Mohon untuk tidak membaca novel ini saat di bulan puasa. Terutama disiang hari. Untuk malam hari, silahkan mampir jika berkenan.
"Aku tidak mau menikah dengan Pria tua itu, Ibu" kata Elina pada Ibu tirinya.
Elina di jual oleh Ibu tirinya pada seorang Pria yang tidak diketahui identitas aslinya. Sakit, jelas Elina merasa hatinya sangat sakit.
Apakah Elina bisa mendapatkan kebahagiaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asni J Kasim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 27
Penthouse At The Piere/ Pagi Hari
Ponsel Elina terus berdering, Elina mengumpulkan kesadarannya. Berulang kali ia menguap, merenggangkan tanganya ke belakang, setelah ia merasa nyaman, Elina meraih ponselnya.
"Dua belas panggilan tak terjawab," gumam Elina. "Tapi tumben Ibu menelponku," ujarnya. Elina menelpon balik Ibunya, tak menunggu lama, Martha menjawab panggilan dari anak tirinya.
"Ibu, kenapa menangis?" tanya Elina panik.
"Ayah kamu, Elin. A-ayah kamu meninggal" ujar Martha di sebrang sana.
Ponsel Elina jatuh. "Tidak mungkin...!" teriak Elina. "Ayah..." Elina berteriak dan menangis.
"Elina kamu kenapa?" tanya Melisa dengan panik. Ia terkejut saat melihat Elina tersungkur di lantai.
"A-ayah ku, Mel. Ayah ku sudah pergi" ujar Elina disertai tangis.
Elina dan Melisa ke luar dari kamar menuju pintu apartemen. Mereka ke luar tanpa mengganti pakaian, keduanya berjalan dengan terburu-buru.
"Cepat naik," kata Melisa kemudian masuk ke dalam mobil. Melisa mengemudi dengan kecepatan tinggi. 30 menit telah berlalu, mereka pun sampai dikediaman Almero.
Kediaman Almero
Elina turun dari mobil, ia berlari memasuki rumahnya. Melisa ikut berlari masuk, ia pun ikut menangis. Albern Almero adalah sosok pria yang baik, Melisa menganggap Albern sebagai orang tuanya.
"Ayaaaah...!!!" Elina berteriak memanggil ayahnya. Semua pelayan dan scurty rumah Albern Almero meneteskan air mata. Mereka kehilangan sosok yang dicintai.
Elina menangis sembari Elina memeluk peti jenazah ayahnya. Martha memegang pundak Elina, Elina menoleh. "Ibu, hikz... hikz... hikz..." tangis Elina pecah dipelukan ibu tirinya.
"Kakak, Ibu, kenapa Ayah tidur di dalam situ?"
Terdengar suara laki-laki dari pintu kamar sambil menunjuk peti mayat, semua orang yang ada menoleh menatap ke arah suara, di sana ada Alex Almero, adik tiri Elina yang baru berumur 6 tahun.
Elina berdiri menghampiri adiknya, ia memeluk kemudian mencium adiknya. "Kenapa kakak menangis, apa Ayah pergi?" pertanyaan yang ke luar dari mulut Alex membuat Elina dan seisi rumah kembali meneteskan air mata.
"Kakak, Ibu, kalian jangan sedih. Alex akan menjaga kakak dan Ibu" ujar Alex sembari memeluk Elina bersamaan dengan Martha.
Perusahan Javelis
Jonathan tengah asik menatap layar komputernya. Tiba-tiba ia mendapatkan satu notifikasi dari Prof Alnero. "Apa kamu sudah melihat berita hari ini?" tanya Alnero lewat pesan.
"Berita?" gumam Jonathan. Jonathan tidak membalas pesan dari Alnero, ia memilih melihat berita pagi ini lewat ponselnya.
"Pagi ini, CEO Perusahan Almero dinyatakan meninggal dunia di kediamannya sendiri. Kehilang sosok CEO yang baik membuat para pegawai ikut bersedih dan belum bisa menerimah kepergian CEO Perusahan Almero"
"Ya tuhan, bagaimana mungkin aku ketinggalan berita ini" batin Jonathan.
Jonathan keluar dari ruangannya menghampiri Rainex. "Batalkan semua jadwal hari ini," kata Jonathan pada Rainex.
"Natan, kamu mau ke mana? Kenapa terlihat terburu-buru" tiba-tiba ibu tiri Jonathan datang. "Dan tangan kamu kenapa?" tanyanya.
"Aku ada masalah, dan aku mau ke suatu tempat. Jika Ibu ingin ikut, Ibu bisa ikut denganku" kata Jonathan, ia mencoba mengelabui ibu tirinya.
"Mana mungkin Ibu ikut kamu yang lagi stres!!" ketus Alira.
"Bu, aku harus pergi sekarang. Jadwal keberangkatanku jam 10 dan aku sudah hampir terlambat" kata Jonathan kemudian pergi meninggalkan Nyonya Alira.
