NovelToon NovelToon
Menikahi Bos Mantanku

Menikahi Bos Mantanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:35k
Nilai: 5
Nama Author: Me Akikaze

"Apakah kamu sudah menikah?" tanya Wira, teman satu kantor Binar. Seketika pertanyaan itu membuatnya terdiam beberapa saat. Di sana ada suaminya, Tama. Tama hanya terdiam sambil menikmati minumannya.

"Suamiku sudah meninggal," jawab Binar dengan santainya. Seketika Tama menatap lurus ke arah Binar. Tidak menyangka jika wanita itu akan mengatakan hal demikian, tapi tidak ada protes darinya. Dia tetap tenang meskipun dinyatakan meninggal oleh Binar, yang masih berstatus istrinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Me Akikaze, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pernikahan

Undangan sudah disebar, ada wajah-wajah bahagia akhirnya bisa melihat Tama akan menikah. Dan yang tidak mereka duga, laki-laki itu akan menikah dengan salah satu kolega dari perusahaan ini. Helena Rajasa. Siapa yang menyangka? karena hubungan mereka sama sekali tidak terendus oleh siapapun.

"Keren banget si tiba-tiba menikah sama bu Helena, bahkan kita tidak tahu kalau mereka ada hubungan, iya nggak pak Wir?" Alina begitu bahagia melihat temannya akhirnya akan melepas masa lajangnya. Wira nampak terkesima juga saat melihat undangan didominasi warna biru navy itu.

"Kasih tahu tipsnya dong Tam, kok bisa kamu naklukin bu Helena yang cantik itu, bahkan bos kita kalah" bisiknya lalu tertawa. Tama hanya melihat kelakuan teman-temannya itu.

Ini adalah perdebatan antara dia dan Helena beberapa waktu yang lalu, jika Tama hanya menginginkan pernikahan yang sederhana saja tanpa banyak undangan. Tapi berbeda dengan Helena, dia merasa kedudukannya bukan sebagai orang biasa, banyak rekan dan juga kolega yang harus tahu dan diundang di pernikahannya. Maka dia tetap kekeh mengadakan pesta besar.

"Aku tidak mau mereka tidak mengetahui pernikahan kita, aku tidak tahu dituduh tiba-tiba melahirkan tanpa suami." pendiriannya tetap sama. "Jika kamu memang sampai detik ini tidak berani memberi tahu keberadaanku ke Ibu kamu, tidak apa-apa mas, Kita menikah tanpa Ibu," ujarnya memutuskan. Dan Aksa memilih opsi ini, dia masih terlalu menjadi pengecut untuk menyampaikan masalah ini ke Ibunya.

Ya, undangan disebar tanpa membubuhkan nama kedua orang tuanya, dan orang tuanya yakni tinggal Ibunya pun tidak akan hadir dalam acara ini karena tidak diberi tahu.

***

Undangan pernikahan Tama dan Helena baru sampai di tangan Aksa hari ini, di mana pernikahan Tama akan digelar. Karena perjalanan bisnisnya beberapa hari ini.

"Hari ini?" tanya Aksa pada Putra.

"Iya pak, sekalian ini undangan untuk mbak Binar. Putra memegang sebuah undangan lagi.

Aksa terdiam sambil mengingat jadwalnya hari ini.

"Sudah saya cek tadi di mbak Binar, tidak ada jadwal malam ini Pak,"

"Oh baik, soalnya saya juga merasa tidak enak jika tidak datang ke undangan Pak Tama," Aksa merasa lega.

"Baik pak, akan saya sampaikan undangan mbak Binar,"

Putra keluar dari ruangan Aksa, melangkah ke ruangan Binar yang tak jauh dari ruangan Aksa. Nampak wanita itu tengah menatap layar komputer di depannya.

"Pak Putra," sapa binar saat menyadari Putra mendekati mejanya. Putra tersenyum.

"Pesta malam ini," Putra mengangkat undangan dengan tangan kanannya.

"Pak Putra mau menikah?" Binar nampak senang dengan undangan yang dilihatnya sebelum dia membacanya.

"Bukan...masih lama saya. Ini dari pak Tama,"

Mendengar nama itu disebut, waktu seakan berhenti sejenak, jantungnya berdegub lebih kencang, Binar harus bisa menguasai dirinya. Jangan sampai terlihat tidak baik-baik saja di hadapan Putra.

Binar membaca nama yang tertera, Tama dan Helena tertulis di sana. Perlahan tangan Binar memegang undangan tersebut dan membukanya setelah Putra berlalu meninggalkannya. Baru dua bulan perpisahannya dengan Tama, kini laki-laki mantan suaminya itu sudah akan menikah lagi. Dan benar saja wanita itu.

Binar memandang undangan itu dengan mata nanar, bukan masalah perasaannya, dia sudah menepiskan rasa cinta yang sudah dia kubur dalam-dalam dari hatinya. Hanya saja tidak seharusnya dia mengetahui ini.

