Dia Aisyah, seorang santriwati di pesantren tempatku mengajar. Gadis anggun nan jelita, yang mampu membuatku terpana pada saat jumpa pertama. Bukan karena kecantikan wajahnya yang membuatku kagum, tapi ketaatan pada-Nya lah yang mampu membuatku ingin selalu dekat dengannya.
Cerita ini hanya fiksi ya, hanya merupakan pemikiran dari author. Jangan lupa like, comment, and vote ya. Author akan sangat berterima kasih untuk hal itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erisna Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Keraguan Ummah
Berbagai rasa berkecamuk menjadi satu. Perasaan senang, sedih, haru dan takut berpadu dalam satu pikiran.
Senang. Tentu saja. Khitbah dari Ustadz Yusuf benar-benar diterima oleh Abah. Itu ... benar-benar membuatku sangat senang. Apa lagi saat tanggal pernikahan langsung ditentukan.
Sedih. Memang ada rasa sedih yang terselip di sini. Di antara relung hati terdalam. Sedih karena, itu berarti aku harus pergi meninggalkan Ummah dan Abah. Tidak bergantung lagi pada mereka. Padahal, aku belum benar-benar membuat keduanya bangga dan bahagia.
Haru. Ya, cukup terharu juga. Saat tahu, kalau ternyata Ustadz Yusuf juga menyimpan rasa yang sama. Dulu sempat aku berfikir, kalau mendapat cinta dari seorang Ustadz Yusuf itu hanya ilusi belaka, tapi nyatanya tidak. Semua itu memang benar-benar terjadi.
Benar kata Ummah. Jika memang berjodoh, pasti tidak akan kemana. Seperti halnya beliau, yang mendapat cinta dari Ustadznya. Abah.
Ah, kurasa kisah cinta Ummah benar-benar menurun padaku. Pada putri sematawayangnya. Semoga, kedamaian keluarga dan kebahagiaannya juga menurun padaku. Aamiin.
Takut. Sebagian dari sisi hati, memang terselip rasa takut. Takut, kalau nanti aku melakukan banyak kesalahan. Kesalahan yang membuatnya tidak nyaman berada di sisiku. Takut, kalau aku tidak bisa menjadi istri yang shalihah untuknya, seperti apa yang dia inginkan.
Tapi, aku percaya, bahwa dia selamanya akan menjadi Ustadzku. Yang mampu membimbingku menuju jalan-Nya, demi mendapat ridha-Nya semata.
Dia terlihat begitu puas, begitu senang dengan jawaban Abah. Aku yakin, dia pasti benar-benar mengharapkanku menjadi istrinya. Terlihat dari caranya mengucap syukur dan mengulum senyum sepanjang pembicaraan tadi. Aku juga sempat melihatnya mencuri-curi waktu memandangku.
Ah, siapa yang tidak bahagia mendapat perlakuan seperti itu? Apa lagi saat dia merasakan jatuh cinta untuk pertama kalinya.
Aku, yang sedari tadi tengah duduk di pinggiran kolam, sambil mengamati belut yang tengah berebut makanan pun segera menoleh, saat melihat bayangan orang berdiri di belakangku. Ternyata Ummah.
"Ummah, ada apa?" tanyaku, saat Ummah ikut duduk di sampingku.
"Apa kamu bahagia?" Ummah bertanya, pandangannya fokus pada air kolam yang turut bergelombang, seiring dengan belut yang saling menggeliat kesana kemari.
"Ehmm, maksud Ummah?"
"Kamu bahagia, dengan pinangan dari Ustadz Yusuf?"
Aku mengulum senyum, "Iya, Mah."
"Setelah ini, apa kamu masih mau kembali ke pondok pesantren?" tanya Ummah, wajahnya berbeda dari biasanya. Ada apa?
"Iya, Mah. Ummah kenapa?" tanyaku, ingin memastikan kalau Ummah baik-baik saja.
"Tidak apa-apa." Ummah tersenyum, kemudian menerawang, "hanya saja ...," Ummah menggantung kalimat.
"Kenapa, Mah?" Aku semakin tidak mengerti dengan perubahan sifat Ummah.
"Ummah ... masih merindukanmu," lirihnya. Kemudian terlihat buliran bening itu meluncur dari sudut matanya. Ummah menangis?
"Ummah, kenapa?" tanyaku lagi, sambil merengkuh bahunya.
Melihat Ummah menangis, rasanya ada yang tersayat di sini. Perih.
"Rasanya, baru kemarin Ummah melahirkanmu. Tapi, sekarang sudah mau pergi saja. Ummah sedih, Isy. Ummah nggak ada teman lagi, kalau kamu benar-benar pergi dari sini. Ummah ... ummah, tidak sanggup berpisah denganmu."
Ummah menumpahkan seluruh isi hatinya, sesekali menggeleng dalam pelukanku. Tak terasa, mataku ikut berembun. Merasakan kesakitan yang sama.
"Ummah, percaya sama Aisy. Aisy nggak bakal ninggalin Ummah. Tidak akan pernah." Berusaha menguatkan, walau pun sejujurnya aku juga lemah.
"Tidak mungkin. Yusuf pasti akan membawamu," ucap Ummah, disela-sela isak tangisnya.
Aku pun tak bisa lagi membendung semua ini, hingga luruhlah sudah pertahananku. Aku ikut terisak bersamanya.
"Apa ... Aisy batalkan saja pernikahan ini?" Akhirnya, kalimat yang enggan sekali untuk kuucap, pun terucap juga.
Rasanya, ada yang hancur di sini. Disebagian hati yang sempat mekar, kemudian gugur bersama dengan jatuhnya butiran air mata.
