Adella Rahma Prameswari
Apakah ada yang lebih buruk dari hidupnya??
√ Ibunya dibunuh tanpa dia tahu siapa pelakunya
√ Selalu diganggu oleh kakak kelasnya yang gila
√ Kehadiran Ibu tiri yang tiba tiba.
Menyerah? Tidak, Adel tak ingin kalah. Dia memilih untuk berjuang menyelesaikan satu per satu masalah hidupnya.
Apakah Adel akan berhasil melakukannya?
( Hanya sebuah kisah tanpa arah.
hasil keputus asaan penulis terhadap ide yang tak dapat tercurah.
silakan berkeluh kesah, sopan santun sudah pastilah)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eliz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
" Sayang, apa yang kamu bayangkan sebelum kamu memejamkan mata?" seorang yang mengelus kepala anak berumur sepuluh tahun yang sedang mengerjakan tugas sekolahnya. Gadis kecil itu menengok dan memasukkan pulpen ke dalam mulutnya sembari berpikir, sesuatu yang sering dia lakukan saat otaknya sedang bekerja. Gadis itu langsung membuka mulutnya saat dia mengingat sesuatu.
" Adel membayangkan mama, papa, dan Adel tinggal di rumah ini. Main bareng dan kita liburan ke suatu tempat, hanya bertiga," ujar gadis itu dengan senyum manisnya. Wanita dewasa yang ada disitu tentu langsung tersenyum senang mendengar jawaban putrinya. Sesuatu yang mereka sama – sama harapkan, namun hingga saat ini sulit sekali mewujudkannya.
" Adel percaya kan suatu hari nanti kita akan melakukan hal yang Adel bayangkan selama ini?" tanya wanita itu dengan lembut. Gadis kecil itu menganggukkan kepalanya dengan semangat, gadis itu kembali mengerjakan tugas yang ada di hadapannya, namun sesaat kemudian gadis itu berhenti menulis dan menatap ke arah ibunya.
" Kenapa papa tidak pernah ada waktu untuk Adel? Apa papa tidak pernah pernah pulag ke rumah ini? Apa papa tidak pernah sayang sama kita? Apa papa marah karna Adel nakal?" tanya gadis itu dengan polosnya. Wanita yang ada di sebelah Adel menggelengkan kepalanya pelan sambil mengelus kepala Adel untuk menenangkan gadis itu.
" Papa sangat sayang sama kita. Papa kerja cari uang agar Adel bisa hidup enak, berkecukupan. Adel bisa beli mainan yang bagus dan makan enak. Papa tidak pernah marah sama Adel, jadi Adel harus rajin belajar dan buat papa bangga, agar papa semangat kerjanya," ujar wanita itu yang tentu tak membuat Adel merasa puas.
" Tapi Adel gak butuh semua itu Ma, Adel butuh papa. Adel rindu sama papa. Bahkan jika papa pergi lebih lama lagi, mungkin Adel akan lupa dengan wajah papa," ujar Adel pelan, gadis itu meletakkan pulpennya dan menyenderkan kepalanya ke pundak mamanya.
" Adel sabar ya, mama janji akan mewujudkan keinginan Adel. Adel, mama dan papa akan piknik sebentar lagi, mama akan minta papa untuk pulang dan kita akan piknik di tempat yang jauh," ujar wanita itu yang membuat Adel sumringah, gadis itu berbinar dan menatap mamanya dengan penuh kebahagiaan.
" Benarkah? Mama berjanji?" tanya Adel dengan tangan yang meengatup. Gadis itu bersorak bahagia saat mamanya itu tersenyum dan mengangguk. Adel dengan semangat melanjutkan kembali pekerjaannya agar dia bisa segera beristirahat. Menyambut mimpi indah yang selalu menghampirinya kala rembulan berada pada puncaknya.
