NovelToon NovelToon
Aku Menolak Menjadi Pemeran Figuran

Aku Menolak Menjadi Pemeran Figuran

Status: tamat
Genre:Time Travel / Kehidupan Manis Setelah Patah Hati / Mengubah Takdir / Transmigrasi ke Dalam Novel / Tamat
Popularitas:264.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: @hartati_tati

Naya wanita cantik yang berumur 27 tahun mendapati dirinya terbangun didunia novel sebagai pemeran tambah yang berakhir tragis. Naya merasuk kedalam tubuh Reka remaja cantik yang berusia 18 tahun. Reka memiliki keluarga yang sangat amat menyayanginya, mereka rela melakukan apapun demi kebahagiaan Reka. Meskipun memiki keluarga yang sangat amat mencintainya sayangnya kisah percintaan Reka tidak berjalan dengan baik. Tunangannya Gazef lebih memilih pemeran utama wanita dan meninggalkan Reka. Reka yang merupakan pemeran tambahan akhirnya menjadi batu pijak untuk kebehagian Gazef dan Rosa, Reka harus mati demi kebahagiaan pemeran utama dalam novel.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @hartati_tati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Reka berdiri di depan cermin di dalam toilet, matanya terpaku pada bayangan dirinya sendiri. Dia melihat dengan perhatian pada pipinya yang memerah dan lebam, bekas dari tamparan yang baru saja dia terima.

"Darn it," desis Reka, suaranya penuh dengan kekesalan. "Kenapa Gazef tiba-tiba datang dan langsung menampar aku padahal aku belum menyentuh pun Rosa?"

"Tidak adil," gumam Reka, tangannya meremas keras wastafel di depannya. "Aku harus membalasnya. Aku tidak akan membiarkan dia memperlakukanku seperti ini."

Dengan langkah kesal, Reka keluar dari dalam toilet sekolah, masih memikirkan insiden dengan Gazef yang membuatnya geram.

Reka berjalan di lorong sekolah yang sepi, melintasi ruangan-ruangan kelas yang terdiam karena para murid sedang fokus belajar.

Alih-alih menuju kelasnya, Reka memutuskan untuk berjalan menuju rooftop sekolah. Dia merasa butuh udara segar dan ruang kosong untuk menyegarkan pikirannya yang kacau.

Reka naik tangga menuju atap sekolah, langkahnya mantap meskipun hatinya masih dipenuhi dengan kebimbangan. Ketika sampai di atas, dia menghirup udara segar dengan dalam, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Pemandangan di sekelilingnya begitu indah, dengan langit biru yang terbentang luas dan angin yang sepoi-sepoi menyapu rambutnya.

Reka duduk di tepi atap, membiarkan dirinya meresapi kedamaian yang ditawarkan oleh pemandangan di depannya. Di sana, di atas atap sekolah yang sepi, dia merasa sedikit lebih tenang.

Saat sedang tenang menikmati hembusan angin yang menerpa wajahnya, Reka merasa kesegaran udara membantu meredakan kegelisahannya sedikit demi sedikit. Langit biru yang terbentang luas di atasnya memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkannya saat ini.

Namun, kesenangan itu terganggu ketika pandangannya tertuju pada seorang murid laki-laki yang berdiri tidak jauh darinya. Murid itu terlihat tegang, dengan tatapan kosong yang menatap ke bawah, murid laki-laki itu berdiri di tepi atap, seperti hendak melompat.

Reka menatap datar murid laki-laki yang terlihat ingin melompat bunuh diri. Reka merenggangkan otot-ototnya dan menghampiri murid laki-laki itu dengan tatapan malas.

"Ingin bunuh diri?" kata Reka dengan suara datar, menatap lurus ke arah murid laki-laki tersebut.

Murid laki-laki itu terkejut melihat kedatangan Reka yang tiba-tiba. Matanya membulat, seolah tidak percaya bahwa seseorang telah menyaksikan keputusasaannya yang paling dalam. Dia tidak tahu harus bereaksi apa, apakah harus marah, takut, atau terkejut.

"Jika ingin bunuh diri, jangan disini," kata Reka dengan nada datar. "Cari tempat yang lain."

