Kehidupan malam yg selalu di hiasi dengan alkohol sudah menjadi agenda rutin bagi sitara, gadis muda penerus perusahaan textile milik pak satish. Perusahaan besar yg memiliki cabang di beberapa negara. Santhi and co berdiri mentereng di kota surabaya. Satish sudah berusaha keras mendidik dan mengarahkan putri tunggal nya untuk fokus meneruskan perusahaannya, karena dia ingin saat pensiun nanti dia bisa kembali ke negara nya India. Sitara pulang dalam keadaan mabuk berat dan tanpa sadar dia menabrak dinding pagar dengan kecepatan tinggi. seorang pemuda tampan dengan gamis coklat dan kopiah putih itu bernama Musa, pemuda tampan itu bergegas menghampiri mobil yang sudah remuk di bagian depannya, beruntung pintu tidak terkunci, sehingga memudahkan pria itu mengevakuasi wanita yang menjadi korban. Dengan tidak mempedulikan apapun Musa langsung menggendong dan memindahkan sitara ke mobil nya, tidak lupa dia membawa tas gadis itu. Mobil melaju menuju rumah sakit terdekat, karena darah mulai m
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon anna dharta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Ghibah nya Sari dan Sayinah
Musa menyimak pembicaraan Harun dengan seksama, dia merasa turut bahagia atas pernikahan sahabatnya itu. Mereka terus saja berbincang sampai tanpa sadar waktu menjelang siang.
Harun mohon diri untuk kembali pulang, karena akad nikah akan dilaksanakan pukul 10.00 WIB, Harun sangat berharap Musa dapat menghadiri acara sakral mereka.
Karena Abi dan Umi hari ini sedang ada undangan untuk acara tabligh akbar, jadi Harun menyampaikan salam melalui Musa, dan berharap beliau juga berkenan hadir.
“Sob, antum jangan sampai gak datang ya, tolong kosongkan semua acara antum besok, dan jangan lupa, wajib menginap ya, siapa tau nanti antum bisa bertemu jodoh disana hahaha.”
Musa memang merasa rindu dengan sahabatnya itu, sejak pulang dari Kairo dia belum sama sekali bertemu dengan Harun. “Waahh ini doa istimewa dari calon pengantin, semoga Allah kabulkan ya, biar nggak jadi JONES alias jomblo ngenes lagi hahaha.”
Musa ikut mengantarkan Harun sampai ke mobilnya yang di parkir di halaman rumah nya. Mobil Pajero Sport yang akan membawanya kembali ke Surabaya, terlihat gagah dan semakin menyempurnakan ketampanan yang mengendarainya.
Harun yang sudah siap menjalankan Mobil berwarna hitam itu, melambaikan tangannya dan mengucap salam “Assalamualaikum, ana jalan dulu sob.”
Musa menyambut lambayan tangan sahabatnya, dan menjawab salam “Waalaikumsalam, iya hati-hati di jalan sob.”
Mobil Harun bergerak pelan keluar dari area Pondok Pesantren Istiqomah. Dengan senyum ramah nya dia mengangguk sopan pada pak Pardi, Satpam Pesantren.
Dengan wajah ceria dan sesekali Harun bersenandung sholawat untuk menghilangkan jenuh sepanjang perjalanan.
*****
Sitara yang sejak tau akan acara sahabatnya besok, tampak tergesa-gesa menyelesaikan pekerjaannya. Dirasa semua sudah beres, dia membereskan meja dan meletakkan kembali dokumen ke rak yang tersedia di samping meja nya.
Waktu pulang kantor pun sudah hampir tiba. Semua karyawan tampak perkemas.
Ada yang terburu-buru karena anak nya menunggu dirumah, ada juga yang santai sambil bercanda ria bersama temannya, sekedar melepas jenuh setelah seharian bekerja.
TOOOOOOOTTTT….
TOOOOOOOTTTT…
TOOOOOOOTTTT…
Bel tanda jam kerja berakhir pun berbunyi. Inilah yang ditunggu semua karyawan dan karyawati PT. Shanti & Co. Suara riuh seperti tawon yang sedang berkumpul pun terjadi.
Mereka menuju mesin absensi yang menempelkan ibu jari nya, menandakan mereka telah bekerja seharian.
“Say, kita mampir ke supermarket dulu yuk, baru pulang, aku mau beli susu buat anak ku dulu.” Salah satu staff yang ada di satu lantai dengan Sitara sedang berbincang dengan temannya.
Papan nama yang menempel di seragamnya wanita itu bernama Sari. “Eh iya yuk aku juga mau beli popok buat si dedek, pas abis, ini kan malam minggu, biasanya banyak diskon Ri.” Sayinah menyahuti ajakan temannya.
Mereka melintasi ruang kerja Sitara. dan bertepatan Sitara pun keluar dengan tergesa-gesa. “ Mega yang tadi sempat kacau karena melihat bos nya yang bergulingan dengan seorang wanita, jadi takut ketika bertemu mata dengan Sitara.
Sitara yang paham dengan pandangan Mega yang sesaat saling mengunci pandang dengannya. “Kamu jangan berpikir macem-macem, dia sahabat saya, dan satu hal yang harus kamu catat, SAYA NORMAL!”
Sitara berkata dengan suara pelan tapi penuh penekanan. Tatapan tajam pun diberikannya untuk Mega.
Dengan perasaan tidak enak, Mega menganggukkan kepalanya dan entah keberanian dari mana, dia mengangkat jari jempolnya, lidahnya kelu, tidak sanggup berkata apa-apa.
