NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:946
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Bertemu Lagi, Lagi dan Lagi

Keesokan paginya, Almira Valencia Pradipta terbangun dengan satu tekad sederhana yang terpatri kuat di kepalanya.

Sebuah resolusi harian yang rasanya lebih penting daripada memenangkan tender proyek mana pun minggu ini.

Ia tidak ingin melihat wajah Reynard Arsenio Mahardika.

Setidaknya untuk dua puluh empat jam ke depan.

Setelah insiden memalukan di area parkir VIP kemarin siang, disusul dengan kemunculan sebuah video amatir berdurasi tiga puluh detik yang mendadak viral di media sosial, hidup Almira berubah menjadi sirkus.

Ponselnya tidak berhenti bergetar hingga lewat tengah malam.

Puluhan pesan masuk dari teman-teman sosialitanya yang sebagian besar berisi tautan video tersebut lengkap dengan emoji tertawa sukses membuatnya menjadi bahan candaan nomor satu.

Almira merasa dirinya sangat berhak mendapatkan satu hari yang tenang.

Satu hari yang damai tanpa pria arogan berkemeja necis itu.

Satu hari tanpa harus membaca komentar netizen maha benar yang tiba-tiba alih profesi menjadi peramal jodoh online.

Satu hari saja tanpa mendengar nama belakang "Mahardika".

Namun sayang seribu sayang, semesta tampaknya sedang memiliki selera humor yang sangat buruk.

Dan hukum Murphy selalu berlaku, apa pun yang bisa berjalan salah, maka ia akan berjalan salah.

Indonesia Future Business Summit masih berlangsung hingga hari kedua.

Sebagai satu-satunya pewaris takhta Pradipta Corporation, Almira tidak memiliki kemewahan untuk membolos dan bersembunyi di bawah selimut kamarnya yang nyaman.

Apalagi, jadwal hari ini diisi oleh beberapa sesi panelis yang berhubungan langsung dengan proyek pengembangan teknologi kecerdasan buatan (AI) yang sedang digarap serius oleh divisinya.

Dengan langkah mantap, dagu terangkat, dan sepasang high heels setinggi sembilan sentimeter yang mengetuk lantai marmer dengan irama tegas, Almira memasuki lobi Hotel Grand Aurora.

Suasana pagi itu jauh lebih riuh dan padat dibandingkan hari pertama.

Para eksekutif muda dan senior berpakaian formal memenuhi area registrasi.

Awak media dari berbagai portal berita bisnis maupun hiburan terlihat berlalu-lalang dengan kamera-kamera besar yang sudah siaga di berbagai sudut strategis.

Baru berjalan beberapa meter melewati pintu pendeteksi logam, Almira mulai merasakan ada sesuatu yang ganjil.

Atmosfer di sekitarnya mendadak berubah.

Beberapa orang yang sedang memegang cangkir kopi tiba-tiba menghentikan percakapan mereka.

Sepasang mata, lalu lima pasang mata, dan dalam sekejap, hampir semua orang di koridor itu mulai memperhatikannya.

Bukan sekadar tatapan kagum yang biasa ia terima sebagai seorang Pradipta.

Melainkan tatapan menyelidik. Mereka memperhatikan penampilannya dari ujung rambut hingga ujung kaki, lalu saling menyenggol lengan satu sama lain, berbisik di balik telapak tangan, dan kemudian... tersenyum penuh arti.

"Aneh," gumam Almira pelan, merapatkan blazer putih designer yang ia kenakan untuk menyembunyikan rasa tidak nyamannya.

Ia mempercepat langkah, mencoba mengabaikan kasak-kusuk tersebut.

Namun, saat melewati barisan sofa lobi, potongan-potongan kalimat yang lolos dari bisikan orang-orang mulai tertangkap oleh indra pendengarannya.

"Eh, lihat. Itu dia, kan?"

"Ah, benar! Wanita yang viral di TikTok kemarin siang!"

"Iya, yang mengamuk di parkiran VIP karena slotnya direbut. Astaga, aslinya jauh lebih cantik ya?"

"Tapi galak juga kalau melihat video kemarin..."

Almira langsung memejamkan mata sejenak, menahan rintihan frustrasi yang nyaris lolos dari tenggorokannya.

Tentu saja.

Video sialan itu. Bagaimana bisa ia sempat berpikir bahwa orang-orang di seminar bisnis kelas atas seperti ini tidak akan peduli pada gosip media sosial?