Ummah melepaskan pelukan, menatapku tak percaya. Tiba-tiba terdengar suara berat Abah, yang sukses mengagetkan kami.
"Tidak ada hal yang akan dibatalkan!" Tegasnya.
Kami pun mendongak, mendapati tatapan tajam Abah. Kemudian Ummah menunduk. Aku pun bisa merasakan ketakutan yang sama.
"Sebaiknya kita bicarakan ini di dalam rumah saja!" ujar Abah, kemudian segera berlalu.
Kami pun segera mengikutinya menuju rumah. Setiap langkah, hatiku terasa bergejolak. Ada kesakitan yang sama, antara berpisah dengan kedua orang tua, dan juga berpisah dengannya. Si penakluk hati.
Sampai di rumah, kulihat Abah tengah duduk menunggu. Tatapannya menerawang entah ke mana. Kemudian Ummah segera duduk, di sofa depan Abah. Aku pun segera melakukan hal yang sama.
Kalian tahu, seperti apa kami sekarang? Ya, seperti terdakwa yang menanti keputusan dari hakim. Tegang dan ... takut.
"Rahma." Panggil Abah. Ummah mendongak, menatapnya sekilas, kemudian menunduk lagi.
Untuk pertama kalinya, kudengar Abah memanggil nama Ummah secara langsung. Dan itu, terdengar sedikit ... menakutkan.
"Maaf, Mas." Terdengar suara Ummah sedikit bergetar.
"Kamu tahu, apa kesalahanmu?"
Ummah tidak menjawab, hanya tangannya yang sibuk mengusap sudut mata. Melihat mereka seperti ini, rasanya aku ingin pergi saja. Menghilang dari sini. Tapi, aku tidak berani.
"Rahma. Aku mohon, biarkan Aisyah menjalani kehidupan yang baru, dengan orang yang benar-benar mencintainya dengan tulus. Biarkan dia merasakan, apa itu hidup berumahtangga." Ujar Abah menghela nafas sejenak, sedikit menerawang.
"Kamu ingat, waktu pertama kali kita menikah?" tanya Abah, Ummah hanya mengangguk.
"Ketika selesai akad, kedua orangtuamulah yang langsung menyuruhku membawamu. Bahkan itu pun ibumu yang memaksa memberi perintah. Kamu tahu apa alasannya? .... Karena mereka takut, terlibat ikut campur dengan rumah tangga anaknya. Karena itu suatu dosa besar." Panjang lebar Abah bercerita.
Oohh, ternyata seperti itu, ya, kisah awal mereka berumahtangga.
"Rahma, aku mohon lagi sama kamu. Ikhlaskan Aisyah, untuk mendapat bimbingan sepenuhnya dari Yusuf. Aku yakin, Yusuf adalah seorang imam yang baik. Terlihat dari kesungguhannya kemarin. Jadi, aku mohon mengertilah. Ini juga akan menjadi surga untuk kita, kalau Aisyah benar-benar berbakti kepadanya." Lanjut Abah.
"Maafkan Rahma, Mas. Rahma yang salah. Terlalu egois. Rahma sekarang sadar, kalau putri kita memang beruntung. Seberuntung Rahma, yang mendapat imam seperti dirimu, Mas," ujar Ummah.
Di akhir kalimat, kulihat mereka saling menatap. Kemudian keduanya saling mengulum senyum. Ah, romantisnya.
"Mulai sekarang, Rahma akan ikhlaskan Aisyah untuk Yusuf. Untuk menjalin hubungan yang halal bersamanya. Walau pun nanti Aisyah akan pergi dari rumah ini, tapi restuku selalu menyertainya."
Mantap, Ummah mengatakan itu. Alhamdulillah, lega aku mendengarnya.
"Aisyah. Jangan berpikir untuk membatalkan pernikahanmu lagi, ya. Ummah tidak akan melarangmu lagi." Ummah tersenyum, sambil menatapku. Tangannya menggenggam jemariku, erat.
"Terima kasih, Ummah." Aku tersenyum, membalas genggaman Ummah.
"Rahma, kemari." Terdengar panggilan Abah, tangannya melambai.
Ummah pun segera mendekat, kemudian duduk di samping Abah. Dengan cepat, tangan kokoh Abah langsung merengkuhnya. Membenamkan kepala Ummah dalam pelukannya.
"Rahma, aku salut padamu. Terima kasih, sudah menjadi ibu yang baik untuk anak kita." Lirih Abah, tapi masih terdengar olehku.
Kemudian segera melepas pelukannya, dan meraih kepala Ummah dengan kedua tangannya. Lalu mengecup keningnya, mesra.
Aku pun tak mau melewatkan moment ini. Kemudian segera kuraih ponsel Abah yang tergeletak di atas meja. Dan ... cekrek! Satu adegan romantis sudah diabadikan.
Mendengar suara ponsel dan kilat landscape, mereka pun menoleh. Kemudian, tatapan tajam dari keduanya pun aku terima. Dan aku hanya tersenyum menanggapinya, kemudian segera meletakkan ponsel itu di meja. Dan ... cuss, kabuuuurr.
Rupanya, kejadian tadi benar-benar membuat mereka merasa, kalau di dunia ini hanya ada mereka berdua, ya. Mereka lupa, kalau putri kesayangannya ini masih berada di depannya.
Tapi, kok aku merasa iri ya? Apa mungkin, nanti Ustadz Yusuf akan seromantis Abah? Ah, aku jadi malu kalau memikirkannya.
***
Bersambung
Ada solusi terindah thor selain poligami.