Mencintaimu,...
seumur hidupku...
Selamanya, setia menanti.
Walau di hati saja,
seluruh hidupku.
Selamanya, kau tetap milikku...
Cinta pada pandangan pertama, cinta pertama, dan dia juga yang pertama mencium bibir ini hingga membawaku pada perbuatan yang dilarang agama.
Tapi setelah itu, dia mencampakkanku. Lalu kembali lagi ketika ada pria lain yang mengaku begitu mencintaiku setulus hati.
Mana yang harus kupilih? Dirimu atau dirinya? Yang pertama? Ataukah berharap yang terakhir?
-Sheila Herfiza-
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AMY DOANK, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBAS 26
"Tunggu, Sheila!"
Anggara menghentikan langkahnya. Ia menatap sendu wajah Sheilla.
"Kamu yakin mau ikut aku?"
"Iya. Jangan larang aku apalagi jadi benci padaku karena kenyataannya Papaku yang membuat Mamamu jadi seperti ini!"
Anggara menggelengkan kepala.
"Bukan karena Papamu juga, Mamaku jadi begini! Jalan yang beliau ambil memang jalan yang dilarang! Tetapi, Mama memang bandel dan Papamu termasuk orang yang bandel juga rupanya!"
Anggara menghela nafas.
Ia tidak bisa mengalahkan Sheila yang tidak tahu apa-apa hanya karena Mamanya jadi seperti ini karena Papa kandung Sheila.
Anggara luluh hatinya oleh ketegaran hati Sheila dalam memilih dirinya.
Usia mereka telah dewasa kini. Bukan lagi anak SMA yang labil dan sering oleng pemikirannya.
Di rumah sakit, Venny telah sadar dan hanya diam dengan tubuh telungkup. Matanya enggan dibuka meskipun Alya berkali-kali membujuknya untuk kembali fight menapaki hidup.
Anggara lega, kondisi kejiwaan Sang Mama telah jauh lebih baik. Walaupun hanya diam dan pura-pura tidur, tapi Anggara tahu, Venny sebenarnya mendengar serta mengetahui kalau ada Sheila di ruangannya ini.
"Tante...! Maaf..., maaf atas semua ketidaknyamanan ini. Maaf, beribu-ribu maaf. Hik hik hiks..."
Sheila mulai terisak.
Tangisnya pecah dihadapan Venny.
Membayangkan betapa hancur perasaan Venny ketika Yusherlan, Papanya tidak mau bertanggung jawab atas kehamilan Venny ketika mengandung Alya.
Sheila seperti turut merasakan sakit hati Venny.
Sebagai perempuan, dan pernah pula memiliki anak hasil hubungan terlarang, Sheila amat sangat mengerti perasaan Venny.
Bukan karena tidak tahu kalau itu adalah perbuatan dosa. Tapi, semua terlanjur terjadi. Semua harus Ia hadapi dan jalani sendiri.
Bahkan dalam kedalaman hatinya, Ia sangat ingin menghilangkan nyawa bocah yang justru tidak berdosa itu karena rasa benci mengingat telah ditinggal sendiri.
Tidak ada yang bisa mengerti.
Bahkan sampai kedua orang tuanya sendiri, tidak bisa mengerti.
Sheila menangis mengingat masa-masa pahit itu. Hingga seperti ada telepati antara dirinya dengan Venny, perempuan paruh baya yang masih cantik itu pun tergugah membuka mata dan mereka menangis berbarengan.
Sheila faham sekarang. Mengapa dulu Mamanya Anggara diceritakan labil dan sering oleng ketika mereka masih remaja.
Ternyata, jalan hidup yang berliku dan juga cobaan yang berat membuat langkahnya menjadi sesat.
Menikah dengan orang yang salah, hidup terombang-ambing tanpa ada tempat sandaran, bahkan Tuhan sekalipun, seolah tak bergeming bagi orang-orang yang mengalami cobaan seperti Venny dan juga dirinya.
Putus asa, bahkan sampai berfikir mungkin lebih baik mati daripada harus hidup seperti ini.
Nyatanya, Tuhan masih menginginkan dirinya tetap menghirup oksigen di dunia. Bertahan dengan kondisi yang ada. Dan menjadikan hidup sebagai pelajaran.
"Mama..., ada Aku, Ma! Ada Sheila dan kita bisa hidup bersama. Hik hik hiks... Jangan hiraukan apapun yang membuat kita semakin terluka! Jangan!"
"Sheila... Hiks hiks..."
