Berawal dari permintaan sahabatnya untuk berpura-pura menjadi dirinya dan menemui pria yang akan di jodohkan kepada sahabatnya, Liviana Aurora terpaksa harus menikah dengan pria yang akan di jodohkan dengan sahabatnya itu. bukan karena pria itu tak tahu jika ia ternyata bukan calon istrinya yang asli, justru karena ia mengetahuinya sampai pria itu mengancam akan memenjarakan dirinya dengan tuduhan penipuan.
Jika di pikir-pikir Livia begitu biasa ia di sapa, bisa menepis tudingan tersebut namun rasa traumanya dengan jeruji besi mampu membuat otak cerdas Livia tak berfungsi dengan baik, hingga terpaksa ia menerima pria yang jelas-jelas tidak mencintainya dan begitu pun sebaliknya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selvi serman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan sikap ibu.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk datang menemui Tante."
"Tidak perlu berterima kasih, tante." Thalia merasa ada yang berbeda dengan sikap ibunya Abimana.
"Sebelumnya Tante ingin meminta maaf sama kamu, Thalia."
Tidak ingin berlama-lama, malam harinya ibu langsung mengajak Thalia untuk bertemu di sebuah restoran.
"Minta maaf buat apa, Tante???." Thalia semakin bingung dengan sikap ibunya abimana tiba-tiba meminta maaf tanpa alasan yang jelas menurutnya.
"Tante mau minta maaf karena Tante tidak bisa lagi membantu kamu kembali bersatu dengan Abi, Thalia." sebenarnya ibunya Abimana tidak tega menyampaikan hal itu pada Thalia yang merupakan anak dari salah seorang sahabatnya, namun mau bagaimana lagi situasi dan kondisi saat ini sangat tidak memungkinkan lagi untuk wanita kembali bersatu dengan Abimana.
"Jangan becanda, Tante, nggak lucu." tak percaya dengan ucapan ibunya Abimana.
"Tante tidak sedang bercanda, Thalia."
Menyaksikan keseriusan di wajah ibunya Abimana, senyum di bibir Thalia pun perlahan surut. "Tapi kenapa Tante, kenapa Tante tiba-tiba berubah pikiran seperti ini??? Bukankah awalnya Tante tidak keberatan jika Thalia kembali bersama Abi????." terlihat jelas jika Thalia tak terima dengan keputusan ibunya abimana, yang awalnya bersedia membantu menyatukan dirinya bersama Abimana namun sekarang justru berubah pikiran. "Apa yang membuat Tante sampai berubah pikiran seperti ini???" sambung Thalia penasaran sekaligus kesal.
"Karena saat ini istrinya Abi tengah mengandung." laksana di sambar petir di siang bolong, Thalia sangat terkejut mendengar pengakuan ibunya abimana. Genggamannya pada tangan ibunya Abimana pun perlahan melemah.
"Di satu sisi Tante masih berharap kalian bersatu, tetapi di sisi lain Tante juga tidak bisa mengabaikan keberadaan wanita yang dicintai oleh anak Tante. Awalnya Tante pikir Abi menikahi gadis itu hanya karena ingin mewujudkan keinginan ayahnya, tapi setelah mendengar kabar tentang kehamilan Livia, Tante jadi sadar bahwa anak Tante mencintainya, Abimana mencintai istrinya. Tante harap kamu bisa berbesar hati menerima kenyataan ini, Thalia!!!."
"Sekali lagi, Tante minta maaf padamu,Thalia." setelah mengutarakan permintaan maaf untuk kesekian kalinya, ibunya Abimana berlalu meninggalkan restoran, tanpa sedikitpun menyentuh minuman pesanannya.
Maafkan ibu, Abi....ibu tidak pantas di sebut ibu karena tidak menyadari perasaanmu yang sebenarnya. Ibu.
Di perjalanan kembali ke rumah, ibu terus menyesali diri karena tidak peka terhadap perasaan putranya. meskipun Abimana hanyalah putra sambungnya, namun ia sudah merawat dan membesarkan Abimana layaknya anak kandung sendiri sejak Abimana masih berusia empat tahun maka tak heran jika ibu merasa dirinya gagal dalam mendalami perasaan Putranya sendiri.
Setibanya di rumah, ibu berpapasan dengan Abimana di depan pintu utama.
"Mau kemana, Abi??."
"Mau membelikan bubur sum-sum, Livia ngidam ingin makan bubur sum-sum, Bu." jawab Abimana.
"Tidak perlu beli, biar ibu yang membuatkannya untuk istri kamu."
Jujur, abimana sangat terkejut, ia tidak menyangka ibu bahkan rela turun ke dapur demi memasak makanan untuk istrinya.
"Sekarang sebaiknya kamu kembali ke kamar, temani istri kamu!!."
Tanpa membuang waktu, ibu segera beranjak menuju dapur. Mulai mempersiapkan semua bahan-bahan untuk membuat bubur sum-sum.
Dua puluh menit kemudian, semangkuk bubur sum-sum telah tersaji di meja makan. Kedua bola mata Livia berbinar bahagia menyaksikan makanan yang diinginkannya telah tersaji di depan mata. Namun begitu, ia tak langsung menyentuhnya, ada perasaan sungkan di hati terhadap ibu mertua.
"Makanlah!!!." setelah ibu mempersilahkan, tanpa menunggu lama Livia langsung menyantap bubur sum-sum tersebut hingga tandas.
"Terima kasih... maaf sudah merepotkan ibu malam-malam begini." ucap Livia setelah selesai menyantap bubur sum-sum tersebut tanpa tersisa.
"Tidak perlu berterima kasih, apalagi sampai meminta maaf. Lain kali jika cucu ibu menginginkan sesuatu, jangan sungkan untuk mengatakannya!!." jawaban ibu memang masih terkesan cuek, tetapi Livia tahu betul jika wanita itu merasa gengsi untuk menunjukkan kasih sayang pada dirinya.
"Bu...." Livia meraih tangan ibu mertua, ketika hendak beranjak dari tempatnya duduk.
Ibu masih diam, sadar betul jika Livia masih ingin melanjutkan ucapannya.
"Terima kasih karena telah menerimaku sebagai istrinya mas Abi. Sebagai menantu, Aku berjanji tidak akan mengecewakan ibu." setelah mengucapkan itu semua, Livia mencium punggung tangan ibu mertuanya.
Tanpa sadar ibu menarik tipis sudut bibirnya.
Tanpa di sadari ibu dan Livia, ternyata sejak tadi ada sepasang mata yang diam-diam menyaksikan interaksi di antara keduanya. Ya, dari lantai atas, Abimana tersenyum hangat menyaksikan pemandangan di depan matanya saat ini.
"Sejak awal aku sudah bisa menebak jika pada akhirnya ibu akan menerima kehadiran kak Livia."
Abimana sontak menoleh ke sumber suara. Ternyata Rasya telah berdiri beberapa langkah dibelakangnya.
Rasya tersenyum hangat ketika pandangannya bertemu dengan Abimana. "selamat ya mas.... selamat atas kehamilannya mbak Livia, sebentar lagi mas akan segera menjadi seorang ayah."
"Terima kasih." Abimana membalas senyuman hangat Rasya.
akan tau ada mama thalia jga yg masuk kamar