NovelToon NovelToon
Ta'Aruf Cinta

Ta'Aruf Cinta

Status: tamat
Genre:Spiritual / Tamat
Popularitas:958.6k
Nilai: 4.9
Nama Author: Khinanti Nomi

JANGAN DI BACA.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khinanti Nomi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27 •Akad•

☘️ Wanita bukanlah pakaian yang bisa kamu pakai dan kamu lepas semaumu. Mereka terhormat dan memiliki haknya ☘️

{Umar Bin Khattab}

🍂🍂🍂🍂🍂

Duduk diantara wali nikah dan Penghulu, Dimas sudah siap mengucapkan Ijab kabul. Dengan di bantu perawat dan Hasan yang membantunya untuk duduk dengan tenang meski terasa nyeri di perut bagian kirinya tak menyurutkan Dimas untuk segera menghalalkan Arum.

Bukan terobsesi tapi Dimas takut suatu saat ada orang yang akan mengambil Arum darinya.

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan pasangan-pasangan untukmu dari jenismu sendiri, agar kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa kasih dan sayang. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi kaum yang berpikir”

(QS Ar-Rum: 21).

Bi Chan yang sudah meminta izin kepada pihak rumah sakit untuk melaksanakan pernikahan. Di saksikan Dokter dan beberapa perawat yang menangani Dimas.

Dimas menjabat tangan penghulu dan dengan mantap. "Saya terima nikah dan kawinnya Arum Setyaningsih Binti Ali Syarifudin dengan maskawin tersebut di bayar tunai." Dimas mengucap ijab kabul dengan sekali tarikan nafas.

"Bagaimana para saksi? Sah?." Tanya Penghulu kepada para saksi yang berada di ruangan.

Sah..Sah..!!!

Jawab semua yang ada di ruang rawat Dimas.

Penghulu pun membacakan doa kepada dua mempelai yang sudah SAH menjadi suami istri.

Arum mencium tangan Dimas hikmat dan Dimas pun mencium kening Arum lembut. Rasa syukur yang tidak ada hentinya mereka panjatkan kepada Allah.

Rani tidak kuasa menahan tangis. Bukan tangis kesedihan tapi tangis kebahagiaan Rani tahu bagaimana perjuangan Arum dan Dimas.

Mereka tetap setia menjaga hati dan diri satu sama lain. Selama jarak yang begitu jauh memisahkan mereka. Siapa yang akan tahu jika mereka sudah di takdirkan untuk bersama.

Seperti Adam dan Hawa, yang bertemu kembali setelah terpisah lama. Dengan izin Allah, Adam dan Hawa akhirnya dipertemukan kembali.

"Rum selamat, Aku tidak menyangka ternyata kamu akhirnya di persatukan kembali dengan Dimas." ucap Rani yang memeluk Arum sesekali menyeka Air matanya.

Semua yang ada di sana pun terharu. "Selamat Nak." Ibu juga memeluk Arum setelah Rani mengurai pelukannya.

Begitu pula dengan Bapak. "Semoga kalian menjadi keluarga sakinah mawadah warahmah. Amin." Bapak mengelus kepala Arum lembut dan Arum mencium tangan kedua orang tuanya. Begitu pula dengan Dimas.

"Selamat bro. meskipun kamu sedang sakit dan Akadnya juga di rumah sakit. Kamu tetap mengucapkan ijab Kabul begitu mantap." ucap Bagas memberi selamat kepada Dimas dan Arum.

"Terimakasih. Ran, Bagas." ucap Dimas.

Hasan pun ikut memberi selamat dan merangkul Dimas yang sudah di anggap saudaranya sendiri. "Selamat Dimas. Kau begitu luar biasa." ucap Hasan sambil menitikkan airmata yang tidak pernah Dimas lihat selama menjadi sahabatnya.

"Terimakasih Hasan Kaulah malaikat ku yang luar biasa." ucap Dimas kepada Hasan.

Bi Chan pun sama memeluk Dimas dan Arum berbarengan. "Selamat sayang. semoga kalian selalu bahagia dan cepat di beri momongan." ucap Bi Chan yang di 'Amini' semua orang yang ada di ruangan Dimas.Bi Chan pun mengurai pelukannya.

