Kehidupan Vania dan Vanisa yang tidak pernah jauh dari hingar bingar dan gemerlapnya kota sejak kecil.
Namun apa jadinya jika mereka harus dengan terpaksa mengikuti kedua orang tuanya yang memutuskan untuk pindah dan bermukim di desa.
Desa tersebut memiliki banyak rahasia besar yang tidak mereka ketahui. Mampukah keluarga mereka bertahan di desa tersebut? Akankah mereka mengetahui bahwa siapa saja yang masuk ke desa tersebut, akan terikat dengan desa yang masih kental dengan adat, budaya serta hal-hal mistis yang jauh dari pikiran orang kota seperti mereka.
Simak terus kisah perjalanan kehidupan baru vania dan vanisa di desa tersebut 😲
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon sola fairy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
5 tahun berlalu membawa sesuatu yang berat bagi mereka yang di tinggalkan. Begitu pula yang di rasakan Angga saat ini. Walaupun sudah 5 tahun waktu berlalu, Angga masih bisa mengingat dengan jelas setiap detik yang ia lalui di dimensi gaib saat itu.
Andai saja ia bisa kembali lebih cepat dan membawa Nisa bersamanya tepat waktu, semuanya pasti akan berbeda. Perasaan bersalah di hatinya tidak bisa terhapus begitu saja walaupun sudah 5 tahun berlalu.
Kehidupan Angga di desa pun tidak berjalan cukup baik. Setelah kejadian tersebut ayah dan ibunya memutuskan untuk mengirimnya ke luar kota. Keluarga mereka tidak bisa pindah atau keluar dari desa, mengirimnya keluar dari desa adalah satu-satunya negosiasi yang bisa orangtuanya usahakan.
Angga hidup sebagai mahasiswa semester akhir di sebuah universitas negeri di Jawa Tengah. Tidak ada sanak saudara di sana, karena seluruh keluarganya berada di desa. Ia merantau seorang diri di sana, setelah ayah menitipkannya pada seorang teman lama kenalan ayahnya ketika merantau di Jakarta.
Setelah kejadian 5 tahun lalu yang begitu kelam, tidak seorang pun yang memiliki garis keturunan langsung desa kami yang bisa meninggalkan desa. Ia hanya boleh tinggal dan menetap di desa, dan ketika ada urusan yang mengharuskan mereka untuk pergi ke kota itupun harus atas izin dari para tetua adat.
Tidak pernah ada lagi pendatang, ayahnya sebisa mungkin menolak pendatang yang ingin tinggal dan menetap di desa. Walaupun ia sudah tidak menjabat sebagai kepala desa sejak 2 tahun lalu, tapi tidak ada yang pernah mendebat semua kebijakan yang telah ayahnya tetapkan.
Orang-orang di desa maupun di luar desa tentunya sangat tahu apa yang menimpa si kembar dulu adalah hal yang paling mengerikan. Mereka tidak pernah berharap hal seperti itu terjadi dengan keluarga siapapun di desa kami.
Asal warga desa patuh dan tidak melanggar setiap peraturan atau hal-hal yang di larang semuanya masih bisa di kendalikan. Selama 5 tahun, aku hanya berhubungan dengan keluarga ku melalui sambungan telepon.
Aku tidak pernah di izinkan untuk pulang ataupun orangtuaku di larang untuk keluar dari desa atas permintaan mbah Karto apapun yang terjadi. Sampai waktunya tiba, aku hanya bisa bersabar dan mencoba mengalihkan semuanya dengan belajar.
Tidak sampai 1 bulan lagi, aku akan melaksanakan wisuda. Dan aku kembali kebingungan untuk menata arah masa depanku. Haruskah aku tetap tinggal disini atau pergi ke tempat lain.
Dalam 5 tahun, aku masih berupaya mencari keberadaan keluarga pak Herman. Aku ingin menyampaikan sesuatu yang penting, tapi Tuhan seolah belum memberikan takdirnya.
Keluarga pak Herman seperti menghilang di telan bumi, tidak ada jejaknya. Bahkan ayahku yang berada di desa masih mencoba mencari keberadaannya melalui orang-orang yang Ian kenal di kota.
"Ngapain ga?" tanya Dion memecah lamunan Angga sejak tadi.
"Eh yon, gak apa-apa. Cuma mikir aja setelah selesai kuliah mau apa dan kemana." jelas Angga sedikit berkilah.
"Bingung banget to ngga, kamu kan pinter nilai mu bagus-bagus juga pasti banyak loh perusahaan yang mau rekrut kamu." ujar dion sembari mengunyah ciki snack yang ia beli.
"Aku gak berniat menetap di sini masalah nya." jelas Angga membuat Dion menghentikan kegiatannya.
"Mau mulih kampung kamu ngga?" tanya Dion mendadak penasaran.
