Warning !! Kalau nggak suka sama cerita ini bisa langsung SKIP saja yaa..
Attarazka Desta Firmansyah menikah dengan gadis yang berprofesi sebagai Dokter bernama Clara Adelin. Setelah enam tahun menikah mereka belum di karuniai keturunan.
Sikap Clara mulai berubah saat diri nya kembali bertemu dengan mantan kekasihnya yang berprofesi sebagai dokter juga di Rumah Sakit tempat dia bekerja.
Dalam gejolak Rumah Tangganya , Attar di pertemukan dengan Gendhis Anindita Nastiti yang menjadi sekretaris barunya.
Dalam konflik rumah tangga nya Attar membuat keputusan untuk menikahi Gendhis dengan sebuah kesepakatan.
Bagaimana akhir nya jika pernikahan Attar dan Gendhis di ketahui Clara dan nyatanya dua istri Attar adalah sahabat dari masa SMA.Apa Gendhis akan mundur setelah tahu jika kakak madunya adalah orang yang dulu dia anggap sahabat namun nyatanya pernah mengecewakan dia di masalalu?
ikuti kisahnya ...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Puspa Arum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepergok Luna
Attar menyesap kopi buatan Gendhis yang sudah menjadi minuman favorit nya saat ini.
Sambil menunggu Gendhis yang sedang mandi sementara dirinya menikmati kopi di sore hari dan juga melihat email yang masuk di ponselnya.
Saat melihat banyak pesan dan panggilan dari Clara, Attar hanya bisa mendes*h dan lalu tersenyum kecut saat ingat informasi yang baru dia dapat.
"Ternyata kamu pengkhianat Cla, nggak nyangka kamu sudah berani bermain api di belakang ku. Lihat saja jika benar-benar terjadi, aku akan melakukan yang harus aku lakukan sebagai suamimu."gumam Attar merem*s ponsel yang ada di genggaman nya.
Selama tiga puluh menit, Gendhis keluar dari kamarnya. Penampilan nya pun sudah lebih fresh dari tadi.
"Mas, kamu nggak mandi?" tanya Gendhis mendudukkan tubuhnya di sofa sebrang Attar.
"Kita ke Supermarket dulu, habis itu .. sekalian bawa baju ku di mobil. "ucap Attar.
"Baiklah, aku dompet ku dulu."ucap Gendhis beranjak dari duduknya dan mengambil slim bag miliknya.
Tak lama Gendhis sudah keluar dari kamarnya dengan cepat mereka menuju ke salah satu supermarket terdekat apartemen Gendhis.
Sampai di parkiran Supermarket Gendhis masih diam di jok samping supir. "Ayo, ada apa lagi? Ada yang ketinggalan?"tanya Attar mengajak Gendhis keluar namun istri nya itu tak kunjung mau keluar.
"Aku takut,"ucap Gendhis.
"Takut, takut apa? Kan ada aku.Ayo cepat Dis, keburu malam...aku sudah nggak betah berlama-lama pakai baju tadi siang."ucap Attar membuat Gendhis langsung melangkah keluar dari mobil milik Attar.
"Mas, ini kita nggak papa belanja berdua? Aku cuma takut ada yang mengenali kita. Apalagi mereka nggak tahu apa hubungan kita, jangan sampai aku di bilang pelakor mas. Walaupun memang istri kedua mu tapi, aku nggak akan pernah menjadi satu-satunya walaupun bagaimana aku tahu kamu masih sangat mencintai istri pertama kamu."ungkap Gendhis dengan panjang lebar.
Attar membuang nafasnya dengan kasar. " Kamu ingat kan, saya pernah bilang kalau kita menikah, kita hanya bahas rumah tangga kita. Nggak perlu pusing mikirin pernikahan aku dengan kakak madu kamu."ucap Attar membuat Gendhis mengangguk patuh.
"Ya sudah ,ayo !" ajak Attar langsung menggandeng tangan Gendhis masuk ke dalam supermarket.
Seperti pasangan umumnya, Attar mendorong troli mengikuti kemana pun Gendhis berjalan.
"Mas, kita belanja untuk berapa hari?"tanya Gendhis menatap Attar sebentar.
"Seminggu nggak papa, sebulan nggak ada yang larang ."jawab Attar.
Gendhis mengernyitkan dahi nya.
"Maksud aku mas mau tinggal berapa lama di apartemen ku, jadi kita belanja cukup untuk selama kita tinggal di apartemen."ujar Gendhis.
"Saya putuskan untuk tinggal di apartemen."ucap Attar.
"Mas Attar serius? Apartemen ku kecil loh.."ungkap Gendhis.
"Nggak masalah, kita kan cuma berdua. Kamar pun cukup satu. Jadi apa masalahnya?' tanya Attar memicingkan matanya.
"Kenapa, kamu nggak mau satu kamar dengan saya? kalau pun di rumah mama, nggak mungkin juga kita akan pisah kamar. Nggak mungkin juga saya bawa kamu ke rumah saya dengan...
"Maksud nya nggak begitu, kamar aku kan sempit."ucap Gendhis.
Mereka berdua berbelanja sambil berdebat bahkan mereka tak sadar jika mereka bicara bisik-bisik dengan posisi tubuh Gendhis yang di rangkul oleh Attar.
"Sempit lebih enak loh Dis, bisa bikin ..
Plak..
Gendhis memukul lengan Attar dengan kencang. Tapi bagi Attar itu tidak membuatnya merasa sakit.
"Aduuuhhh..kamu kenapa sih, aku cuma ngomong..
Belum juga selesaikan ucapannya, Gendhis lebih dulu menutup mulut Attar buat mencegah suaminya itu bicara yang terlampau fulgar di depan umum.Walaupun memang mereka bicara dengan nada yang pelan.
