Tidak bertanggung jawab kalau baper, nangis, berkata kasar terus senyum-senyum sendiri.
Jika perlu cek tensi sebelum membaca.
Happy reading ❤️
Tujuan mulia dan tulus yang Khanaya berikan di salah artikan oleh sahabatnya.
Semua sudah terjadi, bukan sekali! Tapi tak terhitung kebaikannya, menjaga anak serta mengurus suami sang sahabat sudah dilakukan Khanaya bertahun-tahun. Tulus tapi diragukan.
Pria yang merasa terabaikan mulai melihat pada Khanaya.
Jatuh hati pada sahabat Istrinya.
Lantas siapa yang layak di salahkan?
Hati Huston?
Ataukah Qilla yang secara tidak langsung mendorong Khanaya masuk dan membuat suami serta anaknya nyaman?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Yunus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Limpahan kasih sayang
Larut itu yang Khanaya sadari bersyukur ketukan pintu membuat Huston melepaskan pangutan bibir mereka.
Kepala Dewi menyembul begitu Huston membukakan pintu.
"Ada mantan istri mu,"
Mau ngapain?
********
"Temui dia."
"Kamu tidak ikut turun?"
"Aku belum siap, Mas" jujur Khanaya. Ia tidak ingin mengotori tangannya, setidaknya dengan tidak melihat wajah Qilla dia tidak kembali emosi.
Huston diam, matanya menelusuri riak wajah istrinya.
"Mas nggak mau temui dia kalau kamu tidak ikut " tutur lelaki itu.
"Tolong ngertiin perasaan ku, Mas"
Huston mengusap kepala istrinya. Memaklumi perasaan Khanaya yang sedang berusaha ridho dengan keadaan ini.
Huston turun dengan berat hati. Disana sudah ada Qilla yang duduk di samping seseorang yang tidak huston kenal, dan satu orang lagi yang dia ketahui sebagai sekretarisnya sementara ibunya duduk dengan wajah suram dihadapan mantan istrinya.
Begitu Huston duduk sebuah informasi tentang kejadian itu di bahas oleh pria yang memperkenalkan diri sebagai penanggung jawab hotel tempat kejadian hari jahanam itu.
Selama pria itu menjelaskan, tak sedetikpun Qilla berani mengangkat wajahnya.
"Aku takut gagal untuk kedua kalinya."
Lagi, air mata Qilla menyeruak di sudut mata. Melihat mantan suaminya yang menatap kosong ke depan tanpa melihat lebih dalam netra lelaki tersebut.
Baru kali ini melihat Huston duduk terpekur merenung kisah yang juga melibatkan dirinya. Biasanya kalau ada masalah Huston terlihat tenang. Namun lihat sekarang, apa yang dilakukan Huston. Ia hanya duduk tanpa memperhatikan sekitar.
Sekarang kehidupan lelaki itu sangat berbeda. Ia seperti kehilangan semangat hidupnya. Qilla menyadari perubahan signifikan mantan suaminya. Ikut berdoa agar kehidupan lelaki itu kembali baik-baik saja.
"Puas, kamu?"
Aura Dewi menggelap seiring dengan lelehan air matanya.
Sekarang semua keputusan ada pada Khanaya.
Mendengar tarikan napas yang panjang dan berat dari putranya Dewi tahu ini sangat membebani putranya.
********
"Bagaimana?"
Pertanyaan itu langsung ditanyakan oleh Khanaya. Dia memang tidak mau turun tapi bukan berarti dia tidak penasaran.
"Berita itu sudah meluas," Huston menarik napas dalam-dalam sebelum melanjutkan ceritanya."Tentunya dampaknya tidak hanya pada citra baik tapi banyak pihak yang menarik saham karena tidak ingin bekerja sama dengan pria brengsek sepertiku, yang paling penting dari semua pihak menghakimiku dan memintaku menikahinya."
Allah kenapa sakit sekali hati Khanaya.
"Aku tidak mau berbagi, jika memang harus seperti itu maka kembalilah pada Qilla, kirimkan aku surat yang sudah bertanda tangan."
Tubuh Huston membeku, darahnya seolah berhenti mengalir. Tumpuan titik kelemahan diserang bertubi-tubi.
Huston, lelaki itu. Seperti kehilangan arah. Lelaki yang sudah jatuh cinta pada Khanaya. Dan kini prahara sedang menggoncang rumah tangganya dengan Khanaya.
"Aku tidak bisa," tegas Huston yang sudah berada di belakang tubuh istrinya, terus melangkah ingin mendekat.
"Maaf. Aku tidak bisa berbagi. Kembalilah pada dia yang masih menginginkan Mas. Sekalipun di hatiku sudah ada nama mu, aku akan belajar menghapusnya."
Khanaya keluar, meninggalkan lelaki itu dalam malam mengukir warna gelap di langit Jakarta. Meninggalkan tanda tanya, kecewa dan rasa yang sudah terluahkan pada Huston.
Cukup, ia tidak ingin larut. Bongkahan batu besar menghantam dada meremukkan segala rasa dan membuatnya habis tak tersisa. Langit malam Jakarta menjadi saksi, tangis menyayat kalbu wanita yang sudah memiliki rasa pada suaminya.
