~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Minta Tolong pada Bayu
Sundari yang kebingungan dengan sikap ketus Renata terhadap nya pun akhirnya menjawab pertanyaan Renata tadi.
"Mm.. iya. Mas Bayu nya ada gak, Ren?" Tanya Sundari sedikit ragu.
Renata lalu mendengus kasar. Kemudian tanpa berkata apa-apa lagi, ia pun masuk ke dalam rumah dengan langkah kaki yang menghentak keras. Sundari bahkan bisa mendengar setiap langkah yang dibuat oleh istri sepupu nya itu.
Sundari berpikir, mungkin saat ini Renata sedang ada masalah. Jadi sikap nya sedikit ketus.
'Apa sebaiknya aku pulang saja lagi ya? Rena mungkin sedang ada masalah sendiri. Jadi tak sepatutnya aku merepotkan ia dan juga Mas Bayu,' gumam Sundari dalam hati, saat ia menunggu di depan teras rumah sepupu nya itu.
"Ndari? Kok berdiri saja? Kenapa gak duduk? Duduk lah!" Ucap Bayu mempersilahkan Sundari untuk duduk pada salah satu kursi di teras.
Disuguhkan dengan keramahan Bayu, Sundari pun sedikit merasa lega. Meski begitu, tak lama saat ia baru aja duduk di kursi, terdengar suara panci yang berkelontangan dari arah dalam.
Krompyangg...pyangg..pyangg..pyangg..
Serentak, Sundari dan Bayu pun menoleh ke arah dalam.
"Mbak Rena seperti nya lagi masak ya, Mas?" Tanya Sundari berbasa-basi.
Sudnari lalu melihat wajah Bayu menampakkan ekspresi aneh. Namun ketika sepupu nya itu membenarkan ucapan Sundari, keganjilan yang sempat hinggap di benak nya tadi pun seketika menghilang.
"Iya.. eh, ya. Tumben kamu mampir, Ndar? Baru pulang kerja kan kamu?" Tebak Bayu dengan sangat tepat.
Sundari tersenyum kikuk.
"Mm.. ketahuan banget ya, Mas kalau Ndari baru pulang kerja nya? Hahaha.. enggak kecium bau nya kan?" Seloroh Ndari mencairkan sitiasi.
Bayu lalu berpura-pura mengendus sambil menoleh ke arah sepupu nya itu.
"Mm.. gak tahu juga ini ya. Mas rasa-rasa nyium wangi yang gak biasanya ada sih!" Balas Bayu mencandai Sundari.
Kedua saudara jauh itu pun serentak terkekeh kecil.
Krompyang..pyang..pyang..
Sundari terkejut saat mendengar suara panci yang lagi-lagi terjatuh.
"Uhh? Mbak Rena apa lagi repot banget ya, Mas? Itu dari tadi panci nya jatuh terus kayak nya. Apa Ndari tengok dulu ya, siapa tahu Mbak Rena perlu bantuan.." tawar Sundari sambil hendak beranjak berdiri.
"Eh, jangan! Gak usah Ndar!" Larang Bayu kepada Sundari.
"Jj..jangan? Oh.. mm.. ya sudah. Ndari gak jadi tengokin nya deh," sahut Sundari yang kemudian merasa kikuk.
Ia jadi bingung untuk menyampaikan maksud kedatangan nya ke rumah Bayu pada sepupu nya tersebut. Pada akhirnya Bayu lah yang mengingatkan Sundari tentang tujuan nya datang berkunjung.
"Jadi, Ndar. Ada apa ya kamu ke sini sore-sore begini?" Tanya Bayu dengan raut serius.
"Oh! Begini Mas.. mm.. Ndari mau tanya, apa Mas Bayu tahu teman dekat nya Mas Atmaja siapa? Teman yang sering diajak main atau mengobrol gitu, Mas?" Tanya Sundari lewat pertanyaan memutar.
"Teman Atmaja? Ada sih.. tapi gak tahu juga sekarang mereka masih dekat atau enggak nya. Soal nya kan Atmaja udah gak sekantor lagi dengan kami. Jadi teman dekat nya itu ya teman sewaktu di kantor dulu, Ndar," terang Bayu..
"Ooh.. mm.. punya nomor ponsel atau alamat rumah nya gak Mas?" Tanya Sundari kembali.
"Memang sebenarnya ada apa Ndar? Kenapa tiba-tiba kamu mau tahu teman suami mu? Apa kamu ada masalah lagi sama Atmaja?" Cecar Bayu bertanya pada Sundari.
Deg.
Sundari diliputi keraguan untuk menceritakan masalah nya secara mendetail kepada Bayu, atau tidak. Rasa nya tak etis juga bila ia curhat kepada sepupu nya itu.
Tak hanya karena mereka berbeda jenis. Namun juga karena mereka sudah memiliki pasangan masing-maisng.
