Demi membalas orang-orang yang membuatnya terpaksa terpisah dengan orangtua, Nayyara telah merencanakan sebuah pembalasan.
Dia menyamarkan dirinya dengan sempurna, menyembunyikan wajah indahnya menjadi wajah buruk yang menggunakan kacamata tebal!
Namun dalam proses balas dendamnya, Nayyara berbuat salah yang fatal—— dia telah menarik perhatian CEO dingin.
""Semua wanita itu murahan"" Harry Balwis
""Kau hanya pria arogan yang haus akan cinta"" Nayyara.
Mampukah Naya mencapai tujuannya? atau dia malah jatuh cinta pada pria itu sebelum tujuannya tercapai?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mom yara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27 Dia nona X
Semua orang terkejut melihat siapa yang menerima bunga itu, ada yang sampai tersedak makannya, ada yang sampai menjatuhkan sendoknya, ada yang menyemburkan minumannya ketika sedang menyesap minumannya
Dari tamu yang belum tahu wanita itu sebelumnya, ada yang memuji, mengagumi wanita yang sedang memegang bunga.
Masih muda ternyata, hebat sekali.
Cantik sekali, pantas saja designnya juga cantik.
aku ingin melamarnya menjadi menantuku.
Wah wanita muda berbakat.
Ada pula yang tidak suka.
Tidak mungkin, wanita murahan sepertinya bisa menjadi pemilik perusahaan perhiasan terkenal dengan designnya sendiri.
Dasar wanita perebut.
Dia tidak terlihat seperti pandai mendesign.
Begitulah suara suara yang terdengar nyaring ditelinga. Tapi wanita yang menerima bunga itu hanya memberikan senyum terbaiknya.
MC mempersilahkan untuk naik ke atas panggung, suara tepuk tangan terdengar meriah.
Di sebuah meja yang terdiri dari tiga orang terlihat sorot tatapan kebencian dari mereka, Tasya sang putri dan ayahnya Gilang beserta ibunya.
Tasya melihatnya dengan tatapan menghunus tajam dengan mengeratkan rahangnya. Ia tidak rela wanita asing itu menjadi bintangnya, rasa iri menggerogoti hatinya. Tubuhnya terbakar amarah.
Gilang hanya diam, melihatnya dengan tenang tapi tidak ada yang tahu apa isi kepalanya, sudah ada rencana yang terpatri dikepalanya.
Tak jauh dari sana, seorang wanita paruh baya melihat takjub ke arah Yara yang berdiri di atas panggung. Dia adalah nyonya Balqis.
"Hufh... " menghela nafas panjang. " Seandainya aku punya anak laki - laki lagi aku ingin melamarnya untuk putraku" melihat ke arah Yara.
"Anak kita sudah laki - laki " jawab suaminya.
"Tapi dia sudah punya kekasih, dan dia cinta mati sama kekasihnya itu" ucap ibunya, sambil melirik ke arah putranya yang dari tadi tak melepaskan tatapannya dari Yara, bukannya tidak setuju dia merasa anknya dan kekasihnya itu kurang cocok, entahlah mungkin itu hanya perasaan seorang ibu, itu adalah keputusan putranya akan bersama siapa dia nantinya.
Putranya hanya diam, mendengar obrolan orang tuanya. Dia menatap lurus ke arah panggung. Entah apa yang dia rasakan saat ini, wanita yang berada diatas panggung seperti titisan dewi di matanya, senyum manis yang tak pernah lepas dari bibirnya membuat seluruh tubuhnya melayang entah kemana. Seakan akan hanya ada wanita itu dan dirinya di sebuah taman bunga, ya hanya mereka berdua yang saling menatap penuh cinta tapi itu hanya ada di khyalannya saja.
Tanpa terasa wanita itu sudah selesai memberikan sambutan. Ia turun dengan langkah yang anggun, semua mata tertuju padanya, dia sudah seperti selebriti saja, dialah bintangnya malam ini.
Acara pun selesai semua orang terlihat keluar meninggalkan tempat acara, Yara berjalan bersama paman Jody.
"Paman akan mengantarmu" ucap paman dalam langkah mereka.
"Tidak perlu paman, aku ingin mengemudi sendiri"
"Ah paman sering lupa kalau putri paman ini sudah besar, jadi dia sudah tidak mau lagi bermanja pada paman"
"Itu paman tahu, Yara sudah besar bahkan sudah bisa mengalahkan paman" ucap Yara sembari menggoda pamannya.
"Ya kau terlalu cepat menyerap ilmu yang paman berikan, tapi tetap berhati - hatilah" nasehat yang selalu paman ucapkan, meskipun dia tahu kemampuan Yara dia selalu menghawatirkan putrinya itu.
Mereka pun berpisah dengan mobil masing masing, karena tadi pun mereka datang terpisah.
Di tempat bagian yang lain seorang pria paruh baya terlihat sedang menghubungi seseorang.
