Cecil si wanita lemah ditemukan meninggal di sebuah gudang yang terbakar. Ternyata sebelum gudang dibakar, Cecil sudah diperkosa oleh seorang pemuda tak dikenal. Siapa sangka, Cecil malah terlahir kembali. Cecil memiliki semua ingatan di masa depan dan tubuhnya jauh lebih kuat dari sebelumnya. Cecil pun merencanakan membalas semua teman-teman yang membullynya sampai membuatnya harus meregang nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mizzly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Murung
Cecil
Hari ini aku sangat malas sekali sekolah. Aku merasa sangat kesepian semenjak Egi memintaku untuk menjauhi dirinya. Egi seperti mengusir diriku dan memintaku tak lagi ikut campur dengan urusannya. Apakah karena aku sudah keluar dari lingkaran reinkarnasi makanya Egi tak mau menyeretku lagi ke dalamnya? Kenapa ia tidak minta izin dulu padaku dan memutuskan semuanya sendiri?
Bukan hanya aku yang terlihat murung, Lucy yang sejak kemarin tidak masuk sekolah juga terlihat diam saja. Ia yang biasanya ketus kini malah asyik dengan buku yang ia baca. Kali ini aku tidak mau mengusik Lucy, perasaanku juga sedang tidak baik.
"Gaes, ke kantin yuk!" ajak Lisa pada kami berdua.
Kompak aku dan Lucy menggelengkan kepala. Tak ada keinginan untuk jajan, aku hanya ingin di kelas saja menikmati rasa kesepian yang kurasakan kini.
"Kalian kenapa sih? Kompak banget hari ini murung? Diajak ke kantin enggak mau, dari tadi juga cuma diam saja. Kenapa? Kalian lagi patah hati ya?" tanya Lisa pada kami berdua.
Lagi-lagi aku dan Lucy kompak menggelengkan kepala. Kami tak menjawab Lisa dengan kata-kata melainkan dengan gelengan kepala saja. Untuk berkata-kata pun kami malas.
"Ih, kalian nyebelin banget sih. Ya udah, kalau kalian enggak mau, aku pergi sama Leon saja!" Lisa pergi meninggalkan kami dengan wajah bete.
Aku menghela nafas dalam setelah Lisa pergi. Rupanya Lucy juga melakukan hal yang sama. Kami berdua menoleh dan tersenyum kecil. Tak mungkin aku tidak mengajak Lucy berbicara. Sebagai teman yang baik, aku harus menanyakan bagaimana keadaannya. "Kamu kenapa tidak mau pergi ke kantin sama Lisa?"
"Lagi males," jawab Lucy dengan singkat.
"Tumben banget kamu males. Biasanya, kalau Lisa mengajak kamu ke kantin, kamu tak pernah nolak. Kamu kemarin kemana? Kok enggak masuk sih?" Aku menatap Lucy dengan lekat. Ia yang semula masih mau menjawab pertanyaanku kini terlihat agak risih.
Wajah Lucy terlihat sedikit ketakutan, apa yang telah terjadi padanya? Apakah ia benar-benar ada masalah yang berat? Aku tak bisa menyembunyikan rasa penasaranku. "Kamu kenapa? Mau cerita sama aku? Siapa tahu bebanmu akan lebih ringan kalau berbagi pada orang lain?"
Lucy menggelengkan kepalanya. "Aku tak apa-apa." Ia kembali membaca buku miliknya dan mengacuhkanku.
Aku sangat heran dengan perubahan sikapnya. Dia juga belum makan siang, terlihat dari bekal makanan yang ada di dalam laci mejanya yang masih utuh dan belum ia sentuh. Ada apa ya sama Lucy?
****
Semenjak Egi memintaku untuk menjauhi dirinya dan tak menghubunginya lagi, aku merasa benar-benar kehilangan sosok teman seperjuangan. Egi yang biasanya diam-diam janjian denganku kini tak pernah lagi menampakkan batang hidungnya. Aku bertanya pada Pak Sandi apakah Egi main ke cafe, namun Pak Sandi mengatakan ia tak pernah melihat Egi lagi.
Kemana Egi selama ini? Sayangnya aku hanya tahu rumah singgah yang Egi buat. Aku tak tahu di mana rumahnya. Aku juga tak mungkin bertanya pada Leon, terlalu mencurigakan nantinya.
Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku menuju rumah singgah yang dulu sempat Egi tunjukkan padaku. Rumah singgah tersebut selalu ramai. Banyak keluarga pasien yang sangat terbantu dengan adanya rumah singgah yang dibuat oleh Egi. Mereka tak perlu menyewa rumah kontrakan atau bahkan menginap di hotel ketika mengantar saudaranya untuk berobat di rumah sakit yang terletak tak jauh dari rumah Egi.. Sungguh besar sekali pahala yang akan diperoleh oleh Egi, niat baiknya meringankan penderitaan orang lain pasti sangat disyukuri oleh keluarga pasien.
