Thanaya Radiva dikira menikah adalah akhir dari kesepiannya. Arkan lelaki yang selalu setia mendengarkan keluh kesahnya setiap malam, selalu membuatnya bahagia.
Tapi setelah menikah, malam pertamanya jadi malam terakhir Arkan menyentuhnya. Akhir dari sikap hangatnya, semuanya telah berubah.
Sampai Naya tau, Mertuanya yang ternyata bermuka dua dan kehadiran Bara, adik Arkan, jadi bumerang dalam rumah tangganya. Bara lelaki dingin berhati hangat, siswa populer di sekolahnya dulu, menyimpan sejuta rahasia yang Naya ingin bongkar. Semakin Naya tahu, semakin ia terjebak dalam hati Bara.
Akankah Naya terus terjerat dalam cinta yang salah dengan adik iparnya? Atau ia akan mengakhiri jeratan itu demi suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjani jingga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22• Masalah di Pagi Hari
Ketukan di pintu kamar Bara terdengar tiga kali. Pelan, tapi cukup keras untuk memecah sunyi.
Di dalam, napas Naya tertahan. Ia menempelkan wajah ke dada Bara, seolah kalau ia diam cukup lama, dunia di luar pintu akan menghilang.
“Bar, kamu di dalam?” Suara Arkan dari balik pintu. Nadanya datar, tapi ada gesekan di ujungnya. “Aku cari Naya. Kamu belum tidur, kan?”
Bara tidak menjawab. Tangannya menguat di punggung Naya. Ia menahan napas, menunggu.
Arkan mengetuk lagi. Kali ini lebih lama. “Bar?”
Tidak ada jawaban. Hanya hening.
Beberapa detik kemudian, langkah kaki Arkan menjauh. Dan Naya baru berani menarik napas.
...---...
Jam empat pagi, Naya terbangun.
Ia masih di kasur Bara. Tubuhnya terbalut selimut, kepalanya bersandar di lengan Bara. Hangat. Nyaman. Berbeda jauh dari dinginnya kamarnya sendiri di lantai atas.
Tapi kesadaran itu menghantam. Mata Naya melebar. Ia menoleh cepat, kamar Bara. Ia tidur di sini. Sepanjang malam. Dengan panik ia meraba lantai, mencari piyamanya yang terlepas entah di mana. Jarinya menyentuh kain itu, tergeletak jauh di bawah ranjang.
Sebelum ia sempat meraih, tangan Bara menahan pergelangan tangannya.
“Tidur lagi, Nay,” bisik Bara, suaranya serak.
Naya menggeleng. “Enggak. Kalau Mas Arkan tau aku di sini—”
“Dia udah pergi,” potong Bara pelan.
“Itu sekarang,” jawab Naya. Tenggorokannya mengencang. “Besok? Lusa? Aku gak bisa jelasin kenapa aku tidur di kamar kamu.”
Ia melepaskan genggaman Bara, merangkak turun, memungut piyamanya. Tangannya gemetar saat menariknya kembali ke tubuh. Gerakannya cepat, takut.
Bara hanya menatap. Tidak menahan lagi.
Naya berdiri. Ia melirik pintu, lalu menoleh ke Bara sekilas. Ada terima kasih di matanya. Ada juga rasa bersalah.
Lalu ia membuka pintu.
Di luar masih gelap. Rumah itu senyap. Tapi di atas sana, di kamar yang ia tinggali tiga bulan, rasanya seperti neraka.
Naya menatap tangga itu. Anak tangga yang biasanya ia naiki tanpa pikir, malam ini terlihat seperti jurang.
Ia tidak melangkah naik.
Ia memeluk dirinya sendiri, lalu berjalan pelan ke ruang tengah, mencari sudut mana pun yang lebih aman dari kamar yang ada singanya.
Pagi datang tanpa aba-aba.
Naya terbangun karena punggungnya pegal. Ia masih di sofa ruang tengah, tubuhnya meringkuk di bawah selimut tipis yang ia ambil semalam. Matanya bengkak, bibirnya kering. Ia sempat terlelap beberapa menit, tapi mimpi buruk tentang Arkan menariknya bangun lagi dan lagi.
