Pernah merasa menjadi anak yang tidak diinginkan kehadirannya, mengubah karakter seorang Ziandru. Masa kecilnya yang penuh kehangatan dan keceriaan harus berubah 180° ketika menerima kenyataan bahwa dia adalah anak yang tidak diinginkan oleh laki laki yang seharusnya dipanggilnya Abi.
Jika ada yang bertanya, apakah dia menyimpan dendam pada orang tua laki lakinya itu ?? dia tidak bisa menjawab. Dia saja tidak bisa mendeskripsikan rasa dalam hatinya itu. Dia hanya bisa menjauh dari sumber rasa sakit itu. Sebisa mungkin dia berlari menjauh agar bisa melupakan rasa sakit itu tanpa harus menyakiti orang tersayangnya yaitu Uminya.
Kisah ini squel dari " Kisah Hidup Gadis Introvert "
Kalau ingin tidak bingung mengikuti alur cerita ini, sebaiknya baca dulu cerita sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunda Yuzhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Berusaha Ikhlas ( Valen )
" Beb...turut berduka cita yaa !! " Suara lembut yang tak asing di telinga Valen menyapanya.
Valen memutar kepalanya dan menatap gadis berjilbab abu abu yang sedang berdiri tepat di sampingnya.
" Ainun .." Gumam Valen seraya berdiri dan tersenyum tipis ke arah sahabatnya.
Ainun memeluk erat tubuh Valen yang jauh lebih tinggi dari tubuhnya. Gadis berwajah ayu itu terisak di pelukan Valen. " Yang sabar yaa beb..!! Aku turut merasakan kedukaanmu " ujarnya terisak.
" Hey..I'm okey..!! Aku nggak apa apa. Itu sudah jalan dari Allah...Qadarullah !! " Ucap Valen dengan suara tegas berusaha menyembunyikan kepedihannya.
Ainun mengurai pelukannya. Ditatapnya wajah cantik sahabatnya, dia ingin mencari tahu isi hati Valen yang sebenarnya, tapi sayang mata Valen bersembunyi di balik kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancung milik sang sahabat.
" Jangan berbohong padaku, beb. Jangan sok kuat. Menangislah kalau ingin menangis, kenapa mesti malu " sanggah Ainun tidak percaya dengan ucapan Valen tadi. Di tahu bahwa sahabatnya itu tidak baik baik saja.
Valen terkekeh pelan. " Aku sudah ikhlas. Aku tidak perlu lagi mengeluarkan air mataku agar perjalanan mereka tidak tersendat dengan ketidak ikhlasanku. Aku sangat menyayangi mereka. Aku ingin dengan ikhlasnya aku, mempermudah perjalanan mereka " Tutur Valen meyakinan Ainun bahwa dia baik baik saja.
Bohong. Sungguh Valen hanya berbohong tentang keadaannya. Dia hanya tidak ingin terpancing dengan tangisan Ainun, dia sudah berjanji bahwa dia tidak ingin menangis lagi.
" Sayang..!! Umi tinggal dulu yaa.. Valen sama teman Valen dulu. Umi mau menerima tamu bersama Abi " Celetuk Syifa tiba tiba sesaat memperhatikan kedua sahabat yang masih berpelukan itu.
" Aah..iya, Mi !! Ini sahabat Valen di sekolah, Mi " Ujar Valen memperkenalkan Ainun pada Syifa.
" Ainun.. Ini Umiku "
" Assalamualikum, Mi !! Saya Ainun sahabat Valen " Ucap Ainun sambil menyalami Syifa.
Syifa menepuk lembut bahu Ainun. " Waalaikum salam..Iya. Ainun cantik, Umi tinggal sama Valen dulu yaa, sayang. Tolong temani Valen yaa !! " Ujar Umi dari Ziandru itu.
" Baik, Mi ".
Syifa beranjak dari tempatnya dengan diiringi tatapan penuh tanya dari Ainun.
" Umi ?! " Gumam Ainun seraya menatap Valen menuntut jawaban.
***
Hari berangsur berganti seperti yang sudah seharusnya. Setelah gelap menguasai waktu, perlahan sang mentari menyapa hari, memaksa penghuni bumi segera beraktifitas sesuai yang diinginkan dan dibutuhkan.
Valen terpaku. Dia belum mau beranjak dari tempatnya. Netra hazelnya menatap dua gunduk tanah di depannya. Dua buah pusara yang bertuliskan nama Gladis Natalina Baldomero dan William Carlen Adhulpus terukir rapi di sana. Sepasang suami istri itu dimakamkan bersisian seperti permintaan Valen sang anak.
Remaja cantik blasteran Jerman Indonesia itu masih tidak percaya dan belum sanggup menerima kenyataan bahwa sepulangnya di rumah nanti, dia tidak akan bertemu lagi dengan dua orang terkasihya. Tidak ada lagi yang memanggilnya honey, sweetie, princess dan tak ada lagi yang akan menggendongnya dari depan pintu sampai ke dalam kamarnya seperti yang Daddynya lakukan.
Meskipun Valen sangat jarang bersama kedua orang tuanya tapi ketika mereka bersama, mereka sangat memanjakan Valen. Kasih sayang mereka hanya tercurah untuk anak semata wayang mereka.
