Setelah ayahnya meninggal, Azalea hidup bagai pembantu di rumahnya sendiri di bawah kekejaman ibu dan kakak tirinya. Hingga suatu hari, Rosalinda menjual Azalea seharga miliaran rupiah kepada Daxon Ravenzo, penguasa mafia kejam.
Azalea diserahkan ke pria iblis itu bukan untuk menjadi istri, tapi hanya sebagai kandang pewaris. Daxon menginginkan tubuhnya hanya untuk melahirkan anak, tanpa cinta, tanpa belas kasihan.
"Kau kubeli untuk jadi BENIH keturunanku. Jangan bermimpi aku akan menyayangimu, karena bagiku... kau hanya alat."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ᴀᴜᴛʜᴏʀ_ʀᴀʙʙɪᴛ¹⁸, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 10
Di perjalan, mobil masih berjalan tenang di tengah jalan raya yang lengang. Azalea duduk diam, mencoba menata sikap agar siap berpura‑pura nanti. Namun tiba‑tiba Daxon menarik lengannya hingga ia terhuyung masuk ke dalam pelukan pria itu.
Belum sempat ia bersuara, kepala Daxon sudah merunduk. Bibirnya menyapu lembut lalu menekan kuat di sisi leher pucat Azalea, meninggalkan noda merah yang tak akan hilang begitu saja.
"Apa yang kau lakukan?!" ucap Azalea kaget, tangannya mencoba menolak namun tertahan di dada bidang itu.
"Supaya mereka tak melihat keraguan sedikit pun," bisik Daxon tepat di samping telinganya, napasnya hangat.
"Begitu pintu terbuka, kau harus terlihat benar‑benar milikku. Jangan menutupi tanda ini." peringatan Daxon.
Ia melepaskan genggamannya perlahan, membiarkan Azalea kembali duduk di tempatnya dengan wajah merona campuran gugup dan marah, sementara jantungnya berdebar tak karuan. Daxon merapikan kerah bajunya sendiri seolah tak terjadi apa‑apa, lalu menatap jalan di depan saat mobil mulai melambat mendekati gerbang kediaman ibunya.
Mobil akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan gerbang megah yang dijaga ketat. Satpam pun membuka gerbang, sopir pun kembali melajukan mobil masuk ke halaman kediaman. Azalea masih merasakan sisa sentuhan itu di lehernya, tangannya refleks ingin menyentuhnya namun ia urungkan — teringat pesan Daxon.
Daxon pun keluar dari mobil, dan membuka pintu untuk Azalea. Azalea pun keluar dari mobil, Daxon pun melihat Azalea dengan sorot mata tegas namun penuh wibawa. Ia mengulurkan tangannya kembali, kali ini digenggamnya erat seolah tak ingin melepaskan.
"Ingat peranmu," bisiknya pelan, cukup terdengar oleh Azalea saja. "Kau harus pura-pura menjadi istriku."
Daxon memeluk pinggang Azalea rapat, memimpin langkahnya masuk melewati lorong besar menuju ruang tamu utama. Begitu melangkah masuk, pandangan mereka langsung tertuju pada dua sosok yang sudah menunggu di sana. Luciana yang duduk tegap dan penuh penilaian, serta Valeria yang menatap tajam dari ujung kepala hingga kaki, matanya berhenti lama pada noda merah samar di leher Azalea.
"Siapa dia, Daxon?" tanya Luciana dengan nada dingin.
"Dia istriku, Bu," jawab Daxon singkat namun tegas.
Luciana melangkah mendekati Azalea sambil tertawa sinis. Tangannya terayun hendak menampar, namun Daxon sigap menangkap pergelangan tangannya tepat sebelum menyentuh pipi gadis itu.
"Daxon, kau berani menghalangi Ibu menghukum wanita rendahan ini?!" bentak Luciana naik pitam.
"Yang pantas disebut wanita rendahan justru dia," gertak Daxon seraya menunjuk tajam ke arah Valeria.
Valeria seketika menangis tersedu, membuat Luciana segera berbalik dan memeluknya untuk menenangkan.
"Cukup, Daxon! Sudah sering Ibu katakan, Valeria gadis yang sopan dan berkelas. Tidak seperti dia, yang hanya tahu cara merayu! Hinaan bagi keluarga kita!" bentak Luciana lagi.
"Ibu, kami datang dengan niat baik. Tapi Ibu menyambut kami begini?" Daxon menegakkan badannya, sorot matanya tajam tak tergoyahkan. "Ingatlah, aku bukan anak kecil lagi yang bisa dipaksa semaunya. Dan ketahuilah, dia adalah istriku."
Tanpa menunggu jawaban, Daxon menarik tangan Azalea dan berjalan pergi meninggalkan ruangan. Di belakang mereka, Luciana dan Valeria terlihat merah padam menahan amarah—terutama Valeria yang tangannya mengepal erat saat ia mengingat noda merah di leher Azalea.
"Daxon! Jika kau tidak mencampakkannya, Ibu tak akan menganggapmu anak lagi!" teriak Luciana.
Langkah Daxon terhenti sejenak. Luciana tersenyum puas, lalu berbisik menenangkan Valeria, "Tenang saja, dia pasti akan kembali dan meninggalkan wanita itu demi keluarganya."
Daxon berbalik perlahan dengan senyum miring yang dingin. Tatapannya menusuk tepat ke manik mata ibunya.
