Ini adalah kisah tentang Fredrick Von Heisenberg. Sejarah mencatat namanya dengan banyak julukan dan gelar. Sang penakluk, yang agung, si penjagal, tiran, bahkan pahlawan. Kejahatan apa yang membuat Fredrick mendapat julukan sang penjagal dan tirani? Kebaikan hati macam apa yang membuat Fredrick dijuluki sebagai pahlawan. Sekali lagi, ini adalah kisah Fredrick dan perjalanan hidupnya. Mari kita ikuti petualangannya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mawangsyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The Brave
Di lingkungan kastil Heisenberg, ada banyak bangunan besar yang tidak begitu terpakai. Dan di antara banyak bangunan itu, ada sebuah bangunan yang digunakan oleh Fredrick sebagai tempat pribadinya untuk melakukan apa pun yang dia sukai. Bangunan itu cukup besar. Setidaknya terdiri dari 6 ruangan yang memanjang, membentuk lorong. Hanya ada satu lantai, tetapi bangunan ini memanjang dan melebar.
Di salah satu ruangan itu, Fredrick sedang menjalani latihan fisiknya. Carla melarang dirinya untuk berlatih secara berlebihan. Meskipun kalau Fredrick berusaha menyanggah kalau latihan yang ia jalani sama sekali tidak berlebihan, tetap saja ibunya akan melarang. Di mata Carla, latihan fisik yang selama ini putranya jalani di bawah pengawasan Paul adalah latihan yang sangat berlebihan.
Fredrick melakukan gerakan-gerakan seperti push up, pull up, squat, dan berbagai gerakan lainnya. Hanya saja, dia memperbanyak jumlahnya. Jika biasanya dia melakukan 100 kali per gerakan, maka dia menjadikannya 200 kali sebagai kompensasi atas latihan yang tidak bisa dia lakukan.
Bagi Fredrick, itu hanya pemanasan. Karena setelahnya, dia beralih ke olahraga lainnya, yaitu angkat beban. Beratnya bermacam-macam. Tetapi setidaknya Fredrick mengangkat beban dengan berat paling ringan 20 kilogram. Sementara kali ini, dia mencoba mengangkat beban seberat 50 kilogram. Dia melatih seluruh otot tubuhnya. Lengan, bahu, dada, perut betis, paha, dan seluruh bagian yang bisa dia latih. Hasilnya, dia memiliki postur badan terbaik di antara anak seusianya.
Setelah menyelesaikan latihannya, Fredrick menyeka seluruh keringat di tubuhnya dengan selembar handuk. Badannya menjadi lebih segar dan tubuhnya terasa lebih jernih. Bahkan tanpa menggunakan sihir penyembuh, rasa lelah dari tubuhnya dengan cepat menghilang karena kemampuan beradaptasinya yang tinggi.
Fredrick tidak banyak menghabiskan waktu. Setelah dia merasa kalau energinya sudah cukup terkumpul, dia beranjak ke ruangan lainnya. Sebuah ruangan yang menjadi tempat eksperimen sihir Fredrick.
Pada dasarnya, tempat ini terdiri dari ruangan aula luas yang tidak memiliki begitu banyak barang. Hanya ada target tembak untuk sihir, rak besar yang menjadi koleksi buku sihir, dan beberapa peralatan sihir yang Fredrick butuhkan untuk menguji coba kekuatan sihirnya.
Dia mengarahkan jari telunjuknya ke target. Petir berwarna hitam memercik jemarinya. Fredrick melepaskan petirnya ke arah target, mengenainya dengan telak dan menyebabkan ledakan yang cukup besar. Target itu terlihat hancur setelah asap yang berasal dari ledakan dan debu di sekitarnya mulai terangkat. Tanah yang berada di bawah target itu juga hancur. Menciptakan lubang menganga yang cukup besar.
Akhir-akhir ini, Fredrick belajar untuk menggunakan mananya menjadi lebih efisien namun tidak mengurangi daya tembak dan daya hancurnya. Itu dia lakukan setelah pengalaman pertamanya melawan iblis. Dia merasa mana yang dia gunakan terlalu besar untuk damage yang tidak seberapa. Dia memang bisa membunuh iblis itu. Namun dirinya tidak puas. Beruntung, ia hanya melawan satu iblis. Jika dia melawan 10 iblis dengan kekuatan yang sama, dia mungkin telah kalah sebelum berhasil membunuh mereka semua.
Fredrick menerka-nerka kekuatannya. Jika dia tidak mengubah cara dirinya menggunakan mana, dia mungkin dapat menghabisi tujuh iblis dengan kekuatan setara. Karenanya, ia harus memastikan bahwa kemampuannya melampaui para iblis.