Sitara dengan wajah dinginnya berlalu dari hadapan Mega dengan memberikan setumpuk berkas yang akan menjadi tanggung jawab Mega. Sitara melangkah tergesa, tapi dia sedikit terhalang untuk melangkah cepat.
Karena di depannya ada Sari dan Sayinah masih asik ngobrol membahas tentang harga yang terus naik, sementara gaji mereka tak kunjung ada kabar untuk naik.
“Say, coba kamu pikir ya, gimana mau cukup, laah apa apa sekarang pada ganti harga, sementar gaji kita tetep aja jalan di tempat.”
Sayinah yang juga doyan gosip, tidak kalah heboh dan tanpa terasa pembicaraan mereka didengar oleh Sitara.
“Iya bener Ri, mana bensin harganya selangit, sampe-sampe pengen beli daster aja, aku mikirnya sampe tujuh hari tujuh malam Ri.”
Sari yang merasa ada teman senasib sepenanggungan, tidak kalah seru.
“Kalo bu Sitara ngerasain gak ya nyesek kayak kita?” Sayinah makin heboh menanggapi pertanyaan Sari.
“Dia itu gak pernah susah Ri, dari orok udah kaya duluan, makanya dia gak peka, kalo dia itu pengertian, pasti gaji kita udah di naikin.”
Sitara yang menelinga di belakang mereka, akhirnya memutuskan untuk mengikuti dan mendengarkan kelanjutan acara ghibah nya Sari dan Sayinah. ‘Kapan lagi aku denger mereka ngomongin aku, ya itung-itung buat bahan Gue mikir hihihi’ Sitara membatin dengan mood yang santai.
“Mana muka nya jutek lagi, cantik sih iya, mirip artis bollywood, tapi dingin ngalahin beruang kutub hihihi” Sayinah mulai mencari kekurangan Sitara.
“Beneerrr Say, makanya gak laku-laku, jiper lah cowok liat dia, udah kaya nya gak abis dimakan tujuh turunan, galak, sombong, lengkap kan?” Sari makin semangat 45 menggosipnya.
“Pinter dan cantik aja gak cukup ya Ri, mending kayak kita-kita gini, wajah sederhana, pinter juga sedeng-sedeng aja, tapi lulus kuliah langsung di nikahin sama suami tercinta. Laah dia yang sudah seumuran kita, Ngerasain cinta aja belom kali hahaha.”
Terasa puas mereka menggibah, tanpa mereka sadari Sitara dengan setia mengekor di belakang mereka.
Tanpa terasa pintu lift di depan mereka sedang terbuka. dan entah siapa yang mengomando, mereka berdua berlari kecil, takut di tinggal Lift nya.
Sitara yang berpostur tinggi itu cukup melebarkan langkahnya, untuk terus mengikuti mereka yang berlari kecil ke arah lift. Saat Sari dan Sayinah sudah masuk ke kotak besi itu, mereka dengan cepat memutar badan menghadap pintu.
Jeeddeeerrrrr
Wajah kedua ibu-ibu itu mendadak pucat pasi, mata mereka seperti ingin melompat keluar, dan siap jadi ceplok mata sapi.
Sitara yang juga sudah masuk ke dalam lift itu dan menekan tombol L yang artinya menuju ke loby gedung.
“Se-selamat sore bu.” Sari yang merasa obrolan mereka tadi bocor ke telinga si bos cantik. Merasa panas dingin melihat tatapan tajam Sitara. “Sore.” jawab Sitara singkat dan datar.
Mental mereka berdua langsung menciut seperti balon yang sedang kehilangan angin. “Lanjutkan saja cerita nya.” Sitara tidak tahan ingin mengerjai staff nya. “Ti-tidak ada cerita apa-apa bu, hehe hanya berita tentang harga naik hehe.”
Sari memberanikan diri untuk menjawab. entah kenapa kotak besi ini rasanya lambat sekali. padahal hanya ada enam lantai, tapi rasanya sedang bergerak sebanyak 45 lantai.
“Saya rasa kalian harus lebih berhemat untuk bisa bertahan.” Entah apa maksud dari ucapan Sitara. Mereka berdua sudah gemetar sehingga koneksi ke otak seperti ponsel yang kehilangan sinyal. Sayinah sudah tidak karuan muka nya, pucat dan keringat dingin terus mengucur membasahi dahi nya.
Ting
Lift berhenti dan pintu pun terbuka. Kedua ibu-ibu itu bernafas lega dan langsung menghirup oksigen dengan rakus nya. Sitara sengaja keluar dengan santai dan seperti sedang menunggu mereka berdua keluar.
Dengan langkah yang berat, seakan ada rantai besi yang mengikat mereka berdua. “Siapa yang tidak laku?” Tiba-tiba Sitara memutar badannya, dan akhirnya berhadapan dengan mereka berdua setelah keluar dari lift tadi.
Wuuzzzzhhh
Lutut Sari rasanya sudah tidak mampu untuk berdiri, tulang-tulangnya terasa lunak seketika. “Ma-maafkan saya bu. Mereka berdua menunduk malu dan rasa yang entah merasuki hati dan pikiran mereka.
‘Sial aku dibilang gak laku-laku sama mereka!’ sabar Tara, buruan gih minta dinikahin Musa, Author jadi ikutan ngeri nulisnya, khawatir sifat ba-bar nya Sitara kumat hihihi uups.
.
.
.
Assalamualaikum pemirsa.
Yuk dukung terus Novel ku ya, jgn lupa Like, komen dan vote ya