Anggara senang, dua perempuan yang sangat Ia cintai akhirnya berhasil melewati jalan terjal yang menghadang hubungan mereka.
Anggara memeluk erat keduanya. Alya turut serta merangkul mereka. Berharap badai ini segera berlalu, meskipun tak mengerti apa-apa karena memang Venny dan Anggara belum menceritakan kisah Alya yang sebenarnya.
Cukup lama, mereka bisa sunggingkan senyuman. Kini Venny jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ia bahagia, ada Anggara dan Alya yang selalu jadi bagian hidupnya hingga berfikir ulang untuk melakukan hal-hal buruk lagi.
Kini juga ada Sheila yang lebih pro kepadanya dibandingkan kepada orang tua kandungnya sendiri.
.............
Pukul sembilan malam, Sheila baru kembali pulang.
Ternyata kediaman Yusherlan telah berkumpul semua anggota keluarga termasuk kedua kakaknya serta masing-masing Kakak iparnya.
Sheila tak berkutik dihadapan mereka.
Susanti, Mamanya menangis tak henti-henti. Menyesali keputusan Sheila untuk lebih lebih mendukung Venny ketimbang dirinya yang sudah merasa terdzolimi.
"Sheila, cinta jangan sampai membuatmu buta untuk yang kedua kali. Hik hiks... Kenapa sampai hati kamu menyakiti hati Mama secara terang-terangan dan pergi tinggalkan kami demi mereka, sekumpulan orang-orang yang tidak punya hati!"
"Mama..., maaf."
Sheila tidak banyak bicara. Ikut sedih juga karena Mama terluka hatinya karena keputusan Sheila lebih memilih menghibur Anggara terutama Venny Mamanya.
"Dia datang ingin merebut Papamu! Apakah kamu tidak punya rasa sakit hati? Tidakkah kamu merasa terluka jika Mama sampai melepaskan Papamu dan kalian hidup tanpa belas kasih Papa?"
"Ma... Sudahlah!" sela Yusherlan yang merasa teramat bersalah.
"Diam kamu! Ini semua juga karena salahmu! Mata keranjang dan buaya darat!" hardik Susanti membuat Yusherlan tertunduk malu. Hilang semua harga diri dihadapan anak-anak dan para menantu.
"Coba kamu fikirkan sendiri, Sheila! Kamu pasti juga mengerti perasaan Mama kenapa jadi begitu membenci mereka terutama si Venny Zahra itu!" teriaknya membuat Sheila meneteskan air mata.
"Papa yang bersalah, apakah sudah Mama hukum?" timpal Sheila membuat Susanti meradang.
Plak.
"Ini untuk balasan tamparanmu tadi pada Mama! Dan ini, (Plak! Susanti kembali menampar pipi putrinya) untuk kekurangan-ajaranmu pada kami!"
Sheila mengusap pipinya. Dua tamparan membuat rasa bersalah yang tadi menggelayut karena durhaka pada Susanti seketika perlahan sirna.
"Mama Venny mengandung anak Papa, apa Mama punya empati pada anak yang tak berdosa itu? Apakah pantas jika kebencian pada akhirnya mengubah karakter Mama yang berhati lembut dan mulia? Dan Papa, apakah dengan sejumlah uang kompensasi semua permasalahan bisa diselesaikan begitu saja tanpa ada kata maaf atau,"
"Papamu sudah minta maaf! Tapi dia memang punya niat ingin merebut Papamu seutuhnya dan minta pertanggungjawaban dinikahi! Apa kalian bisa terima? Hah?!?"
Sheila tak bisa berkata-kata lagi.
Mamanya memiliki ego yang tinggi.
Semua menjadi makin rumit karena tidak adanya komunikasi yang baik untuk mencari jalan keluarnya.
Sheila hanya menunduk dan terisak sedih.
Ia turut sedih dengan nasib Mamanya yang diselingkuhi Sang Papa. Dan entah, apakah semua murni salah Venny Zahra, Mamanya Anggara atau ada hal-hal lain yang mendukung hubungan terlarang yang terjadi antara mereka.
"Sudah, Ma! Sheila! Aku, sebagai Kakak tertua, akan mengambil alih memutuskan hubungan kalian yang baru terjalin. Kami, akan lanjutkan perjodohanmu dengan Gerald Alfaro alias Zeinul Abidin Taher!"
"A_APA???"
BERSAMBUNG
next lgi...
buat nyicil.
salam dari novel terbaruku yg berjudul menuju bahagia
cinta 3 serangkai hadir kk...