Dahulu, Yin Xiang hanyalah seonggok sampah tidak berguna dan berasal dari keluarga pengkhianat kekaisaran. Kehadirannya bahkan dianggap sebagai pembawa sial bagi setiap orang. Karenanya, Yin Xiang kerap sekali direndahkan dan disiksa.
Suatu hari, Yin Xiang terjatuh ke jurang neraka tanpa dasar. Di sana, Yin Xiang menemukan serpihan jiwa Dewa Kegelapan dan Yin Xiang ditunjuk sebagai penguasa kegelapan berikutnya. Yin Xiang bangkit dan menjadi orang yang kuat. Yin Xiang bertekad membalas dendam semua orang yang sudah menghinanya serta keluarganya. Selain itu, Yin Xiang harus berhadapan dengan kaum vampir yang mengganggu kehidupan manusia.
Bagaimana kisah Yin Xiang membalaskan dendamnya? Apakah Yin Xiang bisa menghadapi para kaum vampir yang datang mengganggu? Ikuti kisah Yin Xiang dalam cerita 'Kembalinya Sang Pendekar Kegelapan'
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Virisani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Teman Baru
Sesuai keputusan yang diambil Bao Zhin, Yin Xiang kini menjadi murid dari Sekte Halilintar. Bukan tanpa alasan Bao Zhin memilih Yin Xiang sebagai muridnya. Bakat dan kekuatan Yin Xiang sangat mengagumkan. Walaupun Bao Zhin tidak tahu apakah dia masih bisa melatih Yin Xiang, karena kekuatan Yin Xiang sendiri, Bao Zhin takar sudah hampir melewatinya.
Bukan hanya Yin Xiang yang menjadi murid di Sekte Halilintar. Ternyata, Wei Ling juga direkrut oleh Bao Zhin untuk bergabung dengan Sekte Halilintar. Ada juga beberapa anak beruntung lain yang dipilih langsung oleh beberapa tetua Sekte Halilintar. Kini, Bao Zhin, para tetua sekte, murid dan calon murid mulai meninggalkan ibukota. Mereka akan memulai perjalanan untuk kembali ke sekte masing-masing.
Kekacauan di tempat seleksi dialihkan pada pihak kekaisaran. Lebih tepatnya diurus oleh para ketua klan yang ada di sana. Hal ini dilakukan atas perintah dari Kaisar Yu Zhan langsung. Sang kaisar lebih mementingkan para calon murid yang harus segera dilantik secara resmi agar mereka bisa secepatnya mendapat pelatihan di sekte masing-masing.
Yin Xiang sudah siap dengan pakaian warna hitam miliknya. Gadis itu berdiri di samping Wei Ling. Menunggu rombongan Sekte Halilintar lainnya untuk berangkat. Wei Ling menatap intens Yin Xiang. Pemuda itu tengah mengingat apakah dia pernah bertemu dengan gadis di sampingnya ini atau belum. Ingatannya kembali jatuh pada saat dia diserang oleh sekelompok vampir.
“Nona, apakah anda mengingat saya? Anda pernah menolong saya dari sekelompok vampir beberapa waktu yang lalu,” ucap Wei Ling membunuh keheningan di antara mereka.
Yin Xiang melirik sekilas ke arah Wei Ling, “Tentu saya ingat. Anda memberi saya plakat Klan Wei sebagai balas budi. Mana mungkin saya melupakannya.”
Jawaban Yin Xiang entah mengapa membuat sudut hati Wei Ling tergelitik rasa senang. Pemuda itu tersenyum tanpa bisa ditahan, membuat lesung pipi di wajahnya itu timbul. Membuatnya terkesan menggemaskan. Belum sempat Wei Ling berbicara, suara Bao Zhin menginterupsi semua calon murid Sekte Halilintar.
“Mari kita berangkat. Kita berangkat menggunakan kereta kuda,” ujar Bao Zhin. Pria itu memberi isyarat pada salah satu tetua untuk mengatur para calon murid.
Setelah mendapat tempat masing-masing, rombongan kereta kuda Sekte Halilintar pun melaju dalam kecepatan sedang. Pergi menjauhi ibukota Kekaisaran Yu. Letak Sekte Haliintar berada di atas pegunungan di ujung timur kekaisaran. Dinamakan Sekte Halilintar, karena bangunan sekte itu berdiri kerap kali disambar oleh petir. Ciri khas yang hanya dimiliki Sekte Halilintar. Bahkan, kebanyakan murid Sekte Halilintar memiliki kekuatan petir.
Perjalanan dari ibukota kekaisaran menuju sekte, membutuhkan waktu yang lama. Yakni, sekitar tiga hari dua malam. Rombongan Sekte Halilintar tidak singgah di penginapan ketika malam tiba. Melainkan, tinggal di alam terbuka. Mereka mendirikan tenda, berburu untuk makan, dan berbaur dengan alam liar. Hal ini sebagai salah satu latihan agar murid Sekte Halilintar bisa bertahan hidup di dunia luar.
Waktu berlalu dengan cepat. Rombongan Sekte Halilintar sudah tiba di sekte. Mereka disambut meriah oleh orang-orang yang tinggal di sekte selama acara seleksi berlangsung. Yin Xiang turun dari kereta kudanya. Gadis itu nampak memandang sekitar dengan pandangan menilai. Bangunan-bangunan kokoh berwarna merah menyala berdiri menjulang. Bordiran emas sebagai penghias terlihat menawan di setiap dinding bangunan.