"T-tidak, bukan itu yang aku--" ucapnya terbata-bata, mencoba membantah, tetapi dia terhenti saat Reka melanjutkan perkataannya.

"Jika ingin bunuh diri, carilah tempat yang tidak ada orang yang bisa melihatnya, agar kematianmu tidak merepotkan orang lain," lanjut Reka dengan tatapan sinis, menatap lurus ke mata murid laki-laki tersebut.

Murid laki-laki itu terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Dia tidak pernah berpikir bahwa ada orang lain yang akan melihatnya di saat-saat seperti ini.

Murid laki-laki itu terlihat panik, matanya membulat ketika tanpa sadar dia melangkah mundur, tidak menyadari bahwa langkahnya membawanya ke tepi atap yang berbahaya. Tanpa dapat mengendalikan diri, tubuhnya tergelincir dan dia jatuh dari rooftop.

Reka, yang sebelumnya sudah mendekati murid laki-laki tersebut, dengan cepat meraih tangan murid laki-laki itu sebelum jatuh lebih jauh. Dengan gerakan cepat dan refleks yang tajam, dia memegang tangan murid laki-laki dengan kuat, mencegahnya terjatuh ke jurang yang berbahaya di bawahnya.

"Sialan, inilah sebabnya jika ingin bunuh diri, carilah tempat yang sepi," desis Reka dengan suara penuh dengan kesal.

Dengan perasaan kesal, Reka menarik tubuh murid laki-laki yang hampir mati karena jatuh dari rooftop, mencoba menariknya kembali ke tempat yang aman.

Murid laki-laki terduduk di lantai rooftop dengan tatapan terkejut yang meliputi wajahnya, tubuhnya terlihat kaku, seolah-olah tidak bisa mempercayai bahwa dia masih hidup setelah mengalami kejadian mengerikan tersebut.

Reka melihat murid laki-laki tersebut, matanya penuh dengan kekesalan, Reka mengusap rambutnya dengan gerakan kasar, menunjukkan betapa marahnya dia dengan situasi yang terjadi di hadapannya.

"Dengar, apa yang kamu lakukan tadi itu sangat bodoh!" ucap Reka dengan suara yang tegas, wajahnya memancarkan kekesalan yang jelas. "Kamu hampir membuatku menyaksikan kematianmu sendiri. Apa yang sebenarnya kamu pikirkan?"

Murid laki-laki itu menatap Reka dengan ekspresi yang tercampur antara penyesalan dan ketidakpercayaan. "Aku... Aku tidak tahu," jawabnya dengan suara yang terbata-bata, mencoba menjelaskan dirinya. "Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Semuanya terasa begitu sulit."

Reka menggelengkan kepala dengan frustrasi. "Itu tidak masuk akal! Kamu bisa mencari bantuan, bicara dengan seseorang yang peduli padamu. Tapi melompat dari rooftop? Apa itu solusi yang masuk akal bagimu?"

Murid laki-laki itu menundukkan kepala dengan malu, merasa menyesal atas tindakannya. "Maafkan aku," ucapnya pelan, suaranya hampir terdengar hancur oleh penyesalan.

Saat Reka memarahi murid laki-laki itu dengan penuh emosi, dia tiba-tiba melihat sehelai daun yang terbawa angin melayang di udara, namun tiba-tiba membeku di tempatnya. Tatapan Reka terpaku pada pemandangan aneh tersebut, matanya membulat kaget.

"Sialan," desis Reka marah.

Reka melihat ke sekelilingnya, menyadari bahwa semua yang ada di sekitarnya berhenti bergerak. Daun-daun yang terbawa angin, orang-orang yang sedang berjalan, bahkan jarum jam tangannya sendiri berhenti berdetak. Semuanya tampak seperti terperangkap dalam waktu, membuat suasana sekeliling menjadi hening dan menakutkan.

"X, sialan kamu ini memutar waktu lagi!" teriak Reka dengan marah, suaranya terdengar frustrasi.

"X... Siapa itu X?" tanya murid laki-laki dengan tatapan penuh kebingungan.

