Bismillah karya baru FB Tupar Nasir
WA 089520229628
Sekuel dari Ya, Aku Akan Pergi Mas Kapten
Kapten Excel belum move on dari mantan istrinya. Dia ingin mencari sosok seperti Elyana. Namun, pertemuan dengan seorang perempuan muda yang menyebabkan anaknya celaka mengubah segalanya. Akankah Kapten Excel Damara akan jatuh cinta kembali pada seorang perempuan?
Jangan lupa ikuti kisahnya, ya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hasna_Ramarta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Keberadaan Zinni Yang Tidak Aman
Zinni membuka aplikasi WA, jarinya menuju room chat bersama Excel. Namun jarinya tidak bergerak untuk menekan tombol panggilan. Zinni bingung, dia takut menggangu Ecel, sebab jam segini Excel pasti masih di kantor. Terpaksa Zinni kembali menyimpan HP nya di dalam tas sampir.
"Aduh, aku harus gimana?" bingungnya. Tepat jam 12 siang, orang yang habis dari ladang dan sawah mulai kelihatan, mereka pulang menuju rumahnya masing-masing.
"Kata Mak Idoh, orang-orang kampung sebagian besar sudah mendapat perintah dari Juragan Awan untuk mengawasi aku. Kalau mereka melihat aku dan ternyata mereka orang suruhan Juragan Awan, bisa celaka aku."
"Baiklah, aku akan sabar menunggu sampai orang itu pergi dan jalanan sepi. Setelah sepi, aku akan pergi dari rumah ini," putus Zinni.
Hari makin siang, tapi orang-orang di kampung ini malah semakin banyak lalu lalang. Zinni tidak bisa lebih lama lagi bertahan di belakang rumah. Dengan memberanikan diri, Zinni memasuki rumahnya dari pintu belakang.
Ternyata pintu belakang rumahnya sudah dol dan tidak terkunci lagi. Sepertinya rumahnya memang pernah dimasuki orang. Mengingat akan hal itu, Zinni justru semakin takut.
"Aduhh, gimana ini? Rumahnya sangat kotor dan banyak debu. Gentingnya banyak yang sudah bolong lagi," keluhnya melihat ke atas langit-langit rumah. Mustahil rumah itu bisa dia tempati malam ini jika dalam kondisi seperti ini.
Mata Zinni melihat ke sudut ruangan, di sana ia melihat sapu yang sudah usang. Sapu miliknya yang sudah setahun lebih ia tinggalkan. Zinni meraih sapu itu, lalu menyapu lantai yang berdebu untuk duduk. Setelah lantai itu terlihat bersih, Zinni duduk untuk sekedar melepas lelah yang sejak tadi menderanya.
Zinni meraih Hp nya, ia membuka aplikasi WA dan membuka room chat bersama Excel. Beberapa saat ia pandangi chatan dirinya bersama Excel. Akan tetapi jemarinya masih ragu untuk menekan tombol panggil.
"Ya ampun, aku harus bagaimana? Aku malu kalau harus menghubungi Pak Excel."
Dengan memberanikan diri, jemari Zinni kini menekan tombol hijau untuk menghubungi Excel. Sayang sekali, sinyal providernya ternyata kurang bagus. Kadang hilang sama sekali, kadang muncul tapi hanya satu saja jaringannya.
"Ya Allah, ini bagaimana? Giliran aku mau menghubungi Pak Excel, tapi jaringan provider di sini susah sinyal dan jaringannya kosong. Bagaimana aku bisa menghubungi Pak Excel?" Zinni bingung kembali, memikirkan bagaimana caranya dia bisa menghubungi Excel.
Karena lelah, akhirnya Zinni menyandarkan punggungnya di tembok. Matanya lamat-lamat terpejam dan Zinni sepertinya tertidur.
Sementara itu, di kediaman Excel. Excel masih dibalut cemas di dalam kamarnya. Ia tidak rela Zinni pergi. Rasanya ada yang hilang dengan kepergian Zinni.
Excel pun timbul rasa bersalah, karena selama kurang lebih dua minggu di rumahnya, sikapnya sedikit kurang ramah pada Zinni.
"Kasihan si Zinni, mana yatim piatu. Lalu ke mana dia pergi, kenapa Hp nya dimatikan segala? Ayolah Zinni, aktifkan Hp mu, kenapa kamu mesti takut dan menghindar dariku segala hanya gara-gara ancaman Erni wanita stres itu?" Excel mengulang kembali panggilan di aplikasi WA nya pada Zinni. Sayanynya, masih nihil.
"Ya ampun, minimal Hp nya aktif, aku bisa melacak keberadaannya dan menyusulnya. Perasaanku tidak enak tentang Zinni," gumam Excel lagi. Dia kini merasa punya firasat buruk tentang Zinni.
