Sandra terpaksa menikah dengan calon suami kakaknya saat sang kakak memilih kabur bersama pria yang katanya lebih mapan di banding kekasihnya di hari pernikahannya.
Dapatkan Sandra menjalani pernikahannya dengan baik? Apakah pernikahan itu akan bahagia?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tri Ani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
"Ini Keterlaluan sekali!?" gumam Gara, ia ingin mengabaikannya tapi nyatanya tidak bisa.
Gara pun memanggil pelayan ke kamarnya.
"Ada apa tuan?" tanya bibi Jum.
"Gati bajunya, aku akan menghubungi dokter!"
"Baik tuan!"
Gara pun segera keluar kamar selagi bibi Jum dan pelayan lain mengganti baju Sandra.
"Sudah tuan!" ucap bibi Jum saat sudah keluar kamar.
"Baik terimakasih. Saya sendang menunggu dokter, jika dokternya datang langsung suruh ke kamar saja!"
"Baik tuan!"
Gara pun kembali masuk dan menutup pintunya. Ia menatap Sandra dari kejauhan, terlihat wanita itu masih menggigil meskipun bibi Jum sudah menempelkan kain kompresan di keningnya.
Gara perlahan mendekat dan duduk di kursi samping tempat tidur.
Ia menatap kembali wajah pucat Sandra,
"Apa dia wanita yang seperti yang aku pikirkan?" gunanya meragukan pemikirannya sendiri.
"Tidak Gara, semua wanita saja saja! Meraka hanya menginginkan uangmu dan kekuasanmu!"
Segara Gara memalingkan wajahnya, ia tidak mau bersikap lemah lagi di hadapan wanita.
Beberapa kali di hianati dan di tinggalkan wanita membuatnya tidak lagi percaya dengan wanita selain ibu, nenek dan saudarinya.
Memiliki mereka baginya sudah cukup dari pada ia harus menerima wanita lain masuk dalam kehidupannya.
Tapi ternyata hatinya tidak sekeras itu, lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak bisa melihat wanita menderita.
Gara mengambil kain yang sudah mulai mengering itu dan mencelupkannya kembali ke baskon yang sudah terisi air es dan menempelkannya kembali ke kening Sandra.
Sekali lagi ia menempelkan punggung tangannya ke leher Sandra,
"Nggak turun juga sih panasnya!" Gara mulai cemas.
"Mana lagi dokternya! Apa akhir-akhir ini anak buah uncle Frans benar-benar tidak profesional!" gerutunya yang terlihat tidak sabar.
Hingga suara pintu di ketuk membuat Gara menjauhkan diri dari Sandra.
"Tuan, dokternya sudah datang!" ucap bibi Jum.
"Suruh masuk!"
"Baik!"
Bibi Jum kembali keluar dan mempersilahkan dokter masuk.
"Kamu!?" Gara sedikit terkejut, terlihat dokter muda yang menghampirinya dengan tersenyum khasnya. "Kapan kamu kembali?" tanyanya kemudian.
"Baru, baru tadi pagi!" ucapnya sambil melirik wanita yang terbaring lemah di atas tempat tidur.
"Istri bang Gara yang sakit?"
"Hmmmm, cepet periksa. Aku tidak punya banyak waktu!"
"Ayolah bang, santai dikit!"
"Lagian uncle Frans tidak punya dokter lain apa selain putranya!" keluh Gara membuat dokter muda itu tersenyum.
"Jangan melihat umur bang, gini-gini aku lulusan dokter terbaik taun ini!"
"Kamu ingin membanggakan diri atau mau mengobati orang sakit di sini?" tanya Gara kesal, "Aku jadi ragu sama kemampuanmu!"
"Isssttttt!"
Dokter muda itu bernama Zoe Zhafran Farendra, putra pertama dari dokter Frans Aditya. Pemilik rumah sakit FrAd Hospital. Meskipun masih terbilang muda, dokter Zoe menjadi lulusan dokter terbaik tahun ini dan sekaligus termuda.
Dokter Zhaf pun mulai memeriksa keadaan Sandra. SMA memberikan suntikan pada Sandra.
Dari ujung ranjang manik mata Gara terus mengawasi dokter muda itu, dia terlihat luar biasa dengan jas putihnya. Terselip rasa bangga saat melihat adik kemenakannya itu akhirnya sukses dengan pilihannya meskipun harus mengikuti jejak sang ayah.
"Bagaimana?" tanya Gara begitu dokter Zhaf selesai memeriksa Sandra.
"Panasnya cukup tinggi, dia sepetinya juga dehidrasi. Tapi jangan khawatir aku sudah memasang cairan infus padanya! Sepertinya dia hanya kecapekan dan di tambah dehidrasi!"
