NovelToon NovelToon
Labirin Hati

Labirin Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / Persahabatan / Romansa
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kenaya_10

"Umur Ruby tuh udah 25 tahun, Masko. Kalau Ruby sampai gak dapet-dapet jodoh…” ia berhenti sejenak, lalu menoleh ke arah Miko, “masko aja deh yang jadi suami Ruby!” Miko yang sedang menyeruput iced americano langsung tersedak dan tanpa sengaja menyemburkannya ke wajah Ruby. “MASKOOO!!!” teriak Ruby murka seketika, lalu memukul-mukul tubuh Miko bertubi-tubi. Miko justru terbahak sambil berusaha menangkis pukulannya. “Sorry! Sorry! Sengaja!” Iya, Ruby tahu! Ruby bukan tipe masko!” sungut Ruby kesal. Miko hanya terkekeh, lalu meraih tisu dan mengelap wajah Ruby dengan santai, seolah tak terjadi apa-apa. Ruby tidak tahu saja kalau, Miko itu justru telah menyukai Ruby sejak mereka masih kecil. Ruby selalu ada, menjadi saksi paling setia atas keterpurukan Miko, terutama di masa-masa setelah ia mengetahui bahwa perempuan yang selama ini ia panggil Mama ternyata bukan ibu kandungnya. Sejak itu, Miko seperti kehilangan pijakan. Ada amarah di dalam dirinya, tapi ia tak tahu harus menujukannya ke

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kenaya_10, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Rendy memilih membiarkan Miko.

Ia tahu, memaksa anak itu bicara hanya akan membuatnya makin menutup diri. Kadang yang dibutuhkan bukan pertanyaan, tapi ruang.

Namun tetap saja… ada sesuatu dalam mimpi barusan yang membuat dada Rendy tak tenang.

Ia menghela napas panjang lalu menyandarkan tubuhnya di sofa. Matanya terpejam perlahan.

Dan tanpa ia sadari, pikirannya terseret kembali ke beberapa tahun lalu, ke kamar rawat yang berbau antiseptik, ke sosok perempuan yang semakin hari semakin kurus, tapi tetap tersenyum seolah dunia masih baik-baik saja.

*

Saat itu ia sedang mengganti bunga calla lily di vas. Bunga yang ia bawa tiga hari sebelumnya sudah mulai layu. Dengan telaten ia menyusun tangkai yang baru, satu per satu.

“Makasih ya, Ren…”

Suara Mira lembut, tapi jelas lelah.

Rendy hanya tersenyum kecil, tetap fokus merapikan bunga.

“Kamu tau aku yang harusnya berterima kasih,” jawabnya ringan. “Masih diizinkan menjenguk kamu kayak gini aja udah cukup. Thanks juga buat Bagas.”

Ia masih belum menoleh, seolah kalimat itu biasa saja.

“Tapi bukan itu maksudku…”

Rendy berhenti.

“Hm?”

Ia menoleh.

Mira menatapnya dengan mata yang tetap indah meski tubuhnya mulai rapuh.

“Makasih kamu sudah mau jadi om… jadi teman buat Miko.”

Rendy berkedip pelan, sedikit bingung.

Ia menyelesaikan susunan bunganya lebih dulu, lalu meletakkan vas itu di meja dekat jendela kamar rawat. Setelah itu ia duduk di kursi samping ranjang, menatap Mira lama.

Ada cinta di sana. Tenang. Dalam. Dan tak pernah berubah.

Mira menarik napas pelan.

“Setahun belakangan ini....Miko sedang mengalami masa sulit. Tepatnya, sejak dia tahu kalau dia bukan anak kandungku…”

Rendy tetap diam. Mendengarkan.

“Kamu tau sendiri, dia dari dulu nggak pernah benar-benar dekat sama ayahnya.”

Rendy mendengus pelan, sinis.

“Dan kejadian ini,” lanjut Mira lirih, “bikin hubungan mereka makin hancur.”

Ia terdiam sebentar, menarik napas yang terdengar tipis. Lalu ia menatap ke arah langit-langit kamar, pandangannya menerawang.

“Aku juga merasa Miko jadi lebih pendiam. Lebih menjaga jarak… bahkan sama aku.”