"Enggak juga, belum waktunya." jawab Angga tenang.
"Loh ya wis disini saja, kenapa pusing." ujar Dion kembali.
"Enggak bisa yon, ada seseorang yang harus aku cari dan temukan secepat mungkin. Dan dia tidak ada di kota ini." jelas Angga dengan mata menerawang.
Ada debaran tak biasa di hatinya mengingat gadis yang berhasil mencuri perhatiannya sejak awal kedatangannya. Gadis yang membuatnya abai dengan larangan kedua orangtuanya, dan leluhur yang menjaganya selama ini.
Meskipun 5 tahun berlalu tanpa selembar foto pun ia miliki, tapi Angga masih menyimpan jelas setiap lekuk wajah Vania yang membuatnya tidak bisa berpaling. Debaran kencang jantungnya yang seakan berhenti berdetak ketika mengetahui tragedi besar yang menimpa si kembar.
Walaupun selalu terlihat tenang, nyatanya dalam pencarian 5 tahun lalu hati dan pikirannya sempat kalap. Ia terlalu takut membayangkan bagian terburuk untuk kehilangan gadis yang ia cintai secara diam-diam itu.
"Yeh, di ajakin ngomong malah ngelamun." ujar Dion melemparkan makanan di tangannya pada Angga.
"Maaf-maaf yon." jawabnya sambil terkekeh kecil.
~
Hari yang di tunggu pun tiba, Angga akhirnya bisa melaksanakan acara wisuda nya dengan meraih penghargaan cumlaude, tentunya dengan IPK yang memuaskan. Angga tidak menunjukkan kesedihannya walaupun tidak ada seorangpun yang menghadiri wisudanya.
Setelah nanti sampai di kosan, ia akan melakukan panggilan video melalui zoom karena sampai saat ini jaringan seluler belum bisa menembus desa karena satu dan lain hal. Untuk keperluan belajar dan administrasi di kantor desa dan puskesmas menggunakan jaringan satelit menggunakan parabola.
Tidak ada waktu untuk bersedih sementara banyak tugas penting yang telah menunggunya untuk di tuntaskan. Setelah ini, Angga memutuskan untuk pindah ke Jakarta tentunya dengan persetujuan ayah dan ibunya.
Ia akan memulai pencarian terhadap Vania dan keluarganya di kota metropolitan tersebut. Karena itu adalah kota asal dimana mereka berasal sebelum mereka datang ke desa Lembah Wangi.
Dan kabar baiknya lagi ia sudah mendapatkan pekerjaan yang cukup baik di sana. Ia sudah mengajukan banyak lamaran ke beberapa perusahaan yang cukup besar melalui online hingga lolos dalam beberapa tahapan tes dan melakukan interview via zoom.
Begitu sampai di jakarta ia hanya tinggal melakukan medical chek up lengkap dan setelah hasilnya keluar ia bisa melakukan tanda tangan kontrak di perusahaan tersebut.
Angga pun sudah mengemasi barang-barangnya, ia sudah membooking sebuah kosan yang cukup nyaman melalui aplikasi online. Begitu sampai di Jakarta, ia tidak perlu kebingungan mencari tempat tinggal.
Angga berangkat malam hari menggunakan kereta api. Ia hanya membawa sebuah tas carrier yang cukup besar karena sebagian barang-barangnya sudah ia kirimkan menggunakan jasa kargo.
Begitu ia sampai di stasiun Jakarta pagi harinya, Angga pun langsung memasukkan alamat yang ibu kost nya kirimkan melalui pesan singkat. Ini adalah kedua kalinya menginjak kota metropolitan tersebut,
Dalam perjalanan di taksi online pun ia nikmati dengan memandang setiap sudut kota jakarta yang terlihat sibuk. Dan begitu ia berhenti di lampu merah, untuk pertama kalinya ia melihat lagi Vania setelah 5 tahun berlalu.
Beberapa saat mereka hanya bisa bertatapan, sebelum akhirnya Vania yang memutuskan pandangan mereka. Barulah saat itu Angga tersadar, jika Vania benar-benar ada di dekatnya.
Angga pun spontan berteriak memanggil Vania, namun terlambat. Vania yang tengah duduk di bonceng sang ayah saat itu telah pergi, sementara ia belum sempat memanggil gadis tersebut.
Tidak ada sedikitpun raut keterkejutan di wajah Vania beberapa saat lalu. Tatapannya begitu asing, membuat hatinya sedikit tercubit sakit.
Sayangnya dalam keadaan lalu lintas yang padat, ia tidak memungkinkan untuk mengejar Vania karena terjebak dalam taksi di tengah kemacetan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Tbc
baca part ini pas bilaNg ada tangan q refleks dunk nengok lumayan deg"an soalnya sendirian dirumah fyuhh
lanjut thorr srmangat