Pernikahan yang dijalani Nafa Naufara 23 tahun dan Sakti Bimantara 30 tahun sudah memasuki usia 6 bulan, awal yang indah. Meskipun pernikahan itu harus dijalani secara jarak jauh, dengan alasan ada pekerjaan diluar kota. Nafa tidak mempermasalahkan. Namun ketika pertemuan itu semakin berkurang, Dara merasa curiga. Kini Sakti sebagai suami, hanya bisa menemui Nafa istrinya sebulan dua kali.
Kecurigaan Nafa, akhirnya terjawab. Siang itu di hunian perumahan type 36, tiba-tiba Nafa kedatangan dua orang tamu. Dua orang wanita beda usia. Yang tiba-tiba mencaci maki dengan kata-kata yang kasar.
"Dasar pelakor, tidak bisa mendapatkan pria singel malah merebut suami orang." Hardik salah satu perempuan yang kira-kira 5 tahun di atas Nafa. Nafa melongo tidak percaya dengan makian perempuan tadi.
Benarkah Nafa menikah dengan pria beristri sedangkan setahu dia Sakti adalah pria singel?
Apa yang akan Nafa lakukan setelah dia tahu bahwa Sakti adalah pria beristri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deyulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menikmati Asinan dan Rujak Ibu Mertua
"Coba bandingkan gaun buatan pelakor dengan gaun yang aku temui di butik kota aku tinggal," seru Meta seraya menjawil satu gaun rancangan Nafa yang masih dipajang di butik Delia.
"Huhhh... jauh... masih bagus yang ini," ejeknya sambil menghempas gaun rancangan Nafa yang tadi diraihnya dari hanger yang tergantung di sana. Bu Delia dan pelayan yang berada disitu terbelalak tidak percaya atas perlakuan Meta yang melempar gaun itu ke lantai.
"Apa-apaan nih... kalau tidak suka jangan main lempar dong. Anda boleh tidak suka sama perancang gaun ini, tapi jangan menghempas gaun ini sembarangan, gaun ini tidak salah apa-apa sama Anda. Lagipula orang yang merancang gaun ini sudah tidak di butik ini, jadi jangan asal hempas gaun di butik ini! Aneh, dulu sebelum Anda tahu siapa perancang gaun ini, Anda suka-suka saja dengan gaun ini. Tidak berang seperti ini," ucap Bu Delia meninggi. Pelayan yang berada disitu segera memungut gaun yang dihempas Meta, lalu diletak kembali pada tempat semula.
"Ohhh... jadi Anda mau membela pelakor, iya?" serang balik Meta sambil melotot. Bu Delia sampai geram dibuatnya.
"Saya tidak ada urusannya sama Nafa, entah dia melakor atau tidak. Kalau Anda bilang saya membela pelakor, ya jelas tidak. Lagipula dari awal saya tidak tahu kalau Nafa punya suami habis melakor suami Anda. Jadi, jangan gegabah membuat statement ya! Anda bisa saja saya laporkan atas perbuatan tidak menyenangkan atas tuduhan Anda," tegas Bu Delia geram dengan kelakuan Meta. Meta tertawa sinis sebelum dia melangkahkan kakinya dari butik Delia.
"Butik apa ini. Lebih baik aku pergi dan mencari gaun di butik tempat aku tinggal, lebih berkelas," umpatnya seraya berlalu.
"Saya peringatkan, mulai besok dan seterusnya Anda dilarang datang ke butik saya. Kalau tidak, saya akan laporkan perbuatan Anda atas penghinaan sebuah hasil karya!" teriak Bu Delia mengancam Meta yang melenggang tidak peduli.
"Kurang ajar perempuan itu, sombong dan tidak tahu etika." Bu Delia menggerutu menatap kepergian Meta yang membuat dia kejang-kejang.
"Keputusan saya menyamarkan identitas Nafa di hadapan orang di butik Syafana tidak salah. Kalau tidak, keberadaan Nafa benar-benar terancam. Perempuan tadi benar-benar dendam luar biasa, dia bisa saja melakukan hal-hal nekad diluar batas pada Nafa. Saya jadi takut membiarkan Nafa bekerja di sana lagi." Wajah Bu Delia nampak khawatir.
