NovelToon NovelToon
Hipertenlove

Hipertenlove

Status: tamat
Genre:Playboy / Teen Angst / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa / Tamat
Popularitas:559.6k
Nilai: 5
Nama Author: sinta amalia

Menyukai seseorang itu bukan hal baru untuk Bagas, boleh dibilang ia adalah seorang playernya hati wanita dengan background yang mumpuni untuk menaklukan setiap lawan jenis dan bermain hati. Namun kenyataan lantas menamparnya, ia justru jatuh hati pada seorang keturunan ningrat yang penuh dengan aturan yang mengikat hidupnya. Hubungan itu tak bisa lebih pelik lagi ketika ia tau mereka terikat oleh status adik dan kakak.

Bagaimana nasib kisah cinta Bagas? apakah harus kandas atau justru ia yang memiliki jiwa pejuang akan terus mengejar Sasmita?

Spin off Bukan Citra Rasmi

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sinta amalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hipertenlove~ Bab 27

"Semangatt!" Bagas mengacak rambut Sasi dengan senyuman yang selalu membuat Sasi nyaman nan tenang.

"Grogi euyy, takut mendadak cupu.." akui Sasi kali ini, padahal biasanya gadis ini adalah miss optimis.

"Dimaklumi kalo cupu mah yang penting masih pake baju, jadi ngga malu-malu banget..." balas Bagas justru membuat Sasi berdecak namun tertawa renyah. Bahkan saat Bagas sengaja menggenggam tangan Sasi, entah itu sengaja buat ngasih power booster atau emang modusnya saja, telapak tangan semulus pualam itu terasa begitu dingin.

Sejenak keduanya melupakan acara di rumah Asmi, yang mungkin saja setelah ini masalah besar akan mereka dapatkan terkhusus Sasi.

Riuh tinggi suara sorakan beserta suara empuk panitia sudah memanggil setiap pesertanya.

"Sasmita...Sas...udah giliran," colek guru pembimbing Sasi menghentikan obrolan antara Sasi dan Bagas.

"Oh iya, pak." Diteguknya air mineral demi mengusir rasa nervous dan tak nyaman. Come on! Ini bukan kali pertamanya, Si!

"Bismillah!"

Tas dan perlengkapan, Sasi titipkan pada Bagas yang diangguki oleh pemuda itu. Sepeninggal Sasi, Bagas lantas merogoh ponsel miliknya, dan memotret sekilas kepergian Sasi serta kondisi disini sebagai kenang-kenangan tanpa berniat untuk ia umbar di sosial media atau aplikasi chatnya. Namun saat ia tak sengaja melihat notifikasi pesannya, sebuah pesan masuk dari Irna.

Gas, tega ya loe...Salsa sampe sakit gini tau...for your information. Ngga pengen jenguk?

Bagas hanya mele nguh kasar, ia memasukan ponselnya ke dalam saku dan memilih untuk menonton Sasi bertanding saja disana.

Bukan ia tak peduli. Atau hatinya telah mati...namun, sejauh mana pun ia berlari pada siapapun ia berlabuh, ia akan tetap pulang pada Sasi.

Amih sudah mere mas kipas yang ada di tangannya, saking kesal, marah nan gerammm sekali!

Beberapa kali Nawang dan Katresna memanggil nomor Sasi, namun nihil. Ponselnya tak aktif.

"Teh, Sasi mah emang sengaja matiin hape kata si aa..."bisik Katresna yang sudah tau dari Candra tadi pagi. Ia berbisik begitu pelan, bahkan sangatttt pelan, sampai-sampai cicak saja tak bisa mendengarnya.

"Jadi sebenernya mah percuma aja kita nelfonin." Ringis Katresna lagi di tengah acara Den Alit, dimana bayi itu kini sedang dibawa jalan berputar demi helai demi helai rambutnya digunting.

"Tau. Biar keliatan kita ada usahanya aja di depan amih...lagian Candra kenapa biarin Sasi pergi sih, a Bajra juga yang kena sama amih, ini..."

Katresna si adik ipar hanya bisa terkekeh cengengesan, "kalo teteh sama a Bajra ada di posisi a Candra sama aku, yakin pasti ijinin juga...kasian."

Nawang menghela nafasnya berat, selalu...masalah adik-adiknya dengan amih akan menjadi urusannya dan suami juga. Dulu Candra yang maksa kawin lari dengan Katresna, lalu Asmi yang hampir gila, sekarang Sasmita yang begitu pembangkang.

Ia jadi sangsi, apakah Bajra menikahinya dengan hati ikhlas?

"Ngga tau ah..." rutuk Nawang cemberut.

\*\*\*

Bugh!

Plak!

Gedebugh!

Sepasang tangan wasit menengahi Sasi yang tengah sparing. Poin demi poin ia dapatkan, meski tak jarang ia kecolongan juga. Tatapannya tajam menusuk hingga ke netra lawan, dengan deru nafas memburu dan keringat yang mulai membasahi garis wajah.