Reka menoleh, melihat murid laki-laki yang dia selamatkan bisa bergerak, tidak seperti orang lain yang terperangkap dalam waktu.

"Ba-bagaimana bisa," gumam Reka dengan suara yang hampir tak terdengar, matanya menatap murid laki-laki yang tampaknya tidak terpengaruh oleh fenomena aneh yang terjadi di sekitarnya.

Ketika Reka menyadari bahwa satu-satunya orang yang tidak terpengaruh oleh pembekuan waktu adalah murid laki-laki yang hampir jatuh dari atap, kebingungannya semakin bertambah.

"Kamu bisa bergerak," kata Reka dengan nada terkejut, matanya menatap murid laki-laki itu dengan keheranan yang tak tersembunyi.

"Kenapa kamu menanyakan hal yang aneh?" balas murid laki-laki itu dengan nada datar, tetapi masih terdengar agak bingung.

Reka merasa kebingungan semakin memuncak. Dia tidak bisa memahami mengapa hanya murid laki-laki ini yang tidak terpengaruh oleh pembekuan waktu yang terjadi di sekitarnya.

"Bagaimana bisa?" gumam Reka dengan suara yang hampir tidak terdengar, mencoba mencari jawaban atas fenomena aneh yang sedang terjadi. "Kenapa kamu berbeda dari yang lainnya?"

1
Musa Johnathan
ceritanya bgus
Verawati Khaira
oh rupanya kalau Reka melakukan hal yang lari dari alurnya maka si penulisnya akan menarik ulang lagi ka masa sebelumnya gitu
Verawati Khaira
aku jadi bingung dengan alurnya. di bab sebelumnya Rosa sudah diberi pelajaran dengan merusak wajahnya jadi ini kok ?
Syawaliyatul Fitri: kn ceritanya balik lgi ke awal
total 1 replies
echa purin
/Good/
Jade Meamoure
bingung aq ma ceritamu Thor d bab sebelumnya Gasef dah patah tulang trus Rosa dah hancur muka, apa Reka hanya berhalusinasi ya entahlah
Desi deshiny
kenapa berhanti thor...padahal aku suka karya mu ..karya mu unik gk umum..🤭
Desi deshiny
kakak" nya Reka kan punya kuasa .ketika mereka tau kalo adik nya dlm bahaya .kenaoa gk lsg bunuh Rossa atau membayar balik dgn harga tinggi kepada mafia yg akan mencelakai Reka....terlalu santai
Desi deshiny
kan reka udah minta di batalin pertunangan nya...jadi gk perlu di siksa lg..gk tega juga liat rosa muka nya hancur krn air keras..sementara ayah nya orang miskin..dan gazef kenapa mesti di pukulin..kasian kalo sampe cacat.....padahal memaafkam akan lebih tenang ke hati...ya mau gimana lg cerita ini udah di tulis...terserah kak author aja deh..🫶
Quen: bedah lah ka,kalau ga diginiin si reka yang bakalan mati sesuai alurnya,dan apa yang mereka dapetin sekarang pantes ko ,selama ini si reka asli yang di sakitin eh sekali di bales malah di sebut Kasian lupa kah si reka yang korban dan bakalan di bunuh sama tuh pasangan selingkuh,ya jadi gapapa kalau buat mereka luka dikit untung ga langsung di bunuh tuh dua pasangan menjijikan
total 1 replies
Sripuan
Luar biasa
Marvina
Mirip alur cerita drakor Extraordinary you, pemeran pembantu berusaha mengubah alur cerita komik
Figuran
byee, gw GK suka konflik /Smile/
Figuran
gw mulai ifil?
Risma Tantina
Terlalu membingungkan
Uun Kurniasih
terlalu sadis Thor...
Aisarah Silma
Luar biasa
my+ng
/Good//Good//Good/
anyelin stephania
kok gak lanjut. padahal lagi seru seru nya /Sob//Sob/
kr_ka
heh reka, lo gimana sihhhhhhh, kok tiba" jd lemah gini, greget gua sama lo rekaaaa/Angry/
Yura-Chan!
pede gilak😤
Yura-Chan!
bener kok.. kamu sangat benar...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!