"Saya juga begitu Bu, setelah tahu tempat tinggal perempuan tadi dan suaminya di kota Cemara, saya jadi khawatir akan keselamatan Nafa." Nira sama khawatirnya dengan Bu Delia dengan keselamatan Nafa di kota Cemara.
"Apa perlu beritahu saja suaminya Bu, supaya Nafa aman? Bagaimanapun juga suaminya harus tahu dimana Nafa, sebab Nafa sedang mengandung anaknya. Lagipula selama ini dia masih mencari-cari Nafa." Nira memberi saran pada Bu Delia.
"Tahu dari mana Nafa hamil?" Bu Delia mengerutkan keningnya.
"Pak Raka. Saat Pak Raka membawa Nafa ke RS akibat pemukulan perempuan tadi terhadap Nafa di butik ini. Dari situlah Nafa diketahui sedang hamil," terang Nira.
"Oh ya!? Tapi saat ini belum saatnya suaminya diberitahu, sebab perempuan itu akan tinggal lebih lama selama sidang perceraiannya digelar. Menurut kabar, perempuan tadi sedang digugat cerai oleh suaminya di kota Cemara. Untuk mengulur-ulur waktu, dia tidak mau menghadiri sidang perceraiannya itu."
"Jadi, menurut Bu Delia belum saatnya suaminya diberitahu?"
"Ya, begitulah. Atau kalau perlu dia saja yang seharusnya berusaha pantang menyerah mencari Nafa, toh masih satu kota. Jadi, untuk sementara Nafa masih aman kalau dia mau keluar dari Mess, sebab perempuan itu belum bertolak ke kota Cemara," ucap Bu Delia sedikit lega.
Sementara itu di kota Cemara, Sakti sedang menghadiri sidang gugatan cerainya terhadap Meta. Sakti menyerahkan bukti surat ijin menikah bermaterai yang ditandatangani oleh Meta, dan bukti buku nikah asli, yang berhasil mematahkan tuduhan Meta. Alhasil pihak Sakti di sidang kali ini menang, dan Sakti terhindar dari tuduhan pidana maupun perdata atas tuduhan nikah tanpa ijin dan buku nikah yang dipalsukan. Semua itu tidak terbukti. Sakti dan Pengacaranya tertawa lega.
Sidang ditunda sampai dua minggu kedepan, diyakini Sakti agenda minggu depan hanya ketuk palu untuk mengesahkan gugatan cerainya terhadap Meta yang dikabulkan majelis Hakim. Pihak Meta belum mengajukan keberatan apapun, sehingga sidang dua minggu kedepan tidak akan bertele-tele lagi walaupun tidak dihadiri Meta.
Sakti bisa sedikit bernafas lega. Akhirnya dia bisa mengakhiri rumah tangganya dengan Meta yang selama ini sudah benar-benar tidak sehat lagi. Dipertahankan lebih lama juga malah tidak baik bagi keduanya.
POV Author End
Kembali ke Nafa
Hari Sabtu, butik Syafana hanya dibuka sampai jam 12 siang. Aku berencana ingin ke Taman Cinta mengajak Wa Rasih. Wa Rasih senang sekali diajak jalan-jalan walau cuma ke sebuah taman. Katanya sih bagus buat kehamilanku, supaya bisa melihat pemandangan alam dan menghirup udara segar dari pepohonan.
Bersyukur kehamilanku tidak rewel, hanya sesekali mual di pagi hari. Cukup minum Teh Jahe, rasa mual itu hilang. Dan aku tidak mengalami morning sickness parah. Hanya keram yang sesekali aku rasakan, dan itu tidak lama. Jadi, aku tidak terlalu khawatir atas kehamilanku ini.
Tiba di Taman, aku bertemu kembali dengan ibu-ibu yang beberapa minggu yang lalu bertemu di taman itu, namun tidak bersama cucunya. Bu Sukma hanya sendiri. Padahal aku ingin sekali bertemu anak itu, senyumnya mengingatkan aku pada Mas Sakti.
"Ehh... Nak Nafa... ketemu lagi kita ya. Kalau sudah jodohnya pasti kita bertemu lagi ya." Bu Sukma tertawa bahagia bertemu denganku dan Wa Rasih. Aku juga sama bahagianya, terlebih Bu Sukma begitu baik terhadapku.
