Sheeva terpaksa menerima perjodohan yang direncanakan kedua orang tuanya. Suatu hari, dia memergoki Amaar tengah bercumbu mesra dengan seorang perempuan yang tak lain adalah sekretaris calon tunangannya itu. Merasa terhina, dia melabrak mereka dan mengancam akan memberitahu Damian bahwa pria pilihannya itu adalah lelaki berengsek. Namun, Amaar bersikap santai seakan tak merasa takut sebab tahu jika Damian tidak mudah percaya begitu saja tanpa ada bukti nyata.
Sheeva yang kesal pergi meninggalkan ruangan CEO dan meluapkan keluh kesahnya itu kepada Azam, sopir pribadi gadis itu. Akibat sering bertemu membuat benih cinta muncul di hati keduanya. Hingga akhirnya mereka memutuskan menjalin kasih di belakang orang tua dan calon tunangan Sheeva.
Lalu, bagaimana perjalanan cinta mereka? Akankah berakhir bahagia walau banyak ujian datang menghadang? Apakah orang tua Sheeva setuju saat mengetahui bahwa putri mereka menjalin kasih dengan seorang sopir?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon senja_90, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu?
Selesai mengantarkan Sheeva kembali ke kediaman Bagaskara, Azam langsung merebahkan diri di atas ranjang dan memandangi langit-langit kamarnya sambil tersenyum sendiri. Membayangkan kembali momen kebersamaannya dengan sang kekasih pujaan hati. Duduk berdua di tepi bukit sambil berpelukan menghangatkan tubuh masing-masing dari dinginnya udara malam. Kedua tangan saling menggenggam erat seakan takut kebersamaan itu cepat berlalu.
Menyentuh pipinya yang sempat dicium Sheeva sebelum mereka berpisah. "Aah, mimpi apa aku semalam bisa menjadi kekasih dari seorang Sheeva Andhini, artis terkenal tanah air yang mempunyai followers ribuan di akun IG dan FB-nya. Dulu aku berpikir menjadi kekasih Sheeva hanya mimpi belaka, tapi malam ini disaksikan cahaya rembulan dan gemerlap bintang di atas langit akhirnya kami resmi menjadi sepasang kekasih. Euhm ... benar-benar seperti mimpi di siang bolong."
Masih memandangi langit-langit kamar, bayangan wajah Sheeva melintas dengan senyumannya yang memabukan. Tanpa sadar sudut bibir Azam kembali terangkat ke atas membentuk sebuah lengkungan seperti busur panah.
Azam ulurkan tangannya ke atas nakas kemudian meraih gawainya dan menekan nomor sang kekasih. "Hai, Sheeva," sapa pria itu kala sambungan telepon terhubung.
"Hai, Mas." Suara lembut terdengar sedang menahan senyum lebar.
"Kamu sedang apa? Saya kok tiba-tiba kangen sih sama kamu padahal baru tiga puluh menit lalu kita berpisah, tapi rasanya seperti ribuan abad, ya? Kamu sendiri, bagaimana? Kangen juga tidak?" tanya Azam sedikit menggombal yang mana perkataan lelaki itu menimbulkan rasa aneh di perut Sheeva.
Dua bulan bersama, baru kali ini mendengar Azam menggombal seperti tadi. Sheeva bahkan hampir tak mengenali siapa lelaki yang kini menjadi kekasihnya itu karena sikap Azam sangat jauh berbeda jika dibandingkan saat pertama kali mereka bertemu.
Pendiam dan tak banyak cakap itulah penilaian Sheeva lantas kenapa sekarang Azam berubah menjadi pria tukang gombal seperti lelaki di luaran sana? Apakah memang inilah sifat asli kekasihnya, selalu menggombal pada setiap wanita yang dikenalinya?
Azam duduk menyenderkan punggung di headboard ranjang. Tidak mendapat respon apa pun dari Sheeva, lelaki itu berkata, "Ada apa? Kenapa kamu diam saja? Apa ada perkataanku yang menyinggungmu?" Azam khawatir sang kekasih marah kepadanya karena tanpa sadar telah melakukan kesalahan.
Di seberang sana wajah yang semula berseri kini menjadi suram kala membayangkan banyaknya wanita cantik yang telah digombali oleh Azam. Tubuh terasa panas, terbakar api cemburu.
"Tidak ada apa-apa," sahut Sheeva singkat, menyembunyikan kekesalannya kepada sang kekasih.
"Lalu? Kenapa nada suaramu terdengar berbeda. Katakan, apa saya melakukan kesalahan hingga membuatmu kesal?" desak Azam tidak percaya begitu saja.
"Sudah kukatakan, tidak ada. Kenapa sih Mas Azam ngeyel banget!" sembur Sheeva, tidak dapat mengendalikan diri karena merasa kesal sebab dirinya bukanlah satu-satunya wanita yang pernah melihat sisi lain dari seorang Azam.