Sementara Huston terpengkur ditempat nya, terlalu kecewa pada takdir.
********
Khanaya dipeluk oleh ketiga saudaranya. Tidak menyangka masalah yang menimpa suaminya di perhatikan banyak pihak. Bahkan Kakaknya turut serta membawa Kaka iparnya untuk menangani kasus tersebut.
"Abang mu memastikan bahwa mereka tidak melakukan hubungan intim, tidak ditemukan adanya bekas ataupun aroma yang patut di curigai."Darene memeluk Khanaya.
Baru membina rumah tangga adiknya sudah di uji dengan cobaan yang cukup barat.
Aarav memberi semangat, sebagai adik baru kali ini Aarav melihat kakanya menangis. Dia ikut geram dengan seseorang yang sudah mempermainkan hati kakanya.
Sementara Melly dia hanya bisa memberikan dukungan dengan pelukan hangat. Si bungsu Bram baru masuk kuliah belum terlalu paham dengan urusan rumah tangga.
Darene kembali merengkuh tubuh yang bergetar itu. Adiknya sepertinya baru pertama kali merasakan jatuh cinta.
"Temui Huston. Dukung dia. Ridho seorang istri ada pada suaminya. Selama ini kamu mengenal lelaki itu, apa tidak ada kepercayaan untuk nya meski sedikit? Bukan hanya kamu yang sulit, diapun sama, percayalah saat ini suamimu sedang sangat kacau."
Menyeka air mata. Khanaya bangkit. Ia merasa di tampar dengan kesadaran, benar kata kakanya, saat ini Huston lah yang paling terpuruk.
Perlahan Khanaya membawa mobilnya kembali kerumah Dewi.
Saat memasuki rumah jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.
Perlahan wanita itu membuka pintu rumah, kepalanya yang semula menunduk terangkat melihat ibu mertuanya duduk bersimpuh di atas lantai.
"Ibu..."
"Jangan tinggalkan Huston Khanaya." pinta Dewi dengan mata yang kembali basah.
Dada Khanaya bergetar, betapa banyak hati yang ikut terluka melihat hubungannya dengan Huston hancur, dengan perasaan campur aduk Khanaya melangkahkan kakinya menuju kamar mereka tepatnya kamar yang ada Huston disana.
Khanaya menyerahkan semua pada Kaka iparnya, wanita itu seorang pengacara handal dan bisa diandalkan, kasus ini meskipun dibawa ke ranah hukum Huston tidak akan mendapat kecaman publik, namanya akan kembali pulih itu yang Khanaya yakini.
Saat Khanaya masuk kedalam kamar dia melihat Huston yang merebahkan tubuhnya di atas sofa.
Mata itu tertutup. Satu tangannya diletakkan di atas dahi. Saat Khanaya ingin memindahkan tangan itu dia merasakan suhu tubuh suaminya. Hangat, itu hawa yang dirasakan pertama kali menyentuh dahi suaminya. Ketika tangannya memijit bagian pelipis, ibu jarinya tidak sengaja menyentuh titik bening di sudut mata Huston.
Sejenak ia tertegun dan memperhatikan wajah suaminya.
"Lupakan semua tentang mas, setelah Tuhan mengambil kembali ruh yang hina ini."
Dada Khanaya sesak mendengarnya. Bahkan lelaki itu tak kunjung membuka matanya.
"Cari yang lebih baik, setelah Izrail mengambil jiwa ini."
Khanaya merasa perutnya kram, menahan sesak dan sakit bersamaan.
"Tapi sebelum itu, jangan pernah berpikir untuk meninggalkan mas, karena selama nyawa masih bersama raga aku tidak akan pernah mau menceraikanmu."
Akhirnya mata itu terbuka, menangkup wajah Khanaya yang juga basah.
Biarlah rasa mulai mengembun. Akan ada cahaya mentari yang menghangatkan kebekuannya ibarat hati yang sudah retak akan sembuh dengan cinta yang tulus.
Air mata Dewi semakin deras saat melihat anak dan menantunya dari cela pintu kamar yang sedikit terbuka. Do'anya tak pernah surut untuk kebahagiaan sang putra.
Dia sendiri juga sedang menyelidiki kejadian yang menimpa putranya.
Banyak kekuatan bersatu untuk membantu Huston keluar dari masalah.
Huston dan Khanaya berasal dari keluarga yang cukup memiliki pengaruh, mengurus kasus Huston sepintar apapun orang menyembunyikan fakta perlahan dalang dibalik musibah itu diketahui.
Lucunya tidak ada nama Qilla di sana, salah satu yang familiar adalah Aksa pria muda yang menjabat sebagai direktur sekaligus pemilik hotel dimana Huston dan Qilla dipergoki sedang bergumul.
klo khanaya menuruti kata orang tua dan pergi sejauh manapun...bila mereka berjodoh,pasti bersatu juga..
serahkan semua pada yg punya hidup...
saranku...mantqpkan hati..tinggalkan sahabat ga ada akhlakmu itu..biarkan dia selesaikan mslhnya sendiri...wanita egois sprti qilla tdk layak menjadi sahabatmu