"Sssttt, diem nggak ! Kamu itu kalau ngomong jangan mes*m gitu mas, malu di dengar orang !"
Setelah mengatakan itu Gendhis pun langsung melepaskan bekapannya di mulut Attar.
"Iya, sekarang kita belanja buat keperluan di apartemen.Ayo !"
Keduanya pun langsung melanjutkan acara belanja mereka.
Bahkan Attar memberitahu apa saja yang harus dan wajib ada jika ada Attar di apartemen.
Keduanya pun benar-benar seperti suami istri yang saling mencintai. Buktinya mereka begitu serasi seperti sudah lama hidup bersama.
Kebersamaan mereka nyatanya membuat seseorang penasaran dan juga terkejut saat melihat keberadaan kedua nya yang begitu dekat dan bahkan melihat Attar yang sempat merangkul Gendhis di depan umum.
"Astaghfirullah, kenapa pak bos bisa sama Gendhis. Mereka juga kelihatan intim gitu. Gendhis...awas saja kalau dia coba-coba jadi pelakor."gumam orang itu dan langsung melangkah mendekati Gendhis dan Attar.
Melihat Gendhis yang kebetulan sendirian, dia tak menyia-nyiakan kesempatan itu.
Pluk..
Gendhis yang sedang memilih-milih barang pun langsung menoleh ke belakang. Betapa terkejutnya dia saat melihat sosok Luna sahabatnya berada di sana.
"Luna, ka_kamu disini? Ngapain?"
Luna tersenyum kecut mendengar pertanyaan sahabatnya itu.
"Kalau ke supermarket, emang mau ngapain? Pacaran gitu?" sindir Luna.
"Aku sudah lihat kamu sama pak Bos, kamu ada hubungan apa sama pak bos, jangan sampai kamu jadi perusak rumah tangga orang Dis, walaupun memang istri bos itu menyebalkan, tapi jangan pernah berpikir jadi pelakor. Ngerti kan maksud aku? Jangan sampai kamu patah hati lagi, apalagi kita ini hanya orang kecil Dis, aku nggak mau kamu terpuruk lagi." ungkap Luna menatap sahabatnya dengan sendu.
Gendhis pun langsung memeluk tubuh Luna. Keduanya sama-sama menguatkan satu sama lain.
Selama Gendhis bekerja di Atarikza Group memang jarang bertemu dengan Luna dan komunikasi pun hanya sebatas menanyakan kabar.
"Dis, kamu sudah selesai?"
Attar tiba-tiba datang dan melihat Gendhis dan Luna yang sedang berpelukan.
"Malam bos,pak bos berdua saja sama Gendhis?"
"Luna, kamu bisa ke apartemen Gendhis. Saya akan bicara dengan kamu."ucap Attar membuat Gendhis langsung menatap ke arah Attar dengan pandangan bingung.
"Ke apartemen Gendhis, malam ini pak? Ba_baiklah. Nanti saya kesana pak."ucap Luna
"Kamu sudah selesai, kalau sudah..kita pulang.Buat Luna, kami tunggu kamu di apartemen." ucap Attar langsung menggenggam tangan Gendhis dan meninggalkan Luna yang masih tak percaya dengan apa yang ada di hadapannya saat ini.
Bahkan terlihat jika Gendhis tak bisa mengatakan apapun lagi dan hal ini membuat Luna semakin kepo dengan sahabat dan bosnya itu.
"Mas, kamu yakin nyuruh Luna buat ke apartemen?"
"Luna itu sahabat kamu, jangan sampai dia berpikiran negatif tentang kita."
Gendhis pun mengerti akan keputusan suaminya yang akan membeberkan tentang pernikahan nya itu.
Sampai di apartemen, Gendhis menyiapkan makan malam buat mereka. Kebetulan, tadi Attar sudah memesan beberapa makanan dari sebuah restoran.
Ting tong
Terdengar bel berbunyi dan Attar pun langsung ke arah pintu. Dia membuka pintu dan terlihat Luna berdiri mematung di depan pintu.
"Silahkan masuk, Gendhis ada di dalam."
Tanpa mengatakan apapun lagi,Luna langsung masuk ke dalam apartemen Gendhis.
"Haii.. Lun, duduklah. Kita makan malam dulu, baru nanti kita ngobrol-ngobrol."
"Emang nggak papa aku ikut gabung sama kalian?"
Mendengar bisikan sahabat nya itu membuat Gendhis terkekeh. Tanpa basa-basi Gendhis membimbing Luna untuk duduk di kursi yang ada di depannya.
Attar pun ikut bergabung dengan Gendhis dan Luna. Mereka makan dengan tenang. Luna melihat interaksi Gendhis dan Attar. Bahkan perlakuan Gendhis yang menurutnya sangat perhatian dan seperti selayaknya istri.
Tak lama setelah makan malam mereka pun duduk santai di ruang tamu. Attar meminta Gendhis untuk duduk di sampingnya. Gendhis pun tak menolak.
"Jadi, apa yang kamu ingin tanyakan Luna?"
"Maaf bos, saya cuma heran dengan kalian berdua. Seperti..
"Seperti suami istri maksud kamu?"
Attar menyerobot ucapan Luna dan pertanyaan Attar pun diangguki Luna.
"Baiklah, karena kamu adalah sahabat Gendhis jadi saya tidak ingin kamu menganggap sahabat kamu yang tidak-tidak. Jadi, antara saya dan Gendhis sudah sah menjadi suami istri."
"APA !!"
Pengakuan Attar pun sontak membuat Luna syok dan tak percaya dengan apa yang dia dengar tadi.
Bersambung