Tak pernah terbayangkan olehku usaha bapakku bangkrut,sehingga semua yang kami miliki habis dalam sekejap. Bapak terpukul membuat beliau terpuruk dalam keputusasaan,sementara ibu sibuk mengejar ambisinya untuk bisa menjadi seperti dulu lagi.
Aku Raya Anggraini...sebagai anak paling besar,mau tidak mau aku harus mengambil alih tanggungjawab bapak untuk mencari nafkah demi masa depan adik-adikku.
Sementara tunanganku yang kujadikan tempat bersandar justru mengkhianatiku.
Sedangkan ibuku selalu saja menyalahkanku atas putusnya pertunanganku itu,lalu mencoba mencarikan jodoh dari kalangan orang-orang kaya demi melancarkan ambisinya.
Aku merasa dijual oleh ibuku,aku merasa seperti barang dagangan yang ditawarkan kepada pria-pria yang memang sudah mapan secara finansial.
Sanggupkah aku menjalani semua ini?
Kuatkah aku menghadapi tekanan-tekanan dari ibuku?
Dan siapakah akhirnya yang akan menjadi jodohku?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon In Gusman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kesempatan
"Kau mudah sekali tersinggung Ray...Aku hanya bertanya,maaf jika menyinggungmu." ucap Raka yang mencoba mencairkan suasana.
"Aku bukan tipe orang yang menuntut,apalagi memaksakan kehendak. Makanya jika kamu merasa tidak nyaman dengan penampilanku,aku juga tidak akan memaksa kau untuk tetap bersamaku. Pulanglah..." ucapku dengan nada ketus.
"Sudahlah Ray,jangan diperpanjang...aku kan sudah minta maaf..."
Aku masih diam enggan berkata-kata,entah kenapa aku merasa tersinggung hanya karna masalah sepele.
"Ayolah Ray...kita berangkat sekarang..."
"Kamu yakin?" tanyaku memastikan.
"Iyalah...ayo,keburu malam"
"Aku pamit yang lain dulu..."
Selesai pamit,kami pun segera berangkat pergi mencari makan.
"Kau mau makan apa Ray?"
"Entah...aku kenyang" jawabku sekenanya.
Raka menghentikan motornya di pinggir jalan,lalu menengok ke arahku.
"Kamu masih marah?" aku menggelengkan kepalaku.
"Tapi kenapa sekarang nggak mau makan? Bukankah tujuan kita keluar tadi mau cari makan? Lagi pula,sedari siang kamu belum makan lagi kan?"
"Tapi aku tiba-tiba kenyang..."
"Oke...Kalo gitu kita nggak usah makan nasi,kita cari yang lain..."
Setelah keliling-keliling,akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke alun-alun kota. Ada banyak kuliner malam di sekelilingnya...ada angkringan dengan beraneka macam menunya,jagung bakar,roti bakar,pisang bakar,wedang ronde dan masih banyak lagi jajanan khas yang tersedia di sana.
Setelah kami memesan beberapa menu makanan ringan,kami pun memilih duduk lesehan di pinggir alun-alun sambil menunggu pesanan kami datang.
"Ray...apa yang kau lihat ditengah banyaknya pengunjung malam ini?" tanya Raka melihatku yang sedang termenung,dia memilih duduk di depanku.
"Aku tak pernah tertarik melihat pengunjung-pengunjung yang ada disekelilingku,aku lebih tertarik melihat bulan dan bintang diatas sana"
"Bulan itu aku dan bintang itu orang-orang disekelilingku... Aku selalu merasa sendiri,merasa tersisih dan merasa sepi,sementara begitu banyak orang-orang disekelilingku bahkan ketika aku berada di dalam rumahku...ditengah-tengah keluargaku sendiri... Padahal ada bapak,ibu dan kedua orang adikku,tapi aku selalu merasa bukan bagian dari mereka"
Ups...tiba-tiba aku tersadar,kenapa mulut ini bisa kelepasan bicara. Apa mungkin karna terbawa suasana,atau mulai ada rasa nyaman berada di dekat Raka? Ya Alloh...padahal hampir 4 tahun aku bersama Mas Bahar,aku tak pernah mengeluhkan hal ini padanya.
"Jangan selalu merasa sendiri...ada aku disini..."
"Eh...ngomong apa sih...Tuh pesenan kita sudah datang...aku kok tiba-tiba lapar..." ucapku mengalihkan pembicaraan dan mengatasi kecanggunganku.
Bodohnya kamu Ray,baru juga deket udah main curhat aja...aku mengutuki diriku sendiri. Raka melihat ke arahku,memperhatikan aku yang tiba-tiba terlihat lahap menyantap hidangan yang ada di depan kami.
"Ray...." panggil Raka dengan penuh kelembutan.
"Ya..." aku mengangkat wajahku yang sedari tadi tertunduk lalu menoleh ke arah Raka sambil meletakkan garpu yang ada di tanganku.
"Kamu tau nggak kalau aku telah menunggu saat-saat seperti ini begitu lama..."
"Maksudnya..."