Willy dan Gladis memperlakukan Valen layaknya bayi walaupun mereka tahu, anaknya itu sudah beranjak remaja. Pagi saat mau sarapan, Willy akan menggendong Valen di punggungnya dari kamar menuju meja makan. Begitu juga saat pulang sekolah. Jika Willy sempat menjemput Valen di sekolah, dia akan menggendong anaknya dari mobil sampai masuk ke dalam kamar.
Sungguh kenangan itu yang terus berputar di benaknya hingga membuat dadanya semakin sesak.
" Sayang !! " Syifa mengusap lembut bahu Valen.
" Kita pulang yuk, nak !! "
Valen mendongak dan mengedarkan pandangannya,rupanya tempat itu telah sepi. Para pelayat yang tadinya mengantarkan Willy dan Gladis di peristrahatan terakhir mereka telah pergi dari situ.
Nampak langit mendung mulai meneteskan gerimis tipis. Netranya juga melihat Maliq berdiri bersisian dengan Zian tidak jauh dari tempatnya berjongkok. Ternyata hanya keluarga angkatnya itu yang masih setia menunggunya. Batinnya.
" Boleh Valen di sini dulu, Mi ?? Valen masih ingin menemani Mommy dan Daddy di sini sedikit lebih lama " Lirih suara Valen sambil menunduk.
" Okey..Umi temani yaa, sayang !! " Ujar Syifa. Dia mengerti, saat ini Valen masih butuh waktu untuk meyakinkan hatinya, bahwa yang terjadi sekarang adalah kenyataan.
" Iya, Mi. Tapi Abi sama kakak ~ " Valen menggantung ucapannya. Dia merasa tidak enak hati kalau harus ditunggui oleh Maliq dan Zian.
" Biar Umi suruh mereka balik lebih dulu " Ucap Syifa tanggap lalu beranjak menuju suami dan anaknya.
" Bi.. Valen masih mau di sini dulu. Umi mau temani dia " Kata Syifa pada suaminya.
" Ooh..iya, Mi. Kalau begitu Abi balik duluan. Biar pak Doni yang nungguin Umi sama Valen. Abi khawatir masih ada pelayat yang datang dan tidak ada yang menyambut mereka. Keluarga Willy kan tidak mengenal orang di sini " Ujar Maliq sambil menatap ke arah supir keluarga Valen yang sedang duduk di bawah pohon kamboja tidak jauh dari tempat mereka.
" Kakak mau balik sama Abi atau temani Umi sama Valen di sini ?? " Tanya Maliq pada Zian yang sedang menatap lurus ke arah Valen.
Zian bergeming. Sepertinya dia tidak mendengar apa yang diucapkan oleh Abinya. Dia sedang memperhatikan punggung dua orang berlainan jenis yang sedang berjongkok di depan gundukan tanah merah.
Entah dari mana datangnya seorang pria berambut pirang tua berumur sekitar dua puluhan dan berbadan tegap serupa dengan postur tubuh Zian. Pria itu duduk di samping Valen sambil mengelus lembut kepala Valen yang tertutup jilbab.
" Kakak !! " Maliq menepuk lembut bahu Zian yang menyebabkan pria muda itu terjengkit kaget.
" Aah..iya ?? " Seru Zian kaget. Wajahnya merah. Dia malu ketahuan sedang memperhatikan Valen.
Maliq terkekeh pelan.Walau Zian memakai kaca mata hitam, dia tahu kemana arah pandangan Zian tadi yang menyebabkan Zian tidak fokus.
" Kakak mau di sini sama Umi atau ikut Abi " Ucap Maliq mengulang pertanyaannya.
" Kakak ikut Om Ahdan saja " Sahut Zian datar sambil membalikan badannya tanpa menunggu Maliq.Zian belum mau mengubah panggilannya pada Maliq meskipun dia sudah tinggal serumah dengan kedua orang tuanya, tapi tidak serta merta mencairkan hubungannya dengan sang Abi.
Syifa mendekat ke arah Valen setelah kepergian suami dan anaknya.
" Darren !! Umi pikir Darren sudah balik ke rumah " Sapa Syifa pada pria berambut pirang di samping Valen dengan memakai bahasa inggris.
Valen dan Darren serentak menoleh ke arah Syifa.
" Belum, Mi. Aku nungguin Valen dulu " Jawab pria itu sambil tersenyum ramah ke arah Syifa. Pria bermata hijau terang itu ikut memanggil Syifa dengan dengan sebutan Umi seperti Valen memanggil Syifa.
" Kakak pulang duluan saja dengan pak Doni. Biar Valen sama Umi di sini. Valen mau menenangkan diri dulu " Ucap Valen pada Darren. Sorot matanya menjelaskan hanya ingin ditemani oleh Syifa saat ini.
Darren mengerti. Pria itu mengangguk lalu mengusap lembut kepala Valen. " Okey..aku balik dulu. Tapi nanti kalian naik apa pulangnya ?? " Tanya Darren.
" Biar kami naik taksi saja " Sahut Valen.
" Okey. Kalau begitu aku balik duluan " Ucap Darren lalu mengangguk tanda pamit ke arah Syifa.
semangat thor sehat selalu 💪💪💪💪💪
terimakasih....
semoga segera up.lagi ya kak...
valen dan ziandru😍