Sialnya, ia hampir melupakan fakta bahwa netizen Indonesia memiliki kemampuan melacak setingkat agen rahasia.

Dengan kepala sedikit tertunduk dan fokus penuh pada koridor di depannya, Almira mempercepat langkah menuju ballroom utama tempat acara akan dibuka.

Ia hanya ingin tenggelam di kursi baris depan dan berpura-pura menjadi patung.

Namun, tepat saat ia melintasi pintu ganda ballroom yang terbuka lebar, langkah kakinya mendadak terkunci di lantai.

Di area media lounge bagian depan, sebuah kerumunan wartawan tampak sedang mengelilingi seseorang.

Di tengah-tengah jepretan lampu kilat dan sodoran mikrofon, berdiri sosok pria yang sejak subuh tadi ingin Almira hapus dari memorinya.

Reynard Arsenio Mahardika.

Pria itu sedang berada di tengah-tengah sesi wawancara eksklusif dengan beberapa media bisnis terkemuka.

Pagi ini ia mengenakan setelan jas abu-abu gelap dengan potongan tailored yang pas membungkus tubuh tegapnya.

Sebuah jam tangan mewah melingkar di pergelangan tangannya, berkilau setiap kali ia menggerakkan tangan untuk mempertegas ucapannya.

Ekspresi wajahnya begitu tenang atau lebih tepatnya, menyebalkan di mata Almira.

Ia menjawab setiap pertanyaan pelik tentang makroekonomi dan investasi digital dengan begitu santai, mengalir, dan seperti biasa, terlampau percaya diri.

Almira langsung memutar tubuhnya seratus delapan puluh derajat.

Tidak. Tidak akan. Aku tidak akan mendekat ke radius sepuluh meter dari pria itu hari ini. Tidak mungkin.

Sementara itu, di bawah sorotan lampu kamera, Reynard baru saja menyelesaikan jawaban panjangnya mengenai proyeksi pertumbuhan ekonomi kuartal ketiga ketika salah satu wartawan senior dari sebuah media digital tersenyum dengan binar jenaka di matanya.

"Pak Reynard," panggil wartawan itu.

"Ya?" Reynard menanggapi dengan senyum profesional, meski insting bisnisnya yang tajam mendadak menangkap sinyal bahaya.

Biasanya, nada suara seperti itu tidak pernah berakhir dengan pertanyaan yang menyenangkan.

"Kami sebenarnya memiliki satu pertanyaan terakhir yang agak sedikit di luar topik formal hari ini, tapi sedang sangat hangat dibicarakan publik," ujar si wartawan sambil menunjukkan layar ponselnya.

Di layar tersebut, sedang terputar potongan video viral kemarin siang.

Menampilkan rekaman dirinya dan Almira yang sedang beradu argumen sengit di samping mobil mewah mereka masing-masing dengan latar belakang area parkir hotel.

Reynard menghela napas dalam hati, menahan diri agar tidak memutar bola matanya di depan kamera.

Tentu saja. Drama parkiran ini lagi.

"Apakah Anda saat ini sedang memiliki hubungan khusus dengan wanita di dalam video ini, Pak? Mengingat latar belakang kalian berdua yang sama-sama dari keluarga konglomerat?"

Reynard menatap wartawan itu selama beberapa detik, membiarkan keheningan sesaat membangun ketegangan sebelum ia mengulas senyum tipis yang sarat akan ironi.

"Luar biasa sekali jurnalisme hari ini."

"Maaf, Pak?" wartawan itu tampak agak salah tingkah.

"Saya datang ke forum internasional ini untuk berbicara tentang investasi strategis, penetrasi pasar global, dan transformasi digital pascapandemi," kata Reynard dengan nada suara yang tenang namun berwibawa.

"Tapi tampaknya, pertanyaan yang paling menarik bagi Anda semua justru soal hak kepemilikan slot parkir."

Beberapa wartawan di barisan belakang spontan tertawa mendengar sindiran halus namun menohok tersebut.

Namun, pria yang memegang ponsel tadi tetap tidak menyerah begitu saja. Sebagai pemburu berita, ia tahu betul mana konten yang akan menghasilkan jutaan klik.

"Jadi, bagaimana konfirmasinya, Pak Reynard?"

