NovelToon NovelToon
Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Hikayat Dewa Kujang: Era 9 Surya

Status: tamat
Genre:Perperangan / Penyelamat / Harem / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Ragam 07

Di dunia Arcapada, tempat sihir kuno Nusantara berpadu dengan teknologi mesin uap, Raden Bara Wirasena hidup sebagai pangeran terbuang yang dikutuk menjadi wadah Api Garuda.

Dikhianati oleh Catur Wangsa yang korup, Bara bangkit dari debu sebagai Dewa Kujang.

Bersama putri bangsawan yang terusir dan preman berhati emas, ia memimpin Pasukan Surya untuk meruntuhkan tirani Kaisar Brawijaya VIII.

Namun, perebutan takhta hanyalah awal. Jejak ayahnya yang hilang menuntun Bara menyeberangi samudra mematikan menuju Benua Hitam, di mana ancaman kiamat yang sesungguhnya sedang menanti.

Ini adalah hikayat tentang revolusi, pengorbanan, dan pembakaran takdir demi era baru.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ragam 07, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27: Arena Maut dan Sorak-Sorai Iblis

Bab 27: Arena Maut dan Sorak-Sorai Iblis

Colosseum Sagara Yuda adalah monumen kebiadaban yang dibungkus arsitektur megah. Bangunan berbentuk oval raksasa ini mampu menampung lima puluh ribu penonton. Dindingnya dilapisi marmer putih, namun pasir di tengah arenanya berwarna merah bata—bukan karena cat, tapi karena telah menyerap darah jutaan petarung selama berabad-abad.

Hari ini, tiket terjual habis.

Bangsawan dari Ring Dalam duduk di tribun VIP yang teduh dan berpendingin sihir, mengenakan sutra terbaik mereka sambil memegang gelas anggur. Rakyat jelata dari Ring Luar berdesak-desakan di tribun atas yang panas, bertaruh sisa uang makan mereka pada siapa yang akan mati duluan.

"HADIRIN SEKALIAN!"

Suara pembawa acara menggema melalui corong pengeras suara raksasa.

"Selamat datang di Hari Eksekusi Istimewa! Hari ini, kita tidak hanya akan melihat penjahat biasa. Kita akan melihat... Sang Pembakar Langit! Buronan paling dicari! RADEN BARA WIRASENA!"

Sorak-sorai membahana. Ada yang mencemooh, ada yang melempar sampah, tapi banyak juga yang diam-diam penasaran melihat sosok yang berani menantang Catur Wangsa.

[POV: Raden Bara Wirasena]

Di lorong gelap bawah arena, Bara berdiri menunggu gerbang besi di depannya terangkat.

Dia tidak lagi memakai baju tahanan kumuh. Dia dipaksa mengenakan zirah gladiator sederhana: pelindung bahu kulit, celana kain kasar, dan sepasang Caestus (sarung tangan besi) di tangannya.

Rantai Batu Laut masih membelenggu pergelangan tangan dan kakinya, namun rantai penghubungnya diperpanjang menjadi dua meter agar dia bisa bergerak—meski terbatas.

"Kau dengar itu?" tanya sipir yang menjaganya sambil menyeringai. "Mereka haus darahmu, Nak."

Bara memejamkan mata, mengatur napas. Teknik Raga Bayangan dari Empu Angin membuatnya bisa mendengar detak jantung sipir yang gugup itu.

"Bising sekali," komentar Garuda dari dalam kesadaran Bara. "Manusia adalah spesies yang aneh. Mereka membayar mahal untuk melihat sesamanya dibunuh."

"Itu hiburan bagi mereka, Garuda. Bagi kita... ini panggung sandiwara," balas Bara tenang.

KRRRRT...

Gerbang besi terangkat. Cahaya matahari menyilaukan mata.

Bara melangkah keluar.

Suara bising penonton menghantamnya seperti gelombang fisik. Dia berjalan ke tengah arena pasir yang panas. Di sekelilingnya, dinding tribun menjulang tinggi seperti tebing yang tak tertembus.

