Tolong jangan tabung bab dan ikuti setiap babnya dengan teratur yah 🙏 terima kasih 🥰
Adelia Dheandri, seorang mahasiswi kedokteran berumur 21 tahun yang memiliki sifat ceria, ramah, dan suka berbuat baik dengan menolong orang lain.
Namun, siapa sangka jika suatu hari kebaikan Adel malah membuat dirinya terlibat dengan scandal percintaan dengan seorang artis?
Bukan hanya artis biasa, melainkan Artis ternama yang dijuluki sebagai the king of visual dalam dunia hiburan.
Apa yang akan terjadi dalam hidup Adelia ke depannya?
Yuk, ikuti kisah mereka semua!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ayu Andila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27. Izin Pertemanan.
Fathir dan yang lainnya terkesiap kaget saat mendengar ucapan Adel, begitu juga dengan Dante yang merasa tidak menyangka jika Adel akan mengatakan tentang pertemanan mereka pada keluarga gadis itu.
"Berteman?" tanya Fathir dengan tajam.
Adel mengangguk lemah. "I-iya, Pa. Aku memutuskan untuk berteman dengannya." Dia menatap sang papa dengan gugup karena takut jika papanya akan kembali murka.
Fathir terdiam karena sedang memikirkan apa yang Adel katakan. Tidak disangka putrinya itu malah berteman dengan Dante, padahal laki-laki itu sudah membuat Adel terjebak dalam gosip yang tidak benar.
Namun, Fathir menekan rasa penasaran dan keterkejutannya saat melihat raut wajah Adel yang terlihat jelas jika sedang takut padanya. Mungkin lebih baik masalah ini dibicarakan nanti saat sudah berada di rumah.
"Baiklah, sekarang apa lagi yang mau kau katakan?" tanya Fathir sambil beralih melihat ke arah Dante.
Adel menghela napas lega karena papanya tidak meminta penjelasan tentang apa yang dia katakan, sementara Dante langsung menjawab jika dia hanya ingin meminta maaf saja dan tidak ingin melakukan hal yang lainnya.
"Saya janji ke depannya tidak akan ada lagi gosip tidak benar yang akan menyangkut nama Adel, walaupun saya ingin berteman baik dengannya," ucap Dante, suaranya berubah pelan saat mengucapkan kata teman.
Fathir tersenyum sinis. "Baiklah." Dia mengangguk, walaupun sebenarnya ingin sekali dia memukul wajah Dante yang sok tampan itu. Padahal wajahnya jauh lebih tampan daripada laki-laki itu.
Dante lalu pamit pada Adel dan keluarga gadis itu sambil menundukkan kepalanya. Tidak lupa dia tersenyum manis pada Adel karena merasa senang gadis itu mau mengakuinya sebagai teman, bahkan di hadapan keluarga Adel sendiri.
Namun, tentu saja Adel hanya diam tanpa sedikit pun membalas senyuman manis dan cerah yang Dante berikan padanya, sementara Fathir merasa geram melihat apa yang Dante lakukan.
Setelah bicara dengan Dante, Fathir segera mengajak semua keluarganya untuk pulang. Namun, sebelum itu mereka kembali menemui sang empunya pesta untuk pamit walau mendapat tatapan dan perhatian dari semua orang.
Dari kejauhan, Dante tersenyum senang sambil terus memperhatikan Adel yang sudah masuk ke dalam mobil dan pergi meninggalkan tempat itu. Sepertinya dia benar-benar sudah gila karena sejak tadi tidak bisa memalingkan tatapan matanya dari gadis itu.
"Kau dari mana saja, Dante? Sejak tadi aku mencarimu!" seru Lian dengan kesal saat melihat keberadaan Dante. Padahal dia sudah lelah ke sana kemari mencari laki-laki itu, tetapi Dante malah enak-enakan berdiri di tempat ini.
Dante menoleh ke arah belakang di mana Lian berada. "Aku habis menemui keluarga Adel."
"Apa?" Lian memekik kaget saat mendengar ucapan Dante. "Kau, kau menemui keluarganya?" Kedua matanya melotot tajam.