"Apa kamu akan datang nanti?" tanya sebuah suara membuyarkan lamunan Binar, Binar menoleh ke arah sumber suara. Aksa sudah berada tepat di depan mejanya.

"Oh Pak," mata itu lagi, Aksa melihat mata sendu itu lagi. Mata yang kelihatan baru saja selesai menangis. "Oh iya Pak, saya akan datang," ucapan itu yang keluar dari mulutnya, padahal sejak pertama menerima undangan itu, dia sudah menimbang-nimbang, mungkin saja dia tidak akan datang, kenapa kalimat itu yang meluncur.

"Apa kamu akan datang dengan suami kamu?" tanya Aksa tenang. Dia sudah menerima bagaimana keadaan Binar. Pertanyaan itu semakin membuatnya ingin berteriak sebenarnya. Binar menggeleng.

"Kalau mau, kita berangkat bersama, maksudku ada Putra juga," sambungnya.

"B-baik Pak," tangan Binar berkeringat, jantungnya kembali tak karuan.

"Ok," Aksa segera berlalu meninggalkan Binar. Mereka pulang ke rumah masing-masing setelah semua pekerjaan hari ini usai. Hampir semua orang kantor akan bersiap datang ke pernikahan Aksa dan Helena malam ini.

Perdebatan bantinnya belum usai, jika dia tiba-tiba tidak datang dia akan terlihat kalah di mata Tama dan juga Helena. Binar memantapkan diri untuk datang ke pernikahan mantan suaminya itu. Binar membuka lemari baju, melihat beberapa gaun koleksinya.

Binar berdiri lama di depan lemari bajunya, mencoba menenangkan diri sambil menetapkan pilihan gaun yang tergantung rapi. Dia memilih gaun warna satin berwarna keemas an, sederhana, elegan dan nyaman. Tidak mencolok, tidak pula terlalu using. Tepat seperti yang dia butuhkan malam ini.

Setelah bersiap denngan make up dan gaunnya sudah melekat di badannya, Binar bergegas keluar dari rumahnya. Kebetulan Putra sudah mengirmkan pesan dia sudah berada di depan. Di luar, langit sore bergeser menuju malam. Lampu-lampu kota mulai menyala, menciptakan pantulan samar.

Mobil hitam yang biasanya dikendarai oleh Aksa sudah menunggu di depan, Binar merasa tak enak hati harus bersama dengan pembesar Perusahaan tempat dia bekerja.

“Maaf sudah membuat anda menunggu,”

“Tidak apa mbak,” sahut Putra. Sementara Aksa tengah menatap layar ponselnya, membuag rasa kagumnya saat melihat Binar keluar dari rumahnya. Wanita itu kembali mengusiknya. Namun tetap menunjukkan wajah datarnya. Tidak ada tatapan berlebihan atau komentar yang tidak perlu. Begitu pintu tertutup, dia hanya mengangguk singkat menyadari kehadiran Binar.

“Kita langsung berangkat?” tanya Aksa pada Putra, bukan pada Binar.

“Siap Pak,”

Mobil melaju dengan stabil. Suasanya di dalamya hening tetapi tidak cangguhng, seperti ada sekat ruang yang harus dijaga. Aksa menahan perasaannya dan menetralisirnya, Binar menenangkan dirinya agar dia baik-baik menghadapi malam ini. Meskipun detak jantungnya sedang tidak baik-baik saja, bahkan sebelum berangkat. Dia harus minum obat agar dirinya lebih tenang.

Mobil perlahan memasuki area hotel mewah. Lampu-lampu dekor bernuansa biru navy memenhubi pintu masuk. Tamu berdatangan mengenakan busana formal.

Putra turun terlebih dahulu, membuka pintu untu Aksa. Sementara Binar membukanya sendiri dan turun perlahan. Degup jantungnya semakin tidak beraturan, tapi dia masih bisa menguasai dirinya, beberapa kali dia mengirup udara dan menghembuskan perlahan.

“Kita masuk bersama,” ujar Aksa singkat. “Agar tidak terpisah”

Kalimat yang sederhana dan masuk akal. Binar mengangguk. Dan langkah mereka pun menuju pintu masuk, di mana pesta pernikahan mantan suami Binar akan digelar.