~ duaaarr ~ duaaarrr ~duaarr
~
*
*
Adel membuka matanya yang sudah mulai basah. Gadis itu menatap sekitar, bahkan dia menatap pantulan wajahnya di depan kaca. Gadis itu langsung menangis sejadi – jadinya, dia sangat merindukan mamanya, meski dia terlihat tak peduli, tiap malam bahkan dia masih tak bisa menerima kepergian mamanya yang sangat tragis dan tidak manusiawi, memang apa salah malaikat itu?
" Adel rindu sama mama. Adel gak akan marah karna mama ingkar janji, tapi Adel mohon, bantu Adel kasih petunjuk, siapa yang udah bikin mama seperti ini ma? Adel benar – benar gak tahu ma, Adel akan balaskan semua rasa sakit yang mama terima kalau Adel tahu ma. Adel mohon kasih Adel petunjuk," ujar Adel dengan isakan yang tak dapat dia tahan. Gadis itu memangis dan memandang foto mamanya.
" Mama, walau mama ingkar janji sama Adel. Walau mama gak pernah bilang ke papa untuk piknik dan bahkan mama harus pergi meninggalkan Adel untuk selamanya. Adel tahu ma, Adel tahu mama sayang sama Adel. Seandainya mama gak menghadang orang jahat itu, Adel pasti udah tewas ma, maafin Adel gak bisa lindungin mama."
" Mama gak marah sama Adel kan? Adel minta maaf karna Adel belum bisa jadi anak yang baik buat mama. Adel janji ma, Adel bakal beresin semua secepat mungkin. Adel gak akan bikin hidup keluarga ini penuh ketakutan dan penuh ancaman. Adel janji akan makin t[kuat dan jago bela diri, mama doain Adel ya."
Satu tetes air mata jatuh ke sebuah foto yang dilapisi figura sederhana. Wajah ayu yang natural membuat siapaun akan merasa jatuh cinta. Papanya sangat beruntung mendapatkan wanita secantik dan sebaik mamanya, namun apa boleh buat, karna pekerjaan papanya harus merenggut nyawa mamanya sendiri.
Ponsel Adel berbunyi, gadis itu melihat layar ponselnya dan mengangkat panggilan itu saat dia tahu Joy yang menelponnya. Gadis itu masih terisak hebat, membuat Joy yang mau memberikan informasi malah mengurungkan niatnya dan menanyakan mengapa Adel sampai menangis.
" Saya ke rumah nona sekarang," ujar Joy yang langsung menutup panggilan telpon karna Adel hanya terisak. Lelaki itu segera bergegas ke rumah Adel. Bahkan dia tak butuh waktu lima belas menit, lelaki itu sudah berada di depan kamar Adel dan mengetuk pintu kamar itu dengan terburu – buru.
" Gak dikunci," ujar Adel dengan suara serak. Gadis itu memang tak mengunci kamarnya, dia hanya tinggal di rumah ini sendiri, dibantu seorang pembantu yang tinggal di rumah yang ada di belakang rumah utama. Hal itu membuat Adel hanya mengunci pintu depan rumahnya dan tidak mengunci ruang lain di rumah ini.
" Nona, kenapa Nona menangis sampai seperti ini? Apa yang terjadi? Nona merasa kesakitan?" tanya Joy dengan khawatir. Adel tertawa meski air mata tak bisa berhenti mengalir dari dalam matanya. Gadis itu mengambil tangan joy, lalu mengelap ingus yang ada di hidungnya dengan tangan itu, membuat Joy melongo dengan kelakuan Adel.
" Gak usah formal sekarang. Lo gak lagi kerja. Lo udah lama kan ada di sekitar gue? Kenapa Lo kaku gitu sih?" tanya Adel yang sudah memasukkan foto mamanya ke dalam laci lalu mengambil tissue untuk membersihkan sisa ingus yang masih tertinggal di dalam hidungnya.
" Yah, oke deh. Sebenernya gue ke sini mau ngabarin kalau gue gak bisa menemukan petunjuk apapun tentang Arya, Rafa dan Refa. Seolah mereka itu hadir ke dunia ini udah langsung Gede," ujar Joy dengan wajah serius, namun Adel malah tak berkedip melihat lelaki itu.
