Gadis cantik yang biasa di panggil Arra itu harus hidup tanpa ayah dan ibunya, ia hanya gadis biasa yang hidup bersama bibinya sejak kecil. Namun suatu hari Arra harus menghadapi masalah besar menyelamatkan restauran kecil milik bibinya tersebut dengan jaminan dirinya yang harus menikahi pria yang baru saja dikenalnya. Akankah Arra menerima tawaran tersebut? Ikuti terus cerita ini untuk mengetahui keputusannya!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon inirindu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 27
Sesampainya di Jakarta aku langsung turun di terminal, aku sengaja meminta Farel mengantarkan ku kemari. Meski banyak pertanyaan yang ia ajukan aku hanya memilih diam, setelah ia pergi aku buru-buru membeli tiket untuk pulang ke rumah bude di Bandung. Namun sebelum itu aku sudah menghubungi mbok Asih supaya mengemas barang-barang yang ku beli sendiri lalu memesan kurir untuk mengantarkannya ke terminal, setelah selesai Travel ku datang dan segera aku mencari nomer kursiku. Tak lupa aku juga menghubungi pak Dika untuk menambah masa cuti ku yang tadinya hanya dua hari menjadi satu minggu, setelah ia mengacc permintaanku aku segera mematikan ponsel dan meletakkannya ke dalam tas. Aku benar-benar tidak ingin di ganggu oleh siapapun selama tiga hari kedepan.
*
Mobil berhenti tepat di depan warung budhe, rumah itu masih sama seperti terakhir kali aku melihatnya. Kini karyawan budhe bukan hanya mbak Yuli masih ada tiga orang lainnya yang menjadi kasir dan pelayan. Budhe Diah yang melihatku berdiri di depan warungnya segera berlari ke arahku, ia seperti tak percaya bahwa aku datang tanpa memberitahunya terlebih dahulu
"Ndok, kamu pulang sama siapa? " tanya budhe setelah memeluk melepaskan kerinduannya pada keponakan yang telah lama pergi ini
"Sendiri budhe"
"Loh, suami kamu? "
"Mas Daniel sibuk budhe"
"Ya sudah, kita masuk ndok"
Aku duduk di sofa lalu budhe meminta mbak Yuli membawakan segelas teh hangat untukku
"Loh mbak Arra, kapan datang? " tanya mbak Yuli yang sama terkejutnya melihat kepulangan ku
"Barusan mbak"
"Sendirian tah? "
"Iya mbak, mas Daniel sibuk"
"Ih begitu, ya sudah kamu istirahat dulu aku mau ke depan lagi"
"Iya mbak"
"Ndok, kamu di sini dulu ya. Budhe bersihkan kamar kamu sebentar"
"Tidak usah budhe, nanti biar Arra bersihkan sendiri"
"Sudah kamu disini saja, kamu pasti capek kan"
"Makasih budhe"
Aku mantap sekeliling rumah, meski hanya ada mas Anton dan budhe yang menempatinya namun rumah ini terasa hangat. Banyak kenangan yang tidak bisa aku lupakan apalagi ini adalah tempat dimana ayah meninggalkan ku sendirian setelah bercerai dengan mama, saat itu usiaku baru tiga tahun dan mama pergi membawa kakakku yang berusia lima tahun.
Budhe kembali dari kamar dan menatapku yang mencoba mengusap air mata di pipi ini
"Ndok, kok nangis. Kenapa? "
"Tidak budhe"
"Kalau ada apa-apa mbok kamu cerita ke budhe"
"Arra cuma kangen aja sama rumah ini budhe, banyak kenangan yang ada di sini"
"Budhe paham, pasti kamu keinget bapakmu to"
"Iya budhe, oh ya budhe Arra pernah dengar dari mas Anton kalau Arra punya kakak. Siapa namanya budhe? "
"Iya ndok, kakakmu itu namanya Widhia"
"Budhe ada fotonya? "
"Tunggu sebentar, sepertinya budhe masih menyimpan di album keluarga"
Selang beberapa saat budhe keluar membawa selembar foto dan di tunjukkan kepadaku
"Ini foto yang bapakmu ambil waktu acara syukuran rumah ini, saat itu usia kamu baru dua tahun dan yang memangku kamu ini adalah kakak kamu"
"Cantik budhe"
"Meski banyak yang bilang kalau kakak kamu lebih cantik namun budhe lebih yakin saat melihat kamu dewasa seperti sekarang omongan mereka salah"
"Salah bagaimana budhe? "
"Ya salah, karena kamu ternyata lebih cantik"
"Memang budhe sudah pernah melihat kak Widhia yang sekarang? "
"Belum, terakhir budhe lihat kakakmu itu saat mama kamu pergi dari rumah meninggalkan kamu. Dia dengan tega meninggalkan bapakmu yang jatuh bangkrut karena tak bisa hidup susah, maklum karena mama kamu keturunan orang luar jadi mana bisa di ajak hidup susah"
"Arra jadi kangen sama bapak budhe"
"Besok sore kita ke makamnya ya, sekarang kamu istrahat dulu masih banyak pekerjaan budhe di depan"
"Baik budhe"
*
Tak terasa tiga hari berlalu begitu cepat, hari ini aku akan kembali ke Jakarta untuk mengurus pekerjaan. Setelah selesai berpamitan aku di antarkan mas Anton menuju titik penjemputan travel, sesampainya di Jakarta aku segera menemui Vero yang sudah menungguku di cafe dekat kantor.
