Ayuna putri yang akrab dipanggil Yuna ini terpaksa menikah dengan pria yang tidak dikenal sebelumnya karena berdasarkan tradisi adiknya tidak boleh menikah terlebih dahulu sebelum sang ayah kakak
Awalnya ia setuju tapi saat dirinya sah menjadi istri dari Yusuf Mahendra malah dipertemukan dengan pria yang selama ini ditunggu.
Yang tidak lain adalah pria yang ingin dinikahi oleh adiknya sendiri
Bisakah Yuna menerima kenyataan yang ada di depan matanya? Dan menerima Yusuf suaminya seutuhnya?
maraton bacanya entah bagaimana kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marianay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malu Sekali(2)
Bang Yusuf sedang duduk di atas sajadah membelakangiku, jadi aku tak tau dia sedang apa.
Setelah memakai gamis sederhana keluar ingin melaksanakan shalat subuh bersama.
"Udah baikan?"tanyanya saat melihatku
"Udah kok. Abang tenang aja"
"Kita shalat?" Mengangguk kepala. Kami melaksanakan shalat berjamaah.
°°°°°°°
Seperti biasa aku turun ke dapur untuk memasak, tapi ini rumah mertua aku jadi agak canggung
"Lagi apa Ma?"sapaku
Melihat Mama sedang berkutat didepan kompor padahal hari masih sangat pagi, pantas saja Bang Yusuf sangat menyayangi beliau.
"Ini, mau masak sarapan buat yang pulang dari olah raga nanti "ucapnya.
"Aku bantuin ya, Ma. Kalau boleh tau olah raga dimana?"
"Boleh, tadi pagi-pagi banget Bella ngajakin semua jogging keliling dekat sini, dia mau ajak kalian juga tapi gak jadi takut ganggu katanya"
"Ah Mama bisa aja"
"Hehe. Kan kalian pengantin baru"Aku jadi tambah malu jika begini
"Ini mau masak apa Ma?"tanyanya mengalihkan pembicaraan.
Aku mengangkat beberapa sayur dimeja, siap untuk dipotong. Mana masih asik mengaduk masakan diwajan, menoleh sekilas.
"Oo. Itu, rencana mau bikin capcay aja, Yusuf suka loh"
"Oh ya, apa lagi yang disuka Bang Yusuf, Ma?"
"Kalau Yusuf itu sukanya yang sederhana aja, ya contohnya capcay, sop, kadang Mama masak kangkung pun dia doyan banget"
"Berarti bisa makan apa aja dong?"
"Gak semua, dia gak bisa makan ayam, dulu pernah dia ketahuan makan ayam sama teman-temannya sampai dia masuk rumah sakit"
"Dia juga gak tahan makanan terlalu pedas, bisa-bisa dia demam tinggi, bakalan sakit berhari-hari"
Udah tau gak bisa makan pedas tapi belagak kayak superhero tahan serangan apapun. Baru ingin menimpali Bang Yusuf sudah berada dipintu.
"He-em lagi ngomongin si tampan ini ya"
Sok narsis banget tampan sih iya diatas rata-rata tapi kege-eran luar biasa.
"Kege-eran kamu, kita ngomongin makanan, yakan Yun??"
"Iya, Ma. Kita ngomongin makanan kok"
"Udah kompak ya, Mama sama istriku"
"Jelas dong" ucapku dan Mama bersamaan.
"Tuh kan" Bang Yusuf merajuk, dengan wajah pura-pura ngambek.
Bang Yusuf duduk disampingku, memakan buah diatas meja, sesekali menyodorkannya padaku tapi saat aku membuka mulut dia mengalihkan hingga masuk ke mulutnya kembali.
"Aa.. dong" ucapnya menyodorkan buah anggur, pikiran jahilku bekerja.
Membuka mulut, seperti ini benar-benar akan diberi, kugigit tangannya agak keras seraya fokus dengan sayur
"aakkh.. sakit dek"
"maaf bang"ucapku seraya meraih tanganya mengipas pelan.