"Sayang sekali ya, tidak ada yang jual rujak seperti kemarin," keluhku sedih.
"Iya Neng tidak ada, mungkin belum datang yang jualannya," hibur Wa Rasih merasa sedih juga.
"Rujak....?" Bu Sukma sedikit memekik. "Nak Nafa pasti ngidam rujak ya? Kalau tidak keberatan Nak Nafa ke rumah saya saja, kebetulan di rumah saya bikin banyak kemarin. Saya yang buat sendiri rujak dan asinan. Entah kenapa anak saya ingin makan rujak dan asinan. Jadi kemarin dibuatkan yang banyak, katanya ingin rujak dan asinan buatan saya sendiri, tidak dibuatkan ART saya," terang Bu Sukma membuat aku menjadi ngiler membayangkannya, apalagi mendengar kata asinan, jadi sangat ngiler banget dan ingin segera memakannya.
"Iya Bu saya lagi pengen, tapi... tidak ada yang jual." Aku begitu sedih.
"Jangan sedih, di rumah saya banyak. Walaupun buatnya kemarin, tapi asinannya masih enak. Dan bumbu rujaknya juga saya masukin kulkas. Jadi dijamin masih bagus kwalitasnya," yakin Bu Sukma gembira.
"Ayo... jangan ragu. Rumah saya dekat kok. Saya bawa mobil, Supir saya menunggu di parkiran." Bu Sukma menarik tanganku setengah memaksa lalu berdiri dan memapahku menuju parkiran. Walaupun aku merasa malu, namun rasa ngiler ingin makan rujak dan asinan mengalahkan rasa maluku.
"Cucu Ibu kenapa tidak diajak ke taman?" tanyaku heran.
"Tadi, Papanya datang. Jadi cucu saya lebih memilih bersama Papanya ketimbang dengan saya. Mereka jarang bertemu, anak saya sibuk. Jadi cucu saya lebih memilih menghabiskan waktu bersama Papanya," jelas Bu Sukma.
Tidak butuh waktu lama, mobil yang ditumpangi kami tiba di sebuah rumah yang lumayan besar. Mobil memasuki gerbang. Bu Sukma turun duluan dan mempersilahkan aku dan Wa Rasih masuk.
"*Rumah yang nyaman*," gumanku dalam hati kagum dengan hunian lumayan mewah milik Bu Sukma.
"Ayo masuk, langsung saja ke ruang tamu. Nanti ART saya yang akan ambilkan air minum dan makanan serta rujak dan asinannya," sambut Bu Sukma begitu ramah.
"Tidak usah repot-repot, Bu!" ucapku malu.
"Tidak repot kok, sudah santai saja. Kita ngobrol santai sambil menikmati asian dan rujak buatan saya," ucap Bu Sukma meredakan rasa maluku.
Sejenak aku menatap ke sekeliling ruangan tamu yang di sudut ruangannya di pasang bunga hidup Sansivera.
"Bi Nia.... bawa kesini asinan dan rujaknya!" titah Bu Sukma. Saat asinan dan rujak dihidangkan di meja, alangkah tidak sabarnya aku ingin segera menyantapnya. Aku menatapnya sampai Bi Nia pembantu Bu Sukma selesai meletakkannya di meja.
"Ayo silahkan Nak dicicip, ini buatan saya sendiri. Kata anak saya rasanya enak dan cukup enak menghilangkan rasa enek dan mual. Apalagi Nak Nafa sedang hamil muda, pastinya ini sangat cocok," ucap Bu Sukma mempersilahkan.
Tidak menunggu lama, aku mencicipi suguhan asinan dan rujak buatan Bu Sukma. Sungguh benar-benar enak, asinannya langsung membuat rasa mual hilang. Sedangkan rujaknya bikin segar dan sakit kepala juga jadi plong. Alangkah bahagianya anak Bu Sukma, memiliki Ibu yang pandai bikin rujak dan asinan seenak ini.
"Anaknya hamil berapa bulan Bu?" tanyaku yang langsung disambut kerutan kening Bu Sukma.
Iyan kan Thor...😬😬😬
ah mau gimanapun terserah author aja lah.....hanya author yg tau 🤭🤭🤭