Keyla merasa lelah dirinya selalu di hianati oleh suaminya. Hingga akhirnya dia menjadi wanita yang kuat dan cerdik untuk bisa memberikan pelajaran pada suami dan selingkuhannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vania Putri Syadinda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pelakor tidak tau malu
"Ya ampun, tadi saya kesurupan apaan ya?". Batin Wina.
"Sayang kita makan yuk. Dari tadi perut kamu belum di isi makanan". Ajak Bima dan Wina hanya mengangguknya.
"Awww perut saya sakit Mas". Ucap Wina merintih kesakitan.
"Kamu kenapa sayang? Kita ke dokter ya". Ucap Bima dengan panik.
"Tidak perlu Mas, palingan hanya kram saja. Nanti sembuh sendiri". Lirihnya dengan tangan memegang perutnya.
"Beneran kamu tidak apa sayang? Atau kamu masuk angin atau magh gara - gara belum makan". Ucap Bima langsung keluar kamar untuk mengambil makanan yang tadi sempat di belinya.
"Sayang makan dulu ya, sini Mas suapin". Ucap Bima dengan setia menyendokkan nasi pecel dan mulai menyuapinya.
Setelah makan perut Wina mulai membaik. Bima langsung menyuruhnya tidur untuk beristirahat.
"Mas, ini semua kamu yang mengerjakan?". Tanya Wina setelah bangun dari tidurnya. Dia melihat rumah yang sudah bersih.
"Iya sayang. Masih sakit perutnya?". Ucap Bima dengan khawatir.
"Tidak Mas, saya sudah baik - baik saja".
"Mas terima kasih ya, kamu memang suami siaga". Ucap Wina langsung memeluk suaminya.
Pagi harinya Bima harus berangkat ke kantor. Wina yang sudah menyiapkan segala keperluan suaminya hingga bekal untuk makan siangnya. Bima meminta Wina untuk menyiapkan bekal makan siangnya karena Bima ingin makan masakan istri agar lebih semangat lagi dalam bekerja.
Wina mencium punggung tangan suaminya, dan Bima mencium keningnya. Wina mengantarkan Bima hingga ke depan pintu. Saat Bima sudah menjauh dengan mobilnya, Wina kembali untuk membersihkan piring kotornya.
Tok
Tok
Tok
Wina yang mendengar suara ketukan pintu langsung menuju ke depan untuk melihat siapa yang datang.
Saat membukakan pintu Wina terkejut ternyata Tiara datang ingin menemui suaminya.
"Bima... Bima sayang.. Ini saya beby". Teriak Tiara lalu masuk tanpa permisi.
"Maaf ini rumah orang. Bukan rumah sarang hantu yang bisa teriak - teriak kaya di hutan". Ucap Wina dengan kesal melihat wanita cantik namun tidak mempunyai sopan santun.
"Kamu pasti pembantu di rumah ini kan? Tolong panggilkan calon suami saya". Ucap Tiara dengan sombongnya.
"Kamu lagi cari calon suami?". Ucapnya, Tiara hanya menggangguk dengan tersenyum.
"Calon suami kamu ada tuh di pinggir jalan tadi saya lihat katanya sedang cari kekasihnya yang namanya Tiara". Ucap Wina dengan terkekeh meledeknya.
"Sialan!". Ucap Tiara dengan tangan ingin menamparnya namun gagal di cegah oleh Maya.
Maya datang ingin menjenguk anak dan menantunya. Semalam Bima menghubungi Maya untuk ke rumahnya karena Wina sedang sakit. Tanpa di sangka dari arah luar pintu Maya melihat Tiara ingin menampar menantunya.
"Tante... Apa kabar? Tiara kangen banget sama tante". Ucap Tiara langsung ingin memeluk Maya namun Maya melangkah mundur.
"Kamu untuk apa datang kemari?". Ucap Maya dengan ketus.
"Saya kesini untuk bertemu Bima tante. Saya siap menikah dengan Bima". Ucapnya tanpa tahu malu.
"Sayangnya Bima sudah mendapatkan yang jauh lebih baik dari kamu!". Ucap Maya dengan kesal.
"Maksud tante?".
"Apa kamu tidak lihat yang di hadapan kamu ini adalah menantu kesayangan tante. Istri Bima. Jadi tolong jangan pernah ganggu rumah tangga anak saya!". Tegas Maya.
"Pergi atau saya panggil security keamanan disini!". Usirnya. Tiara yang mendengar hinaan itupun langsung menghentakkan kakinya dengan kasar dan pergi.
Maya langsung memeluk Wina, dia hanya diam tersenyum melihat aksi ibu mertuanya yang membela menantunya dari kejaran pelakor.
"Kamu jangan salah paham sama Bima ya sayang". Ucap Maya dengan lembut.
