Ellena Celestia Baskara adalah gadis pewaris tahta keluarga Jarzam, pemilik perusahaan berlian terbesar di negara itu. Tetapi dia harus mengalami peristiwa buruk saat para mafia merampas seluruh hartanya, dan membunuh kedua orangtuanya, dia melarikan diri dan tenggelam di lautan tempat tinggalnya dewa laut, sang dewa menolongnya dan membalik kehidupan Ellena menjadi seorang bayi lagi yang kemudian ditemukan oleh seorang wanita tua.
Para Mafia itu mengejarnya sampai menemukan sebuah kristal biru sumber kekuatan terbesar seluruh lautan di muka bumi ini, dan mereka merampasnya juga, sang dewa murka dan mengirim titisan setengah kekuatannya dalam kristal kapsul kecil bersamaan dengan Ellena yang juga sengaja di masukkan ke dalam sebuah kapsul kristal, lalu apakah yang akan terjadi dengan kedua kristal itu?
Saksikan kisah selanjutnya hanya di sini, happy reading semuanya ...
Jika membaca tolong tinggalkan jejak ya ges, like, komen, dan vote-nya, thankyouu---haturnuhun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Teriablackwhite, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ADD Eps 26
Rainero Skyrho merupakan keturunan terakhir dari para bed*bah yang dikatakan oleh bangsa Amora, tahun 997 adalah pertempuran yang luar biasa, menghabisi banyak nyawa dan tumpahan darah di mana-mana, kota Sirevina menjadi tanah kematian.
Matahari bersembunyi di balik awan yang bukan hanya kelam, melainkan kota dingin yang mencapai -0 derajat celcius. Angin dari seberang barat dan timur bergulung mendatangi tanah kekeringan.
Dari hari itu kota Sirevina tidak lagi ditinggali oleh manusia atau makhluk lainnya, kota itu telah menjelma jadi kota mati. Namun, setelah peredaran manusia yang meluas dari tahun ke tahun, kota Sirevina ditemukan oleh pemerintah setempat dan akhirnya dibangun menjadi kota layaknya kota pada umumnya.
Leluhur Kano tidak pernah melahirkan anak dari rahim mereka karena kutukan itu, mereka mencari cara untuk melahirkan keturunan sampai melibatkan dukun yang membantunya dalam pembantaian para bangsa Amora saat tahun 997.
Tiba di tahun 1500, salah satu keturunan mafia kejam itu mendatangi dukun yang sama. "Apakah kami akan memiliki keturunan mbah?" tanya lelaki yang nampak gagah itu.
Sang dukun yang berpenampilan serba hitam menggeleng kuat setelah dia melihat bayangan mengerikan di dalam kendi yang berisikan air dan bunga-bunga dari tujuh jenis bunga.
"Tidak. Bukan karena kalian mandul, tetapi ini karena kutukan. Kalian tidak bisa mengelak lagi, karena leluhur kalian adalah orang kejam yang telah mengundang kemarahan dewa lautan alam semesta ini," terangnya penuh keyakinan.
"Apa tidak ada cara lain agar kita bisa memiliki keturunan kami?"
Dukun itu menghela napasnya panjang dengan tatapan yang menghunus. "Ada, tapi ini sangat berbahaya, kalian datang ke hutan berkabut hitam dan ambil tanaman hijau dengan perpaduan warna kuning, itu adalah tanaman Arvory, kalian makan tanaman itu di tanah hutan berkabut hitam itu, tapi ada resiko yang kuat," jelas sang dukun dengan sangat hati-hati.
Sebetulnya manusia berhati iblis itu tidak ingin memberitahu cara ini karena kematian akan cepat datang. Dukun itu dijanjikan hidup lama karena ilmu-ilmu yang dia miliki tetapi tanaman Arvory adalah larangan yang kuat.
"Kami tidak peduli dengan resiko apapun itu, kutukan sialan itu harus kami lawan," tegas lelaki itu menarik istrinya berdiri dari posisi duduk mereka.
Dukun itu ikut memancang tegak dengan tatapannya yang getir. "Tidak!" tegas dukun itu dengan suaranya yang melanting. "Ini bukan masalah sederhana, resikonya adalah kematian!" sambungnya gusar.
"Kematian ...?" seru lelaki itu yang kemudian dia meleburkan tawanya menjadi serpihan yang meremehkan akan kematian itu. "Jika aku harus mati, tidak peduli! Selama keturunanku lahir!" berang lelaki itu dengan angkuhnya.
"Tidak bisa! Karena yang mati bukan hanya dirimu, tetapi aku juga akan mati begitupun dengan istrimu."
"Aku tidak percaya! Dewa itu bukan Tuhan, mereka tidak bisa merenggut nyawa seseorang tanpa perintah Tuhan!" tekad lelaki itu merajam tatapannya pada sang dukun di depannya.
"Dewa membawa tugas dari tuhan untuk menjaga dunia ini, keturunan mu dalam kutukan yang disetujui oleh tuhan."
"Halaah ... Bulshit!" Lelaki itu beringsut dari hadapan dukun tersebut dan tidak mengindahkan teguran yang berulang kali dilontarkan oleh dukun itu.
"Kematian akan segera datang, aku menyesal telah membantu para mafia itu. Keturunanku berada dalam genggaman kutukan yang tidak ada satupun yang mampu memusnahkannya," urai dukun itu berdiri di depan mejanya.
Samar-samar penglihatan Kano yang menyaksikan kehancuran dari bangsa Amora dan bagaimana cara kerja kutukan itu berjalan perlahan memudar dan tubuh lelaki itu yang tengah bersila segera terhenyak ke belakang.