"Iya...sejak kita terakhir pulang bareng waktu kita kelas 1 SMA dulu,aku selalu berharap suatu saat bisa pergi berdua denganmu. Tapi sayangnya waktu itu,kau sangat sulit didekati dan pada akhirnya aku hanya bisa memendam keinginanku itu dalam hati..."
"Pertemuan kita di mall tempat kerjamu hari itu,sebenarnya sudah aku rencanakan sejak semula. Aku mengumpulkan segenap keberanianku untuk mendekatimu,mewujudkan sedikit demi sedikit impian yang telah lama aku pendam. Ketika aku meminta alamat kos mu dan kamu memberikannya padaku,aku merasa Alloh sudah membukakan jalan untukku agar bisa mendekatimu"
"Raya...maukah kau menjadi pasanganku?"
"Eh...Raka,apakah ini tidak terlalu cepat? Kita dekat baru beberapa hari,kau jangan terlalu gegabah. Aku tidak sebaik yang kau bayangkan. Dari cara berpakaianku saja,sudah pasti tidak membuatmu nyaman karna tidak sesuai dengan wanita impianmu. Apalagi terus terang aku tidak mencintaimu ,aku baru saja putus dengan tunanganku,makanya aku belum bisa mencintai laki-laki lain. Mungkin terlalu naif kedengarannya tapi kenyataannya hatiku sampai detik ini masih di selimuti oleh cinta di masa laluku"
"Belum lagi tanggungjawabku untuk menafkahi keluargaku dan menyekolahkan adik-adikku. Hidupku terlalu rumit sejak awal,aku takut nantinya aku hanya mengecewakanmu Raka... Carilah wanita lain...kita sebaiknya berteman saja karna kemungkinan selamanya aku akan hidup sendiri. Aku akan fokus bekerja demi masa depan adik-adikku"
Aku berusaha menjelaskan dan memberi pengertian pada Raka. Raka terdiam,matanya sedari tadi tidak pernah lepas menatapku,membuat aku jengah dan salah tingkah.
"Raya...taukah kamu jika sebagai seorang muslim bercita-cita untuk hidup sendiri itu hukumnya dosa,karna Alloh telah menciptakan kita secara berpasang-pasangan."
"Oya...lalu bagaimana dengan orang-orang muslim yang hingga akhir hayatnya mereka tidak pernah menikah? Apakah mereka meninggal dengan membawa dosa yang diakibatkan dari hidupnya yang tidak pernah menikah itu...?"
"Tidak juga...selama melajang itu bukan cita-cita mereka,Alloh pasti mengampuninya karna mereka melajang disebabkan oleh suratan takdir yang sudah di gariskan oleh Nya,bukan karna keinginan orang itu sendiri..."
"Aku tau Ray,untuk saat ini kau belum mencintaiku,tapi tolong beri aku kesempatan untuk membuktikan kesungguhanku padamu..."
"Pikirkanlah sekali lagi Raka,hidupku terlalu rumit untuk dimengerti. Kau akan sering tersakiti,mungkin olehku mungkin juga oleh keluargaku."
Aku mencoba memprovokasi Raka agar tak lagi menjatuhkan pilihannya padaku. Aku benar-benar tidak bisa menerimanya,bukan karna dia tak layak untukku tapi aku tau dia tidak masuk kriteria menantu idaman menurut ibuku. Aku takut dia akan terluka hatinya jika tetap memilih bersamaku.
"Please Ray...aku akan melakukan apapun agar kau mau menberi kesempatan padaku"
Aku menarik nafas panjang...sepertinya Raka memang bukan tipe orang yang mudah menyerah,membuat aku pun mulai sedikit melunak. Entah karna aku mulai menyerah dan mulai siap membuka hati untuk lali-laki lain...entah karna aku kasihan mendengar penantian Raka untukku.
"Oke...tapi beri aku waktu untuk berfikir dan mempertimbangkan semuanya"
"Akh tentu Ray...dengan senang hati,tapi jangan lama-lama ya Ray?"
"Sudah malam,kita pulang sekarang..."
"Siap..."
Ku lihat binar bahagia di matanya dan tampak olehku Raka begitu bersemangat mengantar aku pulang ke tempat kos ku.
Hari memang sudah larut malam,penghuni kos pun sepertinya sudah larut dalam mimpi mereka masing-masing,makanya aku menyuruh Raka untuk langsung pulang tanpa menawarkan untuk mampir. Tapi sebelum pulang,Raka kembali mengingatkanku.
"Ray...mikirnya jangan lama-lama ya... Aku menunggu jawaban darimu... Jangan kau buat aku menunggumu lebih lama lagi..."
"InsyaAlloh..." jawabku singkat
Raka pun akhirnya melangkah menuju motornya kemudian melajukan motornya untuk pulang.
.
.
.
.
.
.
.
Lanjut...
g lebay...sesuai realita di masyarakat
buat lanjutannya ya Kaka
kita tunggu lho..
semangat terus thor trus berkarya ya ❤❤❤
aku suka critanya😊
lanjut dong thor😢😢
mampir juga yuk di Mr. mafia or Mr. Psychopath?
Salam semangat
saya nyimak terus