Dante mengangguk. "Aku bukan cuma menemui mereka, tapi juga membicarakan sesuatu yang sangat penting. Dia bahkan mengakuiku sebagai teman." Senyum merekah kembali terbit dibibirnya.
Lian mengernyitkan kening bingung saat mendengar cerita Dante. Kepalanya kembali berdenyut sakit karena sepertinya laki-laki itu kembali membuat ulah.
"Tolonglah, Dante. Tidak bisakah kita hidup tenang dan damai satu hari saja?" Lirih Lian dengan frustasi. Rasanya dia ingin sekali menghilang dari dunia ini karena tidak tahan dengan semua masalah yang Dante lakukan.
Lain hal dengan Dante, dia malah tetap tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. Dia bahkan menepuk-nepuk bahu Lian seolah merasa simpati dengan keadaan laki-laki itu.
"Ayo, kita pulang! Bukankah besok pagi ada pemotretan yang harus kulakukan?" ajak Dante. Dia segera berbalik dan berjalan pergi dari tempat itu dengan perasaan riang gembira.
Lian hanya diam dengan tatapan getir melihat tingkah Dante. Terserahlah, dia tidak peduli lagi jika laki-laki itu memang kembali membuat masalah. Pikirannya sudah terlalu lelah dengan semua yang terjadi saat ini.
Sementara itu, di tempat lain terlihat Adel dan keluarganya sudah sampai di rumah. Faiz segera masuk sambil menggendong Fayra dan membawa gadis kecil itu ke dalam kamar, sedangkan yang lainnya masih duduk di ruang keluarga untuk melanjutkan obrolan yang tadi.
Tanpa di tanya, Adel langsung menceritakan apa maksud dari perkataannya tadi. Tentu saja dia sudah paham jika saat ini mereka semua ingin mendengar penjelasannya.
"Aku hanya ingin menolongnya, itu saja," ucap Adel saat sudah menjelaskan alasan kenapa dia berteman dengan Dante.
Ayun dan yang lainnya hanya diam saat mendengar cerita Adel. Sebenarnya mereka tidak masalah jika Adel ingin berteman dengan siapa pun, hanya saja mereka tidak mau jika pertemanan itu malah nantinya membuat Adel terluka.
"Maaf, seharusnya aku tidak melakukan itu," sambung Adel kembali sambil menunduk saat tidak mendengar satu kata pun dari keluarganya.
Dengan cepat Ayun menggenggam kedua tangan Adel yang saat ini sedang duduk di sampingnya. "Tidak, Sayang. Niatmu itu sangat baik, jadi kau tidak perlu minta maaf." Dia mencoba untuk menenangkan.
"Ibumu benar, Sayang. Kau tidak melakukan kesalahan, jadi jangan minta maaf," sambung Fathir, membuat Adel langsung melihat ke arahnya.
"Tapi aku-"
"Sudahlah, tidak apa-apa," potong Fathir kembali membuat Adel tidak bisa melanjutkan ucapannya. "Sepertinya papa terlalu mengkhawatirkanmu."
Adel langsung menggelengkan kepalanya untuk membantah ucapan sang papa. "Tidak, Pa. Aku tahu jika Papa sangat peduli padaku, seharusnya aku mengatakannya dulu pada Papa saat akan berteman dengannya."
Fathir tersenyum. Baiklah, terserah saja jika Adel ingin berteman dengan Dante. Lagi pula media mana pun tidak akan lagi berani menyebarkan gosip tentang putrinya, tetapi awas saja jika Dante macam-macam dengan Adel.
"Bertemanlah dengan siapa saja yang kau mau, Sayang. Tapi ingat, kau harus bisa menjaga dirimu sendiri. Jangan sampai terlibat dengan pergaulan bebas."
•
•
•
Tbc.
semoga tetap sehat lancar barokah .
dan semoga Adel tidak kenapa-kenapa , jangan biarkan rencana 3 cewek saraf tuh berhasil ngerjain Adel . karena pada akhirnya mereka sendiri yang rugi .
lanjut terus kak... semangat moga sehat dan sukses selalu . saranghaeyo ❤️❤️❤️
kenapa up nya lama banget kak. .. jadi sering lupa gimana cerita sebelumnya .