Perempuan mana yang tidak bahagia mempunyai suami baik, mapan, dan kaya raya? Itulah yang yang dirasakan Namira di hari pertama pernikahannya.
Awalnya semua berjalan lancar. Namun, fakta mengejutkan membuat Namira harus mengubur jauh-jauh harapan itu.
Jatah Mantan!
Itulah trend masa kini, dimana Namira harus memberikan jatah kepada mantan untuk menutupi aibnya di masa lalu, dan tepat di malam pertama, Namira baru mengetahui kalau kesalahan bodohnya menghasilkan setitik nyawa di dalam perut.
Bagaimanakah reaksi suami Namira saat mengetahui hal itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anarita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tamu Tak Diundang
Namira sudah menentukan dua tempat yang akan ia tinggali setelah pergi dari rumah Saga. Dia juga sudah menyiapkan surat untuk ayahnya supaya lelaki tua itu tidak khawatir jika ia pergi. Surat itu akan ia kirim setelah dirinya kabur nanti.
Seperginya Saga ke kantor, Namira langsung menyiapkan barang-barang yang akan ia bawa pergi. Namira baru saja hendak melangkah pergi saat bell pintu tiba-tiba berbunyi nyaring sekali.
"Ya ampun, siapa lagi itu?" Gemetar-gemetar takut Namira keluar kamar setelah menyembunyikan tas bawaannya ke kolong meja kembali.
"Apa itu Ivan?" Namira bergumam saat berjalan menuju pintu. Selalu saja ada hal yang membuat rencananya berantakan.
Namira tak langsung membukakan pintu dan hanya berdiri di depannya. Dia tampak ragu saat hendak membuka pintu tersebut. Namun pada akhirnya tangan gemar itu memutar handle secara naluriah.
"Ayah?"
Tubuh Namira rasanya ingin merosot ke bawah saat melihat ayah kandungnya berdiri di depan pintu sambil memasang wajah cemas.
Lutut Namira terasa lemas. Ia nyaris saja terhoyong ke belakang andai tidak ditopang oleh dua tangan sang Ayah yang sigap menangkap tubuhnya.
"Ya Tuhan Namira. Apa kau sedang sakit? Pantas saja semalam ayah tidak bisa tidur karena memikirkanmu. Firasat ayah begitu kuat, makannya begitu matahari terbit Ayah langsung pergi ke sini," ujarnya.
Lelaki tua itu membantu Namira berjalan ke arah sofa. Keduanya duduk di sana. Pak aksan sedikit terkejut saat menyentuh lengan sang putri. Seperti Namira jauh lebih kurus dibanding sebelum menikah.
"Maafkan aku, Ayah."
Namira tiba-tiba terisak. Sekuat tenaga dia berusaha menahan air mata, tapi nyatanya cairan bening itu melesak keluar seiring wajah Ayah yang menyita pandangannya.
"Namira, sebenarnya ada apa? Apa yang terjadi padamu," tanya Ayah. Tatapan pria tua itu semakin bingung melihat sikap aneh putrinya.
Beliau memegang dahi Namira. Suhu tubuhnya normal. Yang artinya Namira tidak sakit pada bagian fisik. Mungkin dia sedang terluka pada bagian lain, pikir Ayah.
"Ada apa Namira? Ayo cerita pada Ayah. Kau masih menganggap bapak tua ini adalah ayahmu, 'kan?"
Mendengar itu, Namira malah makin menjerit tak kuasa. Akhirnya Pak Aksan merengkuh tubuh perempuan itu dalam pelukannya. Ia mengusap-usap pundak Namira naik turun supaya perempuan itu lebih tenang.
"Tenanglah Namira, ada Ayah di sini. Apa pun yang terjadi Ayah pasti akan ada di belakang putri ayah," ujarnya.
"Meskipun aku salah?"
Namira melepas pelukannya. Dia menatap sang Ayah masih dengan air mata berderaian.
Alis Pak Aksan sedikit tertaut mendengarnya. Buru-buru ia memasang wajah hangat supaya putrinya mau lebih terbuka.
"Meskipun kau salah, itu tidak akan membuat status kita sebagai ayah dan anak menjadi luntur. Apa pun yang terjadi kau adalah putri tercinta yang paling Ayah sayangi."
Perempuan itu menelan ludah. Dia berusa membuka suara. Tapi tenggorokannya tercekat begitu saja.
"Berceritalah, Namira. Apa semua itu ada hubungannya dengan rumah tanggamu? Saga menyakitimu?" tebak sang Ayah.
Kepala Namira menggeleng pelan. "Bukan Saga yang menyakitiku, tapi aku yang menyakitinya, Yah."
"Hmmm. Apa yang terjadi?" tanya Ayah hati-hati.
Kepala Namira tertunduk, pelan. Dia mengusap perutnya sebanyak tiga kali, lalu menarik napas sepanjang mungkin sebelum membuka suara.
"Anak ini ... Sebenarnya dia bukan anak Mas Saga."
"Apa kau bilang?" Ayah sedikit memekik.Telinganya berdengung seolah apa yang tadi didengarnya bukan kenyataan.
"Namira, coba katakan sekali lagi, ayah tidak salah dengar, 'kan?"
Lelaki tua itu bertanya dengan suara parau yang terdengar sedikit bergetar.
Tangis Namira kembali pecah melihat ekspresi sang Ayah. Dia menggeleng masih dengan tangan yang memeluk bagian perut.
"Tidak, Yah! Ayah tidak salah dengar. Anak ini memang bukan anak Mas Saga. Aku hamil dengan lelaki lain sebelum menikah dengannya."
"Ya Tuhan Namira." Ayah menggeram sambil menjambak rambutnya sendiri. Sudut hatinya terasa ngilu mendengar semua itu. "
"Ayah pikir Ayah sudah menjadi seorang bapak yang baik untukmu. Ternyata Ayah terlalu besar kepala! Nyatanya Ayah hanyalah segelintir orang tua lalai yang tidak bisa menjaga anaknya," ujar lelaki tua itu meratapi nasib.
Tubuh Namira langsung merosot. Dia bersimpuh tepat di depan kaki ayahnya.
"Maafkan aku, Ayah. Ini semua salahku. Anakmu yang hina ini sama sekali tidak pantas memiliki ayah sebaik engkau."
Namira pun mencium kaki sang Ayah. Dari atas Ayah dapat merasakan kakinya yang mulai basah oleh air mata anaknya