"Tidak," jawab Reynard tegas, merapikan kancing jasnya.

"Tidak apa, Pak?"

"Saya tidak memiliki hubungan khusus apa pun dengan wanita itu. Hubungan kami murni sebatas sesama pelaku bisnis yang kebetulan menghadiri acara yang sama," tegas Reynard dengan tatapan mata yang tidak tergoyahkan.

Sayangnya, dewi fortuna tampaknya sedang tidak berada di pihak Reynard hari ini.

Tepat ketika kata-kata bantahan itu selesai diucapkan, sebuah pergerakan di belakang kerumunan wartawan menarik perhatian beberapa orang.

Almira, yang sebenarnya berniat menyelinap pergi melalui pintu samping, justru terjebak karena jalan setapaknya terhalang oleh kru TV yang sedang merapikan kabel tripod.

Dan tentu saja, dengan gaun putihnya yang kontras dan aura anggun yang sulit diabaikan, beberapa wartawan bermata elang langsung menyadari kehadirannya.

"Bu Almira!" panggil salah satu wartawan dengan suara lantang.

"Oh, lihat! Itu Bu Almira Pradipta!"

"Pak Reynard, lihat ke belakang! Beliau ada tepat di belakang Anda!"

Reynard memejamkan mata sesaat, merutuk dalam hati.

Nasib benar-benar punya cara yang sangat kreatif untuk mempermainkanku, pikirnya.

Ia memutar tubuhnya dan mendapati Almira sedang berdiri kaku di sana, seperti rusa yang tertangkap lampu sorot mobil di tengah malam.

Sudah terlambat bagi Almira untuk kabur.

Sangat amat terlambat.

Belasan pasang mata dan yang lebih parah, lensa kamera kini langsung berbalik dan membidik ke arahnya dengan antusiasme yang melonjak drastis.

Kerumunan wartawan itu langsung bergeser, membuka barisan dan secara otomatis menggiring Almira untuk berdiri lebih dekat dengan posisi Reynard.

"Bu Almira!" seru seorang wartawan wanita, menyodorkan perekam suara.

"Bagaimana hubungan Anda dengan Pak Reynard sekarang setelah video kemarin memuncaki trending topic?"

Almira berkedip.

Sekali.

Dua kali.

Ia mencoba mencerna situasi absurd ini.

Detik berikutnya, ia melemparkan tatapan tajam yang bisa memotong es langsung ke arah wartawan tersebut.

"Hubungan?" tanya Almira dengan nada dingin.

"Ya, hubungan kalian berdua."

"Tidak ada hubungan apa pun di antara kami," jawab Almira cepat, meniru ketegasan Reynard sebelumnya.

"Jadi Anda berdua tidak sedang dekat atau dalam masa pendekatan?" kejar wartawan lain.

"Sama sekali tidak."

"Benar-benar tidak ada sesuatu yang disembunyikan?"

"Tidak. Kami adalah orang asing yang tidak sengaja berdebat karena masalah sepele."

Tepat setelah Almira menyelesaikan kalimatnya, seorang wartawan muda di sisi kiri mengangkat tangannya dengan penuh semangat.

"Kalau memang tidak ada apa-apa, lalu kenapa chemistry kalian berdua terasa begitu kuat di video itu? Bahkan netizen menganggap kalian seperti pasangan di drama-drama yang sedang bertengkar manis!"

Mendengar kata "chemistry" dan "bertengkar manis", Almira hampir saja tersedak udara pagi.

Ia menatap wartawan itu dengan pandangan tidak percaya.

Apakah orang-orang ini sudah kehilangan akal sehat mereka?

Di sisi lain, Reynard yang berdiri hanya berjarak satu lengan darinya, tampak memalingkan wajah ke arah berlawanan.

Bahunya bergetar halus, mencoba menahan tawa yang hampir meledak melihat ekspresi syok di wajah Almira.

Namun sial bagi Reynard, Almira memiliki radar yang sangat sensitif terhadap segala hal yang berhubungan dengan pria itu.

Ia menangkap basah sudut bibir Reynard yang berkedut naik. Dan dalam sekejap, rasa kesal Almira langsung melonjak ke ubun-ubun.

"Kenapa kamu tersenyum?" tembak Almira langsung, mengabaikan fakta bahwa mereka masih dikelilingi kamera.

Reynard kembali memutar tubuhnya menghadap Almira, memasang wajah polos yang paling tidak meyakinkan sedunia.

