Ini adalah novel yang menceritakan tentang kehidupan seorang wanita yang mengalami segala jenis permasalahan dalam kehidupan rumah tangganya.
Arinda Rahma adalah wanita beranak satu yang hidup menumpang di rumah orang tuanya karena suaminya hanya memiliki gaji pas-pasan.
Tiada hari tanpa mengeluh tapi ketika dia merasa tak ada yang mendengar keluh kesahnya, Arin memilih diam.
"Mulai saat ini aku akan diam. Semua permasalahan akan kutanggung sendiri. Tak peduli rusak raga dan batinku."
Jangan lupa siapkan tisu karena banyak bawang yang akan othor tabur.
Kalian hanya perlu tabur bunga dan secangkir kopi tiap hari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirwana Asri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kecewa
Ikbal berniat mengabarkan kehamilan Arin pada ibunya. Namun, dia lebih dulu mendengar saudaranya yang tinggal di luar kota meninggal.
"Pak Dhe meninggal, Bal. Dia akan dimakamkan di kampung halamannya," kata Bu Lastri.
"Lantas? Apa kita harus ke sana malam ini?" tanya Ikbal. Bu Lastri mengangguk.
"Kita kan nggak tahu kalau Pak Dhe akan meninggal sore tadi," jawab ibunda Ikbal.
"Jangan lupa ajak istri kamu nanti," perintah sang ayah.
"Nggak bisa, Pak. Arin tidak bisa bepergian jauh," tolak Ikbal.
"Kenapa? Dia mabuk perjalanan?" sindir Bu Lastri.
"Bukan, Bu. Arin hamil lagi," jawab Ikbal. Raut wajah Bu Lastri berubah seketika.
"Kamu yakin dia hamil? Jangan-jangan dia hanya masuk angin biasa," kata Bu Lastri dengan ketus.
"Tidak, Bu. Kami sudah memeriksa hasil tespek Arin. Dia positif hamil."
"Jangan-jangan itu tespek saat dia hamil Flora yang dia simpan," tuduh Bu Lastri.
"Ibu, kenapa sepertinya tidak suka mendengar kalau istriku hamil lagi?" Ikbal merasa ibunya sangat keterlaluan.
"Bal, kamu hidup aja sudah susah. Malah sekarang mau nambah anak lagi," ejek Bu Lastri.
"Bu, rejeki semua sudah diatur oleh Allah," balas Ikbal.
"Jadi gimana kamu mau ikut?" Ikbal menggeleng menanggapi pertanyaan sang ayah.
"Aku tidak bisa meninggalkan Arin. Jadi aku nitip uang saja."
Setelah itu dia pulang. Jujur Ikbal kecewa dengan sikap ibunya. Dia tidak menyangka reaksi ibunya tidak seperti yang dia harapkan.
Sesampainya di rumah, Ikbal mengucapkan salam. "Assalamualaikum."
Arin dan Flora menyambut kedatangan laki-laki itu. "Baru nyampai ya Mas? Apa tadi jadi ke rumah ibu?" tanya Arin.
"Jadi, aku nitip uang untuk melayat Pak Dhe yang meninggal."
"Innalilahi wa innailaihi rojiun. Kamu nggak ikut melayat ke sana, Mas?" tanya Arin.
"Nggak bisa, Dek. Berangkatnya malam ini. Kalau aku besok tidak izin maka akan dikira membolos maka aku akan dapat sangsi," terang Ikbal. Padahal bukan itu alasannya. Tentu saja karena dia tersinggung dengan ucapan sang ibu.
"Ya sudah, kita doakan saja dari sini. Oh iya, aku akan buatkan teh hangat untuk Mas."
"Aku akan mandi dulu, Dek." Arin mengangguk. Walau sempat curiga pada suaminya tapi dia tidak mau menambah beban pikiran Ikbal. Maka Arin memilih diam.
Kadang semua tidak perlu diungkapkan. Ada saatnya bicara, ada saatnya diam bila itu diperlukan.
Setelah Ikbal selesai mandi, Arin mendekati suaminya. Dia memberikan baju ganti pada Ikbal. "Kamu harum sekali, Mas. Aku suka aromanya," ucap Arin.
"Oh ya? Coba cium di sini, Dek. Apa di sini juga wangi?" Ikbal menunjuk pipinya. Arin menepuk bahu suaminya. Dia tersenyum malu-malu.