1
Indriani Kartini
lanjut thor
sunaryati jarum
Akhirnya setelah sekian lama up juga.Terima kasih,Tamu benar-benar benar serakah dan tidak tahu diri.Setelsh ketahuan pengkhiatan pada perusahaan tempat bekerja,ini ingin menguasai perusahaan Helena.Aka jadi perseteruan yang seru.
Me Akikaze: aaa... makasih lho masih ditunggu. iya kakak.... ini author masyaAllah sekali kerjaan di dunia nyata. hihi
total 1 replies
sunaryati jarum
Ini mau lanjut ndak, Thoor .kok lama belum up
sunaryati jarum
Ujian menjelang pernikahan biasanya pertanda kebahagiaan akan datang
Sunaryati
Binar sesuatu yang baik dan dapat banyak rintangan di perjalanan akan meraih kebahagiaan selanjutnya.Jangan bimbang dan ragu,percayakan dan beri dukungan pada Aksa agar segera dapat mengatasi masalah perusahaan yang dibuat Tama.Dengan kerja sama dengan Hanzen yang tahu dan mempunyai bukti pengkhianatan Tama,dan tak akan terseret tok kau juga tidak tahu Nak Binar
Sunaryati
Jangan khawatir Binar Aksa akan melindungi mu.Kebenaran pasti terungkap.
Sunaryati
Kenapa kamu harus memikirkan Tama, biarkan toh dia sudah sengaja, dan menggelapkan dana perusahaan juga, karena berniat mendirikan perusahaan sendiri. Ingin hati menghancurkan Aksa malah hancur berkeping-keping. Membuang o
istri yang setia malah mungut perempuan busuk. 🤣🤣🤣🤭 Bagaimana ya reaksi ibumu yang menghina dan memfitnah Binar dan orang tuanya, ternyata anaknya selain pengkhianat di dalam rumah tangganya juga pengkhianat di perusahaan yang memberinya nafkah. Penjara menantimu, Tama
Sunaryati
Emak selalu tunggu tapi jangan kelamaan, entar lupa alurnya, maklum nenek- nenek. Cerita ini emak suka jangan putus fi tengah jalan. Karmamu otw bukan dari balasan Binar tapi pikiran dan tindakan kamu sendiri yang mengkhianati perusahaan. Ingat bukan kamu yang hancur, mungkin perusahaan Helena sebentar lagi juga akan dihancurkan. Agar kau tidak bisa berlindung di manapun, kecuali PENJARA!!! 🤣🤣🤣✋✋🤭
Sunaryati
Mana upnya Thoor 🙏🙏🙏 jangan putus tengah jalan
Sunaryati
Kamu itu sudah salah dan masuk jebakan Hansen. Tama- Tama kamu tidak merasa ya, jika Hanzen menarik kamu ke dalam jurang kehancuran karirmu, untuk menghancurkan hubungan kamu dengan Helena istrimu yang mengandung anak Hansen
Sunaryati
Tama - Tama selain mengkhianati istri kau juga mengkhianati perusahaan yang telah memberi kehidupan kamu dn ibumu. Karena tindakan kamu kamu pun dibodohi istri barumu. Segera menikah Binar dan Nak Aksa. Kemudian tangkap Tama. Suruh mengembalikan uang perusahaan yang dirugikan dan penjarakan. Emak tak sabar menunggu kehancuran Tama dan Ibunya.
Sunaryati
Kamu ternyata selain bodoh juga berhati kotor, selain jadi pengkhianat di rumah tanggamu juga jadi pengkhianat perusahaan. Kamu akan mendapatkan karma dari tanganmu sendiri. Hanzen Sepak terjang Tama selalu diawasi maka keterlibatan kamu juga diketahui Aksa
Sunaryati
Upnya jangan lama- lama Thoor
Sunaryati
Ternyata kamu siap masuk penjara Tama, jangan kau kira Tuan Aksa tidak tahu, beliau hanya ingin kau digiring masuk jebakan, dan hap tinggal tangkap serahkan polisi.
✋✋✋ emak suka ini Tama tahu hasil lab bahwa dia yang akan tidak bisa memberi anak, kamu mengawasi untuk mengetahui lelaki yang menanam benih fi rahimnya, kau pun diawasi orang kepercayaan Aksa untuk menambah bukti pengkhianatan kamu
Sunaryati
Ingat Tama, kau berani khianat di mana tempat kau memperoleh penghasilan bukan hanya kamu yang hancur tapi perusahaan yang kau bantu juga akan dihancurkan, jika itu perusahaan Helena, bersiaplah jadi gembel. Emak akan bertepuk tangan.
Dilla Fadilla
Thor kapan karmanya Tama 😡
Sunaryati
Ya kalau malu berarti Anda masih waras Ny Ratih yang selingkuh anakmu kok ngelabrak Binar dan besan. Segera menikah dan punya anak, Nak Aksa dan Binar. Emak berharap Hanzen berdebat dengan Helena soal anak yang dikandung Helena, dan Tama mendengarkan
Dilla Fadilla
detik detik kehancuran Tama plus Helena karma otw😡💪
Sunaryati
Semoga keluarga yang sakit segera sembuh pulih sedia kala, Thoor🙏💪
Sunaryati
Duh drama Helena, kamu itu hanya takut ditinggalkan Bima, itu sepertinya akan terjadi bila uang tutup mulut untuk Hansen berhenti. Emak harap setelah pernikahan Nak Aksa dengan Binar, kebenaran tentang kandungan Helena terbongkar, agar tidak merasa di atas angin.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!