Sebenarnya dengan datang ke rumah Bayu sekarang pun Sundari sudah merasa tak nyaman. Terlebih lagi suara panci terjatuh yang kembali terdengar selama beberapa kali berikut nya.
Sundari paham bahwa sikap ketus Renata saat menyambut nya tadi itu buka dikarenakan ia yang memiliki masalah pribadi. Namun lebih karena Renata tak menyukai kedatangan Sundari ke rumah nya sekarang ini.
"Ndar? Ada apa? Katakan saja kalau memang kamu membutuhkan bantuan Mas. Karena Mas sudah berjanji pada mendiang Bapak mu untuk menjaga mu," tegur Bayu mengingatkan.
Sundari pun akhirnya memutuskan untuk mengungkapkan masalah nya kepada Bayu. Meski tidak sedetail yang sebenarnya terjadi.
"Mas Atmaja sudah beberapa hari ini gak pulang ke rumah, Mas.. Dihubungi, nomor nya gak aktif. Ndari jadi khawatir. Terakhir kali Sundari melihat nya, Mas Atmaja keluar rumah dalam kondisi marah.. jadi.."
Sundari menggantungkan kalimat nya. Kebingungan harus mengatakan apa lagi.
"Atmaja pergi begitu saja dan gak pulang selama beberapa hari, katamu, Ndar?!" Pekik Bayu terkejut.
Sundari pun menganggukkan kepala nya sekali..
"Iya, Mas. Maka nya Ndari khawatir kalau terjadi sesuatu ke Mas Atmaja. Karena gak biasanya Mas Atmaja bersikap seperti ini. Biasanya kalaupun Mas Atmaja marah, ia pasti akan selalu pulang malam nya. Tapi sekarang.."
Sundari mehan isak tangis yang hampir saja tumpah. Ia tak ingin lagi menangis di hadapan orang lain. Rasa nya letih bila ia harus selalu bersedih dan mendapat kan rasa iba dari orang lain.
"Apa kamu sudah mencari nya di tempat dia biasa berkumpul? Di rumah Pak Broto?" Tanya Bayu kemudian.
"Sudah, Mas. Tapi Mas Atmaja gak ada di sana. Bahkan Pak Broto dan keluarga nya juga gak ada di rumah nya. Jadi Ndari bingung mau bertanya ke siapa lagi," ujar Sundari menceritakan keluh kesah nya.
Tiba-tiba..
Krompyangg... Pyang.. brakk!! Brukk!!
Berbagai macam suara benda jatuh kembali terdengar dari dalam rumah Bayu. Seketika itu pula Sundari dan Bayu langsung terlihat kikuk.
Keduanya sama-sama tahu apa yang terjadi di dalam sana. Namun keduanya memutuskan untuk diam tak mengomentari aktivitas bising yang dibuat oleh Renata.
"Mm.. kalau begitu, Ndari pamit pulang sekarang aja ya, Mas. Udah mau maghrib juga kan.." pamit Sundari kemudian.
Ia sadar diri bahwa kehadiran nya ke rumah sepupu nya itu telah membuat salah satu pemilik nya tak suka. Karena itu lah sebelum diusir, Sundari memutuskan untuk pulang saja terlebih dahulu.
Dan Bayu pun juga mengerti dengan penyebab kebisingan yang dibuat oleh Renata di dalam rumah nya. Beberapa saat sebelum Bayu menemui Sudndri di teras rumah, Renata sudah menyatakan ketidak sukaan nya pada kedatangan Sundari ke rumah mereka.
Renata telah berhasil memakan umpan hasutan dari tetangga mereka yang julid. Di mana umpan tersebut terkait dengan rumor bahwa ia (Bayu) dan Sundari memiliki hubungan lebih dari sekedar sepupu.
"Hh.. maafkan Renata ya, Ndar. Dia sedang ada masalah sendiri. Jadi.." Bayu tak melanjutkan ucapan nya lagi. Lelaki itu terlalu malu bahkan hanya untuk membalas tatapan Sundari kepada nya saat itu.
"Iya, Mas. Gak apa-apa. Ndari ngerti kok. Kalau gitu. ndari pamit sekarang ya, Mas.." pamit Sundari bergegas.
"Ya.. " sahut Bayu dengan suara lesu.
Tak lama saat Sundari mengenakan alas kaki nya lagi, ia mendengar Bayu mengucapkan janji pertolongan untuk nya.
"Nanti Mas akan bantu cari suami mu, Ndar. Jadi kamu jangan terlalu khawatir ya!" Imbuh Bayu dari teras rumah nya.
Sundari kembali mengangguk. Mengucapkan terima kasih kembali, baru kemudian melangkah pulang menuju rumah nya. Meninggalkan Bayu dengan kepelikan rumah tangga nya sendiri.
"Hhh... mas.. kamu di mana sih?" Lirih Sundari dalam perjalanan pulang nya.
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y