Yin Xiang dan calon murid lainnya digiring oleh murid senior untuk beristirahat di paviliun yang telah disediakan. Satu paviliun terdiri dari tiga kamar. Yin Xiang memilih paviliun paling pojok. Paviliun lainnya sudah terisi penuh oleh calon murid lainnya. Dan tidak ada satupun yang mengajak gadis itu untuk berbagi paviliun. Wei Ling sendiri sudah ditarik lebih dulu oleh temannya saat akan mengajak Yin Xiang berbagi paviliun.
Yin Xiang membuka pintu paviliun dengan santai. Membuat dua orang remaja yang sudah ada di dalam sana mengernyit bingung. Dua orang itu menatap Yin Xiang, “Kau siapa? Kenapa masuk ke paviliun kami?”
Suara seorang gadis membuat Yin Xiang membalikkan badannya, “Tidak ada paviliun yang tersisa. Namaku Yin Xiang.”
Si gadis ber-oh ria. Dengan senyum manis terpatri di wajahnya, dia menjawab, “Perkenalkan aku Wen Qian dan pria ini kakak kembarku Wen Tian. Senang bisa berkenalan denganmu, Yin Xiang.”
“Kalian juga calon murid Sekte Halilintar?” tanya Yin Xiang.
“Benar sekali. Aku dengar penyeleksian murid berakhir ricuh karena serangan mendadak para vampir. Apa itu benar?” tanya Wen Qian.
Yin Xiang mengangguk singkat. Gadis itu mendudukkan dirinya di kursi sebrang dua remaja itu. Dia menelisik keduanya dengan tatapan datar andalannya. Yin Xiang merasakan ada aura aneh yang tidak bisa dia jelaskan menguar dari mereka.
“Begitulah. Para vampir itu datang tanpa disadari oleh siapapun. Acara seleksi juga diakhiri karena banyak korban yang berjatuhan,” balas Yin Xiang.
Dua saudara Wen itu saling bertatapan. Raut wajah keduanya terlihat aneh. Seolah mereka tengah menyembunyikan sesuatu dari banyak pihak. Tatapan keduanya juga seolah memberi sinyal satu sama lain. Membuat Yin Xiang semakin menatap sepasang saudara itu dengan intens.
“Banyak korban berjatuhan? Apa mereka semua mati dalam kondisi kering?” tanya Wen Tian.
Yin Xiang menggeleng, “Tidak. Para vampir itu tidak memiliki kesempatan untuk menikmati darah mereka.”
Suasana kembali hening. Ketiganya terlarut dalam pikiran masing-masing. Situasi di tempat seleksi sudah menjadi suatu pertanda bahwa kaum vampir tidak akan diam saja. Setelah sekian lama berada di kejauhan, mereka akhirnya kembali membawa mimpi buruk bagi manusia. Peperangan antara dua kaum ini, mungkin akan kembali pecah di masa depan. Memikitkannya saja, sudah membuat ketiganya pusing bukan kepalang.
“Apa yang membuat mereka kembali menampakkan diri? Bukankah perjanjian perdamaian itu berlaku untuk selamanya?” tanya Wen Qian.
“Pasti ada sesuatu yang berhasil membuat mereka melanggar janji perdamaian. Apakah ini ada kaitannya dengan Giok Nirwana yang sempat menjadi topik hangat beberapa minggu lalu?” Wen Tian balik bertanya.
Sedangkan Yin Xiang semakin mengerutkan dahinya, “Apakah semua orang percaya akan kehadiran Giok Nirwana itu? Lagipula, bagaimana para vampir mengetahui keberadaan Giok Nirwana?”
“Eh, kau tidak tahu? Peperangan yang meletus antara dua kaum ratusan tahun yang lalu juga diakibatkan oleh Giok Nirwana. Lebih tepatnya, mereka saling merebutkan Giok Nirwana. Konon katanya, dulu keberadaan Giok Nirwana dimiliki oleh seorang pertapa hebat. Namun, sekarang entah di mana pertapa itu berada. Dan seiring berjalannya waktu, Giok Nirwana hanya menjadi legenda saja di masyarakat. Hal ini dikarenakan keberadaan Giok Nirwana yang entah berada di mana dan tidak pernah ditemukan,” jelas Wen Tian.
Yin Xiang di tempatnya sedikit menegang. Jari gadis itu mengusap cincin dimensi yang ia kenakan. Tempat di mana ia menyimpan potongan giok yang temannya itu bicarakan. Dalam hati, gadis itu menyusun kepingan peristiwa yang terjadi. Dia ingin mengetahui apakah kematian orang tua dan pembantaian terhadap klannya memiliki kaitan dengan Giok Nirwana atau tidak. Yin Xiang harus mengusutnya kembali.
“Baiklah! Lupakan soal vampir dan Giok Nirwana. Karena sekarang kita berada di satu paviliun yang sama, mari kita berteman!” seru Wen Qian mengalihkan topik pembicaraan.
Wen Tian terkekeh geli melihat sikap adik kembarnya. Sedang Yin Xiang tersenyum tipis mendengarnya.
“Ya, mari kita berteman,” timpal Yin Xiang.
Sisa hari itu, Yin Xiang gunakan untuk bercengkrama dengan dua teman barunya. Pertama kali dalam hidupnya dia mendapatkan teman. Tidak seperti Liu Ming ataupun orang lain yang ia bawa ke Klan Yin. Yin Xiang benar-benar mendapatkan teman pertamanya.
***
saling dukung yukk
mending cetak aja mukamu di koin atau lembaran mata uang
dijamin, semua orang bakal kenal