Jam di dinding menunjukkan pukul enam.
Langkah kaki terdengar dari arah tangga.
Naya langsung duduk, merapikan selimut, pura-pura baru bangun. Tapi jantungnya berdetak cepat.
Ibu Desy muncul di ambang pintu pantry. Daster sutranya rapi, rambutnya sudah disanggul. Matanya langsung menyipit saat melihat Naya di sofa.
“Kamu tidur di mana semalam?” Suaranya rendah, tapi tajam.
Naya berdiri. Kakinya masih gemetar. “Di… di sini, Bu. Aku gak bisa tidur di kamar. Sesak.”
“Sesak?” Ibu Desy mendekat. “Kamar kamu ada AC, ada ranjang empuk. Sofa ini yang kamu pilih?”
Naya menggigit bibir. “Aku… aku gak enak badan.”
“Gak enak badan atau gak mau ketemu suami kamu?” bentak Ibu Desy, suaranya ditahan agar tidak terdengar ke atas. “Semalam suami kamu tidur di sofa, sekarang kamu juga. Mau bikin malu keluarga ini?”
Naya diam. Kepalanya menunduk. Pipi kirinya masih perih bekas tamparan Arkan.
Belum sempat Ibu Desy lanjut, langkah lain terdengar dari tangga.
Arkan muncul.
Rambutnya masih acak-acakan, kemeja semalam sudah diganti. Matanya langsung jatuh ke Naya yang berdiri di ruang tengah, lalu ke sofa yang masih kusut.
Ia tidak bertanya. Tidak marah. Tidak berkata apa-apa.
Ia menatap Naya. Lama. Dingin. Seolah sedang menghitung.
Lalu ia berbalik, masuk ke dapur, meninggalkan Naya berdiri dengan Ibu Desy di belakangnya.
Naya menelan ludah. Tatapan Arkan tadi lebih menakutkan daripada bentakan.
Satu jam kemudian, meja makan sudah tertata. Pelayan mondar-mandir meletakkan nasi, lauk, dan teh hangat. Bau kaldu ayam memenuhi ruangan, tapi tidak ada yang menyentuh sendok.
Arkan duduk di ujung meja. Kemejanya rapi, dasinya sudah terpasang. Bara duduk dua kursi di sebelahnya, sama rapi, sama diam. Sejak duduk, keduanya tidak saling lihat.
Naya ada di kursi samping Arkan. Wajahnya pucat, piyama semalam sudah ganti dengan dress rumahan. Matanya sembab, tapi ia paksa menunduk ke piring.
Ibu Desy yang memecah sunyi.
“Sudah berapa bulan kalian nikah?” Ia menyendok nasi pelan. “Empat bulan, kan? Kok belum ada kabar momongan juga.”
Sendok di tangan Naya berhenti.
“Jangan nunda punya anak, Naya,” lanjut Ibu Desy, matanya tidak lepas dari Naya. “Mama teman-teman Arkan sudah gendong cucu. Kamu ini istri, masa belum bisa kasih keturunan juga.”
Naya ingin jawab, tapi ucapan itu nyangkut di tenggorokan. Ia tersedak.
“Ukh… ukh…”
Cepat, dua tangan bergerak bersamaan.
Bara meraih gelas air di tengah meja. Arkan juga meraih gelas yang sama dari sisi lain.
Jari mereka bersentuhan sepersekian detik di gagang gelas.
Bara lebih dulu menyodorkan gelas itu ke Naya. “Minum.”
Arkan menarik tangannya kembali. Wajahnya menegang.
Naya menerima gelas dari Bara, meneguk cepat. Batuknya reda, tapi tangannya masih gemetar.
Sementara, Ibu Desy tidak melewatkan itu. Matanya menyipit, menatap Bara. Lalu menatap Naya. Lalu kembali ke Bara.
Ia tidak berkata apa-apa. Tapi senyum tipis yang muncul di bibirnya bukan senyum senang.
Meja makan kembali senyap. Kali ini, senyapnya lebih berat.