Bosan dengan kehidupan bagaikan seorang putri membuat Kimora Candy Anastasya harus membuat perjanjian dengan sang ayah agar bisa terbebas dari semua peraturan Keluarga Besar Park.
Ayah Kimora, Baek Hyeon sangat protektif terhadap putrinya itu hingga semuanya harus sesuai dengan peraturan keluarganya. Semenjak istrinya meninggal Baek Hyun sangat over protektif hingga membuat Kimora tidak betah.
Hingga ia memilih menjadi artis dan bertemu dengan Abigail seorang vampire yang juga bekerja di dunia entertainment sebagai artis figuran. Tertarik dengan kehidupan Abigail membuatnya banyak berubah dari seorang gadis manja menjadi mandiri. Hanya saja Abigail sangat anti terhadap wanita.
Lalu bagaimanakah cara Kimora menaklukan hati Abigail? Akankah keluarga besar mereka memberikan restu dan berakhir bahagia? Atau penuh dengan rintangan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Haryani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 27. KESAKITAN
Hanya dengan satu kali gerakan, para vampir muda itu akhirnya bisa dikalahkan dengan mudah oleh Abigail. Apalagi jika dibandingkan dengan semua hal yang telah berlalu, dengan cepat kekuatan Abigail yang sudah terlatih selama beberapa tahun belakangan, hal itu justru sudah kembali dan bisa menyelesaikan masalah tepat waktu.
"Cepat minggir atau aku panggilkan pihak berwajib!" seru Abigail.
Gertakan Abigail rupanya mampu membuat para vampir muda tersebut kocar kacir. Berbanding terbalik dengan tindakan mereka beberapa waktu yang lalu, saat mereka hendak menyerang Kimora yang begitu lezat untuk dicicipi.
Mendapat ancaman dari Abigail membuat para vampir muda merasa tidak mau bertahan lama-lama di sana. Bersinggungan dengan Abigail sama saja mencari mati. Maka dari itu mereka memilih untuk pergi dan berniat untuk menyembuhkan lukanya dengan segera.
"Arghhh! Ingat untuk selalu membenahi diri, tidak semua manusia berhak kau perlakukan seperti itu!" tegur Abigail dengan hormat.
"Hm," sahut mereka singkat.
Bagi vampir muda, cinta sejati hanya sebuah bualan dan bukan sesuatu yang indah sama seperti yang ada di dalam pikiran para manusia. Maka dari itu mereka tadi berniat untuk menguji coba kelayakan Kimora sebagai manusia ketika masih berada di dalam kastil.
Di luar semua itu, mereka memang ingin menyingkirkan Kimora, karena yang mereka tahu manusia sangat dilarang untuk menginjakkan kaki di Caribaldi Castle. Sesuai dengan peraturan yang dibuat oleh Tuan Felixs, sang pemimpin tertinggi Kaum Vampir Origin.
Merasa jika Kimora masih terkejut dengan semua tindakan yang dilakukan oleh satu persatu anggota keluarganya, maka dari itu ia pun mengajak Kimora untuk pergi jalan-jalan dan menikmati indahnya pegunungan yang menurutnya semua patut disyukuri.
Lagi pula di Seoul sangat jarang bisa menemui pemandangan seperti itu, makanya Abigail me memiminta Kimora untuk mengikutinya.
"Ayo!"
"Aku ikut!"
Meskipun nyawa dan kehidupan Kimora sangat berbeda, ia tetap bersyukur dan setidaknya bisa bertemu dengan vampir asli. Saat bermonolog kepada dirinya, Abigail mengajak Kimora duduk di balkon kamar pribadinya.
"Kita duduk di sana saja, biar terlihat sangat luar biasa ketika kamu mau melihat pandang dan hutan di sekitarnya."
"Ayo!" ucapnya bersemangat.
Begitu pula dengan suasana hati Kimora yang sudah semakin membaik. Kini ia terlihat menempel pada Abigail. Terbukti tangannya terus berpegangan pada tangan calon kekasih hatinya itu.
"Makasih Abigail," ucapnya dengan manja.
"Hm."
Para vampir muda telah selesai berbuat ulah. Sebelum semuanya terlambat, mereka pun langsung menghilang sebelum Abigail semakin murka. Ternyata keributan kecil yang terjadi membuat Kakek Felixs mendengar hal itu.
"Panggil semuanya kemari!"
"Baik, Tuan Besar."
Dengan secepat kilat mereka berlari dan meninggalkan tempat itu untuk memanggil Abigail dan juga Kimora.
"Belum genap manusia itu berada di Caribaldi Castle rupanya sudah membuat ulah kembali."
Tanpa mau menegur secara pribadi, Tuan Felixs lebih suka untuk menegur mereka semua dalam sekali waktu dan meminta kedua pelakunya untuk datang dan menghadap ke arahnya.
Sementara itu di Seoul, Audrey merasa cemas karena adiknya belum memberikan kabar secara langsung.
"Kenapa mereka belum hubungi aku, apakah ada sesuatu hal yang tidak beres sedang terjadi di sana. Hingga membuat Kimora lupa dengan seluruh keluarganya di sini?"