Azam tersentak kaget bahkan dia harus menjauhkan benda pipih miliknya dari telinga. Suara Sheeva terdengar bagai gemuruh petir di malam hari.
'Ada apa ini? Kenapa tiba-tiba Sheeva marah padaku?' batin Azam. Tak mau hubungan yang baru saja terjalin kandas di tengah jalan, Azam segera menempelkan kembali ponsel ke telinga. Yah, dia harus menyelesaikan masalahnya dengan Sheeva sebelum gadis itu meminta putus.
"Sweetheart, kamu marah padaku? Ayolah, katakan padaku bagian mana yang membuatmu tersinggung," bujuk Azam.
Sheeva berkacak pinggang dengan mata melotot. "Jawab dengan jujur, berapa banyak wanita yang pernah Mas Azam pacari? Kenapa Mas Azam jadi pandai menggombal? Siapa yang mengajarimu? Atau ... jangan-jangan ini memang sifat aslimu, gemar menggombal pada setiap wanita yang kamu dekati?" cecarnya tersengal.
Azam membeku di tempat. Otaknya masih sibuk mencerna maksud perkataan Sheeva barusan. Suara tercekat seakan bongkahan pohon kaktus mengganjal di tenggorokan.
Namun, saat otaknya sudah dapat berpikir jernih terdengar suara tawa membahana memenuhi penjuru ruangan. Perut Azam terasa geli seolah ada tangan tak kasat menggelitikinya.
Sheeva mendengar suara tawa di seberang sana semakin dibuat marah. Rahang gadis itu mengeras dengan sebelah tangan mencengkeram ujung gaun yang dia kenakan.
"Apa ada yang lucu! Aku tuh minta jawaban Mas Azam loh bukan ingin mendengar suara tawamu! Menyebalkan sekali!"
Alih-alih menghentikan tawanya, Azam justru menekan ikon video dan ingin mengalihkan panggilan suara menjadi video call. Membayangkan wajah cemberut dengan bibir ranum maju ke depan membuat Azam ingin melihat bagaimana Sheeva saat sedang cemburu, pasti akan sangat menggemaskan.
"Jadi kamu marah gara-gara saya berubah menjadi raja gombal, hem?" tanya Azam saat wajah cantik Sheeva muncul di layar.
Sheeva mengalihkan pandangan ke arah lain saat tanpa sengaja ekor mata mereka bersitatap. Ketika sedang marah, dia memang tidak mau memandangi wajah lawan bicaranya itu.
"Kalau iya, kenapa? Enggak suka? Seharusnya Mas Azam cari tahu dulu bagaimana kepribadianku sebelum mengutarakan cinta padaku. Kalau sudah begini mau protes pun percuma karena aku enggak mau mendengar apa pun dari Mas Azam!" Dada Sheeva kembang kempis dan wajah terasa panas.
Azam semakin lebar tersenyum dalam hati berkata, 'Kamu semakin manis kalau sedang marah, Va. Bibirmu itu semakin menggoda imanku. Dan ingin rasanya aku mengecap manisnya madu di bibirmu.'
"Sheeva, dengarkan saya baik-baik. Tak peduli berapa banyak wanita yang singgah di hatiku, tapi yang pasti hanya kamu yang saya cintai saat ini, esok dan seterusnya. Hanya kamu yang saya mau bukan yang lain. Apa pun yang terjadi di kemudian hari, ingatlah selalu jika saya tulus mencintaimu."
Mendengar ucapan Azam, wajah Sheeva merah merona. Amarah yang sempat menguasai diri perlahan mulai meredup tergantikan perasaan hangat menjalar ke seluruh tubuh. Seumur hidup baru kali ini ada seseorang yang begitu mendambakannya.
Saling diam sambil memandangi wajah satu sama lain. Keduanya saling menyelami perasaan masing-masing.
"Sheeva?" panggil Azam pelan sedikit lirih bagai desau angin di musim semi.
"Hmm," jawab Sheeva tanpa mengalihkan pandangan dari iris coklat di depannya.
"Saya tuh benar-benar mencintaimu, jadi jangan pernah berpikir jika ada wanita lain di hati ini. Selamanya cuma kamu yang saya cintai."
Jantung berdebar hebat, tubuh terasa lemas karena untuk kesekian kali Azam mengatakan kata-kata romantis yang belum pernah dia dengar dari bibir Amaar, lelaki pilihan kedua orang tuanya.
Menggigit bibir, menahan ledakan asa yang terus bergemuruh dahsyat. Sheeva tidak tahu harus berkata apa karena isi kepalanya saat ini tak dapat berpikir dengan jernih. Namun, satu hal yang pasti bahwa dia pun sebetulnya sangat mencintai Azam. Banyak impian dan harapan ingin digapai bersama lelaki yang begitu dia cintai.
...***...
jangan pisahin mereka
biarkan mereka bersatu
bagus ceritanya
Azam bukan orang miskin, sudah
tua berpikir seperti bocah,
nantinya sama amar mau bahwa
sudah berselingkuh dan celap celup
sana sini