"enak kan bang?" tanyaku polos
"sakit sayang"yang benar saja, dia masih menggodaku.
"Yusuf, kenapa?" tanya Mama khawatir.
"Ini Ma tangan bang Yusuf nakal jadi gak segaja tergigit" jawabku jujur
"Yusuf, kamu kebiasaan ya, jangan main kalau makan."
"Iya, Ma"kasian deh kena marah sama Mama. Kan aku yang salah
"Abang mau teh?"tanyaku, anggap sebagai ganti tangannya yang kugigit.
"Boleh, yang hanget aja ya"
Aku bergegas membuat teh untuknya, tanpa membalas perkataannya.
"Ada beberapa biskuit juga dikulkas, ambil aja Yun, sekalian bawa sama tehnya"kata Mama
"Iya Ma"
Biskuit dikulkas ada banyak, hanya sebagaian kecil kuambil dan menaruhnya dipiring. Lalu membawa pada Bang Yusuf.
"Nih, teh sama biskuitnya"
"Makasih sayang"
Apa katanya 'sayang', memang ya godain gak tau tempat, kan ada Mama disini, kutatap dia dengan tatapan tajam, dia tetap santai. Mama hanya tersenyum.
Lama semua terdiam, Mama sedang ke toilet hingga sekarang aku sedang memasak capcay. Bang Yusuf masih ditempatinya tadi.
"Masak apa sih dek?"tanya Bang Yusuf, suaranya dekat sekali. Menoleh, wajahnya ada disamping.
"I-ini masak capcay"balasku gugup
"Emm. Wangi, kayaknya enak!" Tangannya mulai melingkari perutku dari belakang, membuatku terasa susah bergerak. Masakan pun hampir matang.
"Bang, jangan gini, nanti dilihat ibu, bentar lagi yang lain pulang"ucapku pelan
"Bentar aja dek" Dia mengusap perutku beberapa kali, wajahnya dibenamkan dibahuku.
"Ehem.. Ma, aku baper eh laper"
Suara Bella membuatku dan bang Yusuf gelagapan melepas pelukan, mematikan kompor cepat, terlihat Bang Yusuf menggaruk tekuknya yang tak gatal.
"Ada apa sih Bell. Teriak-teriak aja"Kak Nara datang
"Itu masa terciduk mesraan didapur, aku masih kecil kak"ucap bella dengan nada imut.
"Eh, gak gitu"kilahku
"Maklum Bell, dunia serasa milik berdua ya gak?." Mereka berdua terkekeh.
Tak mendapatkan pembelaan apapun dari bang Yusuf aku menginjak kakinya keras.
"Aww.... sakit dek"
"Lain kali nih ya, kamar ada tuh, dapur ini tempat masak, entar masakan malah gosong iya"
"I-iya, maaf kak, aku duluan"
Aku berlalu sambil tertunduk, aku malu sekali, bagaimana kalau Bella benar-benar baper terus ngelakuin yang gak-gak, semoga saja tak terjadi.
"Dek!!" Bang Yusuf yang memanggil pun tak ku dengar lagi, aku benar-benar malu sekarang. Berjalan cepat menuju kamar. Masuk dan menutup kembali
"Haduh. Yuna bodoh, kenapa gak nolak sekali-kali. Malu sendirikan, mau ditaruh dimana mukamu"
Mendudukan diri dibalkon kamar, sebenarnya aku pernah bermimpi punya kamar yang ada balkon, kalau dirumah hanya kamar Hana yang memiliki balkon.
"Kamu disini?" Aku tak menoleh karena sudah tau siapa.
"Ya"jawabku singkat
"Kenapa masuk kamar lagi ?"
"Aku malu "
"Kenapa kamu malu dek?"
"Ya karena Abang!"
"Bangun!!"
"Buat apa? Aku baru duduk"
"Bangun!!"
Menurutinya saat sedang kesal agak susah tapi namanya juga suami. Aku berdiri maju dua langkah tanpa mendekatinya.Dia mendekat duduk dikursi tadi kududuki
Tanpa disuruh aku ingin masuk dan duduk dikamar saja sambil membaca. Belum sampai dipintu balkon bang Yusuf menarikku.
