Suami yang pamit bekerja ke luar pulau Jawa ternyata malah menikah lagi dengan orang terdekatnya karena permintaan ibunya yang tak pernah menerima Marissa jadi menantunya, dunia seakan hancur berkeping-keping saat mengetahui hal itu.
"Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?" doaku pada suatu malam dengan bersimbah air mata.
Dalam pencarian suaminya yang menghilang, Marissa menemukan kenyataan ternyata suaminya anak dari penjahat yang telah membunuh ibu dan memisahkannya dengan ayah kandungnya selama 20 tahun.
Apakah Marissa harus mempertahankan pernikahannya ataukah mengikuti keinginan ayah kandungnya untuk bercerai dan menikahi pria yang dia pilih? Simak kisah mereka di novel terbaru Author.
Mohon dukungannya ya, readerku sayang dengan like, favorit dan komen. Terima kasih.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nur hapidoh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27
"Mas aku harus segera pulang. Aku tidak bisa berlama-lama denganmu. Kalau tidak Ayahku akan curiga dengan pertemuan kita yang diam-diam ini." ucap Marissa sambil kembali mengenakan pakaiannya setelah percintaan mereka berdua.
Terlihat Damar yang tidak rela jika harus berpisah dengan istrinya. Hati Damar merasa sangat sedih karena harus berpisah dengan wanita yang seharusnya menjadi tempatnya pulang dan istirahat. Tetapi karena masalah kedua orang tua mereka yang sampai sekarang masih belum menemukan titik temu mereka harus menjadi korban dan berpisah untuk sementara waktu.
"Setelah 2 minggu kita tidak bertemu, masa Kau hanya bisa menemuiku satu jam saja? Apa kau tidak ingin Kita menginap malam ini di sini? Mas masih rindu dengan kamu, sayang!" terlihat Damar berusaha membujuk Marissa agar tetap bersamanya.
Marissa mahalan nafas berat dan berkali-kali meminta maaf kepada Damar karena dia tidak bisa memberikan apa yang dia inginkan.
"Maafkan aku, ya? Saat ini kesehatan Ayahku benar-benar sedang kritis, Mas. Aku tidak bisa membuat dia marah kalau tahu kita bertemu secara rahasia seperti ini. Maafkan aku ya? Nanti aku akan kembali menghubungimu kalau kita bisa bertemu." Marissa mencium bibir Damar sekilas.
"Apa kau tahu? Entah kenapa Aku merasa seperti selingkuhanmu saja dan kau harus selalu pulang ke sisi Bara, yang aku tahu dia diminta oleh ayahmu untuk menikahi kamu!" terdengar suara Damar yang bergetar karena merasakan kecemburuan yang begitu besar di hatinya.
Memikirkan dirinya harus menjalani kehidupan yang tidak normal seperti pasangan suami istri lainnya benar-benar sangat berat untuk Damar. Tetapi Damar juga tidak berdaya untuk melawan keinginan Alvin yang sampai saat ini masih saja getol membujuk Marissa untuk menceraikan Damar.
Damar sudah berusaha sekuat tenaga untuk memenuhi semua keinginan Alvin tetapi masih saja tidak membuahkan hasil. Dendam itu terlalu dalam dan begitu sulit untuk merubah pemikiran Alvin terhadap keluarganya yang sudah memberikan waktu sangat berat kepadanya.
"Aku sepertinya tidak melihat masa depan di dalam pernikahan kita selama ayahmu masih hidup." Damar menatap tajam ke arah Marissa yang terkejut mendengar perkataannya.
"Jangan pernah memikirkan hal-hal yang tidak pada tempatnya. Aku tidak akan pernah memaafkanmu kalau sampai terjadi hal yang buruk terhadap ayahku." ancam Marissa dengan menatap tajam pada Damar.
Damar mengerjapkan kedua matanya karena merasa bahwa dia telah salah bicara sehingga membuat Marisa menjadi marah kepadanya.
"Maafkan aku, sayang. Aku tidak bermaksud mengatakan hal yang buruk tentang ayahmu. Aku hanya merasa putus asa untuk bisa mengembalikan pernikahan kita seperti dulu. Aku minta maaf!" Damar berusaha untuk memeluk Marisa. Tetapi dia seakan menghindarinya.
Damar merasa bersalah karena sudah membuat sang istri marah dan kesal padanya.
"Sayang, aku mohon. Maafkan aku ya? Tidak mudah untuk kita berdua bertemu. Masa sudah ketemu kita malah bertengkar seperti ini, sih?" Damar terus berusaha untuk membujuk Marissa agar tidak marah lagi padanya.
Marissa melepaskan diri dari pelukan Damar dan bersiap untuk meninggalkan Hotel itu.