Kalimat itu nyaris seperti pengakuan bersalah.

Mira kembali menoleh. Mata mereka bertemu.

Rendy masih duduk di sana, menatapnya lembut penuh pengertian.

Mira tersenyum kecil.

“Tapi akhir-akhir ini Miko mulai ceria lagi. Bawelnya balik sedikit,” katanya, ada cahaya tipis di wajahnya yang pucat. “Dia banyak cerita tentang kamu. Tentang kalian main basket, sunmori… hal-hal kecil yang bikin dia ketawa lagi.”

Rendy ikut tersenyum. Senyumnya lebar sampai matanya menyipit, memperlihatkan kerut halus di ujung-ujungnya, senyum khas yang dulu membuat Mira jatuh cinta bertahun-tahun silam.

“Sekali lagi… makasih ya, Ren,” ucap Mira pelan.

“Sama-sama, Ra,” jawab Rendy ringan. “Lagian anak itu emang asik juga orangnya… kecuali mukanya yang mirip banget sama Bagas.”

Mira terkekeh, suara tawanya tipis tapi tulus.

“Oh my God, you have no idea! Bukan cuma wajahnya. Keras kepala sama manjanya juga persis ayahnya. Makanya mungkin mereka nggak pernah akur.”

Rendy hanya tersenyum, menggeleng pelan.

Beberapa detik hening.

“Ren…”

“Hm?”

Mira menatapnya lebih dalam kali ini. Senyumnya memudar.

“Aku nggak tahu sampai kapan aku bisa bertahan…”

“Ra, please. Jangan ngomong kayak gitu,” potong Rendy cepat. Nada suaranya lebih tegang dari yang ia inginkan.

Mira menggeleng lemah.

“Nggak, Ren. Kita harus realistis. Aku juga ngerasa… tubuhku makin melemah.”

Sunyi menggantung di antara mereka.

Suara monitor berdetak pelan di sudut ruangan.

“Kalau suatu hari aku nggak ada…” suara Mira hampir berbisik, “kamu mau ya bantu aku jaga Miko?”

“Ra…” suara Rendy serak.

“Aku sih maunya waktu aku pergi nanti, Miko sama ayahnya udah baik-baik aja,” lanjut Mira. “Tapi kalau melihat sifat mereka berdua… aku takut, Ren.”

Ia menelan ludah.

“Dan, sejujurnya, itu yang paling aku takutin. Aku pergi sebelum mereka sempat berdamai.”

Rendy menggenggam tangan Mira, hangat tapi mulai rapuh.

“Kamu akan sehat, Mira,” katanya pelan tapi tegas. “Seperti dulu. Kamu selalu berjuang kan? Jadi kali ini juga harus. Tolong… terus lawan penyakit ini.”

*

Rendy membuka matanya perlahan.

Langit-langit rumah Kemang kembali terlihat, tapi dadanya terasa sesak. Matanya panas, seperti ada air yang mendesak turun, tapi ia tahan keras-keras.

Ia menelan ludah.

“Ra…” gumamnya pelan, nyaris tak terdengar. “Miko nampaknya benar-benar nggak baik-baik aja.”

Ia menghembuskan napas panjang, berat.

Bayangan Miko tadi memanggil-manggil “Mama” dalam tidur, napas terengah, tubuh gemetar kembali terlintas jelas di kepalanya.

Rendy memejamkan mata sebentar, lalu kembali membukanya, menatap kosong ke atas.

“Tapi kamu tenang aja,” lanjutnya lirih. “Aku akan bantu jaga anak itu.”

“Seperti janjiku padamu.”

*

Pagi itu Rendy bangun seperti biasa.

Tubuhnya sudah hafal ritme. Jam biologisnya tak pernah meleset. Setelah membasuh wajah dan mengganti pakaian olahraga, ia berjalan pelan menuju pintu kamar Miko.

Ia berdiri di sana.

Diam.

Biasanya tanpa pikir panjang ia akan mengetuk keras, lalu menyeret anak itu keluar setengah sadar untuk lari pagi.

Tangan Rendy sudah terangkat.

Siap mengetuk.

Siap berkata, “Bangun, Ko. Ayo temani ongkel lari pagi.”

Tapi tangannya berhenti di udara.