"Aku tidak tersenyum."

"Jangan bohong. Kamu jelas-jelas sedang tersenyum mengejekku," tuduh Almira, matanya menyipit berbahaya.

Reynard sedikit menundukkan kepalanya, mendekat ke arah Almira lalu berbisik dengan nada yang hanya bisa didengar oleh mereka berdua, namun dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu intim di mata kamera.

"Kalau aku tersenyum, itu artinya aku ramah. Lagipula... kamu sepertinya terlalu fokus memperhatikanku sejak tadi, ya?"

Almira melebarkan matanya, bersiap untuk memberikan balasan yang lebih pedas.

Namun sebelum ia sempat membuka mulut, kerumunan wartawan di sekitar mereka sudah kompak berseru heboh, seolah baru saja menemukan harta karun tersembunyi.

"Ohhh..."

"Duh, lihat tatapannya!"

"Sangat menarik! Cepat catat interaksi ini!"

"Ini emas! Judul berita utama kita sudah siap!"

Almira langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat.

Penyesalan mendalam langsung menghantamnya karena telah membiarkan dirinya terpancing emosi dan membuka mulut di depan publik.

Butuh perjuangan ekstra dan bantuan dari tiga orang petugas keamanan hotel sebelum mereka berdua akhirnya berhasil melepaskan diri dari kepungan wartawan yang haus akan berita tersebut.

Dengan napas yang sedikit memburu karena menahan amarah, Almira berjalan cepat setengah berlari menuju area coffee break yang terletak di lantai mezanin, tempat yang relatif lebih sepi.

Ia segera mengambil secangkir kopi hitam tanpa gula dari meja prasmanan, lalu berjalan menuju sudut ruangan yang menghadap langsung ke jendela kaca besar dengan pemandangan kota.

Ia menghirup aroma kopi itu dalam-dalam, mencoba menenangkan debaran jantungnya yang berpacu liar karena kesal.

Akhirnya, pikirnya dalam hati.

Ketenangan yang sesungguhnya.

Damai.

Tidak ada kilatan kamera.

Tidak ada wartawan kepo.

Dan yang paling penting, tidak ada Reynard.

"Kopi pahit di pagi yang manis? Pilihan yang kontras sekali."

Almira memejamkan matanya rapat-rapat, jemarinya mencengkeram pinggiran cangkir porselen dengan erat hingga kukunya memutih.

Ia bahkan tidak perlu memutar tubuhnya untuk mengetahui siapa pemilik suara bariton yang terdengar begitu santai dan penuh percaya diri itu.

"Kenapa kamu selalu muncul di mana pun aku berada?" tanya Almira tanpa menoleh, suaranya sedingin es di kutub utara.

"Pertanyaan yang bagus," sahut Reynard.

"Dan sebagai orang yang rasional, aku juga bisa menanyakan hal yang sama kepadamu."

Almira akhirnya berbalik, menatap pria itu dengan pandangan menusuk.

Reynard kini sudah berdiri tepat di sampingnya, bersandar dengan gaya kasual pada pilar marmer sambil memegang cangkir kopi yang mengepulkan uap tipis.

Penampilannya masih terlihat sempurna tanpa cela, sangat kontras dengan Almira yang merasa energinya sudah terkuras habis padahal hari baru saja dimulai.

"Kamu mengikutiku, ya?" tuduh Almira spontan.

Reynard mengangkat sebelah alis tebalnya, menatap Almira dengan binar jenaka yang tak pernah hilang.

"Tingkat rasa percaya dirimu ini sepertinya perlu diperiksa ke dokter, Almira. Tinggi sekali."

"Aku hanya menanyakan sebuah kemungkinan berdasarkan fakta bahwa kamu tiba-tiba ada di sini."

"Dan aku hanya berdiri di sini untuk menikmati kopi pagi, bukan untuk menjadi bayanganmu."

Almira mendengus keras, memalingkan wajahnya kembali ke arah jendela kaca.

Sementara itu, Reynard dengan santai menyeruput kopinya, menikmati sensasi cairan hangat yang melewati tenggorokannya sebelum kembali membuka suara.

"Lagipula, jika ingatanmu masih berfungsi dengan baik, ini adalah area coffee break umum untuk seluruh peserta summit," tambah Reynard, matanya memandang lurus ke depan.

