Katanya kisah cinta masa SMA itu paling sulit dilupakan, apakah mitos itu berlaku untuk Raina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NRH, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Usaha membuat Lian senang.
Lian sudah beres mandi dan memakai baju Ayah yang Ibu pinjamkan barusan.
"Kamu cocok pake baju itu hahaha" godaku.
"Baju itu emang baju lamanya Ayah tapi kalo Lian yang pake tetep ganteng ya keliatannya?" sahut Ibu.
"Dih ibu apaan sih muji Lian segala?" protesku.
"Loh kalo Lian gak ganteng, mana mungkin anak ibu mau sama dia? Ya kan bu?" balas Lian.
"Hahahahaha" Ibu hanya tertawa...
Lian terlihat menikmati masakan Ibu, eh masakan kami bertiga maksudnya... Bagaimanapun, aku dan Lian ikut membantu Ibu memasak... Yaaa meskipun cuma motong-motongin bahan-bahannya saja...
"Lian are u happy?" tanyaku.
"Yaaa" jawab Lian sambil dengan lahap menyantap masakan tadi.
Selepas makan, aku dan Lian mengerjakan tugas-tugas dalam LKS. Aku meminta Lian mengerjakan pilihan gandanya, sementara aku mengerjakan essaynya.
"Ko aku susah sih nemu jawabannya?" gerutu Lian sambil kesal.
"Baca dong materi dibelakangnya! Kamu tuh nyari masalah aja bisa, giliran nyari jawaban soal malah susah!" balasku.
Lian hanya tertawa sambil mengacak-acak rambutku.
Lian sepertinya sudah sedikit melupakan kesedihannya karena asyik mengerjakan tugas, berkali kusadari kalau Lian ini sebenarnya cukup pintar saat berargumen karena Lian bahkan paham cara menjelaskan bahasan yang sulit.
"Duh jawabannya ada di otakku tapi aku susah jelasinnya nih" gerutuku.
"Coba pakai bahasa sederhana aja dulu" jawab Lian.
Kamipun akhirnya berhasil membereskan tugas LKS bahasa inggris, dan dengan bangga aku bisa membuat Lian si biang onar ini menyelesaikan tugasnya sendiri tanpa bantuanku. HAHAHAHAHA...
"Nyalain hape gih! Aku mau nelpon adek kamu!" kataku sambil memberikan hape Lian yang sedari tadi dimatikan karena Lian bilang takut teman-temannya terua mengajaknya ke acara ulang tahun Linea.
"Beneran?" tanyanya.
"Iyalah" jawabku.
Baru saja beberapa detik hape itu dinyalakan, bunyi notifikasinya terdengar sangat banyak.
"tung tring tung tring tung tring"....
Ah bisa gila aku mendengarnya...
"Kamu baca dulu dong itu bbmnya" kataku.
"Ah ngapain? Skip ajalah lagian kamu kan mau nelpon ade" jawabnya sambil menyambungkan telepon ke adiknya.
Adek Lian : Haloo kakak...
Lian : Hai dek.. Kamu sakit?
Adek Lian : Iya aku kangen pengen ketemu kak Lian..
Lian : Nanti kakak libur semester, kakak jenguk kamu deh sabar ya dek!
Lian terlihat menahan perasaan harunya, kali ini karena mungkin Lian gengsi kalau harus menangis didepanku akhirnya berkali-kali dia buang muka dan beranjak.
Aku : Hai.... Dek... Nama kamu Billa ya? Kenalin aku Raina temennya Lian
Adek Lian : Ah kak Raina ya? Temen apa temen?
Billa sudah kelas 5 SD tapi sepertinya dia masih akrab dengan kakaknya, bahkan hubungan mereka terlihat lebih dekat dari hubunganku dan adik-adikku biasanya.
"Kak, nanti kalo Kak Lian kesini aku beliin kakak oleh-oleh ya nanti aku titipin ke kak Lian" kata Billa sebelum akhirnya menutup sambungan teleponnya.
"Nih aku balikin hapenya" kataku.
Lian menerima hapenya lalu meletakannya didalam saku celananya. Lian masih asyik membaca novel-novelku yang dipajang di lemari buku depan, ya meskipun dia hanya akan membaca covernya saja lalu bergerutu "ih gak rame ah novel bawang"...
Menurut Lian, novel yang baik adalah yang membuat pembacanya menjadi kuat.
"Novel itu kan tujuannya menghibur meskipun isinya sedih tapi pasti ada pelajaran didalamnya" kataku.
"Iyasih tapi aku lebih suka nonton langsung daripada baca haha pusing" jawabnya sambil meletakkan buku-buku kembali ke tempatnya.
Beberapa menit kemudian ....
"Rain... Makasih ya...."
Lian berkata begitu sambil merapikan isi tasnya dan berpamitan untuk pulang.
"makasih buat apa?" tanyaku.
"buat usaha kamu hari ini bikin aku seneng" jawabnya.
"haha iya sama-sama gih pulang istirahat jangan banyak keluyuran!" kataku.
"Iya... Aku mau pamit sama Ibu..." katanya.
"Ibu gak ada lagi keluar kayanya"...jawabku
Lianpun berlalu meninggalkan rumah dan seketika suasana rumah menjadi sepi.
"Lian...aku bahkan gak bisa bayangin setiap hari kamu cuma berdua sama Bibi dirumah... Gak ada orang tua... Jauh dari mereka... Gak punya temen cerita... Entah aku bisa atau nggak kalau ada di posisi kamu... Aku salut..." batinku.
Malam harinya....
Aku lagi asyik menggambar pohon untuk tugas kesenian besok, tapi aku penasaran dengan acara ulang tahun Linea. Kira-kira gimana ya perasaan Linea saat tau Lian gak datang dan gak ada kabar? Apa Linea nangis?...
Akupun melihat laman twitter Lian dan berniat untuk mencari tahu akun twitter Linea.
Munculah tweet paling atas di laman home akun Lian.
"Ulang tahun hari ini seruuu tapi gak ada kamu jadi berasa kurang @LianR**"
What??? Linea sampe tag lian kek gini?? Ini cewek gak ada gengsi atau malu-malunya kaliya??...
Akhirnya aku coba membuka akunnya @Linea***
Background fotonya inisial L dan bahkan di semua tweetnta juga tentang inisial itu.
"Ini sih gak salah lagi L itu pasti Lian kan?" batinku.
Akupun gak tahu harus mengambil langkah seperti apa, akhirnya aku cuman bisa menelpon Lian.
"Kamu liat twitter deh! Itu masa Linea ngetag kamu sih?" kataku.
"Hahaha udah biasa makanya aku jarang update soalnya risih, udahsih gausah dibaca" jawabnya.
Malam itupun berlalu dengan kenangan baru. Kenanganku menghabiskan seharian waktuku bersama Lian. Aku senang Lian juga merasakan usahaku membuatnya melupakan sejenak kerinduannya pada keluarganya yang jauh di Kalimantan. Aku senang Lian akrab sama Ibu. Aku senang Lian suka dengan suasana rumahku.
lanjuutttt
ditunggu feedbacknya 😍
ditunggu kunjungannya di :
CAHAYA YANG HILANG
TERJEBAK DALAM PERNIKAHAN SEMU