"Mending aku pulang, daripada di sini" batin Alira kemudian pergi meninggalkan Perusahaan.
Di perjalanan, Jonathan melihat mobil ibunya mengikutinya. Dengan terpaksa ia harus ke Bandara, Jonathan mengemudi dengan kecepatan tinggi. Tak berlangsung lama, Jonathan sampai di Bandara. Ia keluar dan masuk ke dalam Bandara. Tak berlangsung lama, ada seorang pria yang datang dan masuk ke dalam mobil yang di bawah oleh Jonathan. Dia adalah anak buah Rinton yang yang menyamar sebagai supir.
"Jadi dia betulan ke Luar Negri," guman Alira. "Sia-sia saja aku mengikutinya." ujarnya. Alira menyalakan mesin mobilnya kemudian pergi meninggalkan Bandara. 5 menit setelah kepergian Alira, Jonathan pun ke luar dan pergi menuju tempat di mana anak buah Rinton menunggunya.
"Ck ck... wanita itu sangat sulit untuk kelabui!" Jonathan berdecak pelan.
"Tuan harus berhati-hati," kata anak buah Rinton.
"Kamu datang tepat waktu. Sekarang kamu turun, aku pakai mobilmu dan kamu pakai mobilku" ujar Jonathan. Jonathan menyalakan mesin mobil lalu pergi menuju tempat yang akan ia tuju.
kediaman Almero
Pemakaman telah usai, Martha dan yang lainnya berada di ruang keluarga. Begitupun dengan Elina dan Melisa. "Yang lainnya, bisa kembali istrahat" kata Martha pada semua pelayan dan scurty.
"Baik, Nyonya"
Di ruang keluarga tinggal Elina dan Melisa serta Alex. "Elina, maafkan Ibu. Kamu pasti membenci Ibu kan, Ibu tahu itu. Tapi Ibu punya alasan, Ibu mau kamu kuat. Bahkan Ibu tahu Jonathan itu siapa. Kamu cukup mencari tahu sendiri kenapa Ibu menjualmu padanya. Saat bersamanya, kamu akan tahu siapa dia dan siapa yang membunuh Ibu kandungmu," jelas Martha.
"Sepulang dari Rumah Sakit untuk menjengukmu. Ayah kamu kembali sakit dan dia tidak mau ibu memberitahumu. Dan ini, ini warisan dari orang tuamu, Ibu tidak mengambil sepeserpun. Kamu satu-satunya anak tertua dikelurga Almero, maka kamu harus menggantikan ayahmu sebagai CEO Perusahan dan melanjutkan bisnis keluarga kita" jelas Martha.
"Hikz, hikz, hikz. Kenapa Ibu pura-pura jahat padaku" Elina menangis memeluk ibu tirinya.
"Karena Ibu ingin menjadikanmu wanita tangguh" balas Martha sembari membalas pelukan Elina.
"Jam 2 Ibu harus kembali ke Australia, sudah 14 tahun Ibu tidak pulang. Ibu akan membawa Alex dan mendaftarkan dia untuk sekolah di sana," kata Martha.
"Elina, ingat pesan Ibu. Kamu harus mencari tahu siapa pembunuh orang tuamu, kamu masih ingat kan wajah orang itu?" tanya Marta.
"Sebelum mataku kena pecahan kaca, aku sempat melihatnya. Tapi, itu sudah sangat lama" ujar Elina.
"Satu lagi pesan Ibu, jika suatu hari nanti kamu tahu siapa orangnya. Kamu harus mengambil keputusan yang tepat," kata Martha lalu menatap Melisa.
"Melisa, karena kamu sudah mendengar semuanya maka Tante harap kamu bisa membantu Elina di Perusahaan. Rintislah karirmu dengan baik, jangan kecewakan orang tuamu" ujar Martha.
Melisa merasa terharu, ia berhambur memeluk Martha. "Tante, maafkan aku atas sikap kasarku pada Tante. Hikz, hikz." Melisa kembali menangis.
"Bu, bolehka aku merawat Alex?" tanya Elina menatap sayu ibunya.
"Kehidupan kerasmu akan dimulai besok, kamu akan kekurangan waktu untuk adikmu. Ibu tidak melarangmu untuk merawat adikmu tapi itu akan sulit bagimu untuk memberinya kasih sayang. Biarkan Ibu membawanya dan kamu bisa datang menjenguknya saat kamu punya waktu luang" jelas Martha.
"Nyonya, ada seorang pria mencari Nona Elina," kata seorang pelayan.
.
.
.
.
Bersambung.
Skefo: Hari ini aku Up 2 Episode tapi mungkin 3 hari ke depan baru aku bisa Up lagi.
secara walopun udah nikah lama kan mrk selalu berantem n terpisah trus...