Kakek Abraham mempunyai cara licik untuk menjodohkan cucu ketiganya sekaligus cucu perempuan satu-satunya, Zemira Pieters.
Ia pura-pura mengajak Zemira taruhan. Taruhannya adalah jika Zemi bisa hidup tanpa fasilitas dari Kakek Abraham selama setahun, maka Kakek Abraham tidak akan lagi memaksa Zemi untuk menikah. Tapi jika Zemi tidak bisa, maka Zemi harus menikah dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Padahal tujuan sebenarnya Kakek Abraham membuat taruhan adalah untuk mendekatkan Zemi dengan laki-laki pilihan Kakek Abraham.
Tapi ternyata laki-laki yang ingin Kakek Abraham adalah laki-laki yang pernah menolak Zemi waktu SMA.
Akankah rencana Kakek Abraham berhasil?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na_Les, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ngerjain Yang Terniat
Beberapa menu makanan sudah tersaji diatas meja.
Dibelakang setiap anggota keluarga berdiri satu pelayan yang bertugas melayani mereka.
Saat pelayan Zander hendak melayani Zander, tiba-tiba Zander menaikkan tangannya sebagai perintah pada pelayan itu untuk tidak melayaninya.
Zemi mengernyitkan keningnya.
Mau apalagi Kak Zan? guman Zemi dalam hati.
Begitu juga dengan Zayden, ia mengernyitkan keningnya sambil berpikir apa yang hendak Zander lakukan.
"Ambilkan itu untuk ku." pinta Zander pada Ravin sambil menunjuk steik.
Zayden menggelembungkan pipinya menahan tawa. Ia tidak menyangka Kakaknya si kulkas sepuluh pintu bisa juga mengerjai Ravin dengan wajah kaku-nya.
Dengan sigap Ravin mengambilkan daging steik untuk Zander.
"Ambilkan aku yang itu tiga sendok saja." Baru juga Ravin meletakkan daging steik di piring Zander, Zander kembali menyuruh Ravin untuk mengambilkan mashroom risoto.
Mata Zemi membulat lebar. Ia nampak tidak terima Kakak pertamanya menyuruh-nyuruh kekasihnya. Seandainya itu Zayden, sudah pasti Zemi protes, tapi berhubung ini Zander, mau tak mau Zemi hanya bisa diam dengan tatapan kesal.
Tanpa banyak tanya Ravin pun mengambilkan tiga sendok mashroom risoto dan meletekkannya ke piring Zander.
"Apa ada lagi Tuan?" tanya Ravin.
"Tuangkan aku wine." jawab Zander.
Dengan sigap Ravin mengambilkan botol wine dan menuangkannya ke gelas Zander.
"Apa ada lagi Tuan?" tanya Ravin lagi.
"Tidak ada." jawab Zander.
Barulah Ravin mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Sebenarnya pelayan yang berdiri di belakang Ravin hendak melayani Ravin, tapi Ravin larang dan akhirnya Ravin mengambil sendiri makanannya.
Makan malam pun berlangsung sangat tegang. Tidak ada satupun yang mengobrol, bahkan Tuan Abraham dan Zayden yang sering memancing emosi Zemi tidak mengeluarkan sepatah kata apapun.
💋💋💋
Akhirnya makan malam yang menegangkan itu pun berakhir. Setelah makan malam berakhir, kelima orang itu pindah ke ruang keluarga.
Biasanya setiap selesai makan pelayan akan menghidangkan makanan pencuci mulut, tapi ini pelayan malah membawa ceker mercon dan satu krat soju.
Mata Zemi membulat lebar.
"Kenapa membawa ceker mercon dan soju? Apa maksudnya ini?" tanya Zemi.
"Tidak ada maksud apa-apa. Kita kan mau mengobrol santai, kalau di Korea mau mengobrol santai pasti selalu menghidangkan soju dan ceker pedas." jawab Zayden.
Gak mungkin! Pasti Kak Zan dan Kak Zay sengaja ingin membuat Ravin mabuk dan bicara sembarangan. Kata orang, orang mabuk biasanya bicara jujur. Gumam Zemi dalam hati.
"Tapi kita kan bukan di Korea, Kak!" protes Zemi.
"Siapa bilang?" tanya Zayden balik lalu menjentikkan jarinya memberi kode pada pelayan.
Pelayan pun menyalakan proyektor dan seketika ruang tengah itu pun bernuansa Korea.
Mata Zemi membelalak lebar.
Woah, terniat! gumam Zemi dalam hati.
KLAAK. Tiba-tiba terdengar suara tutup botol yang terbuka. Sontak semua mata menoleh kearah Zander yang sedang membuka botol.
"Apa kau bisa minum dan makan ini?" tanya Zander pada Ravin.
Zemi melirik Ravin dan menggeleng-gelengkan kepalanya meminta Ravin untuk menjawab tidak.
Sayangnya Ravin tidak menghiraukan kode dari Zemi.
"Bisa." jawab Ravin.
Zemi menghela nafasnya kasar.
Habis lah sudah! pasrah Zemi dalam hati.
"Duduklah kalau begitu." perintah Zander.
Ravin pun duduk di sofa yang berhadapan dengan Zander. Begitu juga dengan Zayden yang duduk disebelah Zander, Tuan Abraham duduk di single sofa dan saat Zemi hendak duduk di sebelah Ravin, Zander langsung memberi tatapan tajam pada Zemi dan menyuruh Zemi duduk di sofa yang lainnya yang masih kosong. Mau tidak mau Zemi pun duduk di sofa kosong yang lain.
Zander pun mengambil sebotol soju dan membuka tutupnya lalu memberikan botol itu pada Ravin.
"Apa pekerjaan mu?" tanya Zander pura-pura tidak tahu latar belakang Ravin.
💋💋💋
Bersambung...
😂😅
lucu bangat thoor
menarik sekali karya mu ini
aku sangat suka