"Jika itu pilihan ibu, maka aku pun memilih... untuk tidak lagi menganggap Ibu sebagai keluargaku." ucap Daxon dingin.
Tanpa menoleh lagi, Daxon kembali melangkah keluar membawa Azalea. Luciana terpaku, lalu dipenuhi amarah yang meluap. Ia berjanji dalam hati akan mencari cara apa pun agar Daxon akhirnya menikahi Valeria, tak peduli apa yang harus dikorbankan.
...****************...
Mobil terus melaju membelah jalanan yang mulai sepi. Azalea tetap diam, tak berani bersuara, hatinya masih berdebar sisa ketegangan tadi. Namun tiba‑tiba Daxon menarik pelan bahunya hingga ia tersandar ke dada bidang itu, dipeluknya erat namun lembut seolah ingin menenangkan segala pikirannya.
"Aku hanya ingin memelukmu," bisik Daxon pelan di samping telinganya, nada bicaranya jauh berbeda dari ketegasan saat berhadapan dengan ibunya.
Azalea membiarkan dirinya terpaku dalam pelukan itu, pikirannya bergulung penuh tanya. "Bukankah dia begitu kejam padaku kemarin malam? Begitu dingin saat memaksaku menjalani sandiwara ini? Tapi kenapa sekarang dia bersikap selembut ini? Apa yang sebenarnya ada di pikirannya? " batinnya tak habis‑habis bertanya, tak berani mengungkapkan rasa bingungnya secara langsung.
...****************...
Begitu sampai di halaman rumahnya yang megah, Daxon hendak membangunkan Azalea yang terlelap dalam perjalanan. Namun melihat wajah gadis itu tampak tenang lelah, ia urungkan niatnya. Ia memberi isyarat kepada sopir untuk membukakan pintu, sopir mengangguk dan segera melaksanakannya.
Aldric yang sudah menunggu di depan, segera mendekat saat melihat sahabatnya turun. "Tuan, bagaimana saya saja yang mengangkatnya?" tawar Aldric.
Daxon menatapnya tajam, pandangannya begitu dingin hingga membuat Aldric tertegun dan tak berani melanjutkan. Tanpa sepatah kata pun, Daxon masuk kembali sedikit ke dalam mobil, lalu dengan hati‑hati mengangkat tubuh Azalea yang masih terlelap nyenyak ke dalam gendongannya. Aldric hanya bisa mengikuti dari belakang dengan tenang, tak berani lagi menawarkan bantuan.
Daxon berjalan perlahan menuju tangga, membawa Azalea seolah barang berharga yang tak boleh sedikitpun terganggu istirahatnya malam itu.
...****************...
Di tengah malam, Azalea terbangun karena rasa lapar yang menusuk perutnya. Ia bangkit dari tempat tidur dan melangkah mendekati tombol panggil yang tersedia di dinding, namun tangannya terhenti sebelum menyentuhnya. Ia teringat sudah pukul 02.15 dini hari—pasti seluruh pelayan di rumah besar itu sudah terlelap dalam istirahat.
Tak tega mengganggu mereka, Azalea pun membuka pintu kamarnya dan melangkah keluar. Keadaan sangat sunyi, hanya terdengar suara langkah kakinya sendiri yang menggema saat berjalan di tangga.
Ia menuruni tangga dengan hati-hati, hingga sampai di lantai bawah. Seketika ia merasa bingung, rumah ini begitu luas, dan ia sama sekali tak tahu di mana letak dapurnya. Selama di sini ia hanya pernah ke ruang makan, jadi ia berjalan ke arah ruang makan dengan harapan dapurnya ada di dekat sana.
Sesampainya di sana, ia kembali kebingungan—ruang makan begitu besar, tak ada tanda-tanda tempat memasak. Terpaksa ia duduk di salah satu kursi, mengusap perutnya yang kembali berbunyi keras memecah keheningan malam.
"Apa yang kau lakukan di sini?" terdengar suara seseorang yang nadanya sangat dingin dan datar.
Azalea segera menoleh ke belakang, dan mendapati Aldric berdiri di sana. "Aku… aku sangat lapar. Ingin menyiapkan makanan, tapi tak menemukan di mana letak dapurnya," jawabnya dengan wajah tampak lesu.
Krukkk!
Suara perutnya kembali terdengar jelas memecahkan keheningan, sampai-sampai Aldric pasti mendengarnya. Azalea hanya tersenyum tipis, menahan rasa malu yang menjalar ke pipinya.
"Baiklah, aku antarkan ke dapur," ucap Aldric singkat lalu berjalan mendahuluinya.
Azalea mengikuti di belakang, hingga sampai di depan pintu kaca besar. Di baliknya tampak ruangan dapur yang luas namun saat ini terasa gelap gulita.
"Di dalam sana, nyalakan saja lampunya. Siapkan apa saja yang kau inginkan," katanya.
Azalea mengangguk mengerti, lalu membuka pintu dan segera menyalakan lampu. Dapur yang sangat luas dan bersih terhampar di hadapannya. Sementara itu, Aldric hanya mengambil sebotol air minum, lalu bergegas pergi meninggalkannya sendirian di sana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
tega banget si valeria mpe celakai azalea😔😔😔
aldric paling penakut iiih🤣
rasaiin kau daxon beli sate ayam sana🥰😂
lanjut thor😄