" Wooaah, kalau Lo nyantai gitu jadi kelihatan masih muda, masih jadi mas – mas. Kalau ngomongnya formal udah kayak om – om. Oke, gue putuskan, mulai sekarang Lo harus ngomong kayak gini terus ke gue,"' ujar Adel yang membuat Joy menggeleng. Lelaki itu langsung menolak permintaan Adel yang menurutnya tak masuk akal.
" Jika nona ingin saya lekas mati atau dipecat, nnona langsung katakan saja. Jangan minta saya ada di posisi yang sulit. Saya hanya mau mengabarkan hal itu pada nona, tapi nona malah menangis seperti tadi. Kalau saya tahu nona seperti ini, saya tidak akan datang," ujar Joy dengan wajah dingin.
" Gak gitu ih, gue Cuma bosen aja lihat Lo yang kaku gitu. Kayak kanebo kering, lagian bokap kan gak pernah pulang, dia gak pernah tahu kalau Lo itu kayak begitu ke Gue, gue juga gak bilang – bilang kok," ujar Adel yang mengerucutkan bibirnya.
" Nona jangan salah. Tuan besar sangat menjaga nona dan bahkan tahu apapun yang nona lakukan. Hanya saja tuan besar selalu diam dan membiarkan nona melakukan apapun yang nona inginkan."
Adel langsung terdiam. Gadis itu berusaha mencerna kata – kata Joy yang membuat hatinya tersentil. Apakah benar Papanya selalu mengkhawatirkannya dan menjaganya dari jauh? Kenapa Adel seakan tak percaya akan hal itu?
" Halu," ujar Adel pelan tanpa bisa didengar oleh Joy.
*
*
*
Adel bangun dari tidurnya sambil meregangkan tangannya. Gadis itu melihat ke arah jam yang ada di nakasnya, dan melotot seketika saat melihat waktu menunjukkan pukul 6.45, sementara kelas pertama dimulai pukul 07.00. Adel langsung bangun dari tidurnya dan berlari ke arah lemari. Dia langsung mengambil seragam dan mengganti pakaiannya segera, gadis itu mengambil kaos kaki di dalam laci dan berhenti di depan kaca.
" Gak papa gak mandi, yang penting wangi," ujar Adel yang merapikan rambutnya di depan kaca dan mengambil dasinya lalu berlari keluar kamar segera. Dia akan memarahi pembantu di rumahnya jika bertemu. Biasanya pembantunya itu akan mengetuk pintu kamar dan membangunkannya, namun dia tidak terlihat atau terdengar sama sekali.
" Nona sudah bangun? Saya pikir nona tak ingin berangkat ke sekolah," ujar Joy yang dengan santai menyeruput kopi dalam cangkir. Adel langsung berdecak dan berlari keluar dari rumah. Joy juga mempercepat langkahnya dan langsung memakai helm yang sudah dia siapkan sebelumnya. Lelaki itu sudah tahu Adel akan terlambat dan sengaja membiarkan gadis itu bangun sendiri.
" Lo udah di sini dari tadi? Tapi Lo gak bangunin gue? Lo tega banget gitu yah sama gue?" tanya Adel saat Joy mulai mengendarai motornya dngan kecepatan tinggi. Lelaki itu tak menjawab Adel, dia berkonsentrasi dengan jalan raya agar tidak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan. Adel pun memilih diam dan membiarkan Joy fokus pada motor yang dia kendarai.
Hebatnya, jarak dari rumah ke sekolah yang biasanya memakan waktu dua puluh menit bisa ditempuh oleh Joy dengan waktu sepuluh menit, meski Adel harus menutup mata rapat – rapat sembari melafalkan doa – doa agar mereka tidak mengalami kecelakaan dalam bentuk apapun.