"Ra sebelah sini" teriaknya sambil melambai ke arahku
Aku segera menghampirinya sembari menarik koper di tanganku
"Maaf ya kak jadi mencuri jam makan siangmu"
"Its okay, gimana-gimana ada apa? "
"Kak, kata pak Dika kantor menyediakan mess untuk para karyawan ya? "
"lebih tepatnya apartemen yang di bayar bulanan oleh kantor Ra, kenapa? "
"Aku sudah bilang ke pak Dika untuk memberikan izin padaku sementara tinggal di mess kantor sampai aku dapat tempat tinggal baru"
"Oh kalau begitu kamu tidak perlu tinggal di mess, tinggal di apartemen aku saja. Kebetulan ada satu kamar kosong"
"Jangan kak, takutnya merepotkan"
"Enggak, aku justru senang ada temannya"
"Kakak beneran ini? "
"Iya"
"Baik kak kalau begitu terimakasih banyak"
"Oke, lebih baik sekarang aku antar kamu kesana biar kamu bisa istirahat"
Aku dan Vero segera pergi menuju apartemen miliknya, sesampainya disana ia mempersilahkan ku masuk dan menunjukkan kamar yang akan ku tempati. Tak lupa ia juga menjelaskan situasi disana, setelah selesai ia izin untuk kembali ke kantor sementara aku bergegas merapikan barang-barangku.
Setelah semuanya selesai aku melirik ponsel yang sedari tadi tergeletak di atas tempat tidur, nampak beberapa pesan dari mas Daniel dan tuan Nathan. Tertulis beberapa kali pesan yang menanyakan dimana keberadaanku dari mas Daniel maupun mama Bella, aku masih belum ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Aku mengalihkan diri untuk pergi ke kamar mandi dan membersihkan badan.
*
POV NATHAN
Aku tidak bisa hanya menunggu kabar dari Arra, mana mungkin aku membiarkan dia cuti selama ini dan harus menghadapi setumpuk pekerjaan yang seharusnya jadi kewajibannya. Segera aku meminta Dika ke rumah untuk membawakan beberapa dokumen penting, tak berapa lama ia datang. Seperti biasa wajahnya nampak lelah karena akhir-akhir ini harus lembur menggantikan tugas Arra.
"Dik, si Arra kapan dia akan kembali bekerja? "
"Besok tuan"
"Ada dia sakit lagi? "
"Tidak tuan"
"Lalu kenapa harus mengambil cuti lama? "
"Saya kurang tahu tuan, tetapi beberapa hari lalu ia sempat menghubungi saya bertanya perihal mess karyawan tuan"
"Untuk apa? bukannya ia tinggal dengan suaminya?"
"Saya juga kurang tahu tuan"
"Apa dia sedang ada masalah dengan rumah tangganya, lalu kabur dari rumah dan berniat tinggal di mess karyawan"
"Sepertinya begitu tuan"
"Kalau begitu dia berada di unit berapa? "
"Maaf tuan, tapi sampai sekarang belum ada laporan yang meminta persetujuan kepada saya atas nama non Arra"
"Apa dia tidak jadi? coba kamu cari tahu"
"Baik tuan, kalau begitu saya permisi"
Aku tak sabar menunggu info dari Dika, namun sejauh apapun semut berlari pasti akan di ketahui olehnya. Tak lama setelah pulang dari sini ia memberikan kabar tentang keberadaan Arra kepadaku.
kenapa sita sejahat itu
& jgn biarkan dia ada di tengah2 Edgar & Arra
kasian Arra