"Malu, Mas. Nanti kalau didengar sama dilihat ibu bagaimana?"
Ikbal tiba-tiba memeluk Arin. "Aku kangen, Dek," ucapnya tiba-tiba.
"Jangan kenceng-kenceng, Mas. Nanti anak kita terjepit." Ikbal pun melepas pelukannya.
Tiba-tiba Ikbal mengusap perut Arin. "Terima kasih sudah mengandung anakku. Aku akan menjaga kamu dan bayi kita."
Arin merasa terharu mendengar ucapan suaminya. Meski kadang Ikbal sangat dingin dan cuek, tapi di dalam hatinya begitu hangat.
"Terima kasih, Mas. Aku juga akan menjaganya. Bagaimana tentang tanggapan ibu saat kamu bilang aku hamil, Mas?" tanya Arin penasaran.
"Jangan pikirkan! Sebaiknya kita susul Flora di ruang tengah."
Arin menduga jika Bu Lastri tidak senang dengan kabar kehamilannya. Namun, Arin berusaha tenang.
"Flora sayang, lagi nonton apa?" tanya Ikbal.
Tak lama kemudian seseorang mengetuk pintu. "Assalamualaikum." Ayah Arin yang lama merantau hari ini pulang ke rumahnya.
"Eh kakek pulang."
Arin dan Ikbal menyalami tangan Pak Rohmat. "Apa kabar, Pak?" sapa Ikbal pada ayah mertuanya.
"Baik," jawab Pak Rohmat sambil tersenyum. "Bapak bawa sedikit oleh-oleh. Mana cucuku?" tanya Oak Rohmat.
"Ada di ruang tengah, Pak," jawab Arin.
Setelah itu Pak Rohmat pun menghampiri Flora. Dia menggendong Flora lalu menciuminya.
Di dalam kamar, Tika mendengar suara ayahnya. "Bapak pulang, Bu," teriak Tika.
"Kamu sudah nggak kuliah lagi, Tik?" tanya Pak Rohmat.
"Tika kan udah lulus, Pak. Ini sedang cari-cari kerja," jawab gadis berusia dua puluh empat tahun itu.
"Pak," panggil Bu Nia.
"Bapak pulang, Bu."
"Iya, Pak. Apa sudah selesai proyeknya?" tanya Bu Nia.
"Iya, Bu. Mulai besok bapak akan di rumah sementara sambil menunggu proyek baru."
"Ibu ambilkan makanan dulu ya, Pak." Bu Nia berlalu ke belakang.
"Nduk, kamu agak gemukan ya sekarang?" tegur Pak Rohmat pada Arin. Arin tersenyum.
"Iya, Pak." Dia masih merahasiakan kehamilannya dari orang rumah. Dia pikir mereka akan tahu dengan sendirinya jika perut Arin sudah membesar.
Ketika di dalam kamar, Ikbal bertanya pada istrinya. "Dek, kenapa kamu nggak bilang saja sama bapak kalau kamu sedang hamil?" tanya Ikbal.
"Aku bukannya tidak mau bilang. Tapi nggak semua yang kita sampaikan menjadi berita bahagia. Aku malah takut ibuku berpikir yang bukan-bukan. Mas tahu sendiri watak ibuku yang suka memikirkan akibat walau belum dijalani."
"Apa kamu takut mereka tidak menyetujui kalau kamu hamil lagi?" tanya Ikbal memastikan.
"Mas tahu sendiri bukan alasannya?" Arin bertanya balik agar Ikbal berpikir. Jika dia bilang karena soal materi maka dia yakin suaminya akan tersinggung.
"Doakan aku agar bisa memenuhi semua kebutuhan kalian ya, Dek."
"Pasti, Mas. Aku tidak pernah absen dalam mendoakan kamu."
tokoh Iqbal blm seberapa toxic,,msh mau ada untuk istrinya..tp pa negaraku 10 taun LDR hidup terus d rmh ortuku tanpa berpikir untuk berpindah kerja agar bisa ngontrak satu kota dengan ku nyatanya hanya ilusi oasis d tengah Padang gurun..
masyaallah related bgt sama kehidupan nyata ku ,, punya ortu kandung yg toxic tp bedanya rumah tangga ku LDR selama 10 taun..Ntah apa rencana Tuhan sampai lelah utk mempertahankan semuanya...