Ia seorang putri, menak...namun kecintaannya pada seni budaya pencak silat tak bisa ia tukar dengan pangeran tampan sekalipun. Ia tak seperti Asmi, yang mempesona dan memikat dengan kefeminimannya. Atau seperti Asmi yang selalu memenuhi standar amih, ia bahkan terlampau sering mendapatkan hukuman fisik dari amih....

Pokoknya amih ngga mau tau, berendem di kolam gurame 2 jam.

Amih kurung neng di gudang!

Isi air kolam curug samping pake kendi sampe penuh!

Neng Sassmitaaa!

Seketika kilatan amarah akan perlakuan amih terekam di memorynya yang seketika menyulut gerakan melawan Sasi, hatinya bergemuruh, tanpa sadar jika yang saat ini ada di hadapannya adalah siswa dari SMA lain.

"Haaa!"

Bugh!

Pletakk!

Plak!

Gubrak!

"Sasmita, win!"

Namun Sasi seolah belum puas melihat sang lawan dinyatakan kalah dan terlihat kepayahan, Sasi masih hendak meraihnya yang sampai-sampai wasit menahannya.

Bersamaan dengan kebringasan Sasi, mata Bagas menatapnya nyalang....bukan Sasi-nya yang ia lihat saat ini, ia jelas sekali melihat semua perasaan marah, kesal, sedih, kecewa seseorang yang sudah menggunung dan ia simpan rapi-rapi di dalam relung hati, justru membludak saat ini dari Sasi.

Brak!

Amih menggebrak meja di belakang, saat keluarga besar berada di ruang depan. Bahkan Wilang menyaksikan itu dan hanya bisa diam dengan khawatir yang begitu mendominasi memayungi hati, "kemana kamu, den rara?" dirinya membatin mengkhawatirkan Sasi, pasalnya ia sangat tau siapa den nganten Sekar Taji.

Nawang berdehem, begitupun dengan Katresna, sementara Candra memilih kabur ke depan menemani apih dan Bajra serta pemilik acara yang tengah menjamu keluarga besar.

"Amih ngga habis pikir! Dimana otaknya neng Sasi! Di rumah lagi ada acara yang melibatkan keluarga besar...tapi dia malah ikut-ikutan tanding pencak silat!" sinisnya mengecilkan.

"Apa sih! Berkali-kali amih bilang itu olahraga buat laki-laki, kasar!" umpatnya lagi dengan kilatan amarah.

"Mih, Nawang tau, Sasi itu sangat amat menyukai silat. Sebagaimana amih mencintai jaipong---" belum Nawang selesai amih sudah kembali memotongnya.

"Karena itu identitas perempuan!"

Skak! Katresna cengengesan melihat Nawang yang langsung diam oleh amih.

"Maksudnya, neng Nawang....kalau sudah cinta, apapun akan dilakukan, ceu...biarkan Sasi melakukan apa yang ia sukai, karena jika semakin dilarang dan dikekang maka akan semakin kuat juga ia membangkang." Tukas Ganis yang baru saja datang dan mengusap besannya itu.

"Saya liat, Sasi itu kaya eceu...keras kepala, tangguh...selama dia tak sampai melukai diri sendiri atau merugikan orang lain dan dirinya, kita sebagai orangtua, cukup mengawasi dan memberikan dukungan." Ganis menaruh teh manis hangat, bermaksud biar hati sang besan adem barang sebentar.

"Nuhun." Ucapnya menerima, "tapi yayi..."

Ganis tersenyum, "percaya ya ceu...toh hari ini kedatangan Sasi masih bisa kita sembunyikan dari keluarga besar. InsyaAllah Sasi cukup tau diri..."

Terang saja Ganis bisa mengatakan itu, wong ia sudah mewanti-wanti Bagas tadi pagi saat Nata bilang, Bagas menemani Sasi berlaga. Ganis lah orang pertama yang menelfon putra bungsunya itu.

Bawa Sasi pulang secepatnya, Gas! Awas jangan lupa.

Sasi menghela nafasnya lega saat menghampiri rombongan sekolahnya, yang dari kejauhan saja sudah memberikannya sorakan kemenangan, "yess Sassiii!"

Namun senyum penuh kepuasan dan kemenangan itu tak lantas menguar dari Bagas, ia justru meringis.

Setelah bertos ria dengan guru pembimbing dan teman-teman, Sasi menghampiri Bagas, "little amih lagi ngamuk." Lirih Bagas mengundang kernyitan Sasi yang kemudian gadis itu membuang wajahnya dan bergidik acuh, "Sasi ya Sasi..."

"Faktor lucky. Karena kemenangan sejati bukan dengan amarah, Si...lagi numpahin rasa kesel sama kecewa, ya...tadi?"