"Ayolah, aktif Hp mu Zinn," harap Excel sembari kembali memanggil nomer WA Zinni.
Excel meletakkan Hp nya dengan kasar di atas ranjang, ia kesal karena nomer Zinni lagi-lagi tidak bisa dihubungi.
"Ya sudah, sebaiknya aku hubungi lagi nanti." Excel berdiri, lalu melepaskan seragam lorengnya. Rasa lelah dan gerah, memaksa dia untuk ke kamar mandi dan mengguyurnya dengan air dingin.
Excel menyudahi mandinya. Kini, dia sedikit segar setelah mandi. Namun, tetap saja pikirannya masih tertuju kepada Zinni.
"Sebaiknya aku hubungi kembali. Aku merasa si Zinni dalam bahaya. Firasatku mengatakan, si Zinni sedang tidak aman," gumam Excel lagi seraya meraih Hp nya kembali dan menghubungi nomer WA Zinni.
"Semoga Hp nya aktif," harap Excel. Excel menekan tombol hijau dan mulai memanggil nomer WA Zinni. Bibir Excel tiba-tiba melebar, ada rasa lega di sana, ketika nomer Zinni bisa dihubungi.
Namun, sayang sekali, Zinni belum mengangkat panggilannya. "Ke mana si Zinni? Nomernya aktif. Jangan-jangan Hp si Zinni hilang, lalu ditemukan orang," duganya negatif.
Setelah panggilannya tidak berhasil direspon oleh Zinni, Excel akhirnya mengirimkan pesan WA untuk Zinni. Setelah mengirimkan pesan WA untuk Zinni, Excel segera melacak di mana keberadaan Zinni dari GPS.
"Ternyata si Zinni saat ini sedang berada di kampung halamannya Sami Mawon. Aku sebaiknya menyusul dia supaya dia kembali ke kota dan bekerja di rumahku saja," putusnya seraya bergegas keluar kamar tidak pakai lama.
"Bi Ocoh, saya pergi dulu. Hati-hati di rumah. Nanti saat saya pergi, pagar rumah segera dikunci," titah Excel seraya berlalu.
"Baik Den," patuh Bi Ocoh seraya menatap kepergian Excel. Deru mobil Excel mulai keluar halaman rumah.
Excel memacu mobilnya cepat, dia tidak ingin kedatangannya ke kampung halamannya Zinni kemalaman. Terlebih, jarak rumahnya ke kampung halaman Zinni bisa memakan waktu sampai empat jam. Kalau perjalanan lancar, bisa saja hanya tiga jam.
"Ayolah Zinni, aktifkan Hp mu." Excel masih berharap Zinni bisa mengangkat panggilannya.
"Pak Excel, halo Pak."
Akhirnya sebuah suara yang diharapkan bisa mengangkat panggilannya terdengar. Zinni terdengar gembira, tapi penuh tekanan.
"Akhirnya, kamu mengangkat panggilan saya. Kamu di mana, kamu aman? Saya akan menyusul ke rumahmu di kampung, katakan apa alamat rumahmu?" balas Excel lega.
"Kampung Sami Mawon, nomer 40. Saya berada di dalam rumah peninggalan orang tua saya. Rumahnya sudah lapuk dan usang, saya takut di sini, Pak. Pak Excel segera datang, ya, Pak," ujar Zinni terdengar was-was.
"Baiklah. Kamu tunggu di sana. Saya akan segera ke sana." Excel segera memacu alamat yang diberikan Zinni.
"Ya ampun, Zinni-Zinni. Kamu memang menyusahkan. Sekarang kamu malah pergi ke kampung halaman, tapi keadaanmu seperti sedang dalam ketakutan," simpul Excel.
Excel memacu mobilnya lebih cepat, sebab dia khawatir dengan keadaan Zinni.
Di lain tempat, Zinni yang baru saja menerima panggilan dari Excel, merasa sedikit lega. Tadi Zinni sempat terkejut dan terjaga dari tidurnya, karena tiba-tiba suara dering telpon mengusiknya. Zinni bersyukur, sinyal di Hp nya sedang on dan yang menghubunginya ternyata Excel.
"Pak Excel, untung saja barusan sinyalnya muncul dan Pak Excel menghubungiku," leganya senang.
Baru beberapa saat hati Zinni lega, tiba-tiba sebuah suara terdengar dari luar rumahnya. Zinni terkejut dan berdiri. Dia mulai takut dan waspada.
Siapakah suara orang yang didengar Zinni itu? Apakah orang-orang suruhan Juragan Awan menemukan keberadaan Zinni?
semoga saja benar ya Thor ☺️🤩