Ketakutan Audrey semakin menjadi ketika ia teringat akan sebuah fakta yang baru saja di dapatkan dari salah satu anak buahnya.
"Bagaimana jika Ayah sudah lebih dulu kembali ke sini dan melihat Kimora belum juga kembali?"
Kekhawatiran Audrey cukup beralasan karena saat ini ayahnya akan segera kembali ke Seoul. Tuan Park memang baru saja menjalani sebuah bisnis yang sangat penting di luar kota. Ia pasti akan murka karena Kimora tidak pulang secara tepat waktu.
Saat asyik melamun rupanya ponsel khusus miliknya berbunyi. Salah satu tangannya segera meraih ponsel.
"Hallo, ada apa malam-malam kau menghubungi aku."
"Maaf Nona, informasi tentang keberadaan Nona Kimora seolah tertutup. Bahkan dari semua nomor penerbangan tidak ada penumpang dengan nama Nona Kimora."
Audrey tampak mendudukan dirinya di atas kursi. Ia tampak memijit pangkal hidunya agar lebih rileks.
Lalu setelah itu ia mulai membaca informasi yang mengatakan tempat dimana terakhir kali Kimora terlihat keluar dari dalam mobil yang dia tumpangi dengan Abigail.
"Apakah mereka takut terlacak sistem yang aku kirimkan di dalam mobil itu? Lalu kemana dia saat ini?"
Berbagai spekulasi tiba-tiba saja muncul di kepalanya. Sebagai contoh ia telah mampu membina Rumah Sakit dan organisasi Hitam miliknya.
Tangannya tampak mengepal karena menahan amarah, belum lagi rasa yang tiba-tiba membelenggu jiwa Audrey. Membuatnya semakin tidak nyaman saat itu.
"Kimora bertahanlah, kakak akan menolongmu."
Dengan cepat dan lincah jari jemari Audrey lansung bergerak dia atas laptop miliknya untuk melacak keberadaan Kimora dan Abigail. Meskipun sampai ke ujung dunia pun akan Audrey jalani dengan sangat ikhlas.
Kastil Alhambra.
Tampak Kakek Felixs sedang tubuhnya saat ini. Akan tetapi kejadian hari ini membuatnya harus menuntaskan & untuk belajar mengetahui seberapa besar cinta Kimora untuk Abigail.
"Kau tahu kalau kau akan melakukan sebuah misi. Lebih baik kau berhati-hati saat ini."
"Baiklah yang terpenting adalah ketika kalian bisa berbagi dan saling mengerti satu sama lain. Meskipun kalian berbeda, kakek berharap semuanya akan baik-baik saja."
Akhirnya Tuan Felixs memberikan sebuah kesempatan pada hubungan Abigail dan Kimora. Meksipun pada akhirnya nanti Abigail pasti akan musnah jika meneruskan hubungan tersebut, Tuan Felixs tetap memberikan restunya.
Ternyata Tuan Xavier, ayah dari Abigail mendengarkan semua percakapan mereka bahkan sampai mendetail. Karena pada saat itu rupanya Tuan Xavier berpura-pura untuk menjadi sebuah vas bunga di sudut ruangan.
"Bagaimana, apakah berhasil?"
"Tentu saja."
Tuan Felixs berbalik dan menatap ke arah putranya.
"Sampai kapan kamu akan bertahan? Bukankah kamu tahu jika aku sudah mengetahui penyamaran yang kamu lakukan tadi?"
Tuan Xavier segera mengembalikan wujudnya ke dalam bentuk manusia. Ia memberikan hormat pada ayahnya sebelum mulai berbicara.
"Sudah puas dan mendapatkan semua informasi ini berasal dari putramu, langkah apa yang akan kamu ambil setelah ini?"
Tuan Xavier tidak bisa memprediksi bagaimana ia akan bertindak karena hal ini sangat berbahaya jika ia sampai salah mengambil keputusan.
"Mohon maaf, Ayah. Aku tidak bisa mengambil keputusan saat ini. Takutnya pemikiranku salah, nanti bisa berabe."
Tuan Felixs menepuk bahu putranya lalu menemaninya berjalan ke arah balkon. Di sana mereka memulai kembali berbicara tentang masa depan Abigail. Maka dari itu Tuan Felixs sangat sayang pada putranya tersebut.
Sebagai calon penerus di tahta selanjutnya maka pemikiran Tuan Xavier harus seirama dan sejalan sesuai dengan pemikiran Tuan Felixs.
Di sisi lain, Kimora sedang berbahagia karena restu yang baru saja didapat. Namun, karena ia terlalu bahagia sampai ia tidak memperhatikan langkahnya kondisi jalan yang memang dibuat licin sengaja untuk menjebak Kimora.
"Aargghhh!" teriaknya ketika hampir tergelincir.
Grep, Abigail berhasil menangkap tubuh Kimora dan sekali lagi tatapan mereka beradu untuk sesaat. Ehem, kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya?