"Dewa, sebaiknya kamu menikahi Gita saja. Supaya tidak memutus kasih sayang dari Mamanya yaitu mendiang Tya. Kalau wanita lain, belum tentu dia bisa menyayangi Qinan."
Suara Bu Endang terdengar dan meminta Dewa untuk menikahi adik iparnya sendiri yaitu Gita. Dewa yang baru saja menjadi duda terpaksa Turun Ranjang.
Apakah tragedi turun ranjang ini akan berakhir bahagia? Atau hanya formalitas semata untuk memberikan kasih sayang dan membersamai tumbuh kembang Qinan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Pramudya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukti Saling Menerima
Beberapa hari berlalu, hujan masih turun di Batam. Kali ini Mama Endang dan Mama Rita sedang rembugan bersama. Keduanya membahas pernikahan Dewa dan Gita. Keduanya juga was-was kalau sampai Dewa dan Gita tidak bahagia dalam pernikahannya.
"Kira-kira Dewa dan Gita bahagia tidak yah dengan pernikahannya?" tanya Mama Endang kepada besannya yang sudah seperti bestienya sendiri itu.
"Sejauh ini keduanya adem-adem saja, Bu. Aslinya ya kurang tahu," balas Mama Rita.
Mama Endang menganggukkan kepalanya. Sejauh ini Dewa dan Gita memang adem-adem saja. Keduanya juga tidak pernah mengeluhkan perihal pernikahannya. Namun, kedua orang tua itu tampak kepikiran malahan.
"Mumpung Batam sedang musim hujan, kita asuh Qinan berdua saja bagaimana, Bu? Biar Dewa dan Gita juga memiliki waktu bersama," ide Mama Endang sekarang.
"Wah, itu adalah ide yang bagus. Saya juga setuju. Supaya Dewa dan Gita bisa berduaan."
Akhirnya, hari itu juga Mama Endang dan Mama Rita menuju ke kediaman Dewa untuk menjemput Qinan. Biarlah satu hingga dua hari ini, Qinan tinggal bersama Omanya terlebih dahulu supaya Dewa dan Gita memiliki waktu untuk bersama.
"Assalamualaikum, Dewa," salam Mama Rita sembari mengetuk pintu rumah putranya itu.
"Ya, Waalaikumsalam, Ma."
Dewa dan Gita sama-sama membukakan pintu. Di saat itu, Dewa juga sekaligus menggendong Qinan. Jika diperhatikan dari dekat seperti ini seolah tidak ada yang salah dan tidak ada masalah terhadap pernikahan Dewa dan Gita. Bahkan keduanya terlihat kompak dalam mengasuh Qinan.
"Gerimis loh, Ma ... mendungnya sudah begitu gelap. Mama mau ngapain?" tanya Dewa.
"Mama mau jemput Qinan. Kangen sama Qinan," kata Mama Rita.
"Ta, tolong siapkan tasnya Qinan yah. Biar Qinan nginep dengan Oma-Omanya dulu dua malam. Nanti kami anter lagi ke sini," kata Mama Endang.
Gita tampak bingung. Untuk apa sebenarnya Mama Rita dan Mama Endang melakukan ini semua? Benarkah hanya sebatas kangen saja?
"Kalau Qinan rewel gimana, Ma?"
"Udah, kamu enggak usah pikiran. Mama sudah pengalaman mengasuh anak. Mana, biar Qinan sama Mama dulu. Keburu hujan."
Akhirnya Gita menyiapkan tas yang berisi pakaian, diapers, susu, bahkan personal care milik Qinan. Terkait dengan makanan Qinan, nanti Mama Endang dan Mama Rita yang akan gantian memasak. Keduanya benar-benar sepakat dan bekerja sama memberikan waktu khusus untuk Dewa dan Gita.
Sekarang, Qinan sudah dibawa Mama Rita dan Mama Endang. Hari sudah petang, Dewa dan Gita juga sudah bergantian mandi. Rumah terasa sepi ketika Qinan diajak Omanya.
"Bengong?" tanya Dewa perlahan.
"Rumahnya jadi sepi karena tidak ada Qinan," jawab Gita.
Dewa tersenyum, sebagai pria yang lebih dewasa Dewa berpikir sendiri apakah itu merupakan rencana kedua Mamanya yang memberikan waktu khusus untuk mereka berdua. Gita kemudian hendak berdiri dan keluar dari kamar.
"Mau makan sekarang, Mas? Aku hangatkan sayurnya dulu."
Dewa menggelengkan kepalanya. Dia belum ingin makan apa pun. Pria itu justru menahan tangan Gita, supaya Gita tidak beranjak pergi.
"Nanti saja. Ta, bagaimana apakah kamu sudah mengizinkan aku masuk ke dalam hatimu?" tanya Dewa sekarang.
Gita terdiam sejenak. Ya, selama ini intinya Dewa menjadi sosok yang lebih baik. Juga, Gita juga tak menolak ketika Dewa memeluknya atau mengecup keningnya. Keduanya tak bergeming, hingga Dewa mencapit dagu Gita dengan ibu jari dan jari telunjuknya, dia tatap dua bola mata Gita. Tanpa suara, Dewa kemudian mulai membelai sisi wajah Gita. Seketika gadis itu terkesiap, terlihat dari kedua bola matanya yang bergerak gelisah. Namun, Gita tak berani menolak. Belaian seringan bulu itu begitu pelan, hingga akhirnya Dewa mulai mengusap perlahan lipatan bibir bagian bawah milik Gita dengan ibu jarinya.
Pria itu tampak seperti kesusahan menelan salivanya. Terlebih dua belah lipatan bibir itu tampak merekah, warnanya pink natural tanpa pemoles bibir. Sorot mata Gita menunduk, dia tidak berani menatap Dewa.
Lama kelamaan, rasanya Dewa tidak bisa menahan terlalu lama. Dalam waktu mungkin dua malam yang sudah diberikan orang tuanya ini harus dia manfaatkan dengan sebaik mungkin. Lagipula Dewa merasa bahwa sebagai seorang suami, dia berhak atas istrinya. Tanpa permisi sebelumnya, Dewa kian menunduk, lalu dia kecup bibir Gita. Hanya sebatas mengecupnya saja. Sapuan napas yang hangat dan juga jantung keduanya yang berdegup begitu kencang. Baik Gita dan Dewa sama-sama berdebar-debar sebenarnya. Akan tetapi, kalau pasif dan terus-menerus menunggu hubungan mereka juga hanya akan berjalan di tempat.
Lama bibir Dewa mengecup bibir Gita, sebatas menempel saja. Kedua bola mata masih beradu, hingga akhirnya Dewa perlahan-lahan memejamkan matanya, lantas dia gerakkan bibirnya, mulailah dia mengecupi bibir Gita. Kecupan demi kecupan kecil, disertai usapan basah dengan lidahnya. Seolah ada napas tertahan yang Dewa hembuskan. Begitu lama, jiwanya mendambanya. Ladang batinnya juga tak tersentuh. Sekarang, berciuman seperti ini saja membuat Dewa merasa suhu tubuhnya meningkat.
Namun, ada satu hal yang berbeda karena Gita merasa begitu kaku. Dewa curiga, apakah Gita tak pernah berciuman sebelumnya? Bahkan Gita tidak bisa membalas kecupannya.
"Ta, aku berhak kan? Kamu bisa membalas ciumanku," kata Dewa perlahan. "Kalau kamu bingung ikuti saja pergerakan bibirku."
Gita menunduk, dia terengah-engah. Namun, belum sempat Gita memberikan jawaban, Dewa kembali menciumnya kali ini dengan napas yang memburu. Mantan duda yang setahun lebih tak tersentuh itu tak lagi menahan diri. Dia biarkan hasratnya naik.
Bibir Gita yang manis dan hangat seolah dia cumbu dengan begitu rakus. Bahkan sekarang lidah Dewa merangsek masuk dan memberikan belitan demi belitan di lidah dan rongga mulut Gita. Gadis itu bingung, ingin menangis, tapi dia tak bisa menolak. Bahkan ketika tangan Dewa menahan tengkuk Gita untuk memperdalam ciumannya, Gita kalang-kabut.
Dalam menit demi menit yang berjalan lama, Dewa mengurai ciumannya. Pria itu menatap bibir Gita yang sedikit bengkak karena ulahnya. Lalu, Dewa berbicara lagi.
"Ta, kalau aku meminta yang lebih lagi bagaimana? Aku pria normal, Ta. Aku suamimu. Tidak salah kan kalau aku bertindak kelewat batas?"
"Mm ... maksudnya apa?" balas Gita dengan gagu sekarang.
"Kita sama-sama sudah membuka hati untuk satu sama lain kan? Jadi, mari kita sama-sama bebaskan perasaan kita."
Usai berkata demikian, Dewa mengajak Gita ke ranjang. Pria itu kemudian membaringkan Gita di sana, begitu pelan hingga akhirnya Dewa menindih Gita dengan mengungkung gadis itu. Dia belai lagi wajah Gita, pria dewasa itu tersenyum dan berbicara lirih.
"Aku tak berdusta, aku cinta kamu, Gita. Kamu bisa menerima aku kan?"
"Apa benar?" tanya Gita perlahan.
"Sungguh. Jangan takut, aku akan selalu menjaga kamu."
Dewa berbicara dengan sangat serius. Dia tidak akan mengambil keuntungan apa pun, justru dia akan selalu menjaga Gita. Dewa juga jujur mengatakan bahwa hatinya sekarang ada Gita di sana.
Usai mengatakan itu, Dewa kian bergerak dan dia kembali mencium bibir Gita dengan lembut. Dia pagut perlahan, mengusapnya perlahan, dan pada akhirnya melu-matnya. Tindakannya terukur begitu lembut, tapi sukses membuat Gita terperangkap. Tangan Dewa kemudian menggenggam tangan Gita di sisi kiri dan kanannya. Pria itu semakin memejamkan matanya, gelora di dalam jiwa semakin menjadi-jadi. Dari bibir, kemudian Dewa menjelajah turun di garis leher Gita. Kecupan dan usapan dengan lidahnya seolah memberikan jejak-jejak yang basah di sana. Sampai akhirnya, Dewa membuka sedikit giginya dan dia gigit kecil permukaan kulit leher Gita dan menghisapnya dalam-dalam.
"Hh, Mas Dewa."
Gita memekik dengan menelungkungkan sepuluh jari-jari kakinya. Gigitan dan sesapan itu perih, tapi juga seolah menghantarkan gelenyar yang lainnya. Gadis itu akhirnya mende-sah sembari menghela napasnya.
Dewa justru senang mendengarkan desahan Gita. Lalu, dia susuri perlahan hingga ujung bawah leher Gita, kecupan yang kemudian menjejak sempurna nyaris di sembulan dada Gita yang begitu ranum. Pria itu kemudian membuka kancing demi kancing piyama yang Gita kenakan. Tiga kancing terlepas, Gita tampak memejamkan matanya rapat.
"Mas Dewa mau ngapain?" tanya Gita dengan membuang muka.
"Meneruskan hubungan kita, Ta. Menerima satu sama lain. Kamu mau kan?"
"Seperti apa? Aku tak berpengalaman," balas Gita.
"Biar aku yang bergerak. Kamu rileks saja. Jangan takut, aku suamimu."
Setelah mengatakan itu, Dewa kemudian menarik ke atas kaos yang dia kenakan. Pria itu tampil shirtless sekarang. Jika selama ini Dewa bersikap pasif dan ragu-ragu, kali ini Dewa akan menunjukkan bukti bahwa dia siap dengan bentuk hubungan yang baru dengan Gita.
Setelah itu, Dewa kembali menindih Gita. Dia berikan kecupan demi kecupan di leher hingga area sembulan dada Gita, pria itu sembari berusaha menyingkirkan tangan Gita yang berada di depan dada, sembari dia usap perlahan bulatan indah milik Gita. Bagian yang selama ini selalu dipegang Qinan ketika dia tidur. Sekarang, Dewa berhasil menyentuhnya dan meremasnya perlahan.
"Mas Dewa ...."
"Ya, Ta ... ini aku. Izinkan aku, Ta."
Dewa kemudian menurunkan tali berwarna hitam yang menggantung di bahu Gita, sembari dia berikan kecupan demi kecupan di sana. Dua tali turun sudah, lalu tangan Dewa menyusup ke balik punggung Gita, dia lepaskan pengait-pengait besi yang bersembunyi di sana. Hingga wadah berbusa dengan warna hitam itu terlepas sudah, tangan Gita buru-buru menutupi dua bulatan indahnya.
Dewa tersenyum, dia kemudian meyakinkan Gita lagi. "Jangan takut, Ta. Kita berhak melakukan semua ini. Tidak akan ada yang tersakiti. Percayai aku."
"Mas, aku takut ... aku bingung."
Gita berkata dengan jujur. Bagaimanapun juga perasaannya berkecamuk. Sekali lagi tak mudah melakukan hubungan seintim ini dengan pria yang dulunya adalah kakak iparnya sendiri.
Dewa menyingkirkan tangan Gita di sana, lalu dia memeluk Gita. Dia biarkan dada keduanya menyatu. Walau itu menjadi godaan berat untuk Dewa.
"Baiklah, kalau kamu ingin berhenti. Aku tidak akan memaksa. Aku berhak atasmu, Ta. Namun, kalau kamu tidak ingin, aku bisa apa. Aku sudah mengatakan semuanya kepadamu. Aku sungguh-sungguh mencintaimu. Sungguh!"
Air mata Gita berlinang. Akhirnya Gita berani memeluk tubuh Dewa. Perasaan yang berkecamuk dan juga kebingungannya. Dewa tahu, ada batas yang mungkin masih dirasai Gita bahwa keduanya semula adalah ipar.
Dewa menarik wajahnya, walau dadanya masih menyatu dengan dada Gita. "Maaf sudah membuatmu menangis, aku hanya mengatakan sesungguhnya. Kita tidak berdosa. Justru kita berdosa karena kamu adalah ladang pahala bagiku. Izinkanku membuktikan cintaku."
Ucapan Dewa begitu halus dan lembut, Gita terisak. Dia sekali lagi memeluk Dewa. Dewa memilih sabar, dia kemudian mengubah posisinya, dia tatap Gita dengan area bulatan indahnya yang menggoda. Tak begitu besar, tapi sangat indah, puncaknya pink kecokelatan, itu saja sudah membuat Dewa sangat mendamba. Harus Dewa akui bahwa Gita begitu cantik, dia laksana anggur muda yang begitu ranum.
Gita sedikit bangkit, setengah terduduk. Tanpa kata, gadis itu memeluk suaminya. Dengan air mata yang berlinang. Dewa membalas pelukan itu dan mengecup kening Gita.
"Aku bersungguh-sungguh, aku cinta kamu. Bolehkah semuanya dilanjutkan?"
Gita memberi anggukan samar. Dia hanya berusaha menempatkan dirinya sebagai seorang istri, memberi hak yang memang sepenuhnya untuk suaminya. Dewa berjanji bahwa dia akan selalu menjaga dan mencinta Gita. Pria itu kemudian merebahkan Gita, kembali dia berikan ciuman di bibir Gita dengan napas yang memburu dengan tangannya yang meremas perlahan dua bulatan indah milik Gita.
Sampai akhirnya, Dewa memberanikan dirinya memberikan kecupan dan hisapan di puncak bulatan indah milik Gita. Tindakan Dewa itu membuat Gita menggigit bibirnya sendiri. Rasanya geli dan tentulah membuatnya meremang.
"Mas Dewa," kata Gita dengan meremas perlahan lengan suaminya.
"Ya, Ta. Aku Dewa, suamimu."
Dewa dengan begitu berani menghisapi puncak-puncak di sana, mengulumnya, bahkan dia menggigit puncak di sana. Lenguhan Gita dan reaksi gadis itu seakan mempesona Dewa. Hingga akhirnya, Dewa lucuti busana mereka.
Pria itu bergerak kian ke bawah lalu dia sapa lembah di sana. Lidahnya mengusap, bergerak memberikan usapan dalam kesan basah, memberikan tusukan yang membuat Gita bergerak gelisah. Demi apa pun, hanya Dewa yang menyentuhnya, melihatnya benar-benar tanpa busana, dan melakukan semua ini.
Merasa milik Gita sudah basah, Dewa kemudian mengambil posisi di tengah-tengah Gita. Dia gesekkan perlahan ujung pusakanya. Hingga akhirnya, Dewa hunuskan perlahan.
Satu kali hunusan ....
Ujung pusaka itu tak mampu menerobos cawan surgawi Gita. Dewa senang bukan kepalang, istrinya itu masih gadis. Dia mendapatkan Gita yang suci pastinya. Kembali Dewa menghunus dengan memegangi pinggul Gita.
Dua kali hunusan .... Lima kali hunusan ....
Barulah ujung pusakanya perlahan mendobrak selaput yang melindungi cawan surgawi itu. Gita menangis di sana. Ada rasa kehilangan saat pusaka suaminya berhasil mengoyak inti sari tubuhnya.
"Mas Dewa, sakit ...."
"Tahan dulu ya, Gita Sayang. Gigit bahuku saja. Masya Allah, aku mendapatkan kamu yang suci."
Dewa kecup kening Gita, hingga kedua kelopak mata Gita yang berurai air mata juga dia kecup. Sembari pria itu menggerakkan pinggulnya dengan menghujam dan menusuk. Keluar dan masuk. Sedikit mendesak hingga seluruh pusakanya terbenam sempurna. Di sertai darah yang keluar di sana.
Perih dan ngilu. Erat dan penuh. Semuanya menjadi satu membuat Gita akhirnya menggigit bahu Dewa. Sangat sakit ketika Dewa kian menghentak cepat dan kuat.
"Gita ... oh, Gita."
Nama Gita dia ucapkan dengan melakukan gerakan seduktif keluar dan masuk. Hingga akhirnya, Dewa bak terhisap dalam palung kenikmatan. Tubuhnya bergetar, rahangnya mengeras, dan akhirnya Dewa benar-benar menumpahkan seluruh lava pijarnya memenuhi cawan surgawi Gita.
Di saat itu juga Gita memekik karena ada sesuatu cair yang dia lepaskan. Dia peluk dengan erat Dewa yang sekarang rubuh di atas tubuhnya.
"Aku cinta kamu, Gita. Aku cinta kamu."
Dewa mengatakan semua itu dengan serius. Sementara Gita menangis sesegukan, dia peluk erat tubuh Dewa yang bersimbah peluh. Sudah Gita serahkan mahkota berharganya yang dia jaga selama ini. Pria yang dulu adalah kakak iparnya, malam ini benar-benar sah menjadi suami yang memilikinya dan mendapatkan mahkota pertamanya.
Babnya panjang yah. Komen, like, vote, dan tonton iklannya yah. 😘
capek bangeeeettt
capek badan ngurus ponakan sekalian hamil
capek hati, terpaksa memaklumi suami yg selalu membanding2kan dg almh sang kk
dih laki bersyukur
tau gitu, rawat aja anaknya ga usah kawinin bapaknya