Adel tak mempedulikan rambutnya yang berantakan. Gadis itu hanya memberikan helm pada Joy dan berlari masuk ke dalam gerbang sekolah meski dia hanya bertelanjang kaki dengan dasi, sepatu dan kaos kaki yang dia tenteng. dia harus masuk ke dalam sekolah dulu agar tidak terkunci di luar.
Joy tertawa melihat Adel yang sangat berantakan, bahkan lelaki itu yakin Adel tidak membilas tubuh atau bahkan wajahnya. Semoga saja gadis itu membawa handuk kecil untuk membilas wajahnya agar tidak mengantuk saat pembelajaran. Joy langsung menutup kaca helmnya saat melihat Adel sudah memasuki gerbang sekolah dengan aman.
*
*
" Gilak! Lo habis kena angin putting bliung dimana?" Adel menengok saat mendengar suara yang tak asing itu. Gadis itu tak menggubris lelaki yang 'menyapanya' dia mencari tempat duduk terdekat dan langsung memakai kaos kaki beserta sepatunya. Dia juga membenarkan dasi dan memakai dasi itu ke kerahnya, yang terpenting dia tak terlambat dan harus menerima hukuman yang tak manusiawi.
" Gue gak nyangka pacar gue bisa seberantakan ini. Lo gak mandi kan? Gak papa, Lo tetap wangi bagi gue kok." Adel langsung menatap ke arah lelaki itu dengan pandangan mata tajam. Adel sebenarnya sudah malas untuk meladeninya, namun lelaki itu, makin diabaikan makin menjadi – jadi untuk mencari perhatiannya.
" Rafa, Gue lagi gak dalam mood yang baik buat ladenin Lo. Jadi mending Lo gak usah ganggu gue dulu, Oke?" tanya Adel sambil tersenyum lebar. Rafa terdiam melihat senyum itu. Senyum yang sangat manis, namun dia bisa merasakan hawa hitam langsung menyelimuti tubuhnya. Lelaki itu bahan kesulitan menelan salivanya sendiri setelah melihat Adel.
Adel tak berbicara lagi, gadis itu langsung berjalan dan mencari kamar mandi. Setidaknya dia harus berkumur dan mencuci mukanya agar wajahnya tampak lebih segar. Rafa sendiri dengan polosnya mengikuti Adel seperti anak yang mengikuti ibunya. Lelaki itu tak mengatakan apapun, hanya berjalan di belakang Adel, namun sudah cukup membuat banyak siswi yang ada di sana memekik.
Gadis itu sampai ke depan toilet wanita, saat hendak melangkah masuk, gadis itu langsung berbalik, membuat Rafa menabrak tubuh gadis itu, namun karna tubuhnya lebih tinggi, terkesan malah Adel yang menabraknya.
" Lo mau kemana kak? Gue mau masuk toilet cewek, Lo ngikut?" tanya Adel dengan wajah datarnya. Rafa tak menjawab, lelaki itu hanya melihat ke arah depan dan langsung menyengir, lalu menggelengkan kepalanya dengan imut. Adel memutar bola matanya dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Rafa yang berdiri di depan toilet.
" RAFA! Kenapa kamu tidak pergi ke Aula? semua pengurus OSIS sudah berkumpul untuk membahas Kemah Bakti Tahunan, kamu malah enak – enakan di depan toilet perempuan, kamu mau apa? Siapa yang ada di dalam sana?!" Adel bisa mendengar suara nyaring itu, sepertinya orang yang sama, orang yang menghukum Adel saat gadis itu tak sengaja menumpahkan air bekas pel.
" Ah, iya bu. Saya lagi cari inspirasi Bu, saya nyoba nyari di toilet cowok tapi gagal, siapa tahu kalau di toilet cewek berhasil Bu," ujar Rafa dengan asal. Adel berharap Rafa tak menyebutkan namanya, dia sudah malas dan lelah berada dalam masalah. Apalagi kali ini sungguh bukan atas campur tangannya, salah Rafa sendiri yang mengikutinya dan bahkan tak mau pergi padahal Adel tak mengajaknya bicara sama sekali. Lelaki itu memang kurang kerjaan, padahal sebenarnya dia banyak kerjaan mengingat statusnya yang masih menjabat sebagai wakil ketua OSIS.