Di tribun kehormatan paling tinggi, Kaisar Brawijaya VIII duduk diam di balik tirai tipis. Di sampingnya, Ki Rangga Agnimara berdiri, menatap Bara dengan senyum kemenangan yang menjijikkan.

"PEMANASAN!" teriak pembawa acara. "Lepaskan Harimau Belati!"

Dari gerbang seberang, tiga ekor harimau raksasa dilepas. Punggung mereka ditumbuhi duri-duri tajam seperti belati. Mata mereka merah karena lapar—mereka sengaja dipuasakan seminggu.

Harimau-harimau itu meraung, lalu menerjang Bara dari tiga arah sekaligus.

Bara tidak bisa menggunakan api. Borgol Batu Laut menyegel 90% Prana-nya. Dia hanya punya sisa tenaga fisik dan telinganya.

Bara merendahkan tubuhnya. Dia tidak melihat dengan mata, dia mendengar gesekan otot harimau yang menegang sebelum melompat.

Saat harimau pertama melompat ke arah lehernya, Bara tidak mundur. Dia menggeser tubuhnya sedikit ke samping, lalu mengayunkan rantai besi di tangan kanannya seperti cambuk.

CTAR!

Rantai berat itu menghantam moncong harimau di udara dengan presisi mengerikan. Tulang tengkorak hewan itu retak seketika. Harimau itu jatuh tersungkur, kejang-kejang.

Dua harimau lainnya menyerang dari kiri dan kanan.

Bara melompat, melakukan salto belakang. Rantai di kakinya terseret di pasir.

Saat mendarat, dia menarik rantai kakinya, menjerat leher harimau kedua, lalu membantingnya sekuat tenaga ke arah harimau ketiga.

GEDEBUK!

Kedua harimau itu bertabrakan keras. Tulang rusuk mereka patah.

Penonton terdiam sejenak, lalu bersorak kaget.

"Dia menggunakan rantai penahannya sebagai senjata?!" seru seorang bangsawan takjub.

Di tribun VIP, senyum Ki Rangga luntur sedikit. "Cih. Dasar tikus licik. Dia belajar trik baru di penjara."

[POV: Tim Penyelamat - Gorong-Gorong Bawah Tanah]

Sementara itu, sepuluh meter di bawah arena.

"Baunya busuk sekali!" keluh Jaka sambil menutup hidung dengan kain. Mereka sedang merangkak di dalam pipa pembuangan limbah Colosseum. Air kotor setinggi lutut menggenangi jalan mereka.

"Tahan napasmu, Gendut," bisik Anjani yang memimpin di depan. Dia menggunakan sedikit Prana es untuk membekukan kotoran agar tidak menempel di sepatu botnya. "Kita sudah dekat dengan Ruang Mekanisme."

Kirana (yang diselamatkan Jaka sebelumnya) membawa peta denah pemberian Nyai Drupadi. "Menurut peta, Bara seharusnya ada di sel tahanan bawah tanah. Tapi kenapa suara ributnya ada di atas kepala kita?"

Anjani berhenti. Dia menempelkan telinga ke langit-langit pipa.

"Mereka memindahkannya," wajah Anjani memucat. "Dia ada di arena. Sedang bertarung."

"Berarti rencana penjebolan sel batal?" tanya Jaka.

"Ganti rencana," mata Anjani berkilat. "Kita tidak akan menjebol sel. Kita akan meruntuhkan panggungnya."

Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki berat dari lorong kanan. Patroli penjaga bawah tanah.

"Sembunyi!" desis Anjani.

Mereka menempel ke dinding berlumut, menahan napas dalam kegelapan. Dua penjaga bersenjata tombak lewat sambil mengobrol.

"Kau dengar suara di atas? Bocah itu hebat juga. Tiga harimau mati dalam satu menit."

"Ah, itu baru pemanasan. Tunggu sampai Chimera dilepas. Tidak ada yang pernah selamat dari makhluk itu."

Setelah penjaga lewat, Anjani menatap teman-temannya.

"Chimera..." bisik Anjani. "Ki Rangga gila. Itu monster level bencana. Kita harus cepat! Bara tidak akan bertahan lama melawannya tanpa Prana."