Melihat kedatanganku, pengurus rumah singgah langsung menghampiriku dan menyapaku. "Eh ada Mbak Cecil. Sendirian aja, Mbak? Mas Egi nggak ikut?"
Loh kok pengurus rumah malah bertanya padaku? Seharusnya aku yang bertanya pada pengurus rumah singgah apakah Egi sudah datang ke rumah singgah ini atau belum? Kenapa malah aku yang ditanya? Aku datang ke rumah singgah ini ingin mencari keberadaan Egi. Sepertinya aku tak akan mendapat jawaban di mana Egi berada. Huft ....
"Iya, aku sendirian saja. Beberapa hari ini, Egi sudah datang belum ke rumah singgah ini, Mas?" Aku balik bertanya. Aku benar-benar harus tahu keberadaan Egi.
"Belum datang, Mbak. Mas Egi cuma transfer uang untuk biaya kebutuhan keluarga pasien. Mas Egi katanya belum sempat datang, malah saya disuruh untuk belanja langsung ke pasar. Biasanya Mas Egi yang suka bantuin belanja kebutuhan rumah singgah ini. Entah Mas Egi sibuk apa sampai tidak bisa datang," jawab pengurus rumah singgah padaku.
Rasanya begitu kecewa tidak mendapati Egi. Aku tentu tidak hanya mencari Egi saja di rumah singgah ini. Aku sudah memesan bahan kebutuhan pokok dan sebentar lagi akan tiba. Rumah singgah ini juga sebagai ladang amal untukku. Uang jajan yang kukumpulkan, bisa aku sumbangkan untuk membantu para keluarga pasien yang membutuhkan bantuan.
Aku pun kembali pulang ke rumah dengan tangan kosong. Kucoba menghubungi Egi kembali namun sayangnya semua itu sia-sia. Panggilan dariku tak pernah diangkat, pesan dariku juga tak pernah ia baca. Egi seolah hilang ditelan bumi.
****
Aku dan Lusi masih terlihat murung selama beberapa hari. Lisa menatap kami dengan sebal karena kami lagi-lagi menolak ajakan Lisa untuk ke kantin. Lisa menghentakkan kedua kakinya dan memanyunkan bibirnya. "Kalian tuh nyebelin! Enggak asik tau! Patah hati kok berjamaah!" Lisa meninggalkan kami berdua dengan kesal.
Aku melirik ke arah Lucy yang nampak tidak baik-baik saja. Lingkaran hitam di bawah matanya seolah menunjukkan kalau ia kurang tidur. Apa yang ia lakukan sampai sering begadang? Apakah ia sedang terlilit masalah yang berat?
Aku berdiri dari tempat dudukku lalu duduk di samping Lucy. Jika kemarin aku hanya bertanya dari tempat dudukku, kini saatnya aku bertanya langsung. Kalau aku sedih penyebabnya sudah jelas, karena kehilangan Egi. Lantas Lucy kenapa? Pasti ada sesuatu sampai Lisa pun ia acuhkan. "Kamu kenapa? Sejak kemarin, kamu diam aja. Biasanya kamu suka ketus sama aku, agak aneh loh melihat kamu begitu diam."
"Kamu yang aneh, aku ketus, kok kamu senang? Ketika aku tidak ketus, kamu malah menagih aku agar lebih ketus sama kamu." Lucy balas menatapku dan kami kompak tersenyum.
"Kamu dan sikap ketus kamu itu seperti satu paket, tidak bisa dipisahkan. Kalau kamu tiba-tiba diam, hatiku merasa ada yang kurang. Kayaknya, aku kurang siraman rohani sikap ketus kamu deh." Sejak tahu kalau Lucy ternyata tidak ikut menjahatiku di masa depan, aku makin yakin untuk mengajaknya berteman.
"Maksudmu, sikap ketus aku itu seperti siraman rohani? Aneh! Kamu makin aneh tau, Cil, tapi entah mengapa aku merasa kalau kamu memang teman yang baik." Lucy berbicara padaku namun tatapannya terlihat kosong.
"Iya dong. Aku 'kan memang teman yang baik. Cerita dong ada apa. Siapa tahu temanmu yang baik ini bisa menolong." Lucy kembali nampak murung. Ia memainkan kuku-kukunya.
Mataku langsung terbelalak saat tak sengaja aku melihat sesuatu. Aku mengucek kedua mataku untuk memastikan apakah benar yang kulihat. Rasanya hampir tidak mungkin hal ini bisa terjadi. Seolah sadar dengan perubahan sikapku, Lucy pun bertanya padaku apa yang terjadi, "Kenapa, Cil? Ada yang aneh?"
"Lucy, kamu harus cerita apa yang terjadi padaku. Aku tahu, kamu dalam bahaya bukan? Please, cerita sejujurnya sama aku!"
****