"Beri dia pelajaran! " perintahnya, entah siapa yang dia hubungi sambungan pun langsung terputus setelah ia selesai memberi perintah.
Ia menatap kearah mobil yang sudah dikemudikan oleh seorang wanita cantik.
"Selamat bersenang - senang keponakan"
*
*
Ditengah perjalanan tiba - tiba mobil yang dikemudikan Yara dihadang oleh dua mobil, yang satu berhenti di depan dan satunya lagi menghadang mobilnya dari arah belakang, sehingga ia tidak bisa menghindar. Turun tiga orang laki - laki bertubuh kekar dari mobil depan dan empat orang laki laki yang sama - sama kekarnya turun dari mobil belakang.
Salah satu pria mengetuk kaca mobil yang didalamnya hanya ada seorang wanita. Perlahan yara membuka kaca pintu mobilnya.
"Turunlah nona tanpa kami paksa" ucap pria kekar itu dengan suara keras.
Tidak punya pilihan lain lagi, Yara turun dari mobil, sialnya hari ini dia memakai dress panjang tanpa lengan hanya menutupi bahunya, untung dia tetap memakai celana, yang tak terlihat karena gaunnya panjang sampai mata kaki.
"Ada apa?" tanya Yara tenang setelah ia keluar dari dalam mobil tanpa menutup pintunya.
"Kami hanya ingin memberi anda pelajaran nona, bawa dia!" perintahnya pada laki - laki sebelahnya.
Saat tangan laki laki itu memegang tangannya, Yara langsung memutarnya dan menendangnya kemudian menghantamkan pintu mobil pada laki laki tadi yang menyuruhnya keluar, kebetulan posisinya berada di depan pintu mobil, Yara menendang kembali laki laki yang memegang tangannya.
Terlibat perkelahian 2 lawan satu, Yara merobek roknya yang memang sudah robek akibat menendang laki - laki tadi. Dua laki - laki tadi mengaduh kesakitan dan mereka sudah terduduk di aspal.
Melihat temannya sudah dikalahkan tiga laki - laki lanjut menyerang Yara. Dengan mudah Yara melumpuhkan mereka.
Tinggal dua laki - laki lagi, sebelum Yara menyerang mereka Harry datang entah dari mana kemudian menghajar sisanya yang hanya dua laki - laki.
Akhirnya ke tujuh laki - laki itu pergi dari sana dengan langkah kaki yang agak pincang dan banyak luka memar akibat pukulan maut Yara, karena merasa tidak akan menang melawannya.
Yara mendekat ke arah Harry. "Terima kasih" ucapnya.
"Pakaianmu rusak" Harry malah membahas pakaiannya.
"Tidak masalah"
"Aku akan mengantarmu" ucap Harry langsung berjalan kearah mobil Yara, lalu masuk duduk di kursi kemudi.
"Hey, aku akan pulang sendiri" teriak Yara tidak mau diantar.
"Masuklah, masih sangat bahaya jika mereka kembali"
"Tapi aku. . . " sebelum selesai ucapannya Harry sudah menutup pintu mobil.
Percuma berdebat dengan laki - laki arogan seperti Harry pikirnya.
Dengan langkah kesal Yara berjalan memutar menuju pintu samping kemudi. Membukanya lalu masuk dengan wajah kesal.
"Kau selalu bertindak sesuka hatimu" kesal Yara.
Sebelum mobil melaju, mobil yang tadi ditumpangi Harry melewati mereka.
Rangga melambaikan tangan sembari tersenyum menggoda.
"Kau hebat" ucapnya pada Yara sembari mengacungkan jempol satu, karena tangan yang lain sedang menyetir.
Harry melajukan mobilnya dengan kecepatan dibawah rata rata.
"Tambah kecepatannya" ucap Yara kesal karena Harry mengemudikan mobilnya seperti keong.
"Bukankah ini menyenangkan" Harry tersenyum manis sembari menaik turunkan alisnya.
Sejak kapan dia jadi perayu.
Yara merasa aneh dengan situasi ini. Mereka hanya diam sampai mobil berhenti di apartemen, Harry memarkirkan mobilnya di tempat biasa Yara memarkirkan nya. Ya dia sampai hafal tempat parkir yang biasa digunakan Yara, Harry sering memperhatikannya secara diam diam, entah apa maksud Harry mungkin dia kurang kerjaan.
Mereka naik keatas bersama, hening. Yara juga tidak berkeinginan untuk mengajaknya bicara walau hanya untuk sekedar basa basi.
Harry membuka suaranya sebelum Yara memasuki apartemennya.
"Mau ngopi bersama, kali ini minum di apartemenku"
"Terima kasih, mungkin lain kali saja"
"Baiklah" Kali ini Harry tidak ingin memaksanya, kejadian tadi pasti membuatnya lelah, melawan lima orang laki - laki sendirian.
Kemudian mereka masuk ke dalam apartemen masing masing.
terima kasih atas karya yg sangat menghibur ini thor.. semangat terus utk karya² baru yg lebih wow lagi.