Marissa pergi tanpa sepatah katapun. Dia benar-benar merasa kecewa terhadap suaminya yang berpikir bahwa ayahnya lebih baik mati dari pada memberikan kerumitan untuk rumah tangga mereka.
Marissa sangat menyayangi Alvin yang selama ini sudah memberikan begitu banyak kebahagiaan karena dicintai dan di sayangi sang ayah. Alvin juga memberikan segala kemewahan kepada Faqih yang selama ini tidak pernah mendapatkannya.
Kedua orang tua Damar tampaknya tidak terlalu mempedulikan Faqih. Walaupun mereka terlihat gigih untuk memperebutkan hak asuh, tetapi mereka tidak pernah menunjukkan kasih sayang mereka kepada Faqih secara nyata.
Hal itulah yang membuat Marissa kadang-kadang berpikir dan bertanya-tanya tentang kasih sayang mereka terhadap putranya.
"Bagaimana bisa Mas Damar mengatakan hal buruk seperti itu tentang ayahku? Bagaimana dengan hidupku dan Faqih kalau sampai Papa meninggalkan aku lagi?" monolog Marissa kesal.
Saat Marissa hendak masuk ke dalam mobilnya tiba-tiba saja dia ingat kalau dia meninggalkan ponselnya di nakas kamar hotel tempat dirinya bertemu dengan Damar.
Marisapun kemudian kembali melangkahkan kakinya untuk mengambil ponsel. Tetapi langkah Marissa terhenti saat telinganya mendengar suara aneh di dalam kamar yang tadi dia gunakan untuk bercinta dengan suaminya.
Ada suara khas orang sedang bercumbu. Hati Marissa berdesir aneh. Sesak dan tiba-tiba saja sakit sekali. "Siapa yang sedang bersama suamiku di dalam sana?" Marissa dengan perlahan kemudian membuka pintu kamar hotel yang kebetulan tidak di kunci.
Marissa melotot sempurna saat melihat adegan yang ada di sana. Damar sedang bercinta dengan mantan istrinya yang entah Sejak kapan keluar dari penjara. Hati Marissa sangat marah dan kesal.
"Jadi ini yang selalu kamu lakukan setiap kali aku pergi meninggalkanmu setelah pertemuan kita?" tanya Marissa dengan suara serak.
Hatinya begitu sakit mengetahui penghianatan yang dilakukan oleh Damar tepat di hadapannya.
Damar tentu saja terkejut ketika melihat Marissa yang kembali masuk ke kamar hotel yang baru saja dia tinggalkan.
"Kalian lanjutkan saja kegiatan kalian yang menyenangkan itu. Aku tidak akan mengganggu kok. Aku kembali ke sini hanya untuk mengambil ponselku yang ketinggalan." Marissa berusaha sekuat tenaga untuk tetap tegar menghadapi cobaan rumah tangganya yang kembali hadir dan menyakiti hatinya yang kembali berdarah karena perbuatan suaminya.
Damar yang masih terkejut dengan kehadiran Marissa di kamar itu, dia sontak segera mengenakan pakaiannya yang tercecer di lantai dan mengejar sang istri yang pergi dengan amarah besar di hatinya karena cemburu dan murka atas perbuatan khianat yang dia lakukan malam itu bersama Arimbi.
Damar bener-benar merasa sial sekali karena pertemuannya yang tiba-tiba saja dengan sang mantan istri malah diketahui oleh Marissa.
Damar sendiri merasa heran kenapa dirinya menurut saja ketika mantan istrinya meminta untuk berhubungan badan dengannya. Tadi Damar sedang berusaha untuk menghindari hal iti, tetapi jiwa kelelakinya yang saat itu sedang marah karena Marisa yang pergi begitu saja merasa terusik. Damar akhirnya terjatuh dan tergoda dengan pesona sang mantan istri. Dia tidak pernah menyangka kalau ternyata Marissa akan kembali ke kamar itu dan akhirnya malah merusak segalanya hanya dalam hitungan detik. Damar merasa sangat bodoh sekali.
"Puas kamu? Ini kan yang kamu inginkan dari perbuatanmu yang tiba-tiba ini, jujur saja sama aku!" Damar terlihat begitu murka kepada Arimbi yang malah tersenyum kepadanya tanpa dosa.
"Aku hanya merindukanmu dan ingin bersamamu. Aku tidak tahu kalau ternyata istrimu akan kembali ke mari. Mas, apa kamu tidak merindukan kebersamaan kita yang sudah terjalin begitu lama? Aku tahu kalau kamu sampai saat ini masih mencintaiku. Aku benar kan?" tanya Arimbi dengan penuh percaya diri dan begitu menyesakkan bagi Damar yang selalu kalah debat dengannya.
lanjut thor
lanjut thor