"Sepertinya?" tanya Gara bertanya dengan kening yang berkerut, pria yang minim ekspresi itu tiba-tiba berekspresi lebih dan malah membuat dokter Zhaf tertawa.
"Baiklah, baiklah. Maksudnya memang dia kecapekan bang, di tambah dehidrasi jadi memperparah keadaannya. Beruntung langsung mendapat penanganan jadi tidak menjadi masalah serius." ucap dokter Zhaf sambil berjalan dan duduk di sofa membuat Gara mengerutkan keningnya,
"Ngapain duduk di situ?" tanya Gara.
"Ya_, kita kan sudah lama tidak ketemu bang, ya mau ngobrol sama bang Gara!"
"Nggak!, sudah cukup kan jadi kamu boleh pergi sekarang. Aku sibuk, jadi ngobrol lainnya lain kali saja!" ucap Gara sambil menarik tangan Dokter zhaf dan memintanya keluar.
"Serius ngusir nih bang?"
"Iya, lagian moms dan Daddy juga nggak ada!"
"Tapi bang_!"
Bukannya menjawab Gara langsung memeri tatapan untuk tidak di bantah,
"Kejam banget! Bilang aja mau berduaan sama kakak ipar!" ledeknya
"Anak kecil tahu apa!? Sudah pergi sana!"
"Ya ampun, meremehkan banget! Ngajak lihat jas ku!?" ucap dokter Zhaf yang tampak membanggakan jas putihnya.
"Tetap saja bocil, tuh jasnya kegedean!" ledek Gara sambil mendorong tubuh dokter Zhaf agar keluar dari kamarnya.
"Issttt! Baiklah aku pergi. Obatnya nanti biar aku suruh orang buat nganter!"
Akhirnya setelah keributan dan kehebohan itu, dokter Zhaf pun meninggalkan rumah besar.
Gara kembali mendekati Sandra, kini di tangannya sudah ada slang yang terhubung dengan kantong cairan infus.
Melihat Sandra yang seperti itu, Gara merasa tidak tega.
"Kenapa panasnya tidak turun juga!?" gumamnya pelan, ia sampai tidak tidur semalaman meskipun tidak duduk diam di samping Sandra, ia memilih duduk di sofa sambil melanjutkan pekerjaannya yang belum selesai tadi siang dan sesekali menghampiri Sandra untuk mengecek keadaannya.
Bahkan hingga tengah malam, wanita itu belum juga membuka matanya membuat Gara berkali-kali menghubungi dokter Zhaf memintai pertanggung jawaban atas perawatan yang tengah di lakukannya pada sang istri hingga membuat dokter Zhaf mengirim perawat untuk memeriksa kondisi Sandra.
Setalah hampir fajar, barulah panas di tubuh Sandra mulai berkurang, Gara pun menghubungi Abimanyu membuat membuat pria yang masih terlelap dalam tidurnya itu terpaksa bangun.
"Bagaimana? Sudah dapatkan sesuatu?" tanya Gara membuat pria yang masih enggan membuka matanya itu terpaksa membuat matanya lebar-lebar.
"Sudah tuan!"
"Segera ke sini!" ucap Gara membuat Abimanyu melirik jam yang menempel di dinding kamarnya.
Yang benar saja, ini masih jam lima
pagi ...., batin Abimanyu.
"Baik tuan!" tidak ada pilihan lain selain mengikuti permintaan atasannya itu.
Setalah Gara mematikan sambungan telponnya, Abimanyu dengan cepat ke kamar mandi dan berganti pakaian. Tidak lupa ia juga menelpon anak buahnya sambil memakai dasi dan kaos kaki.
"Segara kirimkan berkas yang kamu temukan kemarin!" ucapnya dan segera mematikan sambungan telponnya.
Setelah menerima berkas-berkas itu dari layar datar miliknya, ia pun bergegas keluar kamar.
"Abi, pagi-pagi sekali kenapa sudah rapi?" tanya pria yang sudah terlihat begitu renta dengan keriput yang menghiasi semua kulitnya, pria tua itu tengah duduk sofa.
"Tuan Gara memanggilku kek, Abi berangkat dulu ya kek!"
"Iya, hati-hati!"
Jika masih ingat, pria tua itu adalah sopir pribadi nyonya Ratih sekaligus kakek Abimanyu. Orang kepercayaan tuan Wijaya dan nyonya Ratih.
Bersambung
Jangan lupa untuk memberikan Like dan komentar nya ya kasih vote juga yang banyak hadiahnya juga ya biar tambah semangat nulisnya
Follow akun Ig aku ya
Ig @tri.ani5249
...Happy Reading 🥰🥰🥰...