[POV: Arena Pertarungan]

Bara berdiri di atas bangkai harimau terakhir. Napasnya sedikit memburu. Mengayunkan rantai besi seberat itu menguras staminanya lebih cepat dari dugaan.

"Luar biasa!" seru pembawa acara. "Tapi apakah dia bisa bertahan melawan 'Mainan Baru' Kekaisaran?"

Tanah di tengah arena bergetar. Sebuah pintu jebakan raksasa di lantai pasir terbuka perlahan.

Dari kedalaman lubang hitam itu, muncul sebuah platform besi. Di atasnya, berdiri mimpi buruk biologis.

Chimera.

Tubuhnya sebesar gajah. Bagian depannya adalah singa dengan surai api biru. Bagian belakangnya adalah kambing iblis dengan tanduk melingkar. Dan ekornya... ekornya adalah ular kobra raksasa yang hidup dan mendesis.

Makhluk itu disuntik Rage Stimulant. Matanya berdarah, mulutnya berbusa.

"ROAAARRRR!"

Aumannya mengandung gelombang kejut yang membuat penonton di barisan depan menutup telinga kesakitan.

Bara menelan ludah. Keringat dingin mengalir di punggungnya.

"Garuda... ini buruk," kata Bara.

"Sangat buruk," setuju Garuda. "Makhluk itu campuran energi yang kacau. Jika dia meledak, satu stadion ini akan jadi kawah. Jangan biarkan dia menyentuhmu."

Chimera itu melihat Bara. Tanpa peringatan, kepala kambing di punggungnya menyemburkan bola asam hijau, sementara kepala singanya menyemburkan api biru.

Bara berguling ke samping.

SSHHH!

Pasir di tempat dia berdiri tadi meleleh menjadi kaca cair. Asam itu memakan batu fondasi arena.

Bara mencoba lari, tapi rantai kakinya tersangkut di bangkai harimau.

Ekor ular Chimera melesat mematuk kaki Bara.

"Sial!"

Bara menangkis patukan itu dengan Caestus besinya.

TANG!

Bisa ular itu menyemprot ke wajah Bara. Dia menutup mata dengan lengannya, tapi beberapa tetes mengenai bahunya.

"ARGH!" Bara mendesis. Kulit bahunya melepuh seketika, asap putih mengepul. Racunnya korosif!

Chimera itu melompat menerjang. Bara yang masih kesakitan tidak sempat menghindar sepenuhnya. Cakar singa itu menghantam dada Bara.

BRAK!

Bara terlempar sepuluh meter, menabrak dinding arena. Darah segar muncrat dari mulutnya. Tulang rusuknya retak—mungkin patah.

Penonton bersorak gila. "BUNUH! BUNUH! BUNUH!"

Ki Rangga tertawa lepas. "Habislah kau, Bara! Tidak ada keajaiban kali ini!"

[POV: Ruang Mekanisme Bawah Tanah]

DUAR!

Anjani meledakkan pintu besi Ruang Mekanisme dengan sihir es.

Di dalam ruangan itu, terdapat mesin-mesin uap raksasa yang menggerakkan pintu jebakan dan... sistem keamanan borgol Batu Laut.

"Cari panel kendali borgol!" teriak Anjani.

Jaka dan Kirana mengacak-acak ruangan. Ada puluhan tuas dan tombol.

"Yang mana?!" panik Jaka.

"Cari yang ada lambang borgol atau rantai!"

Kirana melihat sebuah lemari kaca di dinding. Di dalamnya ada sebuah tuas merah dengan label: "PELEPASAN DARURAT - KHUSUS JENDERAL".

"Itu!" tunjuk Kirana.

Tapi lemari itu dikunci gembok sihir.

Anjani menyentuh gembok itu. "Ini kunci sandi Prana. Aku butuh waktu untuk meretasnya!"

Di atas, suara dentuman keras terdengar lagi. Bara sedang dihajar habis-habisan.

"Cepat, Nimas! Mas Bara bisa mati!" teriak Jaka, untuk pertama kalinya terlihat benar-benar takut kehilangan sahabatnya.

