunakan namanya untuk menekan kita, tapi kamu harus tahu satu hal, Kirana"
Kirana berbalik, menatap mata Radit yang tampak tulus.
"Hal apa?"
"Apa pun yang mereka rancang di acara pertunangan, undangan, atau intervensi keluarga, mereka tidak akan pernah mengubah fakta siapa yang aku inginkan berdiri di sampingku," Radit berbisik rendah, mendekatkan wajahnya hingga kening mereka bersentuhan. "Pertunangan ini mungkin sebuah kontrak, tapi hatiku bukan bagian dari pasal dalam kontrak tersebut".
Kirana sedikit tersenyum, namun ada gurat keraguan yang belum hilang dari matanya.
"Valerie tampak sangat percaya diri, Radit. Dan dia memiliki dukungan penuh dari Ibu Sofia".
"Biarkan dia percaya diri dengan topengnya," Radit menegaskan. "Fokus kita tetap pada pembersihan perusahaan. Jangan biarkan gangguan sosial seperti ini merusak konsentrasimu. Aku akan mengurus Valerie agar dia tidak melampaui batasnya".
"Baiklah".
___
Sore harinya, Kirana kembali ke ruangannya dengan perasaan campur aduk. Dia duduk di kursinya, mencoba mencerna semua informasi yang baru saja dia dapatkan. Tika, asisten barunya, masuk ke ruangan dengan membawa secangkir teh hangat.
"Ibu Kirana, sepertinya wajah Ibu sedikit pucat. Apakah ada masalah dengan hasil audit lapangan tadi?" tanya Tika dengan penuh perhatian.
Kirana menggeleng pelan.
"Tidak, Tika. Hanya ada sedikit gangguan dari luar yang tidak terduga. Tika, apakah kamu tahu tentang hubungan keluarga Baskara dengan keluarga Valerie?"
Tika mengernyitkan dahi, lalu mendekat ke meja Kirana sambil menurunkan suaranya.
"Ibu, sejujurnya di kalangan staf senior, Valerie sering disebut sebagai 'Sang Pengantin Tertunda'. Hubungan mereka sudah direncanakan selama lima tahun terakhir, bahkan sebelum Pak Radit mengambil alih kendali penuh dari Baskoro. Banyak yang bilang bahwa pertunangan kontrak Ibu dengan Pak Radit adalah satu-satunya hal yang menghalangi rencana besar keluarga besar untuk menggabungkan dua kekuatan bisnis itu".
"Jadi, saya adalah batu sandungan?" tanya Kirana dengan nada sinis.
"Atau, Ibu adalah satu-satunya orang yang berhasil menggoyahkan rencana tersebut," jawab Tika dengan nada yakin. "Jangan biarkan mereka melihat Ibu merasa terintimidasi. Karena saat Ibu menunjukkan kelemahan, itulah saat mereka akan menyerang".
Kirana memandang keluar jendela, melihat hamparan lampu kota Jakarta yang mulai menyala di kala senja. Tantangan sebenarnya ternyata bukan hanya tentang menumbangkan pengkhianat di dalam gedung ini, melainkan tentang bagaimana dia mempertahankan posisinya di dunia nyata di mana status dan garis darah menjadi mata uang utama.
___
Hari sabtu sore tiba dengan langit Jakarta yang berangsur teduh. Kediaman utama keluarga Baskara di kawasan Menteng berdiri megah bak istana kolonial, dikelilingi oleh pohon-pohon peneduh yang rindang dan penjagaan yang super ketat. Rumah ini adalah simbol kekuasaan absolut faksi inti Baskara, tempat di mana keputusan-keputusan besar yang memengaruhi lantai bursa sering kali diambil di balik pintu jati tertutupnya.
Kirana turun dari mobil SUV hitam Radit dengan perasaan yang jauh lebih siap daripada beberapa hari lalu. Hari ini, dia memilih mengenakan gaun kasual semi-formal berwarna gading polos tanpa banyak ornamen, membiarkan keanggunan alaminya terpancar tanpa kesan berlebihan. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi, dan wajahnya dipoles riasan tipis.
Radit yang berjalan di sampingnya segera mengulurkan lengan kanannya. Kirana menyambutnya, menyampirkan tangannya di lengan kekar pria itu. Sentuhan itu memberikan kehangatan instan yang menenangkan detak jantungnya.
"Siap menghadapi ruang tengah Ibuku?" bisik Radit dengan nada bariton yang rendah, melirik Kirana dari sudut matanya dengan senyuman tipis.
"Saya sudah menghadapi preman proyek dan komisaris licik dalam minggu yang sama, Radit. Menghadapi sepotong kain gaun tidak akan membuat saya mundur" jawab Kirana dengan dagu terangkat, memancarkan aura Nyonya Besi Operasional yang mulai melekat kuat pada dirinya.
Radit terkekeh pelan, lalu melangkah membawa Kirana masuk melewati pintu utama yang tinggi.
Kirana melangkah dengan penuh keyakinan, bahwa apapun yang akan terjadi nanti, dia tidak akan kalah.