"Apaan lagi sih Bang?"
"Disini aja"
"Gak mau"
"Ini perintah bukan permintaan"
"Sama aja, gak mau"
Bang Yusuf tak menjawab lagi, dengan cepat di sudah menggendongku seperti karung. Kurang asem memang.
"Aa...abang lepas" kupukuli punggungnya, mencubit lengannya, dia membawaku kedalam kamar. Kenapa seenaknya sih.
"Hahaha.. geli dek"
"Aku mukul bang bukan gelitikin"
Bang Yusuf menduduki aku disofa, belum selesai dia bangun aku berlari menjauhinya.
"Jangan lari dek, sini" bang Yusuf berkacak pinggang menyuruhku mendekat.
"Gak, gak mau!. Wekk"
"Sini gak?"suruhya lagi
"Gak, gak mau!!"
"Mau main kejar-kejaran lagi ya" tanyanya
"Kejar aja kalau bisa"
"Awas kamu!!"
Bang Yusuf menuju kearahku, aku mulai menjauhinya, sama-sama berada diujung sofa. Hingga beberapa kali mengelilingi sofa.
"Wuuu. Gak kena"
"Awas kalau kena, abang makan kamu"
"Haha. Makan aja kalau bisa, ini aja gak dapat"
"Bener ya" dia mulai mengejar lagi, karena masih ada rasa sakit agak susah berlari terus.
Perut yang belum terisi pun terasa sakit karena masih kosong, berlari tanpa pemanasan ini sebabnya.
"Udah dulu bang, berhenti bentar." Nafasku ngos-ngosan mulai capek, sakit tadi terasa lagi.
"Haha. Gak ada berhenti dek, kan kejar, bukan lari."
"Tapi, berhenti bentar aja ya"
Aku terus mundur pelan sedikit demi sedikit, menjauhinya.
"Gak bisa, gak ada perjanjian gitu"
Aku sudah terpojok diantara bang Yusuf dan ranjang. Menaiki pelan agar tak banyak guncangan. Perihnya mulai terasa lagi. Aku meringis pelanl, beringsut menjauhi Bang Yusuf walau tak akan berhasil.
"Bang, jangan ya, abang disitu aja, jangan kesini" aku meringis
"Kenapa, kamu kenapa. Ada yang sakit?"
"Aku gak-..."
Tok..tok..
"Kak!, ayo turun, makan" teriak Bella
"Iya. Bell. Bentar"balas Bang Yusuf
"Ayo turun dek, makan"bujuknya
"Aku makan nanti aja ya"
Mencengkeram perut agak keras karena terasa sangat perih.
"Gak enak sama yang lain. Kita turun yuk"
Aku lebih baik mengalah kali ini, sarapan pertama gak mungkin aku makan dikamar.
"Abang jalan duluan ya"
Berjalan pelan tertatih menuruni tangga, ini pertama kali aku tak suka kamar dilantai atas. Perihh. Bang Yusuf berbalik melihatku dibelakangnya.
"Kamu kenapa pucat?" Hanya gelengan dan tersenyum sebangai jawaban 'aku tidak apa-apa'
Kami turun bersama menuju meja makan, bang Yusuf memapahku setelah melihatku pucat tadi. Sampai di meja makan aku duduk tepat diantara Bang Yusuf dan Bella.
"Kakak ipar kenapa? Ada yang sakit, atau dipukuli sama kak Yusuf?"
"Hustt. Kamu tuh ya?"
"Gak papa kok, kakak baik-baik aja. Kak Yusuf juga baik"
Aku hanya makan dalam diam setelah melayani bang Yusuf tadi. Aku memang baik-baik saja hanya perih sedikit menganggu,mungkin karena telat makan sarapan dan lari dalam kamar tadi, semoga pulih
Hola guys, jangan lupa, like, comen and vote ya, moga bisa jadi semangat biat Author
jgn lupa untuk mampir ya
di Mr. Latto- latto- mencari cinta sejati