Sasi semakin tak nyaman dengan tuduhan Bagas, "a Bagas so tau. Kalo ngadepin lawan ya emang gitu, mesti bikin lawan merasa terintimidasi...no mercy!" jawabnya digelengi Bagas, "tah...amih lagi ngomong..." kekehnya. Sasi menghentikan tegukannya dan meninju lengan Bagas, "apa sih, bawa-bawa amih terus?! Suka sama amih, ya?" senyumnya tersungging sinis.

Namun Bagas terkekeh renyah, "iya. Tepatnya suka sama little amih..."

Sasi menggeleng dengan senyum yang tertahan dan lubang hidung yang sudah merekah, namun ia tak menanggapi ucapan si buaya satu itu.

"Udah selesai belum ini teh?" tanya Bagas lagi melirik jam tangannya.

"Nunggu pengumuman, kalo lolos lanjut ke babak perdelapan final."

"Tapi bisa diwakilin sama official kan? Jadi bisa pulang duluan?" tanya Bagas lagi menembak, sementara jawaban Sasi hanya bergidik tak acuh.

"Si...tadi aa udah nanya sama guru kamu." Tunjuk Bagas ke arah guru pembimbing sekolah Sasi.

"Aa bilang, di rumah lagi ada acara keluarga...yang mesti dihadiri, jadi kita boleh pulang duluan." Jelas Bagas menyerahkan jaket Sasi.

Sasi memandang Bagas menyipit, "a Bagas ngapain pake nanya segala. Pengen buru-buru ketemu amih, pasti.. Pengen liat aku dihukum cepet-cepet..." ketusnya menerima jaket dengan kasar.

"Justru takut kamu makin diamuk. Aa udah janji sama orang rumah buat bawa kamu pulang cepet."

"By the way, kabar terbaru dari rumah. Amih ngamuk-ngamuk sama aa teteh-teteh soalnya kamu ngga ada, yuk pulang! Kasian teteh-teteh jadi sasaran amih."

Sasi menghela nafasnya dan menunduk sejenak, kemudian matanya menatap ke arah arena laga dimana peserta lain tengah bertanding, meski sebenarnya pandangannya jauh dari itu.

Sudah sejak lama, teteh dan aa nya sering jadi pelampiasan amih atas ***kesalahannya***. Dan ia, samgat amat merasa bersalah akan hal itu.

Tapi-----

"Sasi takut, a."

Bagas meraih tangan Sasi dan menggenggamnya, "masalah itu dihadapi. Udah terlalu sering kamu ngasih masalah kamu buat aa sama teteh...kasian. Yuk hadapi bareng!!"

Sasi tersenyum meski ia tak begitu yakin.

.

.

.

.

1
Triana Oktafiani
Emang selalu beda karya2mu, diluar nalar semua, kerennnnn 👍
Ayusha
apih gagal menjadi seorang suami.
novel destiny
arti hippertenlove ternyata se dalam itu yaa.. ku kira cerita tentang ningrat gini agak ngebosenin. tapi ternyata diluar ekspektasi teteh 😍😍😍
aku suka sama cerita remaja yg lagi pada ranum2nya gini 😁😁😁
novel destiny: kembali kasih teteh 🩷
total 2 replies
novel destiny
terimakasih tetehh.. padahal mah masih pengen ada lanjutannya 😁😁
see you di lapak yg lain teteh 🩷
novel destiny
ini bacanya antara ngakak dan ngakak lagi🤣🤣🤣
novel destiny
aslinya si surya begitu 😒😒😒🔪🔪🔪
novel destiny
itu sasi kebawa sama selendangnya ya??
novel destiny
tuh laki udah ketauan belangnya (?) atau aslinya (?)
amit2 punya laki kaya gtu. pasti sering bentak, kasar, mau memonopoli sendiri.. aishhhh
novel destiny
sakitnya nini di rekayasaaaa... eeaaaa
novel destiny
amar kemasan sachet 🤣🤣🤣
novel destiny
bentar lagi dateng aa sayang neng.. eehh aa bagas dengg 🤣🤣🤣
novel destiny
obrak abrik terossss.. serang dari dalam, serang dari luar 🔪🔪🔪🔪
novel destiny
berarti gong nya itu bener2 di sasi yaaa...
anak bontot paling plak ketuplek tuplekk
novel destiny
orang tengil harus dihadapi sama orang tengil juga. wah ilmu atau apa ini? 🤣🤣🤣
novel destiny
bener2 risih tauu.. kalo di depan toilet ajah di tungguin cowok freak kaya gtu 😖😖

kecuali ya kalo kita yg minta si masih okelah. lah ini??
novel destiny
selamat kan amih dari keadaan mencekik ini
novel destiny
obsesi nini ampyunnnn 😒😒
novel destiny
kayanya susah ya sii.. tapi semangat yakin sasi bisa
novel destiny
stalker mode keturunan kerajaan(?)
novel destiny
berarti bagas tuh bagai pinang dibelah belah sama apih yaa 🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!