"Mas Dimas, tolong jangan pergi lagi. Susah membujuk Mba Arum untuk move on." ucap Alif tak mau kalah. sontak membuat semua orang tertawa, yang sedang diliputi keharuan.

"Terimakasih Alif. Kamu sudah memberi ku kesempatan lagi untuk menjadi Mas mu." ucap Dimas.

Karena sudah larut malam satu persatu pun pamit untuk pulang. Bapak dan Ibu serta Alif pun pamit kepada Dimas dan Arum. Bapak dan Ibu pun tidak lupa untuk mengingatkan untuk menjaga kesehatan.

Begitu juga Bagas dan Rani, mereka sudah pulang terlebih dulu. mengingat Rani sedang hamil besar. Tidak lupa pula Bagas, mengingatkan Dimas untuk tidak melakukan aksinya. "Dimas ingat jangan melakukan kegiatan olahraga. Sabarlah tunggu Kau sembuh. Iya kan Rum?" ucapan Bagas membuat Arum malu-malu.

Rani pun menyikut lengan Bagas. "Au Yang, jangan nyikut-nyikut. kalau mau mesra-mesraan ayo di rumah." ucap Bagas sambil mengedipkan matanya kearah Rani, membuat Rani salah tingkah.

Penghulu yang tadi datang bersama Hasan pun pulang. Bersama dengan Hasan, Pak Kardi, dan Bi Chan. Mereka tidak ingin menggangu pasangan pengantin baru.

Dokter sebelum pergipun terlebih dulu memeriksa kondisi Dimas. Setelah memastikan tidak ada rembesan darah di jahitan luka Dimas yang tertutupi perban pun pamit bersama dengan perawat.

Kini hanya ada Arum dan Dimas di ruang rawat. Dimas masih melihat Arum dengan ternyuman. "Aku bantu lepas bajunya dan setelah itu...”

Dimas memotong kalimat Arum yang belum selesai bicara.

"Setelah itu apa? Tunggu aku sembuh yah." ucap Dimas meledek Arum.

Arum pun tak paham maksud Dimas. "Maksud Kamu apa?" tanya Arum.

"Bukankah tadi kamu yang bilang akan membantu ku melepas baju." ucap Dimas menyunggingkan senyum.

"Maksudku setelah itu. aku bantu waslap, kan sudah malam, Kamu harus istirahat." ucap Arum lembut.

Arum pun mulai membuka kancing kemeja Dimas. Satu kancing terbuka. Tangan Dimas memegang tangan Arum. Sontak Arum pun menatap Dimas.

Netra hitam mereka sama-sama bertemu memandang dengan tatapan Cinta. Dimas menggenggam tangan Arum di tangannya dan mendekapnya di dada.

Lalu menarik lengan Arum untuk mendekat, Arum pun mengikutinya. Kini wajah mereka hanya berjarak satu inci. Dimas mencium bibir Arum lembut, Arum yang tidak pernah melakukannya pun kaget dengan tindakan Dimas.

Arum mendorong pelan dada Dimas, Dimas tahu sekarang Arum sedang merasa malu padanya. Dan mengucapkan lembut di telinga Arum. "Ana uhibbuka fillah Arum." membuat sensasi geli di telinganya, Arum pun tersenyum.

"Ana uhibbuka fillah Dimas." jawab Arum.

Merasa ada yang aneh dengan panggilannya Dimas pun berinisiatif untuk mengganti panggilan itu.

"Bagaimana kalau panggilan kita diubah, supaya berkesan romantis aja,” usul Dimas

Tampak Arum berpikir, benar juga tidak semestinya Arum memanggilnya dengan menyebut namanya saja.

"Lalu panggilan apa yang pas?." tanya Arum. "Mas?" Dimas menggelengkan kepala tanda tidak setuju.

"Habibati, yang artinya kesayangan ku." ucap Dimas mesra.

"Dan Habibie, sama artinya kesayangan atau yang terkasih." jawab Arum tersenyum. Kata Habibati membuat hati Arum lebih mencintai Dimas yang kini sah menjadi suaminya.