"Tidak Mah, Mas Bima sudah menceritakan semuanya tentang Tiara". Ucap Wina.
"Bagus lah, jika ada kesalahpahaman di antara rumah tangga kalian. Komunikasilah dengan baik". Ucap Maya memperingatkan, Wina hanya mengangguk.
"Mama kesini kenapa tidak mengabari Wina atau Mas Bima?". Tanya Wina.
"Bima semalam menghubungi mamah,katanya kamu sakit perut. Makanya mamah kesini untuk lihat keadaan kamu". Jawabnya dengan membelai rambut Wina.
"Terima kasih mah sebelumnya. Wina tidak apa-apa kok, semalam hanya kram karena belum makan saja". Ucap Wina.
"Oh ya, mamah kesini sendiri? Papah mana?". Tanya Wina celingukan.
"Tuh papah. Tadi ada urusan sebentar". Jawab Maya.
"Mamah sama papah mau minum apa biar Wina buatkan".
"Papah kopi ya Win". Ucap Fadli.
"Mamah air putih saja sayang". Ucap Maya dengan tersenyum.
Wina segera menuju ke dapur untuk mengambilkan minuman dan cemilan. Saat berada di dapur Wina tak sengaja menginjak kain Lap yang terjatuh hingga dia jatuh terpeleset ke lantai. Tangannya yang sedang memegang nampan itu ikut terjatuh dan kakinya mengenai kopi panas buatannya.
"Aawww panas!". Teriak Wina dengan kesakitan.
Maya dan Fadli yang sedang berada di ruang tengah mendengar teriakan Wina langsung menuju ke dapur.
"Ya ampun sayang. Kenapa bisa jatuh. Pah siapkan mobil kita ke dokter". Suruh Maya dengan panik.
Fadli langsung menyiapkan mobilnya. Maya memapah Wina yang kesakitan, kakinya juga terkena pecahan gelas hingga tercium darah segar.
Fadli langsung mengendarai mobilnya dengan menambah sedikit kecepatannya.
"Pah, cepet dikit pah. Kasihan Wina". Suruh Maya.
Wina hanya merintih kesakitan. Kakinya berdarah dan terkena air panas. Tangannya sedikit terkilir karena menopang tubuhnya saat terjatuh tadi.
"Halo Bima". Ucap Maya menghubungi putranya.
"Ini loh Wina jatuh tadi di dapur. Kamu segera ke Rumah Sakit permata ya". Ucapnya.
Sampai di Rumah Sakit, Wina di tangani langsung dan di bawa menggunakan kursi dorong.
"Wina dimana Pah?". Tanya Bima sudah sampai.
"Di dalam Bim sama mamah". Jawabnya. Bima langsung masuk ke dalam.
"Sayang, kamu tidak apa-apa? Kenapa bisa jatuh?". Tanya Bima dengan panik.
"Wina tidak apa-apa Mas, tadi Wina ceroboh menginjak lap yang terjatuh. Maaf sudah membuat Mas khawatir". Ucap Wina.
"Tidak sayang. Lain kali hati - hati ya. Apa Mas cari pembantu saja?". Ujarnya.
"Tidak perlu Mas. Wina bisa melakukannya sendiri. Ini hanya kecelakaan kecil saja". Jawab Wina dengan merendah.
"Bagaimana dok istri saya?". Tanya Bima.
"Istri Bapak tidak mengalami luka yang serius. Tangannya yang terkilir sudah saya rongen tidak ada hal serius semuanya aman.".
"Ini resep nanti di ambil di bagian farmasi ya Pak. Semoga istrinya lekas sembuh". Terang dokter dengan memberikan secarik kertas untuk obatnya.
Setelah menebus obat, mereka kembali ke rumah. Maya dan Fadli sengaja menginap di rumah Bima karena Maya kasihan melihat menantunya dan ingin membantunya mengurus rumah selama Wina sakit.
"Ayo sayang, Mamah bantu". Ucap Maya memapah Wina.
"Makasih Mah". Ucap Wina dengan jalan perlahan.
Maya dan Bima membaringkan Wina di dalam kamarnya. Lalu Maya pergi ke dapur untuk membuatkan bubur.
"Ini sayang mamah buatin bubur. Di makan ya mamah suapin". Ucap Maya dengan perhatian.
"Maaf Wina merepotkan mamah. Terima kasih karena mamah sudah perhatian sama Wina". Ucap Wina dengan memeluk Maya.
Bima senang melihat kedekatan antara mertua dan menantu selalu baik dalam menjalin hubungan. Dia juga merasa beruntung telah memiliki Wina yang berhati baik.
si Keyla bukannya bljar dri msallu e mlhan tambah bodoh thor pda hal si Keyla jnda