"Apa itu?! Kenapa semuanya mati, kalian mempermainkanku!" berang Kano yang segera berdiri dari posisi bersilanya.
"Setelah memakan tanaman Arvory mereka masih hidup sampai kelahiran keturunannya, selepas itu mereka mati tenggelam di lautan biru di ujung kota Sirevina termasuk dukun itu dengan keturunannya."
Setelah pimpinan peri duyung itu menjelaskan segalanya, dari arah barat semburat cahaya pecah bercampur dengan hewan kecil yang berkilauan dengan cahaya berwarna birunya, ribuan hewan kecil itu mengelilingi cahaya yang pecah tadi dan kini mulai berkumpul di satu titik.
Seluruh penghuni istana sang dewa itu bersujud, termasuk ke-enam peri duyung yang berhasil menyeret Kano ke sana, kecuali lelaki berparas limpung itu. Lelaki itu masih berusaha mencerna semua informasi yang memenuhi isi pikirannya.
Cahaya apa ini?! Kenapa semua makhluk itu bersujud, apa ...? Dia adalah dewa lautan yang mereka katakan dari tadi.
Batin Kano menduga-duga siapa yang berada dalam pelukan cahaya yang berkilauan itu.
Dari dalam cahaya itu keluar sosok gagah berparas sengit dengan tongkat trisula berwarna emas dengan rambatan tanaman hijau di sekelilingnya. Tanaman itu adalah tanaman Arvory rambat.
"Selamat datang di rumah mu," ucap pria gagah nan sangar itu.
"Siapa kamu?" tanya Kano dengan dahinya yang mengetat kasar.
Sang dewa berenang ke singgasananya, lantas dia terduduk di sana. "Aku adalah kamu, kau adalah benih setengah kekuatanku yang sengaja aku lemparkan ke rahim wanita itu, yang merupakan ibumu saat ini," jelas Dewa Baruna pada Kano dengan dada bidangnya yang menegak.
Kano bergerak ke dekat Dewa Baruna dan satupun makhluk peri duyung itu tidak ada yang berani menghentikan lelaki bertubuh kekar itu, otot-otot tangannya mengeras. "Masudnya? Jadi kamu ingin bilang jika papi dan mami bukan orangtua kandungku?" tanya Kano berang.
"Iya. Orangtuamu tidak bisa memiliki keturunan karena kutukan itu, tanaman Arvory yang leluhurnya konsumsi tidak lagi berfungsi sampai kelahiran papimu, dan papimu melanjutkan kutukan itu," balas Dewa Baruna.
Semburat cahaya kembali pecah dari bola mata biru milik sang dewa, ia merambat secara perlahan tenggelam ke dalam jiwa Kano yang keras karena didikan Rainero selama ini. Lantas sang dewa menghentakkan tongkatnya satu kali ke ubin yang penuh dengan air yang bergerak ke sana kemari.
"Kamu adalah diriku yang aku perintah untuk menjalankan tugas, kembalilah pada tugasmu dalam penyamaranmu sebagai putra kesayangan musuh."
Fatamorgana hitam perlahan memudar dari ceruk alam bawah sadarnya, tubuh Kano yang terlelap dengan pejaman mata yang kuat tiba-tiba saja mengerjap, bola matanya membulat kuat.
Deru napasnya berhamburan bersamaan dengan debar jantung yang menggebu-gebu, lantas dia menelan ludahnya kasar dengan lukisan tatapan matanya yang menanar. "Mimpi apa itu? Kematian? Dukun? Leluhur? Apa itu semua dan ...." Untaian kata lelaki menganyam ketidaktahuan yang membuat jiwanya gusar.
Tubuhnya segera turun dari ranjangnya dan bergerak ke laptop miliknya yang masih menyala, sekali lagi dia baca artikel tentang peri duyung dan duyung legenda yang menurutnya informasi memuakkan tadi.
"Apa mereka benar-benar adanya? Tapi ... Mereka tinggal di mana? Dan, laut Lanzeiruz? Laut itu ada di mana!?" Rentetan pertanyaan yang mengubrak-abrik pikirannya.
Tak lama dari itu dering ponsel memecah deretan pertanyaan yang entah harus mencari jawaban itu semua di mana. Lekas Kano bergerak ke dekat ponselnya yang terbaring di atas nakas dekat dengan ranjangnya.
"Iya halo ...," sapa Kano pada seseorang yang ada di balik panggilan telepon itu.
"Sayang ... Kamu di mana? Kenapa hari ini tidak pulang ke Villa," sahut Mylan yang ada di seberang ponsel itu.
"Ah Mami ... Pagi ini aku pulang," jawab Kano tegas, langsung pada intinya.
"Iya sayang, kamu harus pulang ya. Papi kamu mencari kamu, sepertinya dia punya tugas untukmu sayang."
"Euum ... Iya aku tahu."
Panggilan telepon segera diputuskan oleh Kano. Ingatannya tenggelam pada sebuah kejadian sebelum malam ini, Kano bertemu dengan Rainero di sebuah kafe di pusat kota Sirevina itu.
"Papi punya tugas untukmu," cetus Rainero di depan putranya yang baru saja duduk.
"Tentang pria tua sang bandar narkoba itu?" timpal Kano yang sudah membaca apa yang ingin dilontarkan oleh Rainero.
Rajutan senyum pudar dari Rainero menggelopak bebas, satu tangannya sibuk memutar-mutar cangkir kopi hangat di depannya sedangkan tangannya yang lain dia simpan di samping, tertidur dengan nyaman.
"Putra Rainero tidak perlu diragukan lagi, kamu seperti anugrah Dewa dan Tuhan."
...----------------...
jangan lupa mampir di novel pertama qu
🙏