Tentu, Fredrick juga memahami bahwa dalam sebuah pertarungan, kekuatan saja tidak cukup. Seseorang juga butuh kecerdasan dalam meramu strategi untuk memenangkan sebuah pertarungan. Ada banyak kasus dimana lawan yang lebih lemah dapat mengalahkan yang lawan lebih kuat karena mereka berhasil meng-utilisasi kemampuan mereka yang lebih lemah dengan memanfaatkan situasi di sekitar nya. Itulah kenapa, dia tidak lengah pada saat pertarungannya melawan seseorang.
Dia mengarahkan serangannya pada target lain. Hasilnya juga sama. Target itu hancur bersama dengan tanah di sekelilingnya. Fredrick terus mencobanya. Tidak hanya petir, ia juga menggunakan elemen lain seperti api, tanah, es, dan berbagai atribut lainnya. Tanpa dia sadari, penggunaan mananya menjadi lebih efisien. Bentuk manipulasi elemen yang dia kendalikan semakin beragam. Dan yang terpenting, daya tembak dan daya hancurnya semakin mematikan.
Fredrick terus melatih sihirnya hingga ruangan tersebut benar-benar nyaris hancur.
...****...
Sementara itu, di negeri manusia yang lain, sekelompok iblis berjumlah sembilan sedang berkumpul. Mereka duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Mengapa iblis sebanyak itu dapat berkumpul tanpa khawatir pergerakan mereka terdeteksi?
Itu karena mereka berada di negeri manusia yang berada di tepi jurang kehancurannya. Sebuah kerajaan kecil di tempat yang tidak strategis. Bahkan negeri lain tidak berminat untuk menguasainya karena wilayahnya Terisolir. Tanahnya gersang dan tandus, bangsawannya sewenang-wenang, raja tidak lagi memiliki kekuatan. Kondisi mereka benar-benar di ujung tanduk.
Dari kesembilan iblis itu, salah satu dari mereka mulai membuka mulutnya. "Aku benci untuk menanyakan ini kepada kalian. Tapi apakah Dorjan benar-benar mati?"
Merespon pertanyaan itu, iblis lain membalas. "Tidak salah lagi, dia telah mati. Kau sendiri merasakannya, Hoga."
Iblis bernama Hoga itu merenung sesaat. Dilihat dari tampilan fisiknya, dia adalah iblis yang berasal dari ras yang sama dengan Dorjan. Tinggi tubuh lima meter, memiliki sayap kelelawar berwarna hitam di belakang punggungnya, dan taring yang menyembul keluar. Karakteristik yang sama persis dengan Dorjan.
"Tidak bisa dipercaya. Dorjan adalah salah satu yang terkuat di antara kita. Dia seorang diri mampu menghancurkan kerajaan kecil seperti ini. Apakah mungkin dia terlalu bersantai?"
"Mungkin saja. Aku tidak yakin ada iblis yang mampu dikalahkan tanpa terendus oleh kita. Tetapi ini benar-benar aneh. Kita tidak tahu kapan pertarungan antara dirinya dan musuhnya terjadi. Yang kita tahu hanyalah energi kehidupan miliknya tiba-tiba hilang."
Iblis bernama Rokan menimpali Hoga. Bentuk fisiknya tidak jelas karena ia membalut tubuhnya dengan jubah dan tudung di kepalanya.
"Apa itu ada kaitannya dengan kelahiran seorang [Brave]? Tapi seharusnya mereka masih terlalu muda untuk melakukan hal gila semacam itu."
[Brave], seseorang yang ditakdirkan untuk membunuh raja iblis. Alasan mengapa para iblis datang ke dunia manusia. Mencari seorang [Brave] dan menghabisi mereka sebelum mencapai kekuatan puncaknya. Atas perintah raja iblis, mereka memburu [Brave] ke seluruh negeri umat manusia.
"Tidak, itu benar-benar tidak menutup kemungkinan. Selama ini kita menghancurkan desa-desa dan kota-kota kecil umat manusia namun keberadaan mereka sama sekali tidak dapat diketahui."
Kota dan desa kecil merupakan ciri khas kelahiran seorang [Brave]. Itulah bekal informasi yang mereka bawa dari dunianya sebelum pergi ke dunia manusia.
"Kita tidak bisa melakukan banyak hal mengenai kematian Dorjan. Tidak ada waktu untuk berduka. Kita harus tetap mencari dan menemukan bibit-bibit [Brave] sebelum mereka sempat mekar. Rokan, dimana posisi Rojan terkahir kali dia berada?"
Rokan berusaha mengingat. "Setahuku di kerajaan manusia bernama Vitsula. Di sebuah wialyah bernama Heisenberg."
"Kalau begitu pergilah ke sana. Bawa Jaras bersamamu. Selidiki kematian Dorjan. Hanya itu yang bisa kita lakukan untuknya." Seorang iblis bernama Jaras mengangguk disana.
Para iblis memulai kembali perburuan mereka untuk menghancurkan bunga yang sedang tumbuh bernama [Brave].
tinggal typo sama penempatan kata yg kadang masih ga sesuai...
overall mantabs...