Bayangan semalam kembali muncul. Suara Miko memanggil “Mama…” Napasnya yang patah-patah. Tatapan paniknya saat terbangun.

Rendy menurunkan tangannya perlahan.

Tidak.

Hari ini tidak.

Ia menghela napas panjang, lalu berbalik dan turun sendirian untuk lari pagi.

Sekitar pukul delapan, Rendy kembali. Kaosnya sedikit basah oleh keringat, napasnya masih berat tapi stabil. Ia melangkah masuk ke rumah, refleks menoleh ke ruang keluarga dan dapur.

Sepi.

Tak ada suara. Tak ada gerakan.

Ia mengernyit.

Mungkin anak itu masih tidur, pikirnya.

Tanpa hendak membangunkannya, Rendy kemudian langsung menuju ke kamar untuk mandi. Setelah selesai dan berganti pakaian, ia turun kembali ke dapur dan mulai menyiapkan sarapan; telur, bacon, roti panggang, dan irisan buah-buahan.

Gerakannya tenang. Teratur.

Tapi sesekali, matanya melirik ke arah tangga.

Menunggu.

*

Sarapan sudah siap.

Jam menunjukkan pukul 09.30.

Tapi batang hidung Miko belum juga terlihat.

Rendy berdiri beberapa detik di dapur, menatap piring yang sudah tertata rapih. Ia kemudian menghela napas dan memutuskan naik ke atas. Kali ini dengan alasan yang masuk akal sarapan bersama.

Ia berhenti di depan pintu kamar Miko.

Tok. Tok.

“Ko… sarapan sudah jadi. Temenin Ongkel makan.”

Hening.

Ia mengetuk lagi, sedikit lebih keras.

“Ko. Udah siang ini loh. Ayo bangun.”

Masih tak ada suara.

Kening Rendy mulai mengernyit. Tangannya kembali mengetuk, kali ini disertai nada setengah mengancam.

“Ko. Kalau kamu nggak bangun, Ongkel masuk dan seret kamu ya keluar. Ini sudah siang.”

Tak ada jawaban.

Sunyi.

Sunyi yang terasa salah.

Rendy mengetuk sekali lagi, lebih pelan.

“Ko… Ongkel masuk ya.”

Ia memutar gagang pintu.

Tak terkunci.

Pintu terbuka perlahan.

Dan kamar itu… kosong.

Rapi. Terlalu rapi.

Selimut terlipat. Bantal tersusun. Tak ada bekas orang baru bangun.

Rendy melangkah masuk satu langkah.

Matanya langsung menyapu sudut ruangan.

Tas ransel cokelat yang selalu dibawa Miko tidak ada.

Jaketnya pun tidak ada.

Dada Rendy mendadak terasa berat.

“Shit…” gumamnya pelan.

Ia berdiri diam di tengah kamar yang tiba-tiba terasa terlalu sunyi.

Anak itu pergi.

Lagi.

1
💞Putri Chania💞
yang d tunggu" akhir nya update juga..tq thor
Kenaya: sama-sama. makasih ya udah mau dabar dan terus baca cerita ini 🌹
total 1 replies
merry yuliana
kak ini lanjutkah??kok ga ada update update lagi kak?😄
Kenaya: lanjut kak...lg agak writer's block hehehe...kemungkinan paling lambat pagi bsk bs up bab baru 🙏
total 1 replies
merry yuliana
kak crazy up pleaseee jangan mendadak ghpib yaaa
merry yuliana
crazy up ya kak
merry yuliana
crazy up kak🙏💪
merry yuliana
crazy up kak💪💪💪
merry yuliana
lukamu jadi duri yang nempel.ya ko...masih banyak yang sayang dan care km koooo...semangat dan lepaskan semua💪💪💪 crazy up ya kak
Kenaya: 🫰🏽🫰🏽🌹
total 1 replies
merry yuliana
crazy up kak💪💪🙏
merry yuliana
sehat semangat up terus ya kak jangan memfafak brenti n ilang ya💪💪💪🙏🙏🙏😍😍😍
merry yuliana: 😍😍😍😍😍🙏
total 2 replies
merry yuliana
kak lanjut ya jangan ilang ya.....sehat semangat terus kak...ditunggu crazy upnya yaaaaa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!