" Inspirasi apa maksud kamu? Bilang saja kamu malas kan? Kamu itu mau jadi apa? Sudah sering membolos kelas, tidak bertanggung jawab, bikin masalah terus!" guru itu mulai mengomel. Adel yang sebenarnya sudah selesai memilih untuk menunggu di dalam kamar mandi sampai mereka berdua selesai.
" Yah, kalau rencana ke depan saya belum kepikiran Bu, tapi kalau dekat – dekat ini saya mau bikin Adel mengakui saya sebagai pacarnya," ujar Rafa dengan bangganya. Entah mengapa Adel merasa malu meski dia tak menampakkan diri. Pipinya memanas dan jantungnya mulai berdebar. Mengapa Rafa begitu gila dan nekat mengatakan itu semua di depan guru?
" Ibu gak ngerti ya? Makanya Bu, jatuh cinta, biar tahu rasanay berbunga – bunga. Jangan marah mulu, nanti yang ada cowok – cowok takut digigit sama Ibu." Adel bisa mendengar suara langkah kaki cepat, seperti orang yang sedang berlari. Beberapa detik terasa hening. Namun Adel masih belum berani membuka pintunya.
" RAFA! SETELAH INI PANGGIL ORANG TUA KAMU KE KANTOR SAYA!!" Untung saja Adel mengikuti feelingnya dan tak membuka pintu. Guru itu masih belum pergi dari dalam kamar mandi. Adel sedikit mengutuk guru itu karna tak kunjung pergi dari sini, dia akan sangat terlambat masuk k dalam kelas jika begini.
" Hah, wajahnya yang tampan memang berbanding terbalik dengan kelakuannya. Bagaimana aku bisa suka dengan lelaki tengil seperti itu?" Adel langsung mematung mendengar perkataan itu, setelah itu dia bisa mendengar suara langkah kaki yang pergi menjauh dari kamar mandi.
" Skandal macam apa ini Tuhan? Seorang guru menyukai muridnya sendiri? Wah, harus gue bikin film nih," ujar Adel menggelengkan kepalanya dramatis. Gadis itu langsung menjadi geli dengan pikiran gilanya. Gadis itu keluar dari dalam kamar mandi dan bergegas menuju kelasnya sambil terus tersenyum geli mendengar pernyataan guru tadi.
" Permisi pak," ujar Adel yang menyembulkan kepalanya ke dalam kelas dan menatap guru muda yang mengajar bahasa jawa. Guru itu menatap Adel dengan wajah galaknya. Namun tetap saja terlihat manis.
" Darimana saja kamu? Ini sudah jam berapa? Kalau kamu tidak niat mending tidak usah ikut kelas saya!" ujar guru itu dengan garang. Adel memejamkan sambil tetap mempertahankan senyumnya.
" Saya sudah datang dari tadi pagi sebelum jam tujuh pak. Tapi, tapi, itu pak. Biasa, masalah cewek, masak bapak mau saya ceritain?" tanya Adel menunduk malu, gadis itu sudah mempersiapkan dengan matang.
Adel tahu dia tidak akan datang ke kelas sebelum gurunya datang, maka dari itu dia memilih berlari ke ruang loker dan mengambil jaket lalu melilitkannya ke pinggang. Adel bisa melihat wajah guru itu sedikit memerah dan berdehem beberapa kali.
" Ya, ya sudah, kamu duduk. Tidak usah menjelaskan pada saya," ujar guru itu yang membuat Adel mengangguk dan langsung duduk di tempatnya.
' Nah kan, orang Indonesia. Gak mau dengar penjelasannya langsung iya iya aja. Padahal mau aja gue cerita kejebak di kamar mandi, bukan salah Adel ya pak cakep, laff yu.'