"Baiklah Habibie. Apa masih boleh aku melanjutkannya?" tanya Arum yang akan membuka kancing kemeja Dimas.

Dimas pun mengangguk. Tindakan Arum yang membuka kancing kemejanya pun tak luput dari tatapan Dimas. Arum tampak malu-malu.

"Sangat menggemaskan." pikir Dimas.

Setelah semua kancing baju terbuka Arum melihat luka Dimas yang tertutupi perban. Arum pun membelai lembut luka itu. "Siapa yang melakukan ini ?" tanya Arum menatap Dimas.

"Seseorang yang tidak suka akan kebahagiaan kita." jawab Dimas membalas tatapan Arum.

Arum pun nampak bingung dan mengerutkan kening. "Siapa?" tanya Arum penasaran.

"Entah Habi mengenalnya atau tidak. nanti setelah kita pulang dari sini, Habibati akan tahu." jawab Dimas.

"Tidak usah pikirkan itu." sambung Dimas yang melihat Arum masih diam saja.

Arum pun mewaslap Badan Dimas dengan sentuhan lembut. Agar Dimas tidak merasakan sakit. "Apa masih sakit Bie?" tanya Arum yang melihat ekspresi wajah Dimas seperti menahan sakit.

"Sedikit Habi. Tapi tidak apa. Kamulah obatnya." ucapan Dimas membuat Arum mengembangkan senyum.

Setelah selesai mewaslap Badan Dimas. Arum pun membantu Dimas memakaikan stelan baju tidur yang nyaman di tubuh Dimas.

Arum pun masuk kekamar mandi dan mengganti kebayanya. Dengan stelan gamis serta hijab warna senada biru laut.

Dimas yang melihat Arum keluar dari kamar mandi masih mengenakan hijab pun heran. "Bukalah hijabnya Habi, Kita sudah sah?" ucap Dimas.

Arum pun menyadari bahwa dia masih mengenakan hijab. Arum pun melepasnya dan menaruh hijabnya di atas meja kecil.

Dimas yang melihat hitam lebat rambut Arum pun seakan terhipnotis. "Subhanallah Cantiknya istriku." ucap Dimas membuat Arum makin merasa grogi.

"Kemarilah.!" ucap Dimas sambil menepuk temapt tidur di sebelahnya. Arum pun mendekati Dimas. Dan duduk di ranjang yang cukup lebar dari brangkar rumah sakit pada umumnya.

Dimas pun mendekatkan wajahnya ke wajah Arum.

"Bolehkah Aku mencium mu?" ucap Dimas meminta izin agar Arum merasa nyaman meskipun sah-sah saja jika Dimas melakukannya.

Arum pun mengangguk dan mulai memejamkan mata. Dimas mulai mencium bib*r Arum lembut.

~

🍂

Salam sehat selalu

1
Nurfanya Rudie Ajalah
baru mampir kak
salam kenal🙏
Marchel
Aku mampir kak...
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Jaya Jaya
luar biasa
Maulana ya_Rohman
ahirnya selesai juga.....😌
walaupun jarang coend🤭
Maulana ya_Rohman
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
🧭 Wong Deso: terimakasih
total 1 replies
Maulana ya_Rohman
masih nyimak
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
jadi oenasaran nih🤔🤔🤔siapaya🤔🤔🤔
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
kalau di daerahku namanya MENDUT thor🤭
Maulana ya_Rohman
nyimak masih thor
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
di part ini kenapa ada bawang😭😭😭😭😭😭😭
Maulana ya_Rohman
masih nyimak thor
Maulana ya_Rohman
aku kok gak ketemu ya sama Meiying😔
padahal aku di daerah BOROBUDUR😌
Maulana ya_Rohman
hatiku kok ikutan sakit ya🤧
Maulana ya_Rohman
myimak masih....
no cimend🤐🤐🤐😐😐
Maulana ya_Rohman
mampir lagi thor
🧭 Wong Deso: terimakasih 🙏🏼
total 1 replies
Selvy Anton
Biasa
Sadrina Oyeh: 9rrtt
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!