"Jadi?"

"Jadi, secara hukum dan regulasi hotel, semua orang yang memiliki ID tag resmi boleh berada di sini. Termasuk aku."

"Aku tahu itu tanpa perlu kamu jelaskan seperti dosen hukum," sahut Almira ketus.

Hening sejenak menjeda konfrontasi kecil mereka.

Hanya terdengar denting sendok teh dari kejauhan dan gumaman rendah dari peserta lain di ujung ruangan.

Namun, keheningan itu tidak bertahan lama ketika Almira tiba-tiba menoleh dan mengulas senyum sinis.

"Selamat, ya," kata Almira tiba-tiba.

Reynard menaikkan alisnya, sedikit tertarik dengan perubahan topik yang mendadak ini.

"Untuk?"

"Untuk pencapaian barumu. Kamu sekarang resmi terkenal di seluruh jagat maya sebagai seorang miliarder muda pencuri slot parkir wanita," sindir Almira dengan nada manis yang dibuat-buat.

Reynard tidak terlihat tersinggung sama sekali.

Sebaliknya, sebuah senyum tipis yang penuh pesona justru terukir di wajah tampannya.

"Terima kasih atas ucapannya. Dan aku juga ingin mengucapkan selamat kepadamu."

"Untuk apa?" Almira mengerutkan kening, curiga.

"Karena sekarang kamu juga resmi terkenal sebagai seorang pewaris Pradipta Corporation yang gemar berteriak-teriak histeris di tempat umum hanya karena masalah ruang gerak mobil."

"Itu jelas berbeda!" bantah Almira, suaranya sedikit meninggi namun buru-buru ia turunkan kembali volumenya.

"Apanya yang berbeda?"

"Karena dalam posisi kemarin, aku berada di pihak yang benar! Kamu yang menyerobot jalanku!"

"Menurut sudut pandangmu yang subjektif," balas Reynard tenang, menikmati setiap percikan amarah yang berkilat di mata indah Almira.

Entah kenapa, melihat wanita pintar dan berkuasa ini kehilangan ketenangannya selalu menjadi hiburan tersendiri bagi Reynard.

Almira menyipitkan matanya, giginya bergelatuk menahan kekesalan.

Tepat saat ia sedang memikirkan kalimat balasan yang cukup tajam untuk meruntuhkan kesombongan pria di depannya, sebuah langkah kaki tergesa-gesa mendekati mereka.

Seorang pria muda dengan setelan jas yang agak kebesaran dan kartu peserta summit yang tergantung longgar di lehernya tiba-tiba muncul.

Wajahnya tampak luar biasa bersemangat, dengan mata yang berbinar-binar seperti anak kecil yang baru saja menemukan toko permen.

"Maaf... maaf mengganggu waktunya sebentar, Pak, Bu," sapa pria muda itu dengan napas yang sedikit terengah.

Almira dan Reynard secara refleks menghentikan adu mulut mereka dan menoleh bersamaan ke arah interupsi tersebut.

Aura profesionalisme mereka langsung kembali terpasang dalam hitungan detik.

"Ya? Ada yang bisa kami bantu?" tanya Almira dengan nada ramah tamah standar bisnis.

"Boleh... boleh saya minta foto bersama?" tanya pria itu sambil mengangkat ponselnya dengan tangan yang sedikit gemetar karena gugup sekaligus senang.

Almira, yang sudah terbiasa dengan permintaan foto dari rekan bisnis muda atau mahasiswa magang yang mengagumi rekam jejak perusahaannya, langsung mengangguk dengan senyum tulus.

"Tentu saja, boleh."

Pria muda itu langsung tersenyum lebar hingga matanya menyipit.

"Luar biasa! Terima kasih banyak, Bu Almira! Pak Reynard!"

Ia kemudian dengan cepat memosisikan dirinya berdiri di tengah-tengah, membagi jarak di antara Almira dan Reynard.

Namun, sebelum tombol kamera ditekan, Almira mulai merasakan ada sesuatu yang aneh dengan cara pria ini mengarahkan ponselnya.

Kemudian, pria itu menoleh ke kiri dan ke kanan, lalu berkata dengan nada polos tanpa dosa:

"Maaf, boleh minta tolong bergeser lebih dekat sedikit tidak? Biar posisinya pas dan atmosfernya terasa... mirip seperti yang di video kemarin."

"..." "..."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!