[POV: Arena Pertarungan]

Bara mencoba bangkit, tapi tubuhnya serasa remuk. Chimera itu berdiri di atasnya, menekan dadanya dengan satu kaki. Beratnya berton-ton.

Kepala singa itu membuka mulutnya lebar-lebar, bersiap menyemburkan api biru untuk membakar kepala Bara dalam jarak nol.

Bara menatap nyala api di kerongkongan monster itu.

Mati di sini? Diinjak monster jelek di depan orang-orang munafik ini?

"TIDAK," batin Bara.

Dia tidak bisa menunggu Anjani. Dia harus melakukan sesuatu.

Bara melihat ke sekeliling arena dengan sisa kesadarannya. Dia melihat sesuatu di leher Chimera itu. Sebuah kalung besi pengendali. Di kalung itu, ada sebuah kristal merah yang berkedip. Inti Pemicu Ledakan.

"Garuda... satu semburan api, kan?"

"Ya. Tapi borgolmu masih aktif. Jika kau memaksakan api keluar, pembuluh darahmu akan pecah."

"Lebih baik pecah pembuluh darah daripada jadi sate," nekat Bara.

Bara mengumpulkan seluruh sisa Prana dan Tekad-nya. Dia tidak mengarahkan api itu keluar dari tangan, tapi dia memanaskannya di dalam tenggorokannya sendiri.

"Teknik Bunuh Diri: Nafas Naga Surya!"

Saat Chimera itu menyemburkan api biru... Bara menyemburkan api emas dari mulutnya.

WOOOOSH!

Kedua api itu bertabrakan di jarak dekat.

Ledakan termal (Thermal Explosion) terjadi tepat di wajah Chimera.

"GROAAAR!"

Chimera itu mundur, wajah singanya terbakar parah, matanya buta sementara.

Bara terpental lagi karena ledakan itu. Dia batuk darah, tenggorokannya serasa hancur. Tapi dia berhasil membeli waktu.

Di bawah tanah, Anjani akhirnya berhasil membekukan gembok sihir itu hingga rapuh, lalu Jaka menghantamnya dengan Knuckle besi.

PRANG!

Anjani menarik tuas merah itu sekuat tenaga.

KLIK.

Di arena, borgol di tangan dan kaki Bara berbunyi klik pelan, lalu terlepas jatuh ke pasir.

Sensasi dingin yang menyedot tenaganya hilang seketika.

Prana Bara kembali. Mengalir deras seperti bendungan jebol. Api Garuda di dalam dirinya meraung gembira, menyembuhkan luka-luka dalamnya dengan cepat.

Bara berdiri perlahan. Luka-luka di bahunya mulai berasap, menutup dengan cepat berkat regenerasi. Tato segel di dadanya bersinar terang menembus kulit zirahnya.

Dia menatap Chimera yang sedang mengamuk buta.

Lalu dia menatap Ki Rangga di tribun.

Bara tersenyum. Senyum Iblis.

"Ronde kedua," bisik Bara.

Dia merentangkan tangannya.

"Sembilan Langkah Surya: Langkah Keempat - Pedang Api Dewa!"

Di tangan kanannya, api memadat membentuk sebuah pedang panjang yang terbuat dari plasma murni. Panasnya begitu tinggi hingga pasir di sekitar kaki Bara berubah menjadi kaca bening.

Penonton terdiam. Ketakutan.

Sang Pembakar Langit telah lepas dari rantainya.

Glosarium & Catatan Kaki Bab 27

Caestus: Sarung tangan petarung Romawi kuno yang dilapisi logam atau duri. Di sini digunakan sebagai senjata gladiator standar.

Rage Stimulant: Obat terlarang yang memaksa tubuh bekerja 200% tapi menghilangkan kesadaran dan rasa sakit.

Langkah Keempat (Pedang Api Dewa): Teknik manipulasi bentuk (Shape Manipulation). Bara tidak lagi hanya menyemburkan api, tapi memadatkannya menjadi senjata solid yang bisa memotong materi fisik dan energi.

1
Ragam 07
